BAB 2
Kota yang Pernah Ia Tinggalkan
Kereta itu tiba ketika matahari hampir tenggelam.
Langit di atas kota kecil itu berwarna jingga kusam, seperti lukisan lama yang warnanya mulai pudar dimakan waktu. Dari balik jendela kereta, Alya memandang keluar tanpa benar-benar berkedip.
Sudah tujuh tahun.
Tujuh tahun sejak terakhir kali ia melihat kota ini.
Namun anehnya, semuanya masih terlihat sama.
Bangunan stasiun kecil itu masih berdiri dengan cat yang mulai mengelupas. Warung kopi di sudut peron masih memutar lagu lama dari radio tua. Bahkan pohon besar di dekat gerbang stasiun masih ada, dengan cabang-cabang yang menjulur seperti tangan yang mencoba meraih sesuatu.
Alya menarik napas perlahan.
Udara kota itu terasa berbeda.
Lebih lembap. Lebih berat.
Atau mungkin hanya perasaannya saja.
Kereta berhenti dengan suara gesekan logam yang panjang. Beberapa penumpang segera turun dengan langkah terburu-buru, membawa koper dan tas mereka.
Namun Alya tetap duduk beberapa detik lebih lama.
Tangannya menggenggam tiket kereta yang sudah kusut.
Ia masih tidak percaya dirinya benar-benar melakukan ini.
Kembali.
Kata itu terasa seperti sesuatu yang asing di kepalanya.
Ia sudah menghabiskan bertahun-tahun mencoba melupakan tempat ini. Menghapus setiap kenangan yang terlalu menyakitkan untuk diingat.
Namun satu surat sederhana telah menghancurkan semua usaha itu.
“Sudah waktunya kamu pulang.”
Kalimat itu masih terngiang di kepalanya.
Alya akhirnya berdiri.
Langkahnya terasa sedikit ragu ketika ia turun dari kereta. Begitu kakinya menyentuh lantai peron, sesuatu di dalam dirinya seakan berubah.
Seperti seseorang yang baru saja melewati pintu menuju masa lalu.
Suara kereta perlahan menghilang ketika kendaraan itu kembali bergerak meninggalkan stasiun. Dalam hitungan menit, tempat itu kembali sunyi.
Alya berdiri di sana beberapa saat.
Mengamati tempat yang pernah begitu ia kenal.
Namun sekarang terasa seperti kota milik orang lain.
Perjalanan dari stasiun menuju rumah lamanya hanya memakan waktu dua puluh menit.
Alya memutuskan berjalan kaki.
Ia tidak tahu kenapa. Mungkin karena ia ingin memberi dirinya waktu untuk menyesuaikan diri dengan tempat ini.
Atau mungkin karena ia takut tiba terlalu cepat.
Jalanan kota itu masih sama seperti yang ia ingat.
Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu. Beberapa toko kecil masih buka, memancarkan cahaya hangat ke trotoar yang mulai sepi.
Alya berjalan perlahan.
Setiap langkah terasa seperti membuka pintu kenangan yang sudah lama terkunci.
Toko roti di sudut jalan.
Lapangan kecil tempat anak-anak bermain sore hari.
Dan sebuah kafe kecil yang dulu sering ia datangi.
Ia hampir berhenti ketika melihat tempat itu.
Namun Alya segera memalingkan wajahnya.
Beberapa kenangan lebih baik tidak disentuh.
Angin malam mulai terasa dingin.
Langkah Alya semakin cepat.
Hingga akhirnya ia tiba di sebuah jalan yang sangat ia kenal.
Jalan kecil yang diapit pohon-pohon tua.
Dan di ujung jalan itu—
Rumahnya.
Rumah yang tidak ia datangi selama tujuh tahun.
Lampu terasnya menyala.
Alya berhenti beberapa meter dari gerbang.
Rumah itu terlihat lebih kecil dari yang ia ingat.
Cat dindingnya sedikit pudar. Beberapa tanaman di halaman tumbuh liar tanpa perawatan.
Namun rumah itu masih berdiri.
Seperti seseorang yang menunggu terlalu lama.
Alya menelan ludah.
Tangan kirinya menggenggam koper lebih erat.
Ia berjalan mendekati gerbang.
Ketika ia mendorongnya, engsel besi itu mengeluarkan suara berderit pelan.
Suara yang dulu sangat ia kenal.
Lampu di ruang tamu tiba-tiba menyala lebih terang.
Dan pintu rumah terbuka.
Seorang wanita berdiri di sana.
Ibu.
Rambutnya sekarang lebih banyak uban. Wajahnya terlihat lebih lelah dari yang Alya ingat.
Namun matanya—
Masih sama.
Mata yang selalu bisa melihat lebih jauh daripada kata-kata.
Beberapa detik berlalu tanpa ada yang berbicara.
Lalu ibunya berkata pelan,
“Alya.”
Suara itu terdengar seperti sesuatu yang sangat lama tidak digunakan.
Alya tidak tahu harus mengatakan apa.
Tujuh tahun bukan waktu yang singkat.
Ada terlalu banyak hal yang tidak pernah mereka bicarakan.
Namun ibunya tidak bertanya apa pun.
Ia hanya membuka pintu lebih lebar.
“Masuklah.”
Alya melangkah masuk.
Rumah itu masih berbau sama.
Kayu tua. Teh hangat. Dan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Kenangan.
Ruang tamu terlihat hampir tidak berubah.
Foto-foto keluarga masih tergantung di dinding. Sofa lama masih berada di tempat yang sama.
Namun ada satu hal yang membuat Alya berhenti.
Sebuah foto bingkai besar di atas meja.
Foto itu baru.
Di dalamnya ada tiga orang.
Ibunya.
Ayahnya.
Dan seseorang yang wajahnya membuat jantung Alya terasa berhenti.
Raka.
Alya menatap foto itu beberapa detik.
Dadanya terasa sesak.
“Ibu…” suaranya hampir tidak terdengar.
Ibunya berdiri di belakangnya.
“Kenapa fotonya masih ada?”
Ibunya tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatap foto itu juga.
Lalu berkata dengan tenang,
“Karena tidak semua orang bisa dilupakan.”
Alya menelan ludah.
Ruangan tiba-tiba terasa lebih dingin.
Ia ingin bertanya banyak hal.
Namun satu pertanyaan keluar lebih dulu.
“Siapa yang mengirim surat itu?”
Ibunya memandangnya dengan ekspresi yang sulit dibaca.
“Alya,” katanya pelan.
“Ada sesuatu yang harus kamu ketahui.”
Jantung Alya berdetak lebih cepat.
Ibunya melanjutkan,
“Beberapa hari yang lalu… seseorang datang ke rumah ini.”
Alya mengerutkan kening.
“Siapa?”
Ibunya terdiam beberapa detik.
Seolah memilih kata-kata yang tepat.
Ketika akhirnya ia berbicara, suaranya hampir seperti bisikan.
“Seseorang yang mengatakan… dia mengenal Raka.”
Alya membeku.
“Itu tidak mungkin.”
Ibunya menatapnya dalam-dalam.
“Dia mengatakan sesuatu sebelum pergi.”
“Apa?”
Ibunya menarik napas panjang.
Lalu berkata,
“Dia bilang… malam itu tidak terjadi seperti yang kamu ingat.”
Dunia Alya terasa berhenti.
Selama tujuh tahun ia hidup dengan satu keyakinan.
Bahwa ia tahu apa yang terjadi malam itu.
Bahwa ia tahu bagaimana semuanya berakhir.
Namun sekarang seseorang mengatakan bahwa semua itu—
Salah.
Dan untuk pertama kalinya sejak ia kembali ke kota itu, sebuah ketakutan baru muncul di dalam dirinya.
Bagaimana jika selama ini ia hidup dengan kebohongan?
Dan bagaimana jika kebenaran yang sebenarnya…
Jauh lebih mengerikan daripada yang pernah ia bayangkan?