Ntah apa yang merasuki Agung hingga sebelum film mulai Dia datang. “Mana ceweklu” tanya Naya? Udah gua antar pulang, sahutnya ketus. Kalau memang ga mau kemari yaudah ga usah datang Gung, mukalu ga enak dilihat, sahut Clara. Gua udah disini jadi gua mohon lu ga usah bahas muka gua ya, sahut Agung dengan nada yang memelas. Pasti berantam, sahut Naya. Lu berdua mau intograsi gua, atau mau nonton, sudah ada pemberitahuan pintu teater 4 sudah dibuka, ah itu pintu teater kami. Kalian tau apa yang kami tonton, tak lain dan tak bukan adalah film kartun Elsa. Film cerita dewasa yang dikemas dalam film anak – anak. Mengetahui asal usul Elsa mengapa bisa memiliki kekuatan, Bagaimana stoper jatuh cinta pada Anna, dan menemani Anna kemanapun berada. Awalnya film ini akan menjadi rekomendasiku kepada Revi, tapi sepertinya akan aku urungkan, film upin -ipin sudah yang terbaik untuk kedua bocah itu. Agung terlihat tak menikmati tontonannya, raganya ada tetapi pikirannya ntah berada dimana, bahkan suasana gelap bioskoppun masih mampu membuat Naya membaca bagaimana suasana hati Agung, sama gelap dan remang, mungkin sedang berantam dengan kekasihnya pikir Naya, sedangkan Clara dia duduk diam menikmati filmnya. Dan ditengah tengah penonton tak sengaja mata Naya menangkap Dira dan temannya. Ingin rasanya Ia langsung w******p gadis itu, tapi segera Ia urungkan bagaimanapun cahaya layar handphonenya akan membuat orang – orang disekitarnya akan terganggu. Cukup lama Naya baru keluar dari ruangan, Ia tak ingin berpapasan dengan Dira. Bukan kenapa napa, Ia tak ingin Dira canggung, padahal Dira benar Ia kesini bersama – sama dengan teman- teman organisasinya, yang Naya lihat dari kejauhan sedang berbincang bincang dengan Dira sambil berjalan. Gua pengen jadi Anna supaya memiliki Kristof yang selalu ada menemani gua sahut Clara. Terkadang orang pengen jadi orang lain padahal Ia sendiri sebenarnya sudah menjadi orang tersebut. Sepertinya lu kurang mengerti dengan dunia sekitar lu Clar, sahut Agung. Gua luan, mau kerumah cewek gua dulu. Serasa kayak lagi poligami gua, harus berlaku adil, sahutnya dengan kekehan dan segera berlalu dari sana.
Minggu pagi merupakan hari yang malas bagi gadis itu, mengingat kemaren IA tak jadi bangun siang maka menurutnya ini adalah hari pembalasan untuk Ia tidur sampai siang. Tapi itu sepertinya hanya mimpi Kanaya saja karena kini Gadis itu harus mandi untuk pergi Ibadah, mamanya dari tadi tak berhenti meneriakan namanya dari dapur, dan belum tangisan adiknya yang ntah kenapa rewel sekali pagi ini dan tentu saja ketukan pintu dari papa Brahma yang tak berhenti henti membuat Kanaya ngedumel pagi ini. Iya iya ini Naya bangun ma pa, aku mandi dulu, sahut gadis itu dengan kesal. Cukup lama Ia berada dikamar mandi, mengumpulkan nyawa dulu sebelum membasuh tubuhnya dengan air dingin. Setelah beberapa saat akhirnya Kanaya mandi juga, tak butuh waktu lama karena gedoran pintunya tak berhenti sedari tadi, hanya saja yang membedakannya kali ini ketukan itu lebih kecil dibandingkan dengan sebelumnya sudah Naya pastikan yang mengetuk pintu itu adalah Revi adiknya, bentar dek kakak dandan dulu sahut Naya dari dalam kamarnya tanpa membuka pintunya,baru juga Naya menjawab seperti itu Mamanya sudah teriak lagi, cepetan kak ini udah hampir jam 9 nanti telat ibadahnya dan kita belum sarapan, nanti aja di mobil dandannya. Jarak tempuh rumahnya ke gereja sebenarnya tak begitu jauh, tapi mengingat ini adalah kota metropolitan dengan tingkat kemacetan yang parah bisa dipastikan sampai kegereja hampir 1 jam. Naya yang tak ingin mendengar teriakan mamanya lagi segera mengambil tas dan tak lupa memasukkan tasnya. Ia keluar tanpa merasa bersalah melihat semua orang sudah di meja makan menunggunya bak tuan putri. Tunggu dulu bukankah Naya memang tuan putri di keluarga Brahma?. Kamu kak kalau hari libur ya seenggaknya bantu mama jaga adik atau bantu mamamu memasak bukan tidur tegur pak Brahma dengan tegas. Iya pah ,mah maaf, Naya tak ingin mendebat papanya karena IA tau itu adalah salahnya. Disepanjang perjalanan Naya melanjutkan makeupnya, Revi memandanginya tanpa kedip, mau pakai lipstik dek tawar Revi dengan tingkah cerianya, Revi hanya mengganguk dengan antusias menggenakan puppy eyesnya yang siapa saja melihatnya tak akan menolak permintaan gadis itu, dan Naya tentu saja dengan sigap memakaikan dengan cepat lipstik di bibir mungil Revi , cantik sahut Naya dan mempertunjukan pada kaca di bedaknya. Cantik sahut Revi dengan ceria. Syukurlah ketika berangkat tadi tak begitu macet sehingga mereka sampai tepat waktu bahkan Naya masih sempat memastikan dandanannya di toilet gereja.
Seperti biasa setelah pulang gereja mereka tak langsung pulang mampir kesalahsatu restaurant favorite keluarganya bisa dibilang rutinitas bulanan keluarga Kanaya. Kak sisihkan waktu hari Jumat sampai Minggu ya, Papa Mama mau ngajak kamu dan adik2 stay disalah satu tempat, kan kamu jumat libur jika nanti Dosenmu mau ganti hari ga papa deh kak kamu bolos, Papa udah pesan penginapan.Ok Pah jawab Naya. Naya tak ingin membantah karena memang bulan ini merupakan waktu bersama keluarga dan memang merupakan untuk pertama kalinya pergi dengan Revi dan Alea.
Hari libur yang ditunggupun tiba, sejak semalam Bu Lana tak henti hentinya berkemas memastikan apa saja yang akan dibawa, apalagi kini Ia memiliki Bayi kecil, s**u sudah, minyak telon sudah, popok sudah ucap Bu Naya seakan mengabsen satu satu perlengkapan bayinya. Udah lengkap semua maahhh, sahut Naya mamah sudah mempersiapkan dari semalam ya kali ada ketinggalan, Naya sudah bosan melihat Ibunya yang tak habis habisnya berkemas. Kamu ini tau apa siih sayang, sahut mamanya ketus sejak semalam ga mau bantu mama berkemas, tuhkan mamah malah ngomelin kamu jadi lupakan sampai mana tadi mama mengabsen perlengkapan adik kamu, sampai popok mah popok sahut Naya juga ikutan kesal dan berlalu ke mobil. Mama mana kak tanya Papanya yang sedang menyusun barang barang ke mobil. “Tuh di rumah,” sahut Naya dengan muka cemberutnya. Kenapa lagi sih kak, udah mau pergi mukanya kok jelek cembetut gitu, kamu ga happy pergi bareng keluarga”? tanya pak Brahma. Bukan gitu pah, tuh mama dari kemaren ga siap siap packingnya, adu Naya pada papanya. Yaudah mbok dibantu Ibunya kenapa sih Sayang biar cepat, mamamu terlalu antusias sayang karena baru pertama kali bawa bayi travelling, seharusnya kamu juga ikut membantu Sayang. Iya deh iya deh istrinya aja di belain dibandingin anaknya, makanya cepetan dapat suami Nay, biar ada yang ngebelain juga sahut Ibunya dari depan pintunya. Udah toh mah, anaknya digodain mulu, nah sekarang gantian bapaknya yang cemburu kalau anaknya dibawa sama pria lain sahut mama Lana sambil tertawa. Termos untuk air s**u udah mah, tanya pak Brahma. Oh iya Ibu lupa masih di kamar. Keluarga kecil itu sudah tak lagi kecil, dan Kanaya senang dengan hal itu, Ia tak cemburu, Ia senang sama senangnya dengan perasaan tadi malam. Iya pria itu live sebentar semalam bukan untuk menyapa Kanaya ataupun perempuan perempuan lainnya yang dengan genitnya menyapanya dengan “hai suami masa depanku”, ataupun aku baru tau kalau sekarang matahari itu sampai malam soalnya liat kamu semua jadi jelas dan terang, seterang masa depan kita. Pria itu hanya live kegiatan dan sedikit berbincang bincang dengan temannya dan tentu saja hanya menjawab komenan dari teman temannya.