= OBAT KUAT =

1554 Kata
Kiara sudah mengganti bajunya dengan pakaian tidur, sementara itu Fahrial lagi berada di lantai bawah, entah lelaki itu lagi sedang apa Kiara juga tidak tahu.   Mumpung tidak ada Fahrial, Kiara mengambil ponselnya, lalu dia kirim pesan kepada Beckham untuk menanyakan sedang apa lelaki itu.   Bukannya membalas pesan Kiara, justru Beckham malah meneleponnya.   “ Aduh, gimana ini. “ Kiara panik sendiri tetapi dia merasa tidak tega jika menolak panggilan dari Beckham, ia pun buru – buru berlari ke balkon sambil mengangkat telefon.   ‘ Hallo Kiara? ‘   “ Iya, Beckham. “ Jawab Kiara ketika sudah sampai di balkon, ia mengecilkan suaranya supaya tidak terdengar Fahrial.   ‘ Kamu kenapa belum tidur, Kiara? ‘   “ Be—belum. “ Jawab Kiara sambil melongok ke dalam kamar untuk mengecek Fahrial sudah datang atau belum.   ‘ Malam ini kamu gak ke club? ‘   “ Tidak. “   ‘ Kenapa? emangnya kamu gak mau ketemu aku ya? ‘   “ Bukan begitu Beckham, aku—“   “ Kiara? “ panggil Fahrial yang baru saja masuk ke dalam kamar.   Kiara semakin panik. “ Beckham, aku ngantuk mau tidur duluan ya. “ Ucap Kiara tergesa – gesa.   ‘ Oh gitu. Yaudah selamat tidur ya cantik. ‘   Pipi Kiara merona saat mendengar Beckham memujinya cantik, suara lelaki itu begitu menyentuh kalbunya, Kiara masih ingin berlama – lama teleponan dengan Beckham tetapi Fahrial sudah datang.   TUT…TUT…TUT…   Kiara buru – buru memutuskan panggilan.   “ Habis teleponan sama siapa? “ tanya Fahrial karena melihat Kiara masih menempelkan ponsel pada telinganya.   “ Ah—um, tadi mamahku yang telepon. “ Bohong Kiara.   “ Oh begitu. “ Fahrial percaya saja. “ Ini aku buatkan suusu hangat untuk kamu. “ Fahrial menyodorkan segelas suusu yang baru saja dia buat secara sengaja memang khusus untuk Kiara   “ Makasih. “ Kiara mengambil gelas itu.   “ Ayo masuk, di luar dingin. “ Ajak Fahrial.   Mereka berdua berjalan masuk ke dalam. “ Mamah kamu bilang apa aja, Kia? “   “ Dia cuma tanya kabar aku aja. “ Jawab Kiara.   “ Mamah kamu gak sama sekali tanyain kabar menantunya? “ Fahrial bertanya dengan nada meledek.   “ Mamahku cuma pesan, katanya kamu gak boleh galak – galak sama aku dan harus sering – sering kasih uang. “ Ucap Kiara seraya duduk di pinggir kasur bersebelahan dengan Fahrial, ia meneguk minumannya.   Fahrial tertawa kecil. “ Sering – sering kasih uang? Itu mah, kemauan kamu aja. “ Fahrial menarik gemas hidung Kiara. “ Lagian, kapan aku marah – marah sama kamu? “   “ Itu kemarin waktu aku pulang mabuk. “ Kiara meletakkan gelas suusu yang sudah hampir habis di atas meja. “ Kamu bentak – bentak aku. “ Tambahnya.   “ Suami manapun akan marah melihat istrinya mabuk, Kiara. “ Fahrial menjawab dengan lembut supaya Kiara tidak tersinggung karena suasana saat ini sedang adem anyem, jadi Fahrial tidak ingin ada keributan.   Kiara hanya melengos saja.   “ Yaudah, aku minta maaf ya karena kemarin malam sudah marah – marah sama kamu. “ Fahrial usap kepala Kiara dengan lembut.   “ Iya di maafin. “ Kiara menguap karena sudah mengantuk, ia naik ke atas kasur. “ Aku tidur duluan ya. “   Fahrial berdiri, ia memandang Kiara yang sudah merebahkan tubuhnya.   “ Kamu beneran mau tidur atau nanti tengah malam akan pergi secara diam - diam? “ wajar saja jika Fahrial curiga karena terakhir kali Kiara telah membohonginya.   “ Ya, aku serius. Kali ini ngantuk berat dan tidak akan keluar malam. “ Jawab Kiara yang sudah memejamkan matanya.   “ Oke. “ Fahrial pun memutuskan untuk ikut naik ke atas kasur.   Kiara tidur terlentang sedangkan Fahrial kini rebahan dengan posisi miring menghadap Kiara. Dia lihat istrinya itu memang sudah terpejam, tapi Fahrial tidak langsung tidur meskipun dia sudah mengantuk karena Fahrial ingin menunggu dulu hingga beberapa saat untuk memastikan Kiara benar – benar tidur atau hanya sandiwara lalu nanti akan pergi keluar di saat dirinya terlelap.   Kiara merasa tidak nyaman dengan posisinya saat ini, ia pun bergerak untuk tidur menyamping. Kiara tak sengaja membuka matanya dan terkejut karena saat ini tidurnya berhadapan dengan Fahrial yang sedang memandangnya.   “ Kamu ngapain lihatin aku kayak gitu? “ tanya Kiara menaruh rasa curiga pada Fahrial. “ Pasti kamu mau berbuat sesuatu ya di saat aku tidur? “   “ Enggak. “ Fahrial menggelengkan kepalanya. “ Kamu selalu berprasangka buruk terus sama aku. “   “ Ck, menyebalkan. “ Kiara bertukar arah, ia lebih memilih untuk membelakangi Fahrial karena tidak ingin tidur saling berhadapan dengan lelaki itu.   Lima belas menit berlalu, sepertinya Fahrial sudah bisa tidur tenang karena Kiara benar – benar terlelap. Namun, untuk memastikan agar semuanya benar – benar aman, Fahrial berniat mengunci pintu balkon untuk berjaga – jaga jika seandainya Kiara akan keluar malam dan kembali masuk lewat balkon dia bisa mengetahuinya.   Fahrial turun dari kasur, ia berjalan ke arah balkon, lalu dia kunci pintu tersebut dan kuncinya dia simpan dengan rapih supaya Kiara tidak bisa menemukannya.   “ Beres. “ Fahrial kembali berjalan ke arah kasur tetapi dia berhenti melangkah saat melewati Kiara, ia mendekati gadis itu dan berlutut di lantai atau mungkin lebih tepatnya di samping kasur karena saat ini Kiara tidur agak ke pinggir dengan posisi menyamping.   Fahrial pandangi wajah istrinya itu begitu damai. Semua yang ada di wajah Kiara nampak sempurna, bagian yang paling membuat darah Fahrial berdesir adalah bibir ranum gadis itu.   “ Cantik banget emang istri gue. “ Gumam Fahrial, ia menggerakkan tangannya untuk merapihkan rambut Kiara yang sedikit menutupi wajahnya.   “ Cium jangan? “ Fahrial bertanya pada dirinya sendiri. “ Cium ajalah, Kiara pules ini. “ Fahrial yang sudah tidak bisa menahan diri untuk mengecup bibir Kiara langsung nyosor begitu saja.   CUP.   “ Sekali lagi, deh. “ Fahrial kembali memajukan wajahnya untuk mencium Kiara, ia benar – benar memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.   Baiklah, sudah puas Fahrial mencium Kiara secara diam – diam, inilah saatnya dia bisa tertidur pulas. Setidaknya dengan mencium bibir Kiara selama beberapa kali bisa menjadi bukti bahwa Kiara benar – benar tertidur pulas karena jika memang Kiara hanya berpura – pura tidur, sudah pasti gadis itu akan marah jika di cium.   **   Tidak seperti biasanya yang terlihat muram dan banyak fikiran, pagi ini Fahrial nampak begitu cerah, ia tidak berhenti tersenyum karena semalam baru saja melalui waktu yang menyenangkan.   “ Pagi Laras. “ Sapa Fahrial yang baru saja datang, ia duduk di kursinya.   “ Pagi. “ Balas Laras.   “ Na….na….na…na. “ Fahrial bersenandung sambil merapihkan meja kerjanya yang sedikit berantakan. “ La…la….la…la. “   “ Ehem. “ Laras berdehem. “ Ada apa, nih? Tumben banget pagi – pagi bersenandung. Sepertinya ada yang sedang bahagia. “ Sahut Laras.   Fahrial berjalan mendekati Laras, ia duduk dihadapan sahabatnya itu.   “ Laras, kamu tau gak? “   “ Gak tau. “   Fahrial terkekeh. “ Aku lega banget karena cowok yang kamu lihat bersama Kiara itu cuma temannya. “   “ Teman? Kamu gak cemburu atau marah karena temannya itu laki – laki? “ Laras cukup heran.   “ Aku cemburu, tapi temannya Kiara yang bernama Ody itu orangnya lekong alias kayak baanci! “ seru Fahrial. “ Pokoknya, kamu kalau ketemu langsung pasti bakal ketawa deh, tingkah lakunya kayak perempuan banget. “ Jelas Fahrial sedangkan Laras terdiam bingung sebab sosok lelaki yang dia lihat di depan restauran itu terlihat gagah dan berwajah blasteran nampak maskulin sekali, tidak ada kesan yang menunjukkan lelaki itu seperti perempuan.   “ O—oh, gitu. Yaudah bagus, deh. “ Balas Laras karena tidak ingin menduga – duga, mungkin saja Kiara berkata jujur.   “ Terus tadi malam aku dinner sama Kiara di tempat biasa kita makan ayam bakar. Dia suka banget, tapi sambelnya kepedesan jadinya  Maag dia kambuh, deh. “ Cerita Fahrial panjang lebar, dia sangat antusias berbagi cerita bahagia.   Laras tersenyum senang. “ Alhamdulillah kalau begitu, aku ikut bahagia mendengarnya. Semoga hubungan kalian semakin lengket ya. “   “ Amiin Ya Allah! “ Fahrial mengusap wajah dengan kedua tangannya.   **   Kiara ingin bersantai di luar balkon tetapi pintunya terkunci, biasanya kunci tersebut menyantel tetapi ini tidak di temukan sama sekali.   “ Kemana kuncinya ya? “ Kiara bertelak pinggang memandang pintu kaca yang tertutup rapat. “ Mungkin Fahrial simpan di laci. Baiklah, coba kita cari. “ Kiara berjalan menuju lemari Fahrial, lalu dia cek semua laci yang di dalam.   Namun, bukannya kunci yang Kiara dapatkan, justru dia malah menemukan obat dalam bentuk kemasan.   “ Obat apa, nih? “ Kiara baca tulisan pada kemasan itu yang cukup panjang. “ Obat kuat herbal agar bisa tahan lama ketika berhubungan intim. “ Selesai membaca Kiara tersontak kaget, ia terperangah.   “ A—apa? obat kuat? “ Saat itu juga Kiara langsung menutup semua laci dan lemari Fahrial tetapi obat itu dia ambil. “ Fahrial benar – benar messum! Awas aja ya nanti kalau dia pulang habis aku maki - maki! “ serunya penuh emosi.   Kiara tidak habis fikir kenapa Fahrial menyimpan obat seperti itu dan Kiara beranggapan kalau Fahrial membelinya dengan sengaja untuk menyiapkan jika Kiara sudah mau diajak untuk berhubungan badan. Padahal, Kiara tidak tahu saja kalau obat itu adalah pemberian Ojan, rekan kerja Fahrial.   Kiara kembali memandang obat yang baginya sangat menjijikan itu.   “ Aku akan simpan supaya Fahrial tidak bisa mengkonsumsinya! Benar – benar kurang ajar si Fahrial! “ Kiara tidak jadi mencari kunci karena perasaannya sudah kacau gara – gara obat tersebut.   Dia memilih turun ke bawah untuk duduk di ruang tamu sambil menunggu Fahrial yang sebentar lagi akan pulang.   “ Awas ya kamu Fahrial! “ seru Kiara, obat itu masih berada di dalam genggamannya.      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN