Dari jok belakang motor Arbis, Karin memperhatikan jalanan yang di laluinya. Meski Karin tidak terlalu tau nama nama jalan, tapi berkat petunjuk jalan yang sering ada di jalan besar membuat Karin tau, bahwa Arbis mengarahkan motornya keluar kota.
Dan kini Karin benarbenar yakin sudah berada di kawasan Depok. Karena nama alamat yang tertera di bawah nama sebuah restoran yang Karin baca. Ia menepuk pundak Arbis. Membuat Arbis sedikit menoleh, namun pandangannya berusaha di fokuskan pada jalanan.
"Apa?" Tanya Arbis setengah berteriak.
"Emang beli jam tangan harus sampe keluar kota?"
Cittt...
Motor Arbis mengerem tiba tiba, membuat tubuh Karin terdorong ke depan. Karin siap mengomeli Arbis, namun saat Karin melihat Arbis yang malah menoleh ke toko mainan yang ada di samping jalan, Karin mengurungkan niatnya. Perlahan Karin mulai mengerti sikap Arbis yang belum bisa di tebaknya. Sikap Arbis yang sesungguhnya masih menjadi teka teki.
"Mampir bentar yuk." Arbis menjalankan motornya kembali untuk memarkiran di depan toko mainan itu. Karin dapat merasakan nada suara Arbis yang berubah. Meski Karin tak menyahut, Arbis sudah memarkirkan motornya di depan toko tersebut.
Karin turun dari motor Arbis, di ikuti Arbis. Mereka berjalan beriringan memasuki toko mainan yang tidak terlalu besar ini. Karin memandangi toko itu dengan seksama. Ada apa dengan toko ini?
"Ada apa?" Karin bertanya dengan hati hati.
Arbis menoleh ke sampingnya. "Apanya?" Arbis balik bertanya.
"Tempat ini? Ada sesuatu?"
"Enggak kok." Arbis menyahut santai, tangannya kini menarik Karin ke tempat mainan yang tadi dapat di lihatnya dari depan. "Ada sesuatu yang pengen gue beli. Oh ya, tadi lo ngomong apa?" Suara Arbis kembali normal.
"Emang beli jam tangan harus sampe ke Depok?"
"Oh itu. Ahaha, lupain aja. Gue cuma becanda. Sepik doang, biar bisa jalan sama elo." Arbis nyengir pada Karin. Cengiran khas yang biasa ia tujukan pada Karin. Dan entah mengapa, kali ini, malah membuat Karin lega. Jujur saja, Karin agak segan dengan sosok Arbis yang seperti tadi. Tubuh Arbis yang langsung tegak, matanya yang langsung memandang kosong, menatap pada satu arah. Karin tidak mengenal sosok itu.
"Jauh jauh kesini, cuma buat ke toko mainan? Emang di Jakarta ga ada toko mainan apa?"
"Lo hobi banget sih, Rin marah marah." Arbis mengambil sebuah rubik yang terpajang disana. Lalu menunjukannya pada Karin. "Gue gak sengaja kok mampir kesini, kebeneran liat ini, jadi pengen beli."
Karin memicingkan matanya, menatap sebuah rubik berbentuk kubus yang di pegang Arbis. "Emang lo bisa?"
"Enggak." Arbis menyahut santai. Lalu ia mengambil dua rubik untuk di bawa ke kasir. "Lo bisakan? Ajarin dong."
"Gue gak bisa. Terakhir gue maen gituan, saking keselnya gak jadi jadi. Gue potekin."
Arbis terkekeh mendengar perkataan Karin. Setelah membayar dua rubik itu Arbis dan Karin pun keluar dari toko mainan tersebut. Mereka menghampiri motor Arbis yang terparkir di depan toko mainan itu. Dan Karin masih tetap tak habis pikir, sebenernya tujuan Arbis ke daerah pinggiran ibu kota inituh apa?
"Kita makan yuk, mau makan dimana? Planet hollywood atau restoran di hotel bintang lima?" Arbis memandang Karin dengan mata jailnya. Sambil naik ke motornya di ikuti Karin.
"Restoran di hotel bintang lima boleh." Karin menyahut santai, meski ia tau Arbis tak mungkin membawanya kesana.
"Oke." Ucapan Arbis membuat Karin agak terkejut. Emang Arbis bawa duit berapa mau ngajakin Karin makan kesana? "Tapi bayar masing masing." Bersamaan dengan ucapannya, motor Arbis pun kembali jalan. "Eh, atau lo bayarin gue sekalian juga boleh." Lanjut Arbis. Yang membuat Karin ingin menonjoknya sampe mampus. Oke, rasanya setelah ini Karin harus datang ke psikiater, rasanya Karin memang punya potensi menjadi psikopat jika berada di dekat Arbis.
"Cowok kok gak modal!"
Arbis hanya tersenyum geli mendengar ucapan Karin. Tanpa menjawab lagi, karena kali ini ia mulai fokus dengan jalanan kota Depok yang tidak seramai Jakarta.
Motor Arbis berhenti di depan sebuah kafe dengan gaya minimalis. Arbis mengajak Karin untuk turun dan masuk ke dalam kafe tersebut. Sejenak, Karin memandangi interior di dalam kafe tersebut yang cukup menarik. Gemerlap lampu yang di rangkai khusus, dengan di lapisi sangkar berbentuk lampion, terdapat di setiap meja kafe tersebut.
"Ini yang namanya restoran bintang lima?"
Arbis terkekeh mendengar pertanyaan Karin. "Nanti aja ke restoran bintang limanya, kalo lo udah jadi pacar beneran gue." Lagi lagi Arbis tersenyum jail pada Karin.
"Mimpi aja sana!" Ketus Karin.
Arbis mengajak Karin makan di meja yang terletak di dekat jendela. Sebenarnya kafe ini lumayan cocok dengan hubungan mereka. Tidak ada nuansa romantis, seperti hubungan mereka yang sama sekali tidak ada hubungan romantisnya.
Setelah memesan makanan, mereka menunggu sejenak. Hening. Kali ini Arbis tak membuka pembicaraan. Ia biarkan Karin tenang sejenak. Tangan Arbis kini membuka kantong plastik yang berisi rubik yang tadi di belinya. Rubik itu masih rapi, semua warnanya tersusun dengan benar, lalu Arbis mengacak acaknya dengan tidak beraturan.
"Rin, ini gimana ngebenerinnya?" Arbis menyorkan rubik yang tadi sudah di acak acaknya sendiri, ia tampak kebingungan untuk mengembalikannya seperti semula.
"Gue bilang kan gue gak bisa. Lo maksa beli."
"Lo bilang di potek potekin bisa."
Tangan Arbis kini mulai mencongkel salah satu kubus yang ada di rubik itu. Karin melotot dengan ulah Arbis, kenapa eksperimen b**o itu harus di praktekin Arbis sih?
"Ih jangan di potekin juga kali. Elo kan belom nyoba. Maen potekin aja." Karin menyambar rubik yang satunya lagi. Ia kini ingin mencobanya. Meski tidak pernah berhasil sekalipun, tapi Karin masih penasaran karena belum bisa sampai detik ini. "Coba gue mau." Tangannya kini mulai mengacak acak rubik yang teratur itu.
"Yaudah, gue ikutin lo. Gimana caranya?" Arbis berlagak memperhatikan gerakan tangan Karin yang memutar mutar rubiknya. Arbis tersenyum tipis melihat tampang Karin yang kesal karena rubiknya sama sekali tidak terbentuk.
Karin membanting rubiknya dengan kesal ke meja. Karena sudah di puter puter sedemikian rupa masih saja tidak ketemu penyelesaiannya. Kalo begini, Karin mendingan di suruh nyelesain seratis soal fisika sekalian.
"Tau ah! Gue gak bisa. Pabriknya salah cetak tuh jadi gak ketemu." Karin berseru kesal. Tampang juteknya malah terlihat lucu di mata Arbis. Seorang Karin ternyata mampu di kerjai oleh sebuah rubik.
Iseng iseng Arbis pun memutar mutar rubiknya. Benda yang di masa lalu sering menemaninya. Hampit setiap waktu selalu Arbis bawa ini. Memainkannya di saat seperti ini, membuat pikirannya kembali terlempar pada masa itu. Bahkan di masa pertama Arbis bertemu Tisya pun, Arbis sedang bermain rubik. Arbis masih ingat itu. Ingat dirinya yang waktu itu malah ngomel ngomel dengan Tisya. Mengingat dirinya yang begitu dingin pada siapapun. Arbis juga masih ingat bagaimana cara Tisya yang bertepuk tangan dengan riuh saat Arbis mampu menyelesaikan rubiknya waktu itu. Dan masa itu, saat sedang belajar di kelaspun Arbis malah lebih sering menghabiskan waktunya bersama rubik ini. Dan belakang ini, beberapa tahun ini, setelah masalalunya itu dengan perlahan terlepas, Arbis sama sekali tidak pernah menyentuh yang namanya rubik lagi. Sampai saat ini tiba, barulah Arbis kembali memainkannya.
Tanpa sadar rubik yang ada di tangan Arbis ternyata sudah tersusun seperti semula. Arbis sendiri agak terkejut karena pikirannya masih melayang kemana mana. Teriakan heboh Karin lah yang menyadarkannya.
"Wah, Arbis! Itu lo bisa. Itu rapi lagi. Gimana caranya? Kok bisa? Muterinnya kemana? Kok lo bisasih?" Karin bertanya sambil memandang takjub rubik yang di pegang Arbis. Karin tampak begitu excited melihat rubik itu terselesaikan oleh Arbis.
"Yah, begitu aja. Tinggal puter puter." Arbis menjawab santai, sambil tersenyum geli melihat tingkah Karin.
"Begitu gimana? Coba coba dong, ini apa dulu yang di puter. Acak acakan gak keruan gini. Gimana ceritanya sih?" Karin mengambil rubiknya lagi, memandang bentuk warnanya yang sudah tidak beraturan. Dan baru kali ini Arbis melihat Karin berbicara dengan nada suara mirip Kiran. Agak cempreng dan begitu penasaran.
"Nih, pertama satu warna dulu di atas sini, di tengah tengah." Arbis menerangkan pada Karin. Dengan patuh Karin mengikutinya. Arbis pun menerangkan pelan pelan. Meski sebenarnya Arbis juga bingung kalo ngajarin orang kayak gimana.
Apalagi Karin sempat keder dengan instruksi Arbis yang tidak di mengertinya. Mau tak mau Arbis mengambil alih rubik Karin, tapi Karin merebutnya lagi, Karin bersikeras ingin tau caranya.
"Nah, jadi." Seru Arbis akhirnya, saat rubik itu telah selesai. Arbis melirik ke rubik Karin yang juga sudah selesai karena mengikuti gerakan tangannya.
Karin diam sesaat. Ia memandang rubiknya yang sudah tersusun. Agak sedikit tak percaya, sampai akhirnya dia malah histeris sendiri.
"Gue bisa. Huaaa, ini jadi? Ini beneran jadikan? Huaaaaa akhirnya bisa juga." Karin berceloteh dengan girang, ia membolak balik rubiknya, memeriksa apakah semuanya sudah tersusun dengan benar. Ternyata memang sudah benar. Karin semakin terlonjak gembira laksana mendapat undian.
"Eh, Rin. Gausah heboh gitu, gaenak di liatin." Tegur Arbis, saat merasa meja di sebelahnya menperhatikan tingkah Karin yang sebenarnya sangat langka itu. Arbis juga baru pertama kali melihat Karin seperti ini. Tersenyum lepas dengan mata berbinar binar. Karin yang jutek. Karin yang dingin. Karin yang pelit ngomong dan pelit senyum. Seketika, saat ini sosok itu sedang terbang entah kemana. Yang di lihat Arbis saat ini, adalah Karin yang ekspresif. Hampir mirip dengan sikap Kiran. Arbis sadar, mereka memang kembar. Meski selama ini terlihat berbeda, dari sego fisik, penampilan, juga sikap, tapi mereka itu kembar. Pasti ada kemiripan di satu sisi.
"Udah udah, makan yuk. Udah dateng nih makanannya." Arbis menarik rubik yang di pegang Karin. Lalu menunjuk makanan yang sudah tersedia di mejanya.
Karin merebut rubiknya lagi dengan cepat. "Nanti dulu. Gue mau nyoba sekali lagi. Bisa enggak yaa sendirian." Karin sama sekali tidak mengindahkan ucapan Arbis. Bahkan aroma dari hidangan di hadapannya sama sekali tidak menggugah seleranya. Kini ia malah terfokus pada rubik yang baru saja di selesaikannya.
Arbis membiarkannya. Biar saja Karin bosan sendiri. Lebih baik dia makan saja dulu.
"Yah, terus kalo udah begini gimama lagi? Gue lupa." Karin memperlihatkan rubiknya pada Arbis yang tengah asik makan. Sedang Karin sama sekali belum menyentuh makanannya.
"Yang ini, puter ke bawah." Arbis menunjuk salah satu barisan rubik yang di sodorkan Karin.
Karin pun mengikutinya. Matanya kini terlihat menekuni rubik tersebut. Karin sempat menyedot es jeruk yang di pesannya. Lalu kembali mengutak atik rubiknya.
"Yah, tinggal satu warna. Gimana ini?" Karin kembali menunjukan pada Arbis.
"Kalo kayak gitu berarti lo salah."
"Terus gimana dong? Cuma ini doang yang sama. Lo ngasih taunya salah kali."
"Lo mau makan gak sih? Atau lo gue makan nih." Gretak Arbis, melihat Karin sama sekali tidak tertarik dengan makanannya.
"Ah gausah banyak bacot. Ini gimana lagi? Kenapa bisa begini? Salahnya dimana coba. Orang gue tadi ngikutin lo kok."
***