BAB 27 Melepaskan Rasa Bersalah Senja turun perlahan di kota kecil itu. Langit berubah menjadi warna jingga yang lembut, menyebar di atas danau seperti lukisan yang tenang. Alya berdiri di tepi jalan setapak yang mengarah ke air. Sudah lama sejak terakhir kali ia berdiri di tempat ini tanpa merasa sesak di d**a. Selama bertahun-tahun danau ini selalu terasa seperti luka yang tidak pernah benar-benar sembuh. Setiap kali ia memikirkannya, yang muncul selalu perasaan yang sama. Rasa bersalah. Namun hari ini terasa berbeda. Tidak sepenuhnya ringan. Tidak sepenuhnya tenang. Namun sesuatu di dalam dirinya mulai berubah. Dimas berdiri beberapa langkah di belakangnya. Sementara Arga dan Pak Arman berdiri sedikit lebih jauh. Mereka semua memandang air yang tenang. “Aneh,” kata Dimas

