BAB 4
Nama yang Tidak Pernah Disebut
Alya masih berdiri di tengah kamarnya.
Buku catatan itu berada di tangannya.
Ia belum berani membukanya lagi.
Hanya satu kalimat di halaman pertama sudah cukup membuat kepalanya penuh pertanyaan.
Jika kamu membaca ini, berarti kamu akhirnya pulang.
Tulisan tangan itu terlalu familiar untuk disangkal.
Alya mengenalnya seperti ia mengenal suaranya sendiri.
Raka.
Nama itu muncul di kepalanya seperti gema dari masa lalu.
Namun logika Alya menolak mempercayainya.
Itu tidak mungkin.
Tangannya perlahan membuka kembali buku itu.
Halaman pertama masih sama.
Tulisan itu tetap ada di sana.
Tidak berubah.
Tidak menghilang.
Seolah benar-benar ditulis oleh seseorang yang tahu Alya suatu hari akan kembali ke kamar ini.
Alya membalik halaman berikutnya.
Kosong.
Halaman setelahnya juga kosong.
Ia membalik beberapa halaman lagi.
Tetap kosong.
Sampai akhirnya, di bagian tengah buku itu, ada tulisan lain.
Lebih panjang.
Lebih jelas.
Seolah sengaja ditinggalkan untuk ditemukan.
Alya menelan ludah sebelum membacanya.
Kamu mungkin berpikir aku sudah pergi selamanya.
Semua orang di kota ini juga percaya begitu.
Tapi ada banyak hal tentang malam itu yang tidak pernah mereka ceritakan kepadamu.
Jantung Alya berdegup keras.
Ia membaca kalimat itu lagi.
Dan lagi.
Setiap kata terasa seperti sesuatu yang hidup.
Malam itu.
Kalimat itu lagi.
Seolah seluruh kota ini tidak pernah benar-benar melepaskannya.
Alya menutup buku itu tiba-tiba.
Dadanya terasa sesak.
Ia berjalan menuju jendela kamar.
Malam sudah benar-benar turun.
Lampu jalan menyala redup di antara bayangan pepohonan tua.
Kota kecil itu terlihat sama seperti dulu.
Tenang.
Diam.
Seolah tidak pernah menyimpan apa pun.
Namun Alya tahu—itu tidak benar.
Kota ini menyimpan sesuatu.
Sesuatu yang cukup besar hingga membuat seseorang meninggalkan buku ini di kamarnya.
Sesuatu yang berkaitan dengan Raka.
Nama itu membuat tenggorokannya terasa kering.
Alya menutup matanya sejenak.
Kenangan lama muncul tanpa izin.
Ia masih bisa mengingat tawa itu.
Tawa yang terlalu keras untuk kota sekecil ini.
Raka selalu seperti itu.
Tidak pernah setengah-setengah.
Ia selalu tertawa penuh.
Berbicara penuh.
Hidup penuh.
Seolah ia tidak pernah takut pada apa pun.
“Suatu hari kita akan pergi dari kota ini.”
Suara itu kembali terdengar di kepalanya.
Mereka sedang duduk di tepi danau.
Langit sore berwarna keemasan.
Raka melempar batu kecil ke permukaan air.
“Aku serius,” katanya waktu itu.
“Kota ini terlalu kecil untuk kita.”
Alya tertawa.
“Kamu terlalu banyak menonton film.”
Raka menggeleng.
“Tidak.”
Ia memandang jauh ke depan.
“Kamu akan lihat nanti.”
Namun Alya tidak pernah benar-benar melihatnya.
Karena semuanya berhenti terlalu cepat.
Alya membuka mata.
Dadanya terasa berat.
Ia menatap kembali buku di tangannya.
Jika buku ini benar-benar ditulis oleh Raka…
Maka hanya ada dua kemungkinan.
Seseorang mencoba mempermainkannya.
Atau…
Ada sesuatu tentang Raka yang selama ini tidak pernah ia ketahui.
Alya duduk di tepi tempat tidur.
Tangannya masih menggenggam buku itu.
Lalu sebuah pikiran muncul tiba-tiba.
Ia berdiri.
Langkahnya cepat menuju pintu kamar.
Ia menuruni tangga.
Ibunya masih berada di ruang tamu.
Wanita itu sedang merapikan sesuatu di meja.
“Ibu.”
Ibunya menoleh.
“Ada apa?”
Alya mengangkat buku itu.
“Ini siapa yang taruh di kamar aku?”
Ibunya mengerutkan kening.
“Apa itu?”
“Buku ini.”
Ibunya mendekat sedikit.
Ia menatapnya beberapa detik.
“Aku tidak pernah melihat itu sebelumnya.”
Alya menatapnya tajam.
“Ibu yakin?”
Ibunya mengangguk.
“Kamar kamu tidak pernah dibuka sejak kamu pergi.”
Kalimat itu membuat Alya terdiam.
Jika benar begitu…
Lalu bagaimana benda ini bisa berada di sana?
Sebuah rasa dingin merambat di punggungnya.
“Ibu,” katanya pelan.
“Siapa lagi yang pernah masuk ke rumah ini?”
Ibunya berpikir sejenak.
“Tidak banyak.”
“Siapa?”
“Hanya beberapa tetangga sesekali.”
Ia berhenti.
Lalu menambahkan,
“Dan orang yang datang beberapa hari lalu itu.”
Alya menegang.
“Orang yang bilang dia mengenal Raka?”
Ibunya mengangguk.
“Iya.”
Alya menatap buku di tangannya.
Perasaan aneh semakin kuat.
“Dia masuk ke rumah ini?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Dia bilang ingin melihat sesuatu.”
“Apa?”
Ibunya terlihat ragu.
Namun akhirnya ia menjawab,
“Dia ingin melihat kamar kamu.”
Ruangan terasa lebih dingin.
Alya menatap ibunya tanpa berkedip.
“Dan Ibu membiarkannya?”
“Aku tidak merasa ada yang aneh waktu itu.”
Alya tidak menjawab.
Tangannya menggenggam buku itu lebih erat.
Jika orang itu masuk ke kamarnya…
Jika orang itu meninggalkan buku ini…
Maka hanya ada satu kemungkinan.
Ia tahu sesuatu.
Tentang Raka.
Tentang malam itu.
Alya menarik napas panjang.
“Ibu.”
“Ya?”
“Orang itu bilang namanya siapa?”
Ibunya terdiam.
Beberapa detik berlalu.
“Dia tidak menyebutkan namanya.”
Alya menatapnya.
“Tapi sebelum pergi…”
Ibunya berhenti.
“Dia mengatakan sesuatu.”
Jantung Alya berdetak lebih cepat.
“Apa?”
Ibunya menatapnya dalam-dalam.
“Dia bilang kamu akan segera menemukan kebenaran.”
Alya membeku.
“Dan ketika itu terjadi…”
Ibunya melanjutkan dengan suara pelan,
“kamu mungkin berharap kamu tidak pernah kembali.”
Jam dinding berdetak.
Satu.
Dua.
Tiga.
Alya berdiri diam.
Kata-kata itu terasa seperti peringatan.
Bukan sekadar informasi.
Sesuatu yang seharusnya ia takuti.
Namun justru membuatnya ingin tahu lebih jauh.
Alya perlahan menoleh ke arah tangga.
Ke arah kamarnya.
Ke arah buku itu.
Sesuatu di dalam dirinya mulai berubah.
Bukan lagi hanya rasa takut.
Tetapi rasa ingin tahu.
Rasa yang lebih berbahaya.
Ia kembali naik ke atas.
Langkahnya lebih cepat sekarang.
Lebih pasti.
Sesampainya di kamar, ia menutup pintu.
Menguncinya.
Alya duduk kembali.
Buku itu masih di tangannya.
Kali ini ia tidak ragu.
Ia membukanya lagi.
Matanya menelusuri tulisan itu.
Dan untuk pertama kalinya—
ia tidak hanya membaca.
Ia mencoba memahami.
Setiap kata.
Setiap jeda.
Seolah ada sesuatu yang tersembunyi di baliknya.
Dan tiba-tiba ia menyadari sesuatu.
Kalimat itu bukan hanya pesan.
Itu seperti petunjuk.
Alya membalik halaman kosong berikutnya.
Tangannya menyentuh kertas itu perlahan.
Dan di bawah cahaya lampu—
ia melihat sesuatu.
Tulisan samar.
Hampir tidak terlihat.
Seolah ditulis dengan tekanan yang sangat ringan.
Atau mungkin…
ditulis lama sekali.
Jantungnya kembali berdegup cepat.
Ia mendekatkan buku itu ke lampu.
Dan perlahan—
huruf-huruf itu mulai terlihat.
Satu kata.
Pendek.
Namun cukup membuat napasnya tertahan.
“Danau.”
Alya membeku.
Pikirannya langsung kembali ke satu tempat.
Tempat yang selama ini ia hindari.
Tempat di mana semuanya berakhir.
Atau mungkin…
dimulai.
Tangannya gemetar.
Matanya tidak bisa lepas dari tulisan itu.
Dan untuk pertama kalinya sejak ia kembali—
ia tahu harus ke mana.
Namun bersamaan dengan itu, satu kesadaran lain muncul.
Jika ia benar-benar pergi ke sana…
maka tidak ada jalan untuk kembali.
Karena apa pun yang akan ia temukan nanti—
mungkin akan mengubah segalanya.
Dan kali ini…
tidak akan ada lagi yang bisa ia abaikan.
Karena beberapa kebenaran…
tidak hanya menyakitkan.
Tetapi juga mengubah cara seseorang melihat seluruh hidupnya.