Saat malam tiba, mereka berdua bersiap – siap untuk pergi karena ingin makan di luar.
Fahrial lihat Kiara sedang menyisir rambut panjangnya, ia perhatikan aura kecantikan Kiara lebih terasa saat rambutnya di biarkan terurai. Ketika Kiara ingin menguncir rambutnya, Fahrial buru – buru mendekati Kiara.
“ Jangan di kuncir. “ Fahrial menahan tangan Kiara yang ingin mengikat rambutnya.
“ Kenapa? “ Kiara mendongakan kepalanya menatap Fahrial yang kini sudah berdiri di sampingnya.
“ Kamu lebih cantik seperti ini. “ Puji Fahrial tetapi malah membuat Kiara kesal.
“ Jadi, maksud kamu aku jelek kalau di kuncir? “ celetuknya.
“ Kamu itu mau di apain aja tetap cantik, tapi kalau di urai seperti ini kecantikan kamu lebih terpancar. Begitu maksudku, Kiara. “ Fahrial sampai harus menjelaskan dulu supaya Kiara tidak salah faham.
“ Gombalan macam apa itu. “ Kiara melengos, ia tetap memutuskan untuk menguncir rambutnya karena tidak ingin terkesan menuruti keinginan Fahrial.
“ Hm, serba salah jadi laki – laki. “ Tutur Fahrial.
“ Jadi Ody aja biar gak merasa serba salah. “ Celetuk Kiara.
Fahrial bergidik. “ Ogah. “
Kiara tertawa kecil seraya bangun dari duduknya. “ Ayo berangkat. “
“ Sudah siap? “
“ Sudah. “
Mereka berdua berjalan keluar kamar bersama.
“ Waktu pertama kali kamu ketemu Ody, dia memang seperti perempuan tingkahnya? “ tanya Fahrial seraya menuruni anak tangga.
“ Iya, katanya dia begitu udah dari kecil. Tadinya mamah dia pengen punya anak cewek, eh yang keluar malah laki. Jadinya si Ody malah tingkahnya kayak cewek. “ Terang Kiara di susul tawa.
Fahrial ikut tertawa. “ Ada – ada aja. “
“ Kamu tau gak? dia sempat ingin operasi kelamin. “ Kiara tertawa geli sambil mendorong pundak Fahrial.
“ Eh—“ Fahrial hampir saja tergelincir di tangga tetapi dengan cepat lelaki itu berpegangan pada besi di sisi tangga.
“ Fahri! “ Kiara jadi ikutan panik karena ulahnya tadi hampir saja membuat Fahrial terjatuh. Ya, maklum saja perempuan sering kali bicara atau bahkan tertawa sambil memukul dan mendorong lelaki, rasanya belum afdol jika tidak melakukan ritual itu.
Fahrial mengelus dadanya karena merasa deg – degan.
“ Kamu mau bunuh aku dengan cara membuatku terjatuh di tangga ya? “ tanya Fahrial bernada bercanda.
Kiara tertawa lagi. “ Iya, supaya bisa dapat harta warisan kamu. “ Balasnya ikut bercanda tetapi dalam benak Kiara sempat terlintas membunuh Fahrial adalah ide yang cukup bagus agar dia bisa mendapatkan harta warisan dari Fahrial tetapi itu hanyalah khayalannya Kiara saja dan dia tidak sebodoh dan seberani itu untuk melakukannya.
“ Kamu emang tega banget. “ Fahrial menggelengkan kepalanya karena Kiara malah senang jika dia mati.
Sampainya di luar, Fahrial bergegas cepat membukakan pintu untuk Kiara masuk ke dalam mobil, ia memperlakukan Kiara benar – benar seperti ratunya.
“ Makasih. “
Fahrial mulai melajukan mobilnya menuju tempat makan yang ingin mereka datangi. Supaya suasana tidak sunyi, Fahrial menyalahkan Audio System, ia memilih saluran radio yang kebetulan sedang memutar lagu dari Elvis Presley berjudul Can't Help Falling In Love.
Mereka berdua sama – sama menikmati lagu tersebut, hingga beberapa detik kemudian secara tak sengaja Fahrial dan Kiara bernyanyi bersama tepat di bagian lirik ‘ For I can't help falling in love with you ‘ (Karena aku tak bisa berhenti jatuh cinta kepadamu).
Sontak mereka berdua saling menoleh dan bertatapan satu sama lain, kemudian tertawa. “ Kamu juga afal lagu ini? “ tanya Fahrial.
“ Ya, ini lagu kesukaanku. “ Jawab Kiara.
“ Sama, bahkan aku pernah mengoleksi semua album Elvis Presley. “ Terang Fahrial.
“ Aku tahu semua lagu Elvis Presley tetapi hanya lagu ini saja yang paling sering ku dengar. “ Jelas Kiara, baru kali ini dia tertarik ngobrol dengan Fahrial.
“ Ya, ini juga lagu yang paling sering aku dengar. “ Ungkap Fahrial. Tanpa Kiara ketahui bahwa Fahrial menyukai lagu ini karena liriknya sangat menggambarkan perasaan Fahrial yang tidak bisa berhenti untuk mencintai Kiara dari dulu hingga saat ini, bahkan jika Kiara meminta hidupnya, maka Fahrial akan bersedia. Meski terdengar bodoh, tapi begitulah cinta.
Mereka berdua pun kembali melanjutkan untuk bernyanyi lagu tersebut pada lirik berikutnya secara bersamaan. Sesekali Fahrial melirik Kiara yang nampak ceria, ia berfikir mungkin inilah titik terang dalam rumah tangganya karena merasa hubungan mereka akan semakin membaik setelah ini.
“ Suara kamu bagus. “ Tangan Fahrial mengusap kepala Kiara.
“ Makasih. “
Setelah melalui perjalanan diiringi lagu yang begitu menyentuh dari Elvis, akhirnya mereka berdua tiba di tempat tujuan yaitu Fahrial mengajak Kiara untuk makan di dekat danau.
Saat Kiara turun dari mobil, ia memandangi sekelilingnya banyak lampu yang cukup terang dan ada beberapa pedagang kaki lima. Wangi asap sate ayam bercampur jagung bakar tercium menyengat menjadi satu di area taman yang di kelilingi pedagang serta terdapat danau di bagian tengahnya.
“ Fahrial kamu serius mau makan di sini? “ tanya Kiara kepada Fahrial yang sedang berjalan ke arahnya.
“ Iya, Kia. Kita akan makan di sana. “ Tangan Fahrial menunjuk ke arah tenda di dekat danau yang terdapat salah satu pedagang menjual makanan.
“ Makanan apa itu? “ tanya Kiara yang tidak tahu menahu.
“ Ayam bakar. Di sana bumbu dan sambelnya enak banget, di jamin gak akan mengecewakan. “ Terang Fahrial seperti orang sedang mempromosikan sebuah produk.
“ Oke. “ Kiara mengangguk, ia mengikuti Fahrial berjalan ke arah tenda si penjual ayam bakar.
“ Mas pesan dua ya. “ Ucap Fahrial, ia menoleh ke arah Kiara yang berdiri di sampingnya. “ Kamu ayamnya d**a atau paha? “
“ Paha. “ Jawab Kiara.
“ Mas, dua – duanya paha ya. “ Pesan Fahrial.
“ Oke. “ Sahut si pedagang.
“ Ayo kita ke sana. “ Fahrial mengajak Kiara untuk duduk di bangku yang berada tepat di sisi danau.
Kiara sudah duduk manis berhadapan dengan Fahrial “ Aman gak makan di sini? “ tanyanya seraya melirik ke arah samping yaitu danau yang terbentang luas.
“ Aman, kok. Kamu gak perlu takut akan kecebur ke danau, tuh lihat ada pembatasnya. “ Fahrial menunjuk pembatas di sisi danau agar para pengunjung merasa aman.
“ Bukan itu yang aku maksud. “ Kiara geleng – geleng.
“ Terus apa? “
“ Ada buaya gak di dalam danau? Nanti niat kita kesini mau makan, eh malah di jadikan makanan sama buayanya. “ Terang Kiara membuat Fahrial terkekeh.
“ Um… baiklah, aku akan jujur sama kamu kalau sebenarnya di sini itu memang ada buaya. “ Ucap Fahrial menakut - nakuti Kiara.
“ Kamu serius? “ Kiara nampak cemas dan itu terlihat dari lirikan matanya yang tertuju ke arah danau penuh ketakutan.
“ Iya, aku serius. Ada buaya putih disini. “ Tambah Fahrial.
Kiara tertegun, ia beralih menatap Fahrial. “ Bu—buaya putih? Di dalam danau itu ada buaya putih? “ Kiara sampai terbata – bata karena merasa ngeri.
“ Buaya putihnya bukan di danau. “ Fahrial menggeleng. “ Tapi, di sini buaya putih dan tampan berada. “ Fahrial menunjuk dirinya sendiri membuat wajah Kiara yang semula menunjukkan ketakutan berubah menjadi datar tanpa ekpresi.
“ Kampreet! “ Kiara memukul kencang tangan Fahrial yang berada di atas meja.
“ Aw… “ Ringis Fahrial mengusap punggung tangannya.
“ Aneh ya, bisa – bisanya ada orang yang mau di samakan dengan buaya. “ Cibir Kiara masih kesal karena telah tertiipu.
Fahrial hanya bisa tertawa saja melihat Kiara kini bersunggut sebal karena tadi sudah sempat percaya dengan keberadaan Buaya Putih.
“ Kamu mau minum apa? “ tanya Fahrial agar Kiara tidak terus menggerutu.
“ Emang di tukang ayam bakar ada minuman apa aja? “
“ Dia cuma ada air putih doang. Kalau kamu gak mau air putih nanti aku belikan yang lain di tukang minuman. “ Terang Fahrial.
“ Aku mau teh botol pakai es batu. “ Pinta Kiara.
“ Oke, aku beli dulu ya. “ Fahrial bangun dari duduknya.
“ Tempatnya jauh gak? “ Kiara bertanya lagi.
“ Di dekat parkiran mobil. Kenapa? kamu mau ikut? “ tawar Fahrial.
“ Gak mau, capek. Kamu aja yang jalan. “ Tolak Kiara.
“ Emangnya gak takut di sini sendirian? Nanti ada buaya, loh. “ Ledek Fahrial.
“ Kan, kamu buayanya. “ Balas Kiara ketus. “ Udah sana buruan beli minum. “ Usir Kiara.
“ Iya – iya. “ Fahrial melangkahkan kaki pergi menuju tempat minuman yang lumayan berjarak, tapi bagi Fahrial tak mengapa karena kalau Kiara sudah meminta sesuatu akan sangat berat bagi Fahrial jika tidak menurutinya.
Ketika Fahrial sudah kembali, ternyata makanannya telah tersedia di atas meja.
“ Ini minumannya nyonya, Kiara. “ Fahrial meletakkan teh botol pakai es batu di dalam gelas plastik.
“ Makasih manusia yang ngaku jadi buaya putih dan tampan. “ Balas Kiara bernada bercanda tetapi wajahnya menatap Fahrial sinis.
Sebelum makan, mereka berdua mencuci tangan lebih dulu menggunakan air yang telah di sediakan di dalam wadah oleh si pedagang, setelah itu Fahrial dan Kiara mulai menyantap makanan masing – masing.
“ Selain menyukai lagu yang sama, ternyata kita berdua juga suka makan ayam bagian paha. “ Celetuk Fahrial di sela – sela menyantap makanan.
“ Halah, paling kamu sengaja ikutin aku pesan paha supaya dikira punya selera yang sama. “ Balas Kiara seraya menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
“ Iya, sih. Sebenarnya aku lebih suka d**a. “ Saat bicara seperti itu, tak sengaja mata Fahrial tertuju pada bagian d**a Kiara dan ternyata gadis itu pun menyadari kemana arah pandangan Fahrial.
Mata Kiara melotot seraya terburu – buru menelan makananya karena ingin memarahi Fahrial.
“ Heh! Ngapain kamu lihatin dadaku! “ secara spontan Kiara menutup bagian dadanya dengan tangan kirinya.
“ E—enggak. “ Fahrial menggeleng cepat. “ Siapa yang lihat d**a kamu. “ Balas Fahrial dengan mata yang kembali tertuju ke arah sana.
“ Itu tadi waktu kamu ngomong lebih suka d**a kenapa mata kamu lihat ke arahku! “ seru Kiara merasa tak terima.
“ Sumpah aku gak sengaja. “ Fahrial menunjukkan jari peace. “ Kamu kan, duduk di hadapanku, jadi secara otomatis pandanganku ke arah depan. “ Fahrial berusaha mengelak. “ Aku sama sekali tidak ada niat untuk fokus menatap ke arah situ. “ Dengan polosnya Fahrial menunjuk ke area d**a Kiara.
Kiara menepis tangan Fahrial. “ Heh! gak usah di tunjuk juga kali! “ Protes Kiara.
“ Salah lagi aja. “ Tutur Fahrial.
“ Arggh! “
Selama makan, Kiara tidak berkedip memandangi Fahrial. Kiara melakukan itu bukan karena dia tertarik menatap wajah tampan Fahrial melainkan untuk mengawasi lelaki itu tidak mencoba mencuri – curi padangan memperhatikan bagian dadanya lagi.
“ Apa liat – liat? “ omel Kiara saat Fahrial tak sengaja menatapnya.
Ketika di omelin dengan Kiara bukannya takut justru Fahrial malah menahan tawanya karena gadis itu seperti CCTV yang sedang mengawasinya.
“ Terus aku harus lihat kemana, Kia? “
“ Nunduk aja. “ Cetus Kiara.
“ Hm, ok. “ Fahrial menurut saja, ia makan sambil menunduk bahkan tak berani memandang ke depan karena takut istrinya ngomel – ngomel dan ikut melahapnya seperti ayam bakar di atas piringnya.
Kiara merasa begitu was- was, padahal lelaki yang ada di hadapannya saat ini adalah suaminya sendiri. Jangankan memandang, jika Fahrial menginginkan untuk menyuntuh bagian tubuh Kiara pun tentunya sangat di perbolehkan karena mereka berdua sudah muhrim tetapi memang dasarnya Kiara tak ada rasa sehingga menganggap Fahrial tidak berhak melakukan itu.
Selesai makan, mereka segera kembali untuk pulang. Namun, di tengah perjalanan Kiara merasakan perutnya sakit dan sedikit mual.
“ Hoekk. “ Kiara mendadak ingin memuntahkan isi perutnya namun berusaha untuk dia tahan.
“ Kiara? “ Fahrial menepikan mobilnya ke pinggir jalan karena khawatir dengan keadaan isitrinya. “ Ada apa? “ tanyanya cemas.
“ Perut aku mual. “ Balas Kiara sambil meringis karena ulu hatinya nyeri.
“ Mual? “ Fahrial garuk – garuk kepalanya. “ Padahal, kita berdua belum ngapa – ngapain. Terus kenapa kamu hamil? Masa iya hanya karena tidur bareng bisa membuat kamu hamil? “ Fikiran Fahrial malah berkeliaran ke arah yang tidak jelas.
“ Ck, kamu ini ngaco banget deh, Fahri! “ Kiara mencubit gemas tangan Fahrial hingga lelaki itu meringis. “ Maag aku kambuh gara – gara tadi terlalu banyak makan sambel ayam bakar yang pedes banget. “ Kiara menjelaskan penyebabnya mual dan merasakan perutnya sakit.
Fahrial terkekeh. “ Nah, itu baru masuk akal, Aku fikir kamu hamil. “
“ Fahri, tolong belikan aku obat Maag di apotek. “ Pinta Kiara.
“ Yaudah kita cari apotek dulu. “ Fahrial kembali melajukan kendaraan beroda empat itu menelusuri jalan untuk mencari sebuah Apotek dan untungnya tidak terlalu sulit karena dengan mudah mereka menemukan apotek di pinggir jalan.
“ Kamu tunggu di mobil aja, biar aku yang beli. “ Fahrial bergegas untuk turun dari mobil, lalu dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam Apotek sedangkan Kiara tetap di dalam.
Merasa perutnya mual, Kiara membuka jendela agar bisa menghirup udara segar dari luar.
Kiara memandang ke arah pintu masuk apotek, ia lihat ada beberapa orang keluar dan masuk yang tentu saja tidak Kiara kenal. Tak lama, Fahrial pun keluar dari Apotek tetapi hal tersebut membuat Kiara terkejut.
Bukan! Kiara bukan terkejut karena melihat suaminya itu melainkan menyaksikan di belakang Fahrial ada Beckham yang juga baru saja keluar dari Apotek.
“ Beckham. “ Mata Kiara melebar, ia pandangi Beckham berjalan cepat mendahului Fahrial.
“ Mas? “ panggil Fahrial dan Beckham pun menghentikan langkahnya.
“ Tali sepatunya lepas. “ Fahrial menunjuk ke arah sepatu Beckham yang memang benar talinya tidak terikat, ia memberitahu hal tersebut agar Beckham tidak terlilit dan jatuh.
Belum sempat Beckham bilang terimakasih, Fahrial sudah berjalan cepat karena dia tidak ingin membuat Kiara yang sedang kesakitan menunggunya terlalu lama.
Beckham berlutut untuk mengikat tali sneakersnya sambil memandang kepergian Fahrial menuju mobil yang terparkir tak jauh dari posisinya saat ini.
Kiara buru – buru menutup jendela karena takut terlihat oleh Beckham.
“ Tadi Fahrial ngomong apa ya sama Beckham. “ Kiara jadi bertanya – tanya sendiri karena tadi sempat melihat suaminya itu menegur Beckham.
Fahrial masuk ke dalam mobil, ia menyerahkan kantung plastik berisi obat cair untuk mengatasi penyakit Maag. “ Ini di minum dulu obatnya. “
“ Iya. “ Kiara meminum obat maag tersebut menggunakan sendok kecil yang memang dapat dari dalam kardus obatnya. “ Makasih ya, Fahri. “
“ Perlu ke rumah sakit gak? “ Fahrial bertanya sambil mengamati wajah Kiara yang kini mendadak terlihat seperti orang ketakutan. “ Kenapa, Kia? “
“ E—engak. “ Balas Kiara yang nampak tegang karena saat ini dia melihat Beckham sedang berjalan ke arah mobilnya.
TOK…TOK…
Pintu jendela tepat di samping Fahrial di ketuk oleh Beckham. Ketika Fahrial ingin membuka kaca jendela, dengan cepat Kiara membuka kunciran agar rambutnya terurai lalu dia pergunakan untuk menutupi wajahnya supaya tidak di kenali oleh Beckham.
“ Mampus gue! “ suara Kiara terdengar pelan, ia menoleh ke arah jendela tepat di sebelahnya agar Beckham tidak dapat melihat wajahnya.
“ Ada apa ya? “ tanya Fahrial saat jendelanya di sebelahnya sudah terbuka setengah.
“ Gak apa – apa, saya cuma mau bilang terima kasih. “ Ucap Beckham karena tadi Fahrial sudah memberitahu tali sepatunya terlepas.
“ Oh iya, sama – sama. “ Fahrial tersenyum ramah.
“ Permisi. “ Pamit Beckham tetapi matanya sempat tertuju ke arah perempuan yang berada di sebelah Fahrial itu nampak aneh.
Ketika Fahrial sudah menutup jendela, ia menoleh ke arah Kiara.
“ Astaghfirullah! “ Fahrial terkaget – kaget karena menyaksikan Kiara yang kini menutupi seluruh wajahnya dengan rambut panjangnya sehingga membuat Kiara terlihat seperti hantu kuntilanak saja.
Kiara menyibak rambutnya yang sejak tadi menutupi wajahnya, lalu dia melirik ke arah jendela di dekat Fahrial untuk memastikan sudah tidak ada keberadaan Beckham.
“ Kiara, kamu bikin aku takut aja, sih. Serem tau! “ seru Fahrial masih dalam keadaan shock. “ Kamu ngapain sih, kayak gitu? “ tanya Fahrial tak habis fikir.
“ Tadi kata kamu kalau rambutku di urai jadi terlihat cantik, giliran udah aku urai kamu malah ketakutan! “ balas Kiara seraya kembali menguncir rambutnya.
“ Tapi, gak kayak gitu juga kali. “ Fahrial menyalahkan mesin mobilnya, lalu dia mulai melajukan kendarannya ke luar parkiran. “ Mirip kayak hantu tau gak. “ Tambah Fahrial.
“ Cowok tadi kenapa bilang makasih? “ tanya Kiara ingin tahu.
“ Oh, tadi tali sepatunya copot terus aku kasih tahu dan barusan dia kesini cuma mau bilang terima kasih. “ Jelas Fahrial membuat Kiara jadi tersenyum karena merasa Beckham pria yang sopan.
“ Kenapa kamu tersenyum? “ Fahrial melirik Kiara dengan bingung.
“ Enggak. “ Kiara menggeleng cepat. ‘ Beckham…Beckham… ‘ Batin Kiara, ia jadi memikirkan lelaki itu.