Prita menghentikan mobilnya ketika sudah sampai di depan rumah Kiara. Sebenarnya Prita ingin sekali mengantar Kiara hingga ke dalam tetapi takut jika nanti ternyata Fahrial terbangun dan dia jadi terseret masalah. Kebetulan juga Kiara sudah tidak terlalu mabuk, jadi gadis itu bisa turun sendiri.
“ Kia? Gue antar lo sampai sini aja gak apa – apa , kan? “ tanya Prita saat Kiara ingin turun dari mobil.
“ Iya santai aja. “ Kiara mengangguk lemas. “ Btw, thanks ya. “
“ Oke, hati – hati, Kia. “ Ucap Prita ketika Kiara sudah turun dari mobil.
“ Lo juga hati – hati. “ Balas Kiara, ia tutup pintu mobil Prita, kemudian dia berjalan menuju pintu masuk rumahnya.
Prita segera melajukan mobilnya pergi menjauh dari sana, sedangkan Kiara kini sibuk mencari – cari kunci rumah. “ Duh, kemana lagi ini kunci rumah. “ Kiara terus saja merogoh isi tasnya berharap menemukan dimana letak kunci rumahnya.
“ Gue simpan dimana ya kuncinya. “ Kiara berfikir sejenak. “ Oh, iya. Di kantung belakang. “ Tangan Kiara beralih merogoh saku belakang celananya, tapi hasilnya nihil karena dia tidak menemukan benda kecil untuk membuka pintu rumahnya.
“ Ck, pasti jatuh. “ Kiara menepuk jidatnya berkali – kali. “ Dasar bodoh! “
Sekarang Kiara jadi kebingungan harus bagaimana lagi, jika dia mengetuk pintu pasti nanti Fahrial terbangun dan akan langsung menceramahinya sedangkan Kiara saat ini sedang malas berdebat.
“ Gimana ya? “ Kiara memijit kepalanya yang masih sedikit merasakan pusing akibat banyak minum, kemudian pandangannya tak sengaja mengarah ke sudut halaman depan rumahnya terdapat tangga alumunium tersandar di dekat dinding.
Tiba – tiba terlintas di otak Kiara untuk masuk ke dalam rumahnya dengan cara memanjat ke balkon yang langsung tertuju ke kamarnya menggunakan tangga tersebut.
“ Baiklah, tidak terlalu buuruk. “ Kiara berjalan mendekat ke arah tangga tersebut, lalu dia angkat dengan susah payah menuju dinding yang sejajar dengan balkon kamarnya. Untung saja tangga berbahan alumunium itu tidak berat alias ringan.
“ Nasib…Nasib… “ Kiara menghela nafas dulu sebentar, kemudian ia perbaiki posisi tangga yang setinggi lima meter itu agar bertepatan pada balkon kamarnya. Setelah sudah sesuai, Kiara mulai menaiki tangga tersebut dengan hati – hati.
“ Ya allah, semoga hamba gak jatuh ke bawah. Kiara belum siap mati ya Allah. “ Ungkap Kiara yang sedikit gemetaran sebab untuk sampai ke atas balkon lumayan tinggi. Ketika sudah hampir mencapai dinding balkon, tiba – tiba saja Kiara terpeleset.
“ Aaa… “ Kiara sempat berteriak sebentar sebelum akhirnya mengantupkan bibirnya rapat – rapat karena tak mau menimbulkan suara bising. Untungnya kedua tangan Kiara tadi dengan sigap memegang besi pembatas di sisi balkon sehingga dia tidak jadi terjatuh. Posisinya Kiara saat ini bergelayutan pada besi yang dia pegangi kuat - kuat, Kiara pun berusaha untuk mengarahkan kakinya agar menginjak kembali tangga tersebut sampai berhasil.
“ Hampir aja gue mati. “ Cetus Kiara dengan jantung berdebar – debar.
Setelah melewati rintangan untuk mencapai balkon, Kiara beruntung sampai di atas dengan selamat dan kini dia sudah bisa masuk ke dalam kamar dengan hati – hati supaya tidak menimbulkan suara bising. Dia menghela nafas lega karena melihat Fahrial masih tertidur pulas.
“ Syukurlah. “ Senyuman Kiara tercetak lebar, kalau begini ceritanya dia akan sering – sering dugem di malam hari saat Fahrial tertidur.
Kiara bergegas untuk mengganti pakaiannya dengan baju yang dia gunakan tadi sebelum pergi agar Fahrial tidak curiga, tak lupa dia juga mencuci muka dan gosok gigi agar nafasnya segar tidak tercium bau alkohol. Setelah beres, Kiara bersiap untuk tidur.
**
Pagi harinya, seperti biasa, pasti Fahrial yang sudah bangun lebih dulu. Dia beranjak duduk, ketika Fahrial menoleh ke arah Kiara yang saat ini masih tidur, ia tak sengaja melihat ada goresan luka pada tangan Kiara.
Mata Fahrial menyipit mengamati luka tersebut. “ Tangan Kiara kenapa? “ Fahrial meraih tangan Kiara yang dapat Fahrial perkirakan lengan istrinya itu seperti tergores sesuatu.
Ternyata apa yang Fahrial lakukan membuat Kiara terbangun dan kaget melihat Fahrial memegangi tangannya. “ Eh—“ Kiara sontak ikut terbangun duduk dengan menunjukkan wajah shock. “ Kamu ngapain pegang – pegang aku, hah? “ omelnya.
“ Tangan kamu kenapa, Kiara? “ tanya Fahrial terdengar khawatir, ia menunjuk ke arah luka yang terpampang jelas.
Kiara segera melihat tangannya yang ditunjuk oleh Fahrial, ia juga iktu terkejut karena memang benar pada bagian lengannya itu ada goresan luka cukup panjang. Kiara sempat terdiam bingung sebelum akhirnya dia teringat kejadian tadi malam saat dirinya sempat terpeleset dan berpegangan pada besi, mungkin saja pada saat itu tangannya tergores tetapi dia tidak menyadarinya.
“ O—oh, ini cuma luka biasa aja, kok. Mungkin karena aku menggaruk tanganku terlalu kasar, jadi tergores kuku aku yang panjang ini. “ Kiara menunjukkan jari – jari kukunya yang memang kebetulan pada panjang – panjang.
Fahrial terdiam, sebenarnya dia merasa luka itu tidak seperti tergores kuku tetapi yang terpenting Kiara tidak apa – apa dan Fahrial juga sama sekali tak menaruh rasa curiga pada gadis itu.
“ Tunggu sebentar. “ Fahrial turun dari kasur, ia mengambil plaster dari lemarinya kemudian dia kembali berjalan mendekati Kiara. “ Mana lengan kamu. “ Pinta Fahrial dan Kiara menyodorkan tangannya.
“ Sebenarnya aku tidak yakin luka ini karena tergores kuku, tapi aku mencoba untuk percaya bahwa kamu sedang tidak membohongiku. “ Ungkap Fahrial sambil menempelkan plaster tepat di bagian luka pada lengan Kiara.
Kiara diam saja, ia merasa kata – kata yang baru saja Fahrial ucapkan terkesan menyindirnya seperti sudah tahu saja kalau dia membohonginya.
“ Makasih. “ Kiara menarik tangannya setelah selesai di pakaikan plaster, ia lihat kini Fahrial sedang memandangnya. “ Kenapa kamu liatin aku kayak gitu? “ tanya Kiara ketus.
“ Gak apa – apa. “ Fahrial tersenyum, ia duduk di sebelah Kiara. “ Oh iya, aku punya kabar baik untuk kamu. “ Kata Fahrial.
“ Apa? “
“ Hari ini, mobil yang aku sudah beli untuk kamu akan datang. “ Terang Fahrial.
Mata dan mulut Kiara terbuka sempurna, ia membeku selama beberapa detik sebelum akhirnya dia bersuara. “ Aaaaaa, Fahrial!!! Thank you! “ secara refleks, Kiara memeluk tubuh Fahrial karena dia begitu bahagia sebab keinginannya untuk mempunyai mobil sendiri di kabulkan oleh Fahrial.
Fahrial terkesima ketika Kiara masuk ke dalam pelukannya, ia begitu senang di dekap oleh istrinya sendiri karena hal seperti ini sangat langka bagi Fahrial melihat seorang Kiara memeluknya secara cuma – cuma.
Kiara menyudahi pelukannya karena baru saja tersadar atas apa yang dia lakukan itu menurutnya sangat berlebihan. “ Sorry. “ Ucapnya, kini dia kembali memasang wajah ketus.
“ Gak apa – apa, Kiara. Kalau kamu mau peluk aku yang lama juga aku sangat menerima dengan ikhlas. “ Ledek Fahrial.
“ Ck, sudah sana mandi. “ Perintah Kiara. “ Udah jam berapa, tuh. “
“ Gara – gara dapat pelukan dari kamu, aku jadi lupa untuk bersiap – siap kerja. “ Fahrial bangun dari duduknya. “ Kamu mau ikut mandi bareng gak? “ lagi – lagi Fahrial meledek.
“ Jangan sampai semua barang di kamar ini melayang ke wajah kamu ya, Fahri! “ ancam Kiara terdengar menakutkan tetapi Fahrial tertawa saja mendengarnya.
Fahrial pun segera melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, sedangkan Kiara kini terduduk sambil senyam – senyum karena sebentar lagi dia akan mempunyai mobil pribadi sehingga dapat memudahkan dirinya untuk berpergian kemana saja atau mau dugem tengah malam pun tidak terkendala kendaraan.
“ Karena dia udah baik sama gue, kayaknya tidak ada salahnya kalau gue buatin dia sarapan. “ Kiara turun dari kasur. “ Sekali – kali gue baik sama dia. “ Ucapnya.
Kiara berjalan keluar kamar menuju lantai bawah ke arah dapur untuk membuatkan Fahrial sarapan pagi sebagai bentuk rasa terima kasih kepada pria itu yang telah mengabulkan keinginannya.