Kiran hanya terlihat sedang misuh misuh dalam hati. Kemudian ide itu muncul di otaknya, membuatnya kembali tersenyum cerah sebelum berkata. "Guys, kita gak mungkin ngandelin Karin sendirian buat ngajarin kita. Bisa bisa Karin yang frustasi."
"Terus mau lo gimana?"
Kiran tak langsung menjawab, ia menyenggol sikut Sayna yang duduk tepat di belakang bangkunya. Mereka berpandangan sejenak, lalu seolah mengerti, keduanya langsung berseru.
"Regan!" Dengan kompak Sayna dan Kiran berteriak dengan hebohnya, Ilham dan Arbis hanya geleng geleng kepala. Semangat deh mereka kalo udah bawa bawa Regan. Dasar cewek!
"Belajar apaan lo sama Regan? Yang ada malah kecentilan!" Ilham menyahut santai, namun tatapannya hanya pada Kiran, tidak pada Sayna juga. Lagipula selama ini Sayna kan cuma ikut ikutan, enggak heboh beneran kayak Kiran. Kalo mau kayak gitu, dari SMP aja. Sayna kan satu SMP sama Regan. Jadi tatapan itu hanya di layangkan pada Kiran.
"Sambil menyelam minum air dong. Sambil belajar harus ada pemandangan enak, biar cepet masuk ke otak. Kalo cuma liat lo-lo pada, udah di jamin suram. Makim suram kalo gue di ajarnya sama Karin doang. Gukan bukan penyuka sesama jenis." Kiran mennyahut panjang dengan tangannya bermain menunjuk nunjuk Ilham dan Arbis.
"Terserah elo dah, Ran!" Arbis melempar pilus yang sedang di makannya, bukannya marah, Kiran malah langsung menoleh pada Arbis.
"Kok elo makan pilus gak ngomong ngomong sih?" Kata Kiran sewot. "Mauu.." Kiran segera memajukan tubuhnha pada Arbis.
Arbis menghindar, mengumpati kantong pilusnya agar tidak di jangkau Kiran. Sebelum akhirnya Arbis menyodorkan bungkusan itu pada Ilham yang di belakangnya, Arbis memasukan dulu beberapa pilus ke mulutnya.
"Mau? Nih hihh." Arbis menjepit salah satu pilus di antara gigi atas dan bawahnya, menunjukan pada Kiran, seolah menawarkan, dan jika Kiran ingin, tentu saja Kiran harus mengambilnya dengan mulutnya.
"Najis! Geli gue!" Kiran misuh misuh pada Arbis. Arbis hanya cekikikan melihat tampang Kiran.
Kiran kini beralih pada Ilham, karena Ilham yang sedang memegang pilusnya. Ilham pun menjauhkan pilus itu dari jangkauan Kiran, untuk menggoda Kiran, Ilham juga memasukan beberapa pilus ke mulutnya, lalu pilus itu di oper kembali pada Arbis.
"Ininih, Ran. Katanya mau.." Ilham tersenyum geli pada Kiran, melakukan hal yang sama dengan Arbis, Ilham juga menjepit sebuah pilus di antara gigi giginya. Terlihat jelas Kiran bete abis.
"Cih, otak m***m semua tau gak lo?" Kiran mengata ngatai kedua cowok itu. Namun yang di lakukan mereka malah bertost ria.
"Masa gitu aja di bilang m***m, gak gaul lo, Ran!" Ilham terkekeh semakin geli dengan ucapan Kiran.
"Tau, m***m tuh yang gitu gituan." Arbis menambahkan.
"Gitu gituan apaan, Bis?"
"Yang begitulah."
"Gawat, Bis. Abis mimpi basah lo ya semalem."
"Iyanih, gue lupa keramas lagi."
Kiran dan Sayna cuma bengong mendengar percakapan para cowok itu yang arahnya gak tau kemana. Emang yaa, pada hakikatnya cowok selalu gitu.
***
Saat istirahat tiba, Klover segera menuju ke kantin. Namun langkahnya tak langsung ke kantin. Sayna dan Kiran menuju kelas XI IPA 2 untuk menjemput Regan agar makan bersama mereka, untuk membicarakan hasil rapat yang tadi pagi di gelar. Begitupun dengan Ilham dan Arbis yang harus mendatangi kelas keramat, apalagi kalo bukan XI IPA 1. Dimana semua murid muridnya, merupakan murid paling pinter seangkatan kelas sebelas.
Setelah Karin di giring Arbis, tentu saja hanya Arbis, jika Ilham ikut ikutan, Arbis langsung akan melotot pada Ilham. 'Jangan pegang pegang cewek gue' begitulah kata Arbis. Arbis emang terlalu mendalami peran sampai se posesif itu, sahabatnya sendiri aja gak boleh macem macem. Ya jelaslah, Ilham kan mantan playboy kelas kakap. Takutnya Ilham penasaran kenapa Arbis bisa dapetin Karin yang juteknya naujubilah, sedangkan dia enggak. Jadi Ilham memang patut di curigai.
Tidak sulit untuk Kiran dan Sayna membawa Regan. Tentu saja. Regan kan baik hati dan tidak sombong. Begitulah yang sering Kiran ucapkan. Padahal mereka lebih ke memaksa ketimbang ngajak pas dateng ke kelas Regan. Langsung narik Regan gitu aja kayak penculik.
"Coba, Bis jelasin." Suruh Sayna dengan nada bossy, ketika mereka telah sampai ke kantin dan duduk di meja palinh besar yang ada disana.
Arbis tak langsung menjawab, ia malah memandang ketiga temannya. "Kenapa harus gue yang jelasin. Gue laper ah." Arbis mengacuhkan ucapan Sayna, lalu segera menyuapkan pangsit ke mulutnya dengan gaya rakus. "Elo aja sono, Ham." Arbis melempar pada Arbis.
"Elo aja laper apalagi gue! Elo ajalah, Sayna." Ilham malah kembali melempar pada Sayna.
Sayna mendelik. Namun belum sempat Sayna memprotes, Kiran sudah mengambil alih pembicaraan. "Ngomong gitu aja pake lempar lemparan." Ucap Kiran galak dan sedikit membentak dengan kelakuan teman temannya. "Udah, jelasin aja, Na!"
Sayna bengong, kirain Kiran yang mau ngomong, gak taunya cuman sok galak. Dan ujung ujungnya, Sayna yang di suruh.
"Curang lo semua!" Kata Sayna sebal. Yang lainnya hanya cekikikan melihat tampang Sayna yang merenggut dengan wajah masam.
Sayna menjelaskan maksud dan tujuan Klover mengajak Regan dan Karin makan bareng, pake di traktir pula. Regan hanya mengangguk, ia sih mau saja, tidak rela juga jika teman teman seperti Klover harus tinggal kelas. Sedang Karin yang disini menjadi permasalahannya, karena ia merasa, mengajari Klover sampe botak pun gak bisa pinter pinter. Emang otak mereka udah minim kok.
"Kok elo gitu sih, Rin? Kemaren lo nyuruh kita belajar yang bener. Tapi lo malah gak mau ngajarin!" Ilham berseru dengan kesal pada Karin.
"Guekan bukan guru, kenapa harus ngajarin kalian?"
"Seenggaknya kan lo ngebantu kita gitu!" Ilham masih terlibat adu bacot dengan Karin.
"Kalian gak bakalan bisa serius kalo belajar ramean gitu!"
"Belajar sendirian gitu garing, Rin. Bikin ngantuk." Sayna ikut bersuara, tidak senyolot Ilham tentunya.
"Udah gue bilang kan, si Karin gak bakalan mau. Batu sih lo pada." Kata Kiran, mengucapkan seolah olah Karinnya tidak ada disana.
"Rin, emang lo tega ngebiarin pacar lo yang gantengnya naujubilah, kerennya gak kira kira, dan pesonanya gak pernah luntur ini gak naik kelas?"
Rasanya Karin ingin muntah di tempat itu sekarang juga mendengar pertanyaan Arbis yang kelewat narsis. Meski Karin misuh misuh dalam hati. Arbis gak perlu belajar beginian juga udah pasti naek, asalkan dia menjadi Arbis yang sebenarnya. Melepaskan topengnya untuk sejenak. Tapi sepertinya, Arbis gak bakalan mau kalo di suruh naik kelas sendirian. Dan mungkin, bisa aja Arbis ngelakuin hal 'pura pura b**o' lagi.
"Ngebiarin lo mati aja gue tega!"
"Kenapa kemaren lo nangis nangis pas gue jatoh waktu camping?"
Sial! Karin mendesis dalam hati. Di ingatkannya kejadian itu memang membuatnya merasa bersalah. Lagipula semenjak kejadian itu, seharusnya Karin sudah menganggap Arbis itu temannya. Apa yang Arbis lakukan hampir mengorbankan nyawanya. Hanya untuk di akui sebagai teman oleh Karin.
Tapi Karin tengsin juga Arbis bilang gitu di depan Regan. Depan Regan loh. Kan bener bener menjatuhkan harga diri Karin. Sebenernya Karin ajasih yang berpikirnya kelewatan nyampe situ. Padahal kan wajar aja kalo Karin nangis waktu itu, toh status mereka di mata semua orang kan pacaran. Kalo pacarnya terluka parah gitu, jelas aja Karin pantes buat nangis sekejer kejernya juga.
"Aww.." Arbis meringis saat lengannya di cubit kecil oleh Karin yang berada di sebelahnya.
"Jangan bahas bahas itu, gue malu, tau!" Ucap Karin sengit, dengan sedikit berbisik, namun terdengar oleh Klover.
"Elo beneran nangisin si Arbis, Rin?" Kiran menatap Karin tak percaya, karena saat itu keadaannya yang juga habis di gigit ular tidak terlalu memperhatikan sekitar.
"Lo gak liat sih, mata Karin pas balik ke tenda bengkak bengkak tau." Sayna malah memperpanas keadaan, membuat Karin makin mati kutu.
"Ciee, pipi Karin merah tuh cieee.." Ilham bersorak dengan noraknya.
"Gue gak nyangka segitu cintanya elo sama si Arbis ini." Kiran menahan senyumnya menggoda sodara kembarnya itu.
Karin benar benar ingin muntah detik itu juga. Jadi, waktu Karin nangis kemarin, orang orang mikirnya gue cinta banget sama si Arbis? Batin Karin geram. Sukses, drama ini bener bener terlihat nyata di mata semua orang.
"Kalo lo masih gak percaya, Ran. Tanya aja sama si Rizky . Dia liat kok." Arbis menambahi.
"Iya, tanya aja sama Rizky, sama satu lagi anak kelas lo, siapa tuh, Bis? Yang satu kelompok sama kita juga?" Karin kini tersenyum penuh kemenangan saat Arbis langsung melotot kearahnya. s****n, kenapa harus menyinggung soal Tisya. Karin tidak tau apa, meski hanya menyebut namanya, Arbis merasa, luka itu semakin terbuka. Membuat dadanya sesak. Mendapati kenyataan bahwa Tisya, bukan lagi gadisnya. Tisya yang selama ini di nantinya, tidak lagi kembali padanya. Mendadak Arbis diam sejenak, ekspresi jailnya kini berubah menjadi datar.
"Tisya." Kata Arbis pelan, namun terdengar jelas. Tepatnya oleh Karin, saat Arbis menyebutkan nama itu, segala perasaan berkecamuk di dalam benaknya.
Dan sialnya, kebetulan memang terlalu kebetulan. Saat Arbis menyebutkan nama itu, kebetulan sang empunya nama melintas di samping mejanya. Tisya berhenti sebentar saat namanya di sebut, oleh.. Arbis.. Tuhan, betapa Tisya merindukan Arbis. Tidak mudah untuk Tisya mendapatkan Arbis, namun mengapa Tisya harus melepaskannya begitu saja?
"Nah, kebeneran ada Tisya tuh lewat. Coba coba kita tanya." Ilham makin memperkeruh keadaan, niatnya sih ingin semakin menggoda Karin, tapi ia tak tau bahwa Arbis yang saat ini wajahnya sungguh sudah berbeda dari sebelumnya.
"Eh, apa?" Tisya bingung saat Ilham menarik tangan Tisya begitu saja. Arbis melihatnya. Dan sebenarnya Arbis ingin memprotes pada Ilham yang seenaknya saja menarik gadisnya, tidak, dia bukan lagi gadisnya.
Meski melihat kearah Ilham, Tisya sedikit melirik pada Arbis. Bersamaan dengan itu juga Arbis sedang menatapnya. Mereka tertegun, namun Arbis segera mengalihkan pandanganya. s**l! Kenapa jadi Arbis yang merasa terpojokan.
"Iniloh, Sya. Kita lagi bahas camping kemaren. Elo kan sekelompok sama mereka." Sayna menunjuk Arbis dan Karin yang duduk bersebelahan. "Si Kiran masih gak percaya Karin nangis nangisin si Arbis yang waktu itu kecelakaan. Emang iya, Sya? Gimana sih nangisnya Karin? Histeris gak? Duh pasti setiap tangisannya penuh cinta banget tuh."
Kali ini Karin ingin memprotes, s**l, imej-nya di mata Klover sudah benar benar hancur. Tapi alih alih Karin, disitu wajah Tisya berubah menegang. Kenapa harus bertanya tentang Karin? Tisya juga menangis saat itu, mendengar penuturan Sayna benar benar seakan menampar Tisya telak di dasar hatinya. Sudah ada gadis lain yang mencintai Arbis, tentu saja Arbis juga sangat mencintainya. Buktinya sampai rela melakukan hal seperti kemarin. Lalu, masih bolehkah Tisya bertanya pada Arbis? Kini. Saat ini. Setelah semuanya terjadi. Setelah masa itu berlalu. Perasaan apa yang sebenarnya ada di hati Arbis untuk Tisya? Apa cinta itu tak lagi utuh untuknya seperti dulu?
"Sya! Malah bengong." Kiran menyadarkan Tisya dari lamunannya. Padahal mereka semua sedang menunggu jawaban Tisya.
"Eh, iya. Karin nangis, karena Arbis jatuh gara gara nyelamatin Karin."
Arbis dapat merasakannya, ada nada kepediha saat Tisya berkata begitu. Tisya yang melihat dengan jelas, bahwa kini, buka hanya dia satu satunya gadis yang ingin Arbis lindungi.
"Wow, sweet banget lo, Bis. Jadi pengen, Gan. Nanti kita begitu yaa?" Kiran mulai lagi, menyenggol sikut Regan yang berada di sebelahnya sambil menatap Regan jail.
"Anything for you, Ran. Nanti kita lebih sweet dari mereka." Regan mungkin udah ketularan jail, dia malah nanggepin ucapan Kiran dengan suara lembutnya. Kontan aja Kiran makin histeris.
Kiran langsung memeluk Regan dengan gayanya yang norak dan lebay banget. "Huaaa, gue tau elo emang cowok idaman, Gan."
Regan hanya terkekeh, membiarkan dirinya di peluk Kiran, tanpa membalasnya -tentu saja- makin parah bisa bisa urusannya kalo Regan bales meluk Kiran.
"Mulai kan lo kegatelan!" Ilham yang jijay melihat kelakuan Kiran sambil menimpuk es batu yang di ambilnya dari minumannya.
"Yee, sirik aja lo jadi orang." Kiran melepas pelukannya dan menjulurkan lidahnya pada Ilham.
"Eh, Sya. Gabung aja disini." Sayna menyadari Tisya masih saja berdiri disana.
"Enggak, em, itu.." rasanya tenggorokan Tisya sangat enggan untuk bersuara, mengakuinya, karena bisa saja mereka tidak kenal dengan Angga. "Cowok gue nunggu disana." Kata Tisya pelan.
Arbis tetap tak berekspresi mendengarnya. Bersamaan dengan itu juga Arbis berdiri menarik Karin agar ikut berdiri juga. "Ikut gue."
"Mau kemana lo?" Tanya Ilham.
"Mau berduaan biar gak di gangguin lo pada."
Arbis berjalan tergesa dengan tangannya terus mencengkram pergelangan tangan Karin. Cukup kencang, namun tidak terlalu kasar. Dan, tentu saja, Tisya dapat melihatnya.
***