Fahrial berjalan mendekati Kiara yang duduk di bangku kayu. Istrinya itu nampak gelagapan seperti orang panik karena sudah terciduk oleh Fahrial sedang teleponan dengan kedua temannya membahas soal Beckham.
“ Siapa yang kamu kangenin? “ tanya Fahrial ketika sudah di hadapan Kiara.
“ Um… anu…” Kiara garuk – garuk kepalanya sambil memejamkan mata memikirkan apa yang harus dia katakan.
“ Jawab, Kiara. “ Ucap Fahrial yang tak sabar ingin tahu.
“ Baiklah. “ Kiara menghela nafas berat, ia terlihat pasrah menatap Fahrial. “ Sebenarnya tadi itu Ody ngajakin aku nginep di rumahnya sehabis party, tapi aku bilang gak bisa karena takut kangen sama…” Kiara menyiapkan mentalnya. “ Aku takut kangen sama kamu. “ Lanjut Kiara memperjelas.
Apakah itu sebuah kejujuran? Tentu saja tidak. Kiara mengatakan kebohongan itu demi menyelamatkan dirinya dari kecurigaan Fahrial.
“ Kamu serius? “ tanya Fahrial yang tentu saja kaget mendengar Kiara berkata seperti itu.
“ Iya aku serius. “ Kiara mengangguk cepat. “ Tadinya aku malu mau jujur, tapi karena kamu paksa yaudah aku jelasin. “ Tambahnya.
Fahrial yang tadinya ke belakang ingin menasihati Kiara terkait sikapnya terhadap ibunya jadi lupa karena sudah tenggelam dengan rasa senang atas apa yang Kiara katakan tadi bahwa dia tak mau menginap karena takut rindu padanya.
‘ Kiara takut rindu saat jauh dariku, apakah dia sudah mulai menyukaiku? ‘ batin Fahrial. Siapa yang tidak terbawa perasaan saat orang yang dicintainya berkata seperti itu.
Kiara melengos karena sejak tadi terus di tatap Fahrial. ‘ Pasti Fahrial lagi kepedean, deh. ‘
“ Aku jadi bingung harus bilang apa. “ Fahrial senyam – senyum sendiri menatap Kiara. “ Emangnya apa yang buat kamu kangen sama aku? “ tanyanya penasaran.
“ Apa ya? “ Kiara berfikir lagi untuk berbohong. “ Mungkin sikap usil kamu yang bikin aku jadi kangen kalau jauh. “
Fahrial mengulum senyumnya. “ Sudah – sudah, aku bisa terbang kalau kamu terus bicara seperti itu. “ Fahrial memilih untuk duduk di samping Kiara. “ Tadi waktu di kamar, kamu minta aku transfer duit untuk apa? “ seketika Fahrial mendadak ingat hal tersebut sehabis di buat terbang oleh Kiara.
Kiara melirik Fahrial, ia jadi merasa kebohongannya tadi ada gunanya juga karena membuat Fahrial jadi menanyakan soal transferan.
“ Untuk peganganku saja karena uang yang kamu transfer beberapa waktu lalu habis aku pakai belanja online. “ Terangnya dengan santai tetapi cukup mengejutkan Fahrial.
“ Apa? habis buat belanja online? “ Fahrial tertegun mendengarnya.
“ Iya, kamu marah ya? “ Kiara memasang wajah memelas andalannya membuat Fahrial yang ingin marah mendadak tidak jadi.
“ Hm, Kiara. Lain kali kamu jangan terlalu boros seperti itu ya. “ Tutur Fahrial dengan lembut agar Kiara tidak tersinggung.
“ Iya – iya, lain kali aku akan lebih hemat. “ Jawabnya berusaha tenang walaupun di dalam hatinya bersunggut sebal kepada Fahrial.
“ Yaudah aku transfer ya. “ Fahrial mengeluarkan ponselnya, ia buka aplikasi M-banking untuk mentransfer sejumlah uang ke rekening Kiara.
“ Sudah berhasil. “ Fahrial menunjukkan bukti transaksinya.
“ Aw, thank you Fahri. “ Kiara memeluk Fahrial secara spontan karena dia merasa begitu bahagia di kirimkan uang lagi meskipun sebenarnya masih ada saldo di atmnya.
“ Sama – sama, Kiara. “ Fahrial membalas pelukan Kiara.
Di saat yang bersamaan, Laras baru saja datang tetapi gadis itu segera menghentikan langkahnya di ambang pintu masuk halaman karena melihat mereka berdua sedang berpelukan sehingga Laras tidak ingin menggangu karena kehadirannya.
“ Baiklah, aku langsung pulang saja. “ Laras membalikkan badannya, ia kembali menghampiri Ratih di ruang tamu.
“ Ibu, Laras pulang dulu ya. “ Pamit Laras ketika sudah berhadapan dengan Ratih.
“ Sudah bilang ke Fahrial? “ tanya Ratih.
“ Belum, dia lagi romantis – romantisan sama istrinya di belakang, jadi aku gak mau ganggu. “ Balas Laras di sambut tawa oleh Ratih.
“ Bisa aja kamu. “ Ratih mengusap pipi Laras. “ Yaudah nanti ibu sampaikan ke Fahrial ya. Kamu hati – hati di jalan ya, nak. “
“ Iya, bu. Assalamualaikum. “
“ Wa’alaikumsallam. “
Ratih duduk di sofa dengan senyum yang masih terukir mengingat apa yang tadi Laras katakan, Ratih menganggap bahwa hubungan rumah tangga anaknya sangat harmonis dan itu terbukti dari apa yang Laras sampaikan tadi kalau Fahrial dan Kiara sedang romantis – romantisan.
“ Semoga mereka berdua segera di karuniai anak. “ Harap Ratih yang tak sabar ingin punya cucu.
Sementara itu, Fahrial masih berada di halaman belakang bersama Kiara.
“ Kiara? “
“ Iya? “
“ Aku mau ngomong sesuatu. “ Ucap Fahrial ingin membicarakan topik utama yang membuat dia datang ke halaman belakang untuk menemui Kiara.
“ Ngomong aja. “ Kiara memasukkan ponsel ke dalam sakunya.
“ Aku ingin kamu bersikap lebih menghargai ibuku. “ Ucap Fahrial bernada rendah agar tidak terkesan memarahinya karena Fahrial tahu Kiara orangnya mudah sekali tersinggung.
Kiara menatap Fahrial agak sinis, tapi kemudian mencoba untuk menganggukan kepalanya. “ Oke. “ Singkatnya tak ingin berlarut – larut.
“ Ibuku jarang – jarang menginap disini, besok saja sudah pulang. Setidaknya, saat dia menginap kamu bisa menganggapnya ada. Misalnya kamu temani dia ngobrol atau apapun itulah. “ Terang Fahrial lagi.
“ Iya – iya, aku minta maaf. “ Jawabnya setengah hati.
“ Tidak apa – apa. “ Fahrial mengusap kepala Kiara, lalu dia bergerak untuk mencium pipi gadis itu.
CUP.
Kiara cukup terkejut, saat dia ingin protes tiba – tiba saja terdengar suara seorang perempuan.
“ Cie…cie… kalian berdua romantis sekali. “ Goda ibunya Fahrial yang bersandar di pintu masuk halaman belakang. Seketika mereka berdua menoleh ke arah sumber suara.
“ Ibu, jangan begitu aku jadi malu. “ Sahut Fahrial dengan pipi memerah.
‘ Apaan, sih. Aneh banget ibu – ibu yang satu ini. ‘ Batin Kiara tak suka.
“ Yaudah, ibu ke dalam aja, deh. Silahkan kalian berdua lanjutkan saja bermesraannya. “ Ratih pergi ke dalam karena tak ingin menggangu anak dan menantunya.
**
Kiara sudah bersiap dengan mini dress berwarna hitam sesuai dengan dress code yang Beckham beritahu. Gadis itu memoles make up flawless membuat kecantikannya nampak sempurna.
Terakhir, Kiara semprotkan parfume di tubuhnya sebagai tahap akhir. Baiklah, sekarang dia sudah siap untuk berangkat.
Fahrial yang baru saja selesai ngobrol dengan ibunya di bawah pun kembali ke kamar.
“ Beh, wangi bener. “ Ucap Fahrial ketika membuka pintu kamar, tapi sedetik kemudian dia terkejut saat melihat penampilan istrinya.
“ Astagfirullah, Kiara? “ mata Fahrial melebar sempurna, ia menggelengkan kepalanya. “ Gak…gak…gak! ganti baju kamu! “ tegasnya, ia tak suka melihat Kiara menggunakan mini dress di atas lutut dan bagian atasnya berbentuk V sehingga menampilkan belahan d@danya.
“ Apa? ganti? “ Kiara ikut menggelengkan kepalanya. “ Sudah tidak ada waktu lagi. “ Tolaknya seraya mengambil tasnya.
“ Kamu gak boleh pergi kalau pakai baju seksi seperti itu. “ Fahrial menghadang pintu kamar, ia bersandar agar Kiara tidak bisa lewat untuk keluar.
Kiara membelalakan matanya. “ Ayolah Fahrial? Masa aku ke acara BirthDay Party pakai baju gamis? “ protesnya.
“ Ya, gak harus pakai baju gamis juga kali. Kamu bisa pakai dress yang lebih sopan atau pakaian lain. “ Balas Fahrial bersikeras untuk mencegah Kiara pergi dengan pakaian kelewat seksi.
“ Minggir! “ perintah Kiara agar Fahrial tidak menghalangi jalannya.
“ Gak mau. “ Tolaknya.
“ Minggir, Fahrial! “
“ Tidak mau! “
“ Ih, awas! Nanti aku telat! “ Kiara memutuskan untuk menggeser tubuh Fahrial sekuat tenaga tetapi sia – sia karena Fahrial lebih kuat darinya.
Fahrial terkekeh. “ Tidak semudah itu, Kiara. “
“ Ck, ngeselin banget ya kamu. “ Kiara bertelak pinggang sambil menatap Fahrial sinis, ia sedang berfikir untuk mencari cara supaya lelaki itu mau memberinya jalan.
“ Cepat kamu ganti baju, setelah itu aku akan membiarkan kamu pergi keluar. “ Tutur Fahrial.
“ Kalau kamu gak mau kasih aku jalan, aku loncat aja dari balkon! “ ancam Kiara terdengar nekat dan berharap Fahrial mau mengalah.
“ Yaudah coba kamu loncat aja kalau berani. Kemungkinan terburuknya tulang kamu akan patah dan kepala kamu akan bocor. “ Terang Fahrial membuat Kiara bergidik ngeri.
“ E—ngak jadi, deh! “ Kiara jadi panik sendiri dan tak berniat merealisasikan keinginannya untuk melompat.
“ Padahal permintaanku simpel. Cukup kamu ganti baju dengan yang lebih sopan, lalu setelah itu aku akan mengizinkan kamu pergi. “ Ungkap Fahrial.
Tidak salah bukan jika seorang suami menginginkan penampilan istrinya lebih baik supaya di luaran sana tidak di lecehkan oleh orang – orang tak bertanggung jawab.
“ Fahrial, aku sudah terlambat. Tolong jangan buat aku kesal. “ Ungkap Kiara yang tidak ingin di paksa untuk mengganti pakaiannya.
“ Aku tidak perduli kamu mau terlambat atau tidak. Aku hanya ingin kamu mengganti pakaianmu. “ Tandas Fahrial dengan sorot mata mendalam.
“ Ck, menyebalkan! “ Kiara menghentakkan kakinya kesal.
“ Kalau kamu tidak mau, aku akan melakukan sesuatu kepadamu. “ Kini giliran Fahrial yang mengancam.
“ Apa yang akan kamu lakukan? “ tanyanya sewot.
“ Akan aku beritahu. “ Fahrial mengunci pintu kamar, lalu dia simpan kuncinya di dalam saku, kemudian Fahrial berjalan mendekati Kiara.
“ Kamu mau ngapain? “ Kiara agak ngeri karena kini melihat Fahrial berjalan ke arahnya dengan wajah menyeringai sambil membuka satu per satu kancing baju tidur yang dia kenakan.
“ Menurutmu? “ tanya Fahrial ketika sudah berada di hadapan Kiara.
Kiara terperangah saat Fahrial melingkarkan tangannya pada pinggulnya, lalu lelaki itu hentakkan tubuhnya agar mendekat kehadapannya.
“ Ah. “ Kiara kaget saat kini tubuhnya berdempetan dengan Fahrial, ia mendadak gemetar. “ Fa—Fahri, apa yang ingin kamu lakukan? “
“ Kita lihat saja. “ Tiba – tiba saja Fahrial mengangkat tubuh Kiara dan membawanya ke arah kasur, sementara itu Kiara mencoba untuk memberontak.
“ Fahrial! Hentikan! “ jeritnya.
Fahrial menurunkan tubuh Kiara tepat di atas kasur, lalu dia kembali melanjutkan untuk membuka pakaiannya yang tadi kancingnya sudah sempat dia buka sebagaian.
“ Aku tidak bisa menghentikannya! “ seru Fahrial seketika membuat Kiara terbangun duduk karena takut Fahrial benar – benar akan menyetubuhinya.
“ Oke – oke! “ Kiara mengangkat kedua tangannya pertanda dia menyerah dan akan menuruti kemauan suaminya itu untuk mengganti pakaian. “ Aku akan ganti Dress. “ Lanjutnya.
Fahrial tersenyum tipis memandang Kiara, ia menganggukan kepalanya sambil memasang kembali kancing di bajunya.
“ Bagus. “ Jawabnya merasa puas dengan aksinya karena berhasil membuat Kiara takut.
“ Kamu memang sangat menyebalkan! “ Kiara bangun dari duduknya, ia ingin melangkah tetapi Fahrial menahan lengannya.
“ Aku berbuat seperti ini agar kamu tahu bahwa akan ada banyak lelaki di luaran sana yang ingin melakukan hal seperti apa yang aku lakukan kepadamu tadi karena pakaianmu yang begitu menggoda. “ Ungkap Fahrial menjelaskan apa maksud dan tujuannya tadi.
Kiara tertegun mendengar ucapan Fahrial. Secara tidak langsung, Fahrial sedang memberikannya gambaran bahwa di luar sana bisa saja akan ada orang yang ingin melakukan kejahatan kepada Kiara setelah melihat kemolekan tubuh gadis itu yang sangat menggugah untuk di nikmati.
“ Aku akan ganti baju. “ Kiara menyingkirkan tangan Fahrial yang menahan lengannya, lalu dia melanjutkan langkahnya menuju lemari untuk mencari pakaian yang lebih tepat.
Kiara mengganti pakaiannya dengan dress warna hitam miliknya yang panjangnya di bawah lutut dan atasannya juga tidak terlalu terbuka. Ya, meski tetap menampilkan lekuk tubuhnya yang indah tetapi setidaknya itu sedikit lebih tertutup dari yang sebelumnya.
“ Gimana? puas? “ tanya Kiara menunjukkan penampilannya kepada Fahrial yang kini duduk di pinggir kasur.
“ Lumayan, ya walaupun aku tetap tidak suka kamu pakai baju seperti itu. “ Balasnya mengamati penampilan Kiara.
“ Sudahlah Fahrial, aku mau berangkat. Gara – gara kamu aku benar – benar sudah terlambat. “ Kiara segera melangkahkan kakinya untuk keluar, baru saja dia ingin membuka pintu, Fahrial memanggilnya.
“ Kiara? “
“ Apa lagi? “ Kiara menoleh ke arah Fahrial dengan raut wajah merengut.
“ Kamu sangat cantik. “ Puji Fahrial seketika eskpresi muram yang tercetak di wajah Kiara berubah menjadi sumringah saat di puji.
“ Makasih. “ Balasnya kemudian dia ingin melanjutkan membuka pintu.
“ Kiara? “ Panggil Fahrial sekali lagi.
“ Apa lagi, Fahrial? “ Kiara kembali menoleh ke belakang.
“ Kamu tidak akan bisa keluar karena kuncinya ada di sini. “ Fahrial berdiri dan menunjuk ke arah saku depan celananya tempat dia menyimpan kunci.
“ Ah, ya ampun! cepat berikan kepadaku! “ pintanya bernada kesal.
“ Oke. “ Fahrial mendekati Kiara tetapi dia tidak mengambil kunci yang dia simpan dari saku celananya. “ Nih, ambil sendiri. “ Ujarnya merasa usil dan ingin mengerjai Kiara.
Mata Kiara melebar. “ Yang benar aja, Fahri? “
“ Kalau mau keluar, ambil aja sendiri. “ Ledeknya terus – menerus sambil menaik turunkan kedua alisnya.
“ Argghhh! Cobaan macam apa ini! “ seru Kiara geregetan sendiri. Dia memandang saku depan celana Fahrial dengan perasaan campur aduk karena posisinya sangat berdekatan dengan barang berharga milik Fahrial. Belum merogohnya saja jantung dia sudah berpacu cepat, rasanya dia sangat risih bercampur gugup.
“ Cepat, Kiara. Nanti kamu semakin terlambat. “ Ujar Fahrial membuat Kiara jadi tergesa – gesa.
“ Iya – iya, sabar. “ Kiara mendekati Fahrial, tangannya mulai terangkat untuk merogoh ke dalam saku celana Fahrial. “ Huh, oke tenang. “ Kiara bicara pada dirinya sendiri sedangkan Fahrial menahan senyumnya melihat Kiara sudah mulai merogoh saku celananya.
Kiara yang tidak sanggup di tatap Fahrial dari jarak yang berdekatan pun memilih untuk memejamkan matanya saat mengambil kunci.
“ Awas salah ambil. “ Celetuk Fahrial seketika Kiara membuka matanya.
“ Dasar meesum! “ cibir Kiara kesal sendiri karena dia mengerti maksud kalimat salah ambil yang Fahrial katakan. “ Siapa juga yang mau ambil itumu, dasar bodoh! “ Tambah Kiara menggerutu.
Fahrial terkekeh saja, ia menikmati tangan Kiara yang meraba saku celananya itu.
“ Ah, siaal! Kenapa dalam sekali kantong celana kamu. “ Keluh Kiara yang belum menggapai kunci tersebut.
“ Lebih dalam lagi. “ Ucap Fahrial semakin menjadi – jadi.
“ Memang otakmu kotor! “ Kiara menarik kunci yang sudah dia raih dari saku Fahrial. “ Lebih dalam….lebih dalam… lebih dalam matamu somplak! “ selesai bicara, Kiara bergegas untuk membuka pintu dan segera pergi keluar kamar menjauh dari Fahrial sebelum suaminya itu melakukan sesuatu yang membuatnya naik darah.
Fahrial tertawa kecil melihat Kiara pergi sambil menggerutu.
“ Kenapa aku bisa menyukai wanita se-galak dia ya? “ fikir Fahrial yang sampai saat ini tidak menemukan jawabannya.
Sampainya di lantai bawah, Kiara mengedarkan pandangannya untuk memastikan apakah ada keberadaan ibunya Fahrial dan untung saja tidak ada.
“ Mungkin dia sudah tidur. “ Gumam Kiara karena ini memang sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Kiara keluar rumah, masuk ke dalam mobil, lalu bersiap untuk pergi menuju Apartemen yang sudah Beckham kirimkan alamatnya.
TING. (Pesan Masuk)
Kiara baca pesan tersebut yang ternyata dari Fahrial.
Ingat, jangan pulang lebih dari jam dua belas malam ya, istriku yang gemesin seperti annabelle di film Frozen. *Fahrial*
Kiara jadi tertawa saat membaca pesan tersebut karena Fahrial memujinya seperti Annabelle dari film Frozen sedangkan di film tersebut karakter tokohnya bernama ‘ANNA‘ saja tidak ada embel – embel ‘BELLE‘.
“ Fahrial memang bodoh. “ Gumamnya. “ Dia fikir aku hantu Annabelle. Pujian macam apa itu. “ Lanjut Kiara seraya menyalahkan mesin mobilnya.