Hari kelima belajar demi menaikan nilai supaya bisa naik kelas, Kiran malah terlihat gelisah. Kemarin kemarin Kiran masih semangat, tapi pas tercetuskan ide dari Arbis, yang memungkinkan hari sabtu juga mereka akan belajar, mood Kiran jadi tidak bagus. Yang benar saja! Apa si Arbis itu gak bosen lima hari udah di cekokin pelajaran di sekolahan ditambah lagi pulang sekolah harus belajar juga. Sebenernya yang jadi permasalahan buat Kiran itu, ini hari sabtu, mana nanti sore Kiran ada janji mau jalan sama Rafa. Kiran kan kalo dandan lumayan lama, sedangkan acara belajar ini, sampai jam tiga belum beres juga.
"Eh, gue udahan yaa. Udah jam tiga nih, gue mau pergi." Kiran berdiri duluan, mukanya terlihat cemas.
"Sok banyak acara lo, mau kemana sih?" Sayna agak jengkel karena Kiran sudah beranjak ke kamar. Enak amat gara gara pengen pergi Kiran belajarnya udahan. Gak tau apa otak Sayna juga udah ngebul belajar mulu tiap hari.
"Hey para jones seperti lo dan lo!" Kiran keluar dari kamarnya sambil membawa handuk, tangannya menunjuk kearah Sayna dan Ilham. "Apa perlu gue ingetin kalo sekarang kan malem minggu, wajar dong gue banyak acara."
"Halah, kayak punya pacar aja lo!" Ilham yang belakangan ini punya hobi ngelemparin tipe-x, segera melemparkan tipe-x milik Sayna pada Kiran yany sudah mau masuk ke dapur.
"Yeee, meski gak punya pacar gue gak jones tau!" Kiran mendelik dan membalikan lemparan tipe-x pada Ilham. "Emang elo, playboy gak laku." Kiran memeletkan lidahnya lalu segera menghilang di balik dapur dan berlari ke kamar mandinya sebelum Ilham kembali melemparkan tipe-x nya.
"Yaudah, udahan aja kali yaa. Gue juga udah bosen. Kita kan mau jalan, Rin." Arbis mengedipkan sebelah matanya pada Karin.
"Lo pada kayak anak sd pengen ke ulang taun deh, masih jam tiga udah sibuk mau jalan. Gak elite banget." Dengus Ilham sambil melirik jam dinding di ruang tengah apartemen ini.
"Yaudah, gue juga buru buru nih. Sori banget yaa abis Sesil sms udah nungguin di bawah." Regan sudah hendak berdiri dan keliatan buru buru.
"Sesil?" Secara serempak Arbis, Ilham, dan Sayna yang selalu kepo sama hubungan Regan dan Sesil bertanya dengan bingung.
"Iya." Saut Regan dan berjalan menuju pintu. "Duluan yaa." Regan pun menghilang dari balik pintu. Wajahnya udah keliatan buru buru, karena pasalnya Sesil emang udah nungguin Regan di cafe dekat apartemen ini sejak sejam yang lalu, cuma Regan gak enak mau ninggalin Klover. Jadi Regan menyuruh Sesil untuk sabar menunggu.
Dan, udah bisa di tebak, saat Regan berlalu untuk bertemu Sesil, bapak bapak rumpi model Ilham dan Arbis, di tambah lagi sama Sayna, meski minus Kiran, udah siap ngomongin Regan dan Sesil yang udah lama putus tapi masih berhubungan.
"Inisih ceweknya aja gak tau diri. Udah punya pacar masih ngajak ketemuan mantan. Nanti jangan jangan pulangnya minta di jemput Eza lagi." Sayna yang emang punya dendam kusumat sama Sesil gara gara pacaran sama Eza, kembali menjelek jelekan Sesil.
"Tapi yang gue bingung itu, kok Regan bisa rela mantannya pacaran sama temennya sendiri." Ilham keliatan gak habis pikir sama jalan pikiran Regan. Kalo Ilham sih bakal ngomel ngomel sama temennya. Kok bisa bisanya ngembat mantan gue, emang stok cewek di dunia ini udah abis sampe lo harus jadi sama mantan gue? Yaa sekiranya begitu yang akan Ilham sampaikan jika ada di posisi Regan.
"Ini Regannya yang b**o, Sesilnya yang b***t, atau si Eza yang gak tau diri?" Arbis melontarkan multiple choice pada teman temannya.
"Sesilnya yang b***t!" Karin dan Sayna menyahut bersamaan, membuat Ilham dan Arbis menoleh terkejut pada Karin. Karin yang daritadi diam ternyata menyimak juga pembicaraan mereka.
"Apa liatin? Gue pernah kok jalan bareng Regan sama Sesil, si Sesil tuh kayak masih ngasih harapan sama Regan. Tapi pas pulang dia malah di jemput cowoknya. Apa itu gak b***t?" Karin menyahut gahar dan membalas pelototan Ilham dan Arbis. Arbis sih dalam hati tersenyum melihat tingkah Karin. Ternyata Karin sampe merhatiin tentang Sesil segala.
***
Meski masih jam lima, tapi Kiran dan Rafa udah duduk di restoran buat makan. Mereka gak sekedar jalan jalan dulu gara gara Kiran yang curhat abis abisan mengenai belajar ekstranya dan gak sempet makan dari siang. Kiran kalo cerita emang gak tau malu, untung Rafa pengertian dan langsung ngajak Kiran buat makan dulu. Makan sekarang deh, makan dulu nanti sama Tirex :D
Semalam Kiran berpikir untuk menyatakan perasaannya denga Rafa, sebenernya sih buat ngegeretak Gusur yang gak kunjung muncul. Tapi kayaknya hari ini Kiran bener bener bakal ngomong deh, masalahnya mereka deket juga udah lama, dan Rafa juga udah nunjukin rasa ketertarikannya dengan Kiran. Dengan seringnya mereka jalan, Rafa yang jadi tukang ojek Kiran, dan masih banyak lagi gelagat yang Rafa tunjukin. Tapi sayang Rafa gak nembak nembak, makanya Kiran mikir buat mancing dengan nyatain duluan. Gak ada salahnya kan? Sekarang kan emang jaman emansipasi wanita.
"Kak.."
"Ran."
Mereka bersamaan memanggil, membuat keduanya terkekeh. Entah mengapa wajah Rafa hari ini terlihat gelisah, ada yang ingin Rafa sampaikan hari ini pada Kiran. Dan semua itu sukses membuat wajah Rafa memucat dan tangannya di penuhi keringat dingin, sayangnya Kiran emang gak merhatiin.
"Ada yang mau gue omongin.."
Lagi lagi mereka malah bicara bersamaan. Kiran tersenyum canggung dan geli, untuk menutupi rasa gugupnya. Oke, jika Rafa sudah berkata seperti itu, mungkin Kiran tak harus menyatakan perasaannya.
"Yaudah lo duluan." Rafa tersenyum menyuruh Kiran untuk bicara duluan. "Ladies first.." Rafa mengangkat alisnya, seraya menyuruh Kiran berbicara duluan.
"Enggak ah lo aja, yang tua duluan." Kiran meledek Rafa.
"Gapapa, yang tua ngalah. Lo aja duluan, apa?"
Kiran mendengus sebal, aish kenapa Rafa gak mau ngomong duluan sih? Apa emang harus Kiran pancing dulu? Kiran kembali meremas tangannya, oke jika itu maunya Rafa, Kiran bakal mancing duluan.
"Em, gue, gimana yaa?" Kiran menggaruk kepalanya yang tak gatal, wajahnya terlihat resah.
Rafa yang mendengarnya malah di landa kecemasan luar biasa. Ada ketakutan yang begitu besar pada situasi ini. Ada sesuatu yang nantinya tak bisa Rafa ungkapkan pada saat saat seperti ini.
"Gue suka sama Kakak. Terserah Kakak mau mikir gue agresif atau apa, tapi gue gak mau berlama lama lagi sama status yang gak jelas ini. Kita deket tapi gak ada apa apanya."
Tepat di saat itu jantung Rafa seakan berhenti berdetak. Ia memandang Kiran tak percaya, tubuhnya melemas seketika. Menatap wajah di depannya ini membuat Rafa tidak tega untuk mengatakannya. Tapi Rafa harus menghentikan semuanya, sebelum semua ini berlangsung lebih jauh.
"Ran.." Rafa menggenggam tangan Kiran yang saat itu berada di atas meja. Begitu erat, seakan tak ingin melepaskannya. "Maaf.." suara Rafa nyaris tak terdengar, tenggorokan Rafa bagaikan seperti di cekik, sangat sulit untuk berkata kata lagi. Ia tak tega menyakiti gadis yang belakangan ini sangat dekat dengannya.
Satu kata itu berhasil membuat mata Kiran tercengang. Kiran menahan nafasnya. Meski Rafa belum melanjutkan ucapannya tapi hati Kiran seakan sudah mencelos mendengarnya. Tidak mungkin. Kejadian itu tak boleh terulang lagi. Dari sekian banyak cowok yang kemarin menyatakan perasaannya pada Kiran, namun tak pernah Kiran terima, dan kini disaat Rafa datang dan membuatnya merasakan yakin akan perlabuhan hatinya, bagaimana bisa Rafa mengatakan itu.
Tidak. Oke, Kiran berusaha mengusir pikiran buruknya. Rafa baru mengatakan satu kata. Dan itu bukanlah penentu segalanya. Bisa saja Rafa minta maaf karena telah membuat Kiran menyatakan duluan. Yaa, Kiran harus mampu berpikir positif.
Rafa mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Ia meletakan sebuah kertas di atas meja. "Gue mau tunangan, nanti dateng yaa. Maaf.."
Detak jantung Kiran nyaris berhenti berdetak melihat sebuah undangan berwarna merah muda tergeletak di atas meja. Kiran tak mampu mengatakan apapun lagi saat ini. Tubuhnya benar benar melemas, tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
"Kiran.." Rafa memanggil Kiran lembut. Kiran segera menarik tangannya dari genggaman Rafa. Matanya sudah memerah saat itu. Ini lebih sakit daripada kejadian masa kecilnya. Pernyataan cintanya di tolak dengan telak dengan surat undangan. Begitu naas nasib Kiran. "Lo gapapa?" Rafa terlihat khawatir dengan keadaan Kiran yang kini hanya menatap kosong. "Mau gue anter pulang?"
"Pergi." Desis Kiran pelan, namun begitu tajam. Tak ada lagi kata yang mampu Kiran ucapkan.
"Tapi.."
"Gue bilang pergi!" Kiran membentak dengan suara yang lumayan keras, matanya terlihat memerah. Mata itu kini melotot pada Rafa.
Rafa tak langsung beranjak. Ia menatap wajah itu dengan pilu. Mungkin untuk terakhir kalinya Rafa bisa menatap wajah itu. Karena setelah ini, Rafa tak akan punya keberanian lagi untuk menemuinya. Ia sudah mengakhiri semuanya hari ini.
"Makasih buat selama ini, nice to meet you." Rafa berdiri dengan ragu, tulang tulang di kakinya seakan ingin remuk juga. Perlahan Rafa meninggalkan Kiran yang sudah hancur karenanya.
Kiran masih tak bergerak, matanya bahkan tak berkedip. Ia takut, jika nanti ia berkedip pastilah air mata sudah keluar dari matanya. Kiran menelan ludahnya yang terasa kasar, tidak! Ia tidak akan menangis karena hal ini. Harusnya kejadian masa kecilnya menjadi pelajaran untuk Kiran, harusnya Kiran tau jika kodrat cewek itu di pilih, bukan memilih. Tidak sepantas cewek mengatakan duluan.
Kiran mengambil sepucuk surat undangan yang masih tergeletak di meja. Jangan harap Kiran sudi membacanya. Surat undangan s****n ini, yang telah menjadi alasan halus Rafa menolaknya. Kiran meremas surat itu, rasanya emosinya tertumpahkan pada surat undangan itu. Kiran melemparnya asal, tak peduli siapapun yang nanti akan mengenainya.
***