= SARAPAN PAGI =

1431 Kata
Kiara sudah berada di dapur, ia menyiapkan sereal dan suusu untuk Fahrial karena dia tidak bisa memasak apapun sebab dulu dia terbiasa di siapkan sarapan oleh ibunya. Jadi, menurut Kiara membuatkan sereal adalah yang paling simple dan mudah, hanya itu yang bisa dia lakukan.   Fahrial turun ke lantai bawah ketika sudah rapih, ia mencari – cari keberadaan istrinya karena sejak tadi di dalam kamar dia tungguin tak kunjung datang.   “ Kia? “ panggil Fahrial sambil merapihkan dasinya, ia melangkah cepat menuruni anak tangga.   “ Ya, aku disini. “ Kiara baru saja keluar dari arah dapur membawa semangkuk sereal dan segelas suusu putih sambil berjalan ke ruang tamu.   Fahrial mendekati Kiara yang baru saja duduk di sofa ruang tamu, gadis itu meletakkan makanan yang tadi dia bawa di atas meja.   “ Bangun tidur langsung buat sarapan pasti kamu lapar sekali ya? “ tanya Fahrial yang baru saja duduk di sebelah Kiara.   “ Tidak. “ Kiara menggeleng, ia menunjuk ke arah makanan tersebut. “ Aku buatin sarapan itu untuk kamu, Fahri. “   “ Hah? “ Fahrial terkejut mendengarnya, ia melirik mangkuk sereal kemudian kembali menatap Kiara. “ Ka—kamu serius? Itu buat aku? “ tanyanya terbata – bata karena dia begitu terkesima seorang Kiara tiba – tiba saja membuatkannya sarapan.   “ Iya, Fahri. “ Kiara ambil mangkuk itu lalu dia serahkan kepada Fahrial yang masih tertegun. “ Cepat habiskan supaya kamu bisa langsung berangkat kerja. “ Perintah Kiara.   Fahrial mengangguk cepat, ia langsung menuruti perintah Kiara untuk menghabiskan sereal yang gadis itu buatkan perdana untuknya.   “ Makasih, Kiara. “ Fahrial benar – benar terlihat sangat bahagia meski yang Kiara buatkan hanyalah sarapan sederhana.   “ Sama – sama. “   “ Kamu mau? “ Fahrial mengarahkan sesendok sereal ke arah mulut Kiara tetapi gadis itu memundurkan wajahnya sambil menggeleng.   “ Tidak, Fahri. Nanti aku bisa buat sendiri. “ Tolaknya secara halus, padahal Kiara begitu karena tak mau makan satu sendok berdua dengan Fahrial.   “ Oke. “ Fahrial kembali menikmati makanan itu dengan hati berbunga – bunga, ia juga teguk habis segelas suusu hangat buatan Kiara. “ Ini sarapan yang paling terenak di dunia. “ Puji Fahrial terkesan berlebihan bagi Kiara, padahal lelaki itu hanya menggambarkan saja betapa spesialnya makanan yang Kiara buatkan untuknya, ya walaupun hanya sereal saja tetapi Fahrial sangat menghargai itu.   Selesai makan, Fahrial bersiap untuk berangkat kerja.   “ Aku berangkat dulu ya, Kia. “ Fahrial memajukkan wajahnya untuk mencium kening Kiara tetapi gadis itu memundurkan kembali wajahnya menghindari kecupan Fahrial.   Fahrial tidak jadi mencium Kiara, ia berkata. “ Maaf. “ Ucapnya dengan sedikit kecewa, ia bergegas bangun dari duduknya tetapi Kiara menahan tangannya dan ikut berdiri.   “ Fahri? “   “ Iya, Kia? “   “ Sebentar aja. “ Ucap Kiara tidak langsung dapat Fahrial mengerti.   “ Sebentar apanya? “ Fahrial bertanya – tanya.   Kiara nampak gugup, ia memutar – mutar mulutnya sebelum akhirnya memberanikan diri untuk bicara. “ Ini. “ Jari teluntujuk Kiara mengarah ke keningnya sendiri.   “ Serius? “ Fahrial terperangah setelah mengerti bahwa Kiara memberikan izin kepadanya untuk mencium keningnya meskipun hanya sebentar. “ Aku boleh cium kamu? “   “ Iya, Fahri. “ Jawab Kiara walaupun sebenarnya dia agak memaksakan diri membiarkan Fahrial menciumnya tetapi karena suasana hatinya lagi bagus sehingga dia mau berbaik hati. “ Ya allah, istriku baik sekali. “ Puji Fahrial, ia mendekati Kiara yang kini memejamkan matanya karena dia sangat gugup, padahal Fahrial hanya akan mencium keningnya tetapi Kiara tak sanggup melihatnya.   “ Buruan, Fahri.  Aku deg – degan. “ Kata Kiara agar lelaki itu bergerak cepat menciumnya.   Fahrial menahan tawanya, ia tidak langsung mencium melainkan memandangi dulu wajah Kiara selama beberapa saat sambil membelai lembut pucuk kepala gadis itu. Meskipun Kiara baru saja bangun tidur bahkan belum mandi, tapi bagi Fahrial kecantikannya tidak berkurang.   “ Biarpun kamu belum mandi, tapi tetap cantik dan menggoda. “ Puji Fahrial sebelum akhirnya bibir Fahrial mendaratkan ciuman.   CUP.   Seketika Kiara melotot tajam sambil berteriak. “ FAHRIAL! “ Jeritnya penuh emosional sedangkan sosok yang baru saja menciumnya sudah berjalan cepat ke arah pintu keluar setelah berhasil mencium bibir Kiara.   “ Makasih, Kiara. “ Fahrial melambaikan tangannya tanpa merasa bersalah, padahal dia mendapatkan izin untuk mencium Kiara pada bagian keningnya saja tetapi dengan nakalnya Fahrial malah mencium bibir gadis itu.   “ Kurang asem! Seharusnya aku tidak perlu memberi dia izin untuk menciumku! “ Kiara menghentakkan kakinya kasar. “ Laki – laki memang tidak bisa di percaya! Argggh! “ Suasana hatinya mendadak berubah jadi ruwet.   Berbeda dengan Kiara yang menganggap pagi sangat menjengkelkan, justru menurut Fahrial pagi ini menjadi hari yang paling berkesan karena beberapa hal. Pertama, ia dibuatkan sarapan oleh Kiara dan kedua, dia diberi izin untuk menciumnya.   “ Apakah Kiara sudah mulai mencintaiku? “ Fikir Fahrial kepedean, ia tak tahu saja kalau Kiara seperti itu karena Fahrial telah mengabulkan keinginannya untuk membelikan mobil, jika bukan karena itu, sudah pasti Kiara tidak mau membuatkan sarapan, apalagi sampai membiarkan Fahrial untuk menciumnya.   Tidak akan!   **   Sampainya di kantor, sepanjang perjalanan hingga tiba di ruangannya Fahrial berjalan sambil senyam – senyum membuat Laras melihatnya keheranan.   “ Lagi senang banget kayaknya, nih. “ Celetuk Laras yang duduk di bangku kerjanya tepat bersebrangan dengan Fahrial.   “ Iya, dong. “ Jawab Fahrial masih terus menciptakan senyuman.   “ Kenapa? “ Laras penasaran sekali karena untuk pertama kalinya setelah Fahrial menikah dengan Kiara, baru kali ini lelaki itu tersenyum lepas tanpa beban.   “ Aku—“ Fahrial menunda pembicaraannya ketika Ojan masuk ke dalam ruangan.   “ Fahri? “ Ojan berjalan mendekati meja kerja Fahrial sambil membawa bungkus plastik. “ Ini obat kuat yang gua janjiin buat lo. “ Suara Ojan yang cukup keras menyebabkan beberapa karyawan yang ada di ruangan itu mendengar dan langsung menoleh ke arah Fahrial.   Saat itu juga Fahrial menunduk malu sambil merutuki Ojan karena kesal temannya itu memberikan obat kuat di depan umum, apalagi sebenarnya Fahrial tidak membutuhkan bahkan menginginkan obat itu.   “ Ojan, lo apa – apaan, sih? “ celetuk Fahrial menahan kesal.   “ Udah gak usah merasa gak enakan, ambil aja. Ini gratis buat pengantin baru biar nanti malam lo bisa sepuluh ronde sama istri lo. “ Tambah Ojan semakin membuat Fahrial ingin menghilang dari ruangannya saat ini juga.   Beberapa karyawan yang ada disana tertawa mendengar apa yang Ojan katakan, bahkan Laras sampai sakit perut karena tak kuasa menahan tawa melihat wajah Fahrial begitu tertekan akibat ulah Ojan.   “ Emang pak Fahri gak tahan lama sampai harus pakai obat kuat? “ celetuk salah satu karyawan perempuan.   Fahrial menoleh ke arah sumber suara ” Um, i—ini bukan buat saya. “ Jawab Fahrial sampai terbata – bata.   “ Heleh, gak usah malu. Udah ambil aja, gue balik dulu ya ke ruangan. “ Setelah berhasil membuat Fahrial ingin pindah planet karena merasa sangat malu, Ojan pergi begitu saja meninggalkan bungkus obat kuat di atas meja Fahrial.   “ Ojan k*****t! “ Fahrial buru – buru menyimpan obat tersebut ke dalam tasnya sebelum ada karyawan lain yang melihat.   “ Masa pria macho dan keren seperti pak Fahrial gak jago dalam ranjang, sih. “ Ledek karyawan prempuan lainnya yang suka sekali menggoda Fahrial.   “ Heh, sudah – sudah. “ Celetuk Laras seraya berjalan menghampiri Fahrial, ia duduk kursi berhadapan dengan Fahrial. “ Gimana rasanya? Malu aja apa malu banget? “ Laras jadi ikut – ikutan meledek Fahrial.   “ Ojan benar – benar tidak ada akhlak! “ seru Fahrial kesal sendiri.   “ Sabar ya. “ Laras menahan tawanya. “ Btw, tadi waktu datang kamu kelihatan Happy banget. Ada apa? “ Laras menopang dagunya. “ Aku ingin mendengarkan cerita bahagia darimu karena aku sudah bosan mendengar cerita yang sedih terus setiap hari. “ Tutur Laras.   Fahrial yang tadi sempat merengut kembali tersenyum saat mengingat Kiara.   “ Kamu tau gak, Ras? Tadi pagi itu Kiara buatin aku sarapan. “ Terang Fahrial terdengar sangat bersemangat.   “ Oh ya? Kiara masakin kamu sarapan apa? “ tanya Laras.   “ Gak masak, sih. Dia cuma buatin aku sereal, tapi itu juga udah cukup buat aku bahagia, Ras. “ Fahrial memegang d@danya. “ Bahkan, jantung ini terasa berdebar – debar karena terlalu senang. “ Timpalnya.   Laras tertawa sambil memukul tangan Fahrial yang berada di atas meja.   “ Dasar kamu berlebihan! “ seru Laras. “ Tapi, syukur, lah. Setidaknya ada sedikit perubahan. “ Laras jadi ikut bahagia mendengarnya.   “ Ada satu lagi, Ras. “ Celetuk Fahrial.   “ Apa? “   “ Kiara izinin aku untuk cium dia. “ Ungkap Fahrial.   “ Wah, bagus, dong. “ Laras bertepuk tangan pelan. “ Aku senang sekali mendengarnya. Semoga aja dalam waktu dekat ini dia mau memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri sepenuhnya. “ Harap Laras yang terbaik untuk sahabatnya itu.   “ Amiin, ya allah. “ Fahrial mengusap wajahnya mengucap syukur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN