Rumah yang Terasa Asing

1646 Kata
BAB 3 RUMAH Yang Terasa Asing Rumah itu tidak berubah. Setidaknya itulah yang pertama kali Alya pikirkan. Namun setelah beberapa menit berada di dalamnya, ia menyadari bahwa sebenarnya banyak yang sudah berubah—hanya saja perubahan itu tidak langsung terlihat oleh mata. Beberapa hal berubah dengan cara yang lebih sunyi. Seperti jam dinding di ruang tamu yang masih berdetak lambat, tetapi suaranya kini terasa lebih keras dari yang ia ingat. Atau sofa tua di dekat jendela yang dulu selalu penuh dengan buku dan bantal warna-warni, kini terlihat rapi dan kosong, seolah tidak pernah ada kehidupan di sana. Alya berdiri di tengah ruang tamu sambil memandang sekeliling. Ada rasa aneh yang sulit dijelaskan. Rumah ini dulu adalah tempat paling aman yang ia kenal. Tempat ia tertawa. Tempat ia menangis. Tempat ia pulang setelah hari-hari panjang di sekolah. Namun sekarang, rumah itu masih berdiri di tempat yang sama. Tapi aku tidak lagi merasa di rumah. “Alya.” Suara ibunya membuatnya menoleh. Wanita itu berdiri di ambang pintu dapur, memegang dua cangkir teh hangat. “Kamu pasti lelah.” Alya tidak menjawab. Ia masih memikirkan kalimat yang baru saja ia dengar beberapa menit lalu. Malam itu tidak terjadi seperti yang kamu ingat. Kalimat itu terus berputar di kepalanya seperti lagu yang tidak bisa dihentikan. Ibunya meletakkan salah satu cangkir di atas meja. “Minumlah.” Alya duduk perlahan. Tangannya memegang cangkir itu, tetapi ia tidak langsung meminumnya. “Apa maksud Ibu tadi?” Ibunya tampak sudah menduga pertanyaan itu. Ia duduk di kursi seberang Alya. “Alya…” “Aku ingin tahu,” potong Alya pelan. “Siapa orang yang datang ke rumah ini?” Ibunya menghela napas. “Dia tidak memperkenalkan dirinya dengan jelas.” “Laki-laki?” Ibunya mengangguk. “Masih muda.” Jantung Alya berdetak sedikit lebih cepat. “Dia bilang apa?” Ibunya menatap cangkir teh di tangannya beberapa detik sebelum menjawab. “Dia hanya bertanya tentang kamu.” “Aku?” “Dia ingin tahu apakah kamu pernah kembali ke kota ini.” Alya mengerutkan kening. “Kenapa?” Ibunya menggeleng pelan. “Itu juga yang membuat Ibu bingung.” Alya menatap ibunya tajam. “Lalu?” “Ibu bilang kamu sudah lama pergi.” Ibunya berhenti sejenak sebelum melanjutkan. “Tapi sebelum dia pergi… dia mengatakan sesuatu.” Alya merasa tenggorokannya tiba-tiba kering. “Apa?” Ibunya mengangkat pandangan. “Dia bilang… jika kamu suatu hari kembali ke kota ini, kamu harus tahu bahwa kebenaran tentang malam itu belum pernah benar-benar terungkap.” Ruangan terasa hening. Jam dinding berdetak sekali. Dua kali. Tiga kali. Alya merasa kepalanya sedikit pusing. Selama tujuh tahun ia hidup dengan satu cerita tentang malam itu. Cerita yang selalu ia ulang di kepalanya. Cerita yang membuatnya percaya bahwa semua yang terjadi adalah kesalahannya. Namun sekarang seseorang datang dan mengatakan bahwa cerita itu— Belum lengkap. Atau mungkin… Salah. Alya berdiri tiba-tiba. “Kamar aku masih di atas?” Ibunya tampak sedikit terkejut dengan perubahan sikap itu. “Masih.” Alya mengambil koper kecilnya. Ia menaiki tangga kayu yang sama seperti yang ia kenal sejak kecil. Tangga itu mengeluarkan bunyi pelan setiap kali diinjak. Bunyi yang dulu sering membuat ayahnya tahu ketika ia diam-diam pulang terlalu malam. Setiap langkah terasa berat. Seolah ia sedang berjalan menuju sesuatu yang tidak hanya menyimpan kenangan, tetapi juga jawaban yang selama ini ia hindari. Alya berhenti di depan pintu kamarnya. Tangannya menyentuh gagang pintu. Beberapa detik ia ragu untuk membukanya. Seolah pintu itu menyimpan sesuatu yang terlalu berat untuk dihadapi. Namun akhirnya ia memutarnya. Pintu terbuka. Dan masa lalu langsung menyambutnya. Kamar itu hampir tidak berubah. Meja belajar kecil di dekat jendela. Rak buku yang dulu penuh novel. Dan dinding yang masih dipenuhi potongan foto lama. Alya melangkah masuk perlahan. Ia meletakkan koper di lantai. Matanya menyapu setiap sudut ruangan. Ada sesuatu yang aneh. Sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana. Alya mendekati meja belajarnya. Di atas meja itu ada sebuah benda kecil. Sebuah buku catatan. Ia yakin buku itu bukan miliknya. Sampulnya hitam polos. Terlihat cukup baru. Seolah seseorang baru saja meletakkannya di sana. Alya mengambilnya. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ketika ia membuka halaman pertama, napasnya langsung tertahan. Tulisan di sana sangat ia kenal. Tulisan tangan yang dulu sering ia lihat hampir setiap hari. Tulisan tangan milik seseorang yang sudah tujuh tahun tidak ia temui. Di halaman pertama hanya ada satu kalimat. Pendek. Namun cukup untuk membuat dunia Alya terasa berhenti. Jika kamu membaca ini, berarti kamu akhirnya pulang. Tangan Alya gemetar. Matanya membaca kalimat itu sekali lagi. Tulisan itu tidak mungkin salah. Ia mengenalnya. Terlalu mengenalnya. Tulisan tangan itu milik— Raka. Namun itu tidak mungkin. Karena tujuh tahun lalu, pada malam yang tidak pernah ia lupakan… Raka seharusnya tidak pernah bisa menulis apa pun lagi. Alya menutup buku itu dengan cepat. Jantungnya berdetak sangat keras. Ia mundur satu langkah. Seolah buku kecil itu adalah sesuatu yang berbahaya. Seolah kebenaran yang tersimpan di dalamnya terlalu berat untuk dibuka. Ia mencoba bernapas perlahan. Namun udara di dalam kamar itu terasa lebih sempit. Lebih dingin. Lebih asing. Alya menatap sekeliling kamarnya. Untuk pertama kalinya, tempat itu tidak terasa seperti miliknya. Seolah ada seseorang yang telah berada di sana sebelum dirinya kembali. Seolah seseorang telah menunggunya. Menyiapkan sesuatu. Dan tahu bahwa suatu hari ia pasti akan pulang. Alya menggenggam buku itu lebih erat. Pikirannya mulai dipenuhi berbagai kemungkinan. Jika buku ini benar-benar milik Raka— Maka hanya ada dua kemungkinan. Seseorang mencoba mempermainkannya. Atau… Ada sesuatu yang selama ini tidak pernah ia ketahui. Sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar ingatan yang hilang. Alya menatap kembali kalimat di dalam buku itu. Jika kamu membaca ini, berarti kamu akhirnya pulang. Kalimat itu terasa seperti pesan. Seperti peringatan. Atau mungkin… Sebuah undangan. Dan untuk pertama kalinya sejak ia kembali ke kota ini, satu pertanyaan yang lebih menakutkan muncul di pikirannya. Bagaimana jika seseorang selama ini menyembunyikan sesuatu? Sesuatu yang cukup besar untuk mengubah seluruh cerita tentang malam itu. Dan bagaimana jika rahasia itu… tidak hanya melibatkan masa lalu, tetapi juga seseorang yang masih hidup hingga sekarang? Alya perlahan duduk di tepi tempat tidurnya. Buku itu masih berada di tangannya. Dan di dalam keheningan kamar yang terasa semakin asing, ia mulai menyadari satu hal yang tidak bisa lagi ia abaikan. Bahwa kepulangannya bukanlah akhir dari sesuatu. Melainkan awal dari sesuatu yang jauh lebih besar. Dan mungkin— jauh lebih berbahaya. Alya tidak langsung bergerak. Ia hanya duduk diam di tepi tempat tidur, dengan buku hitam itu masih berada di tangannya. Waktu terasa berjalan lebih lambat di dalam kamar itu. Atau mungkin hanya perasaannya saja. Matanya kembali menatap tulisan di halaman pertama. Tulisan yang begitu ia kenal. Tulisan yang dulu terasa biasa saja. Namun sekarang… terasa seperti sesuatu yang mustahil. Alya menelan ludah. Tangannya perlahan membuka kembali buku itu. Ia membalik halaman berikutnya. Kosong. Halaman setelahnya juga kosong. Ia membalik beberapa lembar lagi, sedikit lebih cepat kali ini. Tetap kosong. Seolah buku itu hanya ingin menyampaikan satu hal— tidak lebih. Alya mengerutkan kening. Ini tidak masuk akal. Jika seseorang ingin meninggalkan pesan, mengapa hanya satu kalimat? Dan jika itu benar-benar Raka… Kenapa sekarang? Sebuah suara kecil terdengar dari luar kamar. Alya langsung menoleh. Langkah kaki. Pelan. Berhenti tepat di depan pintu. Jantungnya langsung berdetak lebih cepat. Ia tidak berani bergerak. Beberapa detik berlalu. Namun tidak ada yang terjadi. Tidak ada yang mengetuk. Tidak ada yang berbicara. Hanya keheningan. Alya bangkit perlahan. Langkahnya pelan mendekati pintu. Tangannya terangkat… namun berhenti tepat sebelum menyentuh gagang. Ia tidak tahu apa yang ia harapkan. Namun sesuatu di dalam dirinya mengatakan bahwa membuka pintu itu sekarang— mungkin bukan ide yang baik. Alya menahan napas. Lalu, suara itu hilang. Langkah kaki itu menjauh. Perlahan. Seolah seseorang memang hanya ingin berdiri di sana sebentar. Menunggu. Mendengarkan. Atau memastikan sesuatu. Alya mundur satu langkah. Perasaan dingin merambat di punggungnya. Ia menoleh kembali ke arah kamar. Segalanya tampak sama seperti sebelumnya. Namun entah kenapa, suasananya terasa berbeda. Lebih sunyi. Lebih berat. Seolah kamar itu menyimpan sesuatu yang tidak bisa ia lihat. Alya kembali duduk di tempat tidur. Buku itu masih berada di tangannya. Ia memejamkan mata sejenak. Mencoba menenangkan pikirannya. Namun bayangan tentang Raka terus muncul tanpa izin. Tawa Raka. Suara Raka. Cara Raka menulis huruf-huruf kecil yang sedikit miring itu. Alya membuka mata. “Ini tidak mungkin,” bisiknya pelan. Namun semakin ia mencoba menyangkal, semakin kuat perasaan itu muncul. Tulisan itu terlalu nyata. Terlalu akrab. Terlalu… hidup. Alya berdiri tiba-tiba. Ia berjalan menuju jendela. Malam sudah turun sepenuhnya. Lampu-lampu jalan menyala redup di antara bayangan pepohonan. Kota kecil itu terlihat sama seperti dulu. Tenang. Namun Alya tahu— ketenangan itu hanya di permukaan. Ia membuka sedikit jendela kamarnya. Udara malam masuk perlahan. Dingin. Membawa aroma tanah basah dan daun-daun tua. Alya menarik napas dalam-dalam. Namun perasaan sesak di dadanya tidak hilang. Ia menatap ke arah jalan di depan rumah. Sepi. Tidak ada siapa pun. Namun entah kenapa, ia merasa seperti sedang diawasi. Seolah ada seseorang di luar sana. Melihatnya. Menunggu. Alya menutup kembali jendela dengan cepat. Tangannya sedikit gemetar. Ia memeluk buku itu tanpa sadar. Seolah benda itu satu-satunya hal yang bisa ia pegang saat ini. Namun justru buku itu pula yang membuat semuanya terasa semakin tidak masuk akal. Alya kembali duduk. Kali ini ia tidak membuka buku itu lagi. Ia hanya memegangnya erat. Dan untuk pertama kalinya sejak ia kembali ke kota ini— ia mulai merasa bahwa ada sesuatu yang salah. Bukan hanya tentang masa lalu. Bukan hanya tentang ingatannya. Tetapi tentang apa yang sedang terjadi sekarang. Seseorang telah datang ke rumah ini. Seseorang telah meninggalkan buku ini di kamarnya. Seseorang tahu bahwa ia akan kembali. Dan orang itu… tahu terlalu banyak. Alya menatap pintu kamarnya sekali lagi. Keheningan kembali memenuhi ruangan. Namun kali ini, keheningan itu terasa berbeda. Seperti sebelum sesuatu terjadi. Seperti sebelum kebenaran mulai muncul ke permukaan. Dan mungkin… ia tidak akan pernah menjadi orang yang sama lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN