- 39 -

2004 Kata
Mata Rafa terlihat seperti raga tak bernyawa, Rafa berjalan menuju parkiran untuk mengambil motornya. Ia telah mengakhiri semuanya. Semuanya. Meski terasa sesak, tapi Rafa memang harus mengikhlaskan Kiran. Jangan di sangka hanya Kiran yang akan sedih dengan keputusannya ini. Rafa pun sama hancurnya. Bohong jika Rafa tidak mencintai Kiran, lalu apa artinya perhatian Rafa selama ini untuk Kiran. Rafa sangat mecintai Kiran, meski terpaut umur, meski tidak terlalu jauh, Rafa ingin mengaku bahwa Rafa juga mencintai Kiran. Rasanya bagaikan di tohok godam suoerbesar saat Rafa tidak mampu mengungkapkan perasaannya setelah Kiran dengan terang terangan menyatakan perasaannya, yang Rafa lakukan malah memberi Kiran surat undangan yang di buatnya setahun yang lalu untuk tunangan dengan orang yang saat ini sudah tidak ada di dunia ini. Saat sedang hancur hancurnya di tinggal calon tunangannya, saat itulah Kiran datang dengan segala keceriaannya. Rafa yang semula sudah menutup diri untuk siapapun akhirnya luluh dengan sikap Kiran. Dinding penghalang yaitu sahabatnya, Dimas, yang tempo hari pernah dekat dengan Kiran pergi keluar negeri, membuat Rafa semakin akrab dengan Kiran. Tetapi kenyataan berkata lain, ternyata Kiran adalah orang yang sangat di cintai adiknya. Rafa tak mau menyakiti adiknya lebih dalam lagi, sudah cukup adiknya membencinya selama ini, Rafa tak mau adiknya itu membencinya lebih dalam lagi karena di anggap telah merebut gadisnya. Masih dengan pandangan kosong motor ninja Rafa membelah jalanan ibu kota yang sore itu mulai ramai. Perasaannya yang hancur seakan ikut terbang bersama semilir angin sore yang bertiup menerpanya. Membayangkan kembali wajah Kiran tadi membuat hati Rafa kembali di tampar. Rafa benar benar ingin mengaku, Rafa mencintai Kiran, lalu memeluk Kiran dengan sangat erat. Saat Rafa tiba di kostannya, Rafa mendesis saat melihat seorang cowok yang sangat di kenalinya, sedang duduk di atas motornya. Rafa sudah menebak dia pasti menunggunya. Dia pasti sudah tau semuanya. Rafa sadar sekali bahwa setiap Rafa jalan dengan Kiran dia pasti mengintainya. Mengapa dia harus datang di saat seperti ini? Disaat perasaan Rafa sedang kalut kalutnya. "Gue lagi suntuk, mending lo pulang." Rafa berjalan dingin melewati dia yang menatapnya dengan pandangan ingin membunuh.. Dia menarik kerah belakang baju Rafa, meski Rafa agak tinggi darinya, dia berhasil membuat Rafa berbalik dan menghadapnya. Dengan sekuat tenaga dan emosi yang sudah menggunung terhadap kakaknya itu, dia menonjok telak perut Rafa. Rafa tak dapat menepisnya karena tidak tau akan mendapat serangan, tonjokan itu sukses mengenai perutnya. Membuatnya menjadi membungkuk dan memegangi perutnya. "b******k! Gue tau pada akhirnya lo bakal nyakitin Kiran. Lo cuman mainin dia kan?" Dia berteriak dengan murka, membentak Rafa yang saat itu sedang merintih kesakitan akibat tonjokannya. Rafa diam sesaat, menahan sakit yang di terimanya. Rafa bangkit untuk berdiri tegak. Rafa menatap adiknya yang saat itu menatapnya dengan penuh kebencian. "Dari awal, lo cuma jadiin Kiran pelampiasan karena calon tunangan lo itu meninggal kan? Lo!" Dia menunjuk wajah Rafa, dan siap untuk kembali memberikan jotosan di wajah Rafa. Namun kini dengan cermat Rafa menangkisnya. "Puas lo ngatain gue b******k? Apa kalo gue nerima Kiran nanti lo gak bakal marah sama gue?" Rafa balas membentak adiknya. Di matanya, Rafa selalu salah, apapun yang Rafa lakukan sudah tercemar dimatanya. "Kalo gue mau jujur gue suka sama Kiran, gue sayang dia, gue cinta dia. Gue bahkan nyaris ngelupain Risa, calon tunangan gue, sejak Kiran datang. Tapi lo tau kenapa gue nolak Kiran? Karena gue mikirin lo! Gue gak mau bersaing sana adik sendiri." "Jangan pernah anggep gue adik lo! Gue udah bilang gue bukan adik lo! Kakak gue itu harusnya masuk penjara karena udah ngebunuh adik gue! Bukan berkeliaran dan masih bernafas lega kayak gini!" Rafa kembali di tampar kenyataan, ucapannya membuat Rafa kembali terlempar pada masa lalunya, tentang bagaimana adik perempuannya meninggal karenanya. Rahangnya mengeras mengingat semua itu. Semua itu yang membuatnya harus tinggal sendirian tanpa keluarga seperti sekarang. "Padahal, gue ngelakuin semua ini biar lo bisa maafin gue. Tapi ternyata gue salah, jagain Kiran kalo emang lo beneran serius sama dia." Rafa menepuk bahu adiknya, lalu berbalik dan berjalan cepat memasuki kostannya. *** Kiran berjalan tanpa tau tujuannya, dengan perasaan yang berkecamuk, suasana sore ini benar benar sore yang paling kelam sepanjang hidupnya. Pandangannya tetap kosong, menyusuri jalan raya yang sore itu sangat ramai. Sampai detik ini Kiran berhasil menahan tangisnya, hanya saja matanya sudah begitu memerah. Kaki Kiran berbelok ke jalan yang lebih sepi, Kiran masih tidak memperhatikan jalanan mana yang sedang ia lalui. Bahkan saat di pinggir jalan itu ada taman yang ramai oleh para anak anak yang bermain bersama orang tuanya atau pengasuhnya Kiran tak terlalu sadar. Pandangannya benar benar kosong, hatinya benar benar telah hancur berkeping keping. Brukk.. Tanpa sadar Kiran menabrak tubuh yang lebih tinggi darinya. Membuat Kiran yang tubuhnya sudah limbung sejak keluar dari restoran tadi tersungkur jatuh ke aspal. Lutut Kiran bergesekan langsung dengan aspal, terlihat lututnya mengeluarkan darah yang tidak terlalu banyak. "Eh, sori sori. Lo gapapa?" Cowok itu berjongkok untuk mesejajari Kiran yang masih tersungkur di bawah. Cowok itu dapat menangkap wajah Kiran yang begitu pucat. Perlahan, Kiran malah menangis saat itu juga. Tangisnya benar benar tumpah saat melihat lututnya terluka. Entah menangis karena kesakitan di lututnya atau di hatinya. Yang jelas Kiran menangis sejadi jadinya, begitu pilu dan terisak, tubuhnya yang terduduk di atas aspal tidak bergerak. Hanya suara tangisnya saja yang pecah, memebuat sang penabrak kebingungan melihat Kiran yang menangis seperti itu. "Hey, eh, emang sesakit itu yaa?" Cowok itu kelihatan kebingungan sekali melihat Kiran yang menangis semakin keras. Ia melihat sekelilingnya, dan beberapa orang kini memperhatikan mereka. "Duh, kok makin keras sih? Orang orang ngeliatin tau, lo bisa bangun gak?"   Kiran mengangkat kepalanya, melihat cowok yang asing di matanya itu. Ia menjadi tidak enak. Tapi barusan benar benar di luar kendalinya, padahal sepanjang jalan Kiran menahan tangisnya, tapi saat terjatuh dan melihat dengkulnya tersayat, tangis itu benar benar refleks. Luka di lututnya seakan menjadi pelampiasan kesakitan di hatinya.   "Gue gapa, ah.." Kiran mencoba untuk berdiri, namun kakinya kini terlalu lemas untuk menopang tubuhnya. Kiran benar benar tidak mengerti bagaimana bisa hanya karena dengkul terluka ia sampai selemah ini?   Cowok yang masih tidak di kenali Kiran itu menangkap tubuh Kiran yang setengah berdiri. "Beneran sakit banget yaa? Biar gue kasih hansaplas dulu di bangku sana, yuk.." cowok itu melingkarkan tangan Kiran di lehernya, memapah Kiran untuk berjalan. Karena biar bagaimanapun, dia yang menabrak Kiran sampai seperti itu.   Kiran tak menjawab, ia hanya membiarkan tubuhnya yang lemas itu di bawa bawa oleh cowok yang tidak di kenalnya. Padahal dengkulnya sama sekali tidak terasa perih, hanya saja, kakinya sudah benar benar tidak kuat untuk berdiri, kakinya sudah lelah untuk bekerja sama dengan Kiran dan berpura pura untuk kuat.   Cowok itu mendudukan Kiran di salah satu bangku taman yang kosong. Tangis Kiran perlahan mulai mereda, hanya sesekali terdengar isakan setelah menangis, serta wajahnya yang kini terlihat bengap karena tangisan sesaat barusan. Cowok itu membuka hansaplas yang sudah di belinya di warung depan saat mereka memasuki taman.    "Angkat aja kaki lo ke atas, biar gue pakeinnya gampang."   "Gausah, gue bisa pake sendiri." Kiran merebut hansaplas tersebut dari cowok itu, lalu dengan asal ia menempelkannya pada dengkulnya yang terluka.   Lalu Kiran hanya diam, dan saat itu pulalah kejadian beberapa jam yang lalu kembali berkelabat di kepalanya. Semuanya berulang bagaikan kaset rusak tanpa bisa di hentikan. Tentang bagaimana Rafa dengan lembut menolaknya dengan undangan. Rasanya Kiran ingin meraung raung saat ini. Bagaimana bisa Rafa memiliki pacar namun beberapa waktu ini ia lebih sering menghabiskan waktunya bersama Kiran? Lalu, apalah arti segala perhatian Rafa kemarin? Apa Rafa hanya orang seperti Kiran kemarin, yang hanya memberikan harapan palsu? Setelah Kiran merasa yakin akan cintanya, justru lagi lagi kejadian waktu kecil itu terulang lagi. Semua ini bagaikan deja vu dengan orang yang berbeda.   Kiran mengeluarkan ponsel dari tas kecil yang di bawanya. Melihat layarnya tetap berwarna gelap saat Kiran pencet pencet sekalipun, Kiran mendesis pelan. Dan hampir saja Kiran membanting ponselnya tanpa ampun karena lowbet disaat tidak tepat. Namun tangan Kiran segera di tahan cowok itu. Membuat Kiran mendelik dan melontarkan tatapan seraya berkata singkirin-tangan-lo-atau-lo-bakal-mati-ditempat.   "Gue tau lo lagi kesel, tapi gak usah hape juga kali jadi pelampiasannya." Cowok itu malah berani menatap Kiran tanpa mempedulikan tatapan tajam Kiran.   Kiran menarik tangannya yang masih menggenggam ponselnya. "Siapa sih lo? Gak usah sok tau deh!" Ketus Kiran. Bukannya Kiran ketularan juteknya Karin, meskipun kembar mereka itu emang gak ada mirip miripnya. Kalo Karin itu sekalinya jutek juga suaranya dingin banget, bikin orang yang ngomong sama dia gak bakalan berani lagi nanya. Sedangkan Kiran, jutek seperti ini karena moodnya sedang jelek gara gara kejadian itu. Lagipula suara Kiran gak ada dingin dinginnya, meski jutek suaranya tetep cempreng.   "Gue Eza." Cowok yang mengaku bernama Eza itu mengulurkan tangannya, Kiran tak balas mengulurkan tangan, hanya menatap tangan itu sekilas lalu kembali memandang ke depan.   "Siapa yang ngajak lo kenalan sih?"   "Yaa siapa tau lo mau pengen tau nama orang yang udah nolongin lo pas jatoh tadi." Eza menarik tangannya kembali, ia berkata santai sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi taman.   Kiran menoleh kearah Eza dengan pandangan jengkel. "Itu udah tanggung jawab elo kali karena nabrak gue."   "Tapi lo gak mungkin nangis sekejer itu cuma gara gara jatoh. Kecuali kalo lo anak tk." Meski awalnya Eza sempat bingung dengan Kiran yang tiba tiba menangis, akhirnya Eza paham tentang problematika remaja ini. Mungkin saja sedari tadi Kiran memang ingin menangis, tapi mati matian di tahannya, dan saat jatuh lalu melihat dengkulnya berdarah, pecahlah semua pertahanannya itu.   Kiran melongo mendengar ucapan si coswok sok tau ini. Tapi emang ucapannya bener sih. Tapi tetep aja Kiran jaim buat ngakuinnya. Hanya saja, ucapan Eza itu malah mampu membuat pikirannya kembali melayang pada saat saat tadi.    "Huaaaa..." Kiran menjerit histeris sambil kembali menangis. Kedua tangannya di pakai untuk menutupi wajahnya. Jika daritadi Kiran menahan nahan, kini Kiran sudah tidak tahan untuk menangis sejadi jadinya.   Eza kaget setengah mati saat Kiran berteriak dan menangis sambil terisak. Beberapa pasang mata bahkan sempat melirik kearah bangku taman yang mereka duduki. Eza yang duduk di sebelah Kiran kontan menjadi sasaran tatapan mereka. Dengan cepat Eza merangkul Kiran, namun tangannya segera membekap mulut Kiran. Nyaris membuat Kiran sesak nafas.   "Lepasin ah! Tangan lo bau, belom cebok yaa?" Kiran berseru asal sambil melepaskan tangan Eza yang membekap mulutnya.   Eza menjadi salah tingkah, antara kepengen ketawa dan malu. Masa tangannya di katain bau. Tapi ucapan Kiran bener bener lucu. Alhasil Eza tak kuasa menahan senyum. Setidaknya, kelakuan cewek yang baru di temuinya tak lebih dari sepuluh menit ini mampu meringankan beban pikirannya.   "Elo teriak teriak kayak gitu di sangkain gue ngapa ngapain lo tau!"   "Orang bilang, kalo kita emang sedih, nangis yaa nangis aja. Tapi buktinya apa? Gue baru nangis kayak gitu aja udah di liatin sono sini, plus di bekep elo pula. Dunia emang gak adil. Setiap hari gue kan selalu ceria, apa itu berarti gue gak boleh sedih?" Kiran nyerocos panjang sambil sesenggukan. Kali ini Eza gak ngebekep mulut Kiran lagi. Eza mendengarkan kicauan cewek itu meskipun ucapannya gak terlalu jelas.  "Baru putus sama cowok lo yaa?" Eza memberanikan diri untuk bertanya, meski agak takut kena damprat Kiran lagi dan ujung ujungnya di katain kepo.  "Mending putus mah udah sempet jadian. Nah gue? Huaaa.." Kiran lagi lagi malah menangis. Kini ia malah menyembunyikan wajahnya di bahu Eza. Tanpa ada rasa tidak enak, padahal tadi Kiran udah jutek banget sama Eza.   "Eh, aduh, kenapa sih?" Eza garuk garuk kepalanya saking bingungnya gimana harus menghadapi Kiran.   "Lo bayangin gimana nyeseknya jadi gue." Kiran mengangkat kepalanya, kini ia menatap Eza dengan serius. "Setelah gue deket dengan seorang cowok, yang gue kira dia itu tertarik sama gue, setiap minggu kita jalan, tiap hari sms-an, gue kesekolah di anter jemput, pas gue sakit dia perhatian banget. Dan udah lama hubungan kita gitu gitu doang. Ngambang. Absurd. Gak jelas. Wajar dong kalo gue pengen kejelasan, akhirnya gue nyatain ke dia duluan. Dan, lo tau apa balesannnya?"  "Dia nolak lo.." "Nah tepat!" Kiran menjentikan jarinya di depan wajah Eza. "Cara nolaknya sumpah, nyesek dan telak banget. Dia malah ngasih gue surat undangan pertunangan dia. Gila! Tunangan! Berarti, selama dia jalan sama gue meskipun tanpa hubungan yang jelas, dia udah punya pacar." Kiran bercerita tanpa memandang siapa yang di ceritakannya. Ia mengeluarkan segala keluh kesahnya dengan berapi api. Pancaran matanya terlihat ada kesedihan, kekesalan, namun berusaha untuk tegar.   ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN