"Kenapa pake motor sih?" Karin menatap motor Arbis dengan jengkel, lalu beralih ke pemiliknya yang kini hanya senyam senyum.
"Kan biar lo bisa peluk peluk gue."
Karin mendengus, tidak habis pikir dengan jalan pikiran cowok di depannya ini. Apa dia tak ada hobi lain selain menjahili orang dengan celotehannya, setelah itu cengengesan yang bikin Karin pengen nonjok muka Arbis dan berharap Arbis mati di tempat.
"Udah cepet naik, kalo naik motor Regan aja gak protes."
"Gak usah bahas bahas Regan!" Tanpa banyak bicara lagi akhirnya Karin naik ke jok belakang motor Arbis.
Motor Arbis akhirnya segera melesat meninggalkan area apartemen Karin. Motor itu kini sudah menyatu dengan berbagai kendaraan yang memenuhi jalanan ibu kota ini. Macetnya jalanan malam minggu di Jakarta memang bukanlah suatu keanehan. Itulah alasan Arbis naik motor, ia tidak mau bermacet macet ria dengan mobil yang noteband nya punya bodi gede. Sedang naik motor seperti ini ia bisa menyelinap ke pinggir pinggir demi bisa lewat. Hanya saja Karin di buatnya takut karena motor Arbis yang berjalan zigzag berusaha menghindari kemacetan. Karin semakin mempererat pegangannya pada bagian belakang motor Arbis. Karin gak sudi melik meluk pinggang Arbis yang rata itu.
"Karin, lo jangan malu maluin gue dong. Gue udah keren keren gini, lo malah pegangan belakang gitu. Kayak jalan sama tukang ojek." Arbis berteriak karena jika berbicara seperti biasa tentu tidak akan terdengar karena riuhnya suara angin malam saat motor melaju dengan kencang.
"Seenggaknya, mendingan gue jalan sama tukang ojek daripada sama lo."
"Terserah lo deh, yang penting gue udah peringetin. Kalo gue naikin kecepatan lagi dan lo masih keukeuh pegangan belakang gitu, jangan salahin gue kalo lo mental."
Dan tepat saat itu juga, disaat motor Arbis memasuki kawasan yang tidak terlalu ramai oleh kendaraan, Arbis menggas motornya yang memungkinkan kecepatan motornua kian bertambah. Tubuh Karin agak terhuyung, lalu dengan gerakan cepat, juga takut akan peringatan Arbis barusan, Karin segera memindahkan pegangannya dari belakang lalu memegangi pundak Arbis.
"Aduh, Rin. Kok malah pegangan pundak gitu sih. Lebih efesien kan kalo lo peluk peluk gue gitu." Dari balik helm-nya, bisa di tebak, mungkin saat ini Arbis sedang tersenyum geli karena ucapannya sendiri yang tidak capek untuk menggoda Karin.
"Elo bener bener banyak bacot yaa? Dengan posisi tangan gue kayak gini, gue lebih mudah buat nyekek lo kalo lo betingkah lagi." Karin benar benar memindahkan cekalan tangannya dari pundak Arbis lalu mencekek leher Arbis.
Kontan Arbis megap megap dan motornya jadi sedikit oleng. Lalu dengan cepat Arbis menghentikan motornya di tengah jalan. Merasa motor Arbis terhenti, akhirya Karin melepaskan tangannya dari leher Arbis.
"Lo bener bener mau bunuh gue yaa?" Arbis mendelik, sambil meminggirkan motornya, karena perbuatannya ini hampir membuat kecelakaan beruntun. Di belakang motor Arbis beberapa pengendara mobil dan motor ikut mengerem mendadak karena ulah Arbis yang di sebabkan Karin ini.
"Kalo di Indonesia gak ada hukum, gue udah bunuh lo dari dulu tau!"
"Gak nyangka, ternyata cewek kayak lo gini berjiwa psikopat yaa?"
"Iya! Makanya gak usah banyak tingkah lagi! Cepetan jalan!"
***
Ilham berjalan riang di area komplek perumahannya, sambil bersenandung kecil, Ilham bersiul siul. Kakinya yang tak bisa diam terkadang menendang nendang kerikil kerikil yang menghalangi jalannya. Matanya berkeliling menyusuri jalanan komplek yang lumayan sepi. Hanya ada beberapa tukang jualan yang mangkal di depan rumah warga. Dan mungkin hanya di dekat tukang jualan itulah yang terlihat ramai.
Langkah Ilham terhenti di depan sebuah rumah yang tak jauh dari rumahnya, setelah Ilham menghitung, ternyata rumahnya dan rumah ini hanya terpisah oleh tujuh rumah. Ilham emang agak kurang kerjaan.
"Malam, Pak Satpam." Ilham tersenyum ramah pada seorang satpam yang bertugas menjaga di rumah ini. "Deandra ada gak, Pak?" Tanya Ilham, menyampaika maksud dan tujuannya berada di depan rumah ini.
"Ada, temannya yaa? Masuk aja, Dek."
"Iya. Makasih, Pak."
Ilham pun berjalan masuk ke pekarangan rumah Deandra. Ia memandang berkeliling sejenak. Meski rumahnya dekat, tapi Ilham baru pertama kali masuk ke rumah Deandra.
Ilham mengetuk pintu rumah Deandra, tak lama Ilham menunggu, pintu pun terbuka. Tanpa perlu meminta di panggilkan Deandra, ternyata yang membuka pintu adalah Deandra. Ilham tersenyum begitu lebar saat melihat cewek itu berdiri dengan pakaian santainya. Celana levis pendek selutut di padu dengan kaos berwarna coklat. Rambutnya di ikat dengan asal, matanya yang jika di lihat dengan jelas, memiliki warna hazel, menatap Ilham yang berdiri di depan pintu rumahnya dengan heran.
"Nyari siapa?" Tanya Deandra tanpa berbasa basi. Tangannua masih memegangi gagang pintu rumahnya.
"Nyari Deandra. Ada gak?" Ilham tersenyum jail meledek Deandra.
"Ini gue. Mau ngapain?" Deandra menjawab dengan malas, garing banget becandaan Ilham.
"Mau ngajak lo jalan."
"Gue gak mau." Deandra menjawab dengan cepat.
"Tapi gue mau maksa."
"Basi ah, udah sono pulang!" Deandra sudah siap menutup pintunya kembali, namun Ilham ternyata menahan pintunya dengan menyelinap masuk, tubuhnya kini menjadi penghalang membuat pintu tidak bisa tertutup.
"Bentar aja. Gue juga gak bawa kendaraan kok, cuma makan es krim di kedai depan."
"Gak mau! Udah sono pulang!" Deandra mendorong tubuh Ilham agar tidak menghalangi pintunya, tenaganya nyaris mampu untuk menggiring Ilham keluar, namun kata kunci yang Ilham ucapkan ternyata mampu menahan tenaga Deandra.
"Ada yang mau gue omongin, tentang Kiran. Sama, em itu.." Ilham menggaruk kepalanya sebentar, memang apa yang ingin di bicarakab tentang Kiran? Ilham pun tidak tau. "Ah iya, sama Gusur. Lo temen Kiran dan si Gusur Gusur itu kan?" Ilham berseru cepat, saat tiba tiba ia teringat Kiran yang pernah bercerita kepadanya tentang hubungannya dengan Deandra yang juga masih ada sangkut pautnya dengan cowok masa kecil Kiran itu.
"Apa yang lo tau tentang Gusur?"
Ilham tersenyum melihat respon Deandra. Ternyata nama Gusur itu memang lumayan ampuh. Lalu sederetan rencana malah tersusun di kepalanya saat itu.
"Gue tau makhluk bernama Gusur itu balik lagi ke kehidupan Kiran. Tapi gak berani muncul, dia cuma sms-in Kiran, dan.."
"Jelas aja lo tau, Kiran pasti cerita itu."
Ilham mendengus, hah, ternyata Deandra tak sebodoh yang Ilham kira. Ilham terdiam sebentar, memikirkan lagi apa yang harus ia katakan, yang mampu membuat Deandra pergi bersamanya.
Lalu Ilham tersenyum kembali, menandakan ia sudah mendapatkan ide. "Gusur itu satu sekolah dengan kita, bisa jadi dia orang yang lumayan deket sama Kiran. Karena dia punya akses buat tau aktifitas yang Kiran lakuin, dan..."
"Dan apa?" Deandra mulai tertarik. Kali ini Ilham menahan senyumnya. Oke, inilah saatnya memanfaatkan keadaan. Rupanya analisisnya tentang Gusur itu tak sia sia.
"Gue akan ngasih tau analisis gue lagi di kedai es krim depan." Jawab Ilham cepat. Ia menaikan sebelah alisnya. "Mau ikut?" Ilham mengulurkan tangannya, berlagak ala pangeran yang mengulurkan tangan untuk mengajak pergi tuan putri, dan berharap di sambut manis oleh sang tuan putri.
"Cepetan. Mumpung belom malem." Tanpa menyambut uluran tangan Ilham, Deandra melangkah maju melewati Ilham. Tapi ucapan dan gerakannya tentu menandakan persetujuan tentang ajakan Ilham.
Ilham tersenyum kecut. Pesona playboynya sama sekali tidak berlaku di mata Deandra. Tak apalah Deandra tak menyambut uluran tangannya itu. Yang penting Ilham berhasil mengajak Deandra keluar.
***
Berbeda dengan Kiran, Arbis, atau pun Ilham yang menghabiskan waktunya dengan para gebetan. Ralat, malam minggu ini Kiran memang sedang bersama cowok yang baru di temuinya. Tapi Sayna taunya kan Kiran pergi sama Rafa. Tentu aja belom ada yang tau Kiran lagi patah hati, kecuali Gusur yang identitasnya belum di ketahui.
Nah, bagi anak manis seperti Sayna, atau tepatnya, Jones -kata Kiran tentunya- Sayna malah menghabiskan malam yang kata orang adalah malam yang panjang untuk menemani Mama tercinta dan adiknya yang berumur tujuh tahun untuk jalan jalan di mall. Bukan sekedar nemenin, tentu saja, bakalan bete Sayna jika hanya itu. Sayna juga ikut berbelanja, minta di belikan sang Mama tentunya. Terbukti dengan beberapa kantong belanjaan dengan berbagai merek yang sudah di tentengnya.
"Ma, aku mau beli minum dulu yaa. Mama jalan duluan aja ke supermarketnya." Sayna berlari kembali saat ia menyadari barusan melewati es bubble Hop-Hop. Meski terlihat agak antri, tapi Sayna tak peduli.
Sambil mengantri di depan gerai hop hop, Sayna memainkan ponselnya, melihat lihat RU di bbm-nya. Ia dapat melihat pm Ilham yang lagi senang karena berhasil mengajak Deandra jalan. Tanpa di sensor, Ilham terang terangan nulis 'Yes, berhasil ngajak Deandra keluar'. Atau Arbis yang lagi satnite bareng Karin, dengan alaynya Arbis bikin pm gini 'Satnite bareng pacar *read Karin*'. Alay banget kan pm Arbis. Tapi Sayna tidak melihat pm Kiran lewat di ru-nya. Sayna bisa nebak, pasti ponsel Kiran lowbet. Karena biasanya, setiap jalan bareng Rafa, pasti Kiran heboh di segala sosmed-nya. Belom lagi sms-in para Klover satu satu. Tapi ada pengecualian, Kiran gak ngelakuin itu kalo ponselnya lowbet.
"Hey.."
Sayna kontan menoleh dengan kaget saat merasakan pundaknya di tepuk oleh sebuah tangan. Namun Sayna langsung membuang nafas lega saat melihat si empunya tangan itu.
"Regan! Gue kira tukang hipnotis tau! Abis nepuk pundak gitu." Sayna melotot pada Regan, lalu pandangannya beralih pada Sesil yang berada di sebelah Regan. Sayna agak terkejut, ini cewek bener bener gak tau hari yaa? Malem minggu jalan sama mantan? Pacarnya di kemanain? Mending buat gue. Batin Sayna sewot sendiri. Tentu aja gak lupa Sayna ngata ngatain Regan b**o dalem hati, kok mau maunya jalan sama mantan. Regan kan ganteng, emang segitu kejebak masalalu apa sampe gak bisa nemu cewek lain?
"Sendirian?" Tanya Regan, sambil melihat ke samping Sayna. Mencari cari Klover yang biasanya sepaket sama Sayna.
"Enggak, sama nyokap dan adek gue. Elo berdua doang?"
"Iya.."
Sayna langsung menoleh pada asal suara itu. Sesil yang menjawab. Sayna menatap cewek itu dengan pandangan keki. Dengan bangganya Sesil menyahut. Rasanya Sayna pengen ceplosin "Gue kenal cowok lo tau!"
"Nanti Rizky nyusul kok." Regan menambahkan ucapan Sesil. "Tumben gak bareng Klover."
"Seperti yang lo tau, dari siang, si Kiran udah heboh kepengen jalan sama anak kuliahan itu, siapa yaa namanya gue lupa." Sayna berpikir sejenak, lalu ia mengibaskan tangannya. "Gak tau deh, gue ngikut namain tuh cowok tukang ojek Kiran sih. Terus Arbis jelas aja sama Karin. Nah kalo Ilham, dia lagi usaha ngedeketin anak baru yang masuk ips itu." Sayna menjelaskan satu satu kegiatan temannya.
"Mau ikut sama kita?" Tawar Regan. Namun Sesil langsung menoleh pada Regan, merasa tidak senang.
"Eh? Gue suruh jadi obat nyamuk gitu?" Sayna menjawab cepat. Sebenernya Sayna sih mau aja, kan bete juga jalan sama Mama dan Adiknya dari tadi. Tapi Sayna maunya jalan bareng Regan aja, kan lumayan buat di pamerin ke Kiran, malem mingguan sama Regan. Abis, kalo ngeliat Sesil, rasanya Sayna pengen jenggut rambutnya yang ngeriab itu. Sayna bener bener gak habis pikir, dengan gampangnya dia dapetin Eza tapi gampang juga buat maen maen sama mantan. Nah, Sayna aja yang dari dulu ngarepin Eza gak pernah berkesempatan buat deket sama Eza. Boro boro pacaran.
"Kan nanti ada Rizky." Jawab Regan lagi.
"Jadi, gue di korbanin buat jalan sama Rizky?"
"Ya enggak lah, kita jalan bareng." Regan masih menyahut santai, meski keki juga ngajak Sayna gabung malah muter muter ngomongnya. Tau gitu gausah di ajak sekalian deh. "Lagian, gue sama Sesil kan gak ada apa apa." Lanjut Regan.
"Yaelah, orang buta juga tau kalo lo berdua pernah pacaran." Sayna menyahut cepat. Lagian Regan pikir kejadian malam ini itu apa? Gak ada apa apa kok jalan bareng. Mana cemistry mereka sebagai sepasang kekasih dapet banget lagi. Regan yang emang setiap hari udah ganteng, malem ini makin ganteng aja dengan kaos berlengan panjang yang di gulungnya secara asal hingga ke siku. Di padu dengan celana jeans belel serta sepatu bertali perpaduan warna coklat dan merah. Serta Sesil yany terlihat sangat manis dengan dress berwarna coklat dan bermotif kotak kotak, tak lupa jaket levis di kenakan Sesil untuk menutupi dressnya yang berlengan satu. Rambutnya panjangnya yang lurus di biarkan terurai, sebuah pita tampak menghiasi rambutnya, semakin mempermanis penampilannya. Gak heran Regan sama Eza suka sama cewek ini.
Beda banget sama Sayna yang saat ini hanya memakai celana yang panjangnya tiga perempat berwana putih dengan motif polkadot. Dengan kemeja putih yang bercampur warna dengan abu abu, yang panjang lengannya sampai siku. Rambutnya Sayna kuncir satu dengan tinggi. Terlalu biasa emang.
"Lebay lo, tau darimana orang buta tau tentang itu. Lo survey ke mereka?" Regan menatap Sayna jail.
"Heh, kerajinan amat gue survey! Regan sekarang ngeselin yaa, mending sekalian beliin gue es." Sayna meninju pelan bahu Regan.
***