Sementara mereka --Klover-- yang sedang fokus dengan surat yang di bawa Karin, Karin segera memindahkan channel televisi yang sedang di tonton mereka dengan cuma cuma, alias asal nyala doang, gak ada yang serius nonton.
"Omaygatt!!" Kiran berteriak lebih dulu, dengan suaranya yang nyaring dan histeris.
"Oh TIDAKK!!" Kali ini di susul Ilham dengan gaya yang dramatis.
"Beneran deh, cepat atau lambat gue di pecat jadi anak sama nyokap gue." Sayna meletakan surat itu di atas meja, karena tak sanggup untuk membacanya berulang ulang. Cukup membaca sekali saja Sayna sudah paham, dan sukses membuatnya depresi berat.
"Emang kita segoblok itu apa sampe di kasih peringatan bakal gak naek kelas gini?"
Cuma Arbis yang tidak melontarkan kata kata lebay dan dramatis macam yang lainnya. Arbis mengedarkan pandangan ke seluruh temannya, memang otak mereka separah itu yaa sampe sampe Arbis yang cuma pengen ngimbangin malah kebawa bawa di ancem gak naek kelas juga. Yep, surat mereka berempat, tentu saja isinya sama. Ancaman untuk mereka, mengingat nilai nilai mereka yang sudah benar benar di bawah hancur, serta kelakuan yang juga gak baik baik amat. Mereka berada di urutan paling bawah daftar siswa yang di calonkan tidak naik kelas jika nilainya tidak ada perubahan yang signifikan.
"Elo, Ran! Gue gak tau deh apa reaksinya kalo sampe Mama Papa tau." Karin kini menatap tajam pada Kiran yang masih tampak shock.
Kiran diam sejenak, lalu berani mengangkat kepalanya untuk melawan Karin dengan tatapan menantang. "Tenang aja, mereka gak bakal tau. Bahkan mereka aja gak tau sekarang gue udah kelas berapa, so, dont worry." Sahut Kiran kalem, sambil tersenyum tenang.
"Elo enak gak masalah, nah gue? Beneran deh, bakal dapet ceramah tujuh hari tujuh malem, terus mandi kembang penghilang bala, kalo sampe gue beneran gak naik kelas." Sayna menepuk jidatnya, tak mampu membayangkan apa yang nanti akan terjadi.
"Gila! Gue beneran bisa bisa gak di kasih makan selama setahun ama nyokap gue."
Kiran mendesis mendengar Ilham yang juga membicarakan orang tuanya. Entah mengapa, ada rasa iri yang berkelebat di dalam hati Kiran. Dan entah mengapa, hari ini, rasanya Kiran tak mampu mengendalikannya.
"s**l!" Desis Kiran, kemudian berdiri dengan tergesa dan memasuki kamar begitu saja, membuat para Klover menatapnya kebingungan.
"Kenapa Kiran?" Arbis menatap pada pintu kamar yang seakan di banting Kiran, terdengar pula Kiran yang menguncinya begitu rapat agar tidak ada yang membukanya.
Karin diam sesaaat. Ia tau apa yang di rasakan Kiran. Karin juga dapat merasakannya, bagaimana saat teman teman Kiran membahas soal orang tua mereka, dan, apa yang mau Kiran bahas? Kiran tak tau menau tentang orang tuanya. Seperti tidak memiliki orang tua. Tapi punya.
"Kalian pulang aja." Ujar Karin, berusaha menyuruh Arbis, Ilham, dan Sayna agar pergi dari sana. Ada sesuatu yang mungkin harus mereka bicarakan berdua, dan yang pasti mereka tidak perlu tau.
"Tapi.. Kiran?" Ilham menatap khawatir pada pintu berwarna cream yang di lewati Kiran untuk masuk ke kamarnya.
Karin menggeleng, sambil berusaha tersenyum. "Gapapa. Kalian pulang aja. Berhenti main main, kalian harus serius dikit, kalo gak ada yang mau di pecat jadi anak sama orang tua kalian."
Mungkin baru kali ini, Klover secara bersamaan menangkap rasa peduli Karin yang tidak pernah tampak. Arbis sih sudah tidak aneh, ia tau kok, di balik sikap jutek dan dingin Karin, pasti ada rasa peduli terhadap orang orang di sekelilingnya. Persis. Seperti Arbis dulu.
"Yaudah, kita balik, Rin." Arbis berdiri terlebih dahulu, tanpa perlu di jelaskan, hanya berpikir sesaat, Arbis mengerti apa yang terjadi dengan Kiran. "Ayok.." Arbis menarik lengan Ilham untuk bangun, matanya juga menyuruh Sayna untuk segera pergi.
"Eh? Tapi itu Kiran kenapa?" Sayna masih bingung dengan sikap Kiran, dari suaranya, ada nada khawatir juga mengingat Kiran yang semula heboh menjadi kesal seperti tadi.
"Yaudah kalo lo mau balik sendiri. Padahal gue lagi pengen berbaik hati ngasih tebengan transport ke elo, tanpa lo harus ngerengek dulu." Arbis berjalan melenggang seolah olah amat sangat menyesal dengan keputusan Sayna. Ilham hanya mengekor di belakangnya, sambil sesekali menatap pintu kamar Kiran. Ada apa sebenarnya?
Sayna berdiri seketika dan loncat untuk mengejar Arbis yang sudah hendak membuka pintu apartemen ini. Sambil mendengus, Sayna berkata. "Ah, Arbis! Udah lo baiknya jarang jarang, sekalinya baek malah buat anceman. "
Tanpa berlama lama lagi mereka pun keluar dari apartemen ini. Tinggalah Karin yang masih duduk di ruang tamu. Kemudian Karin berdiri, dan kini melangkah menuju kamarnya. Di putarnya hendle pintu yang sebenarnya Karin juga tau itu terkunci. Lalu tangan Karin mengetuknya, berusaha agar Kiran membukanya.
"Kiran, buka, Ran." Karin masih terus mengetuk pintu kamarnya, namun sepertinya tak ada niatan untuk Kiran yang berada di dalam membukanya.
Karin mengerti, mungkin kodratnya sebagai Kakak, meski hanya lahir beberapa menit lebih dulu, setidaknya membuatnya lebih dewasa menanggapi masalah daripada Kiran. Di balik sikap tidak pedulinya terhadap orang tua mereka, sebenarnya Kiran sangat ingin seperti anak anak normal lainnya. Hidup bersama orang tuanya. Ada pembahasan mengenai orang tuanya saat mengobrol bersama teman. Karin mengerti semuanya, Karin juga merasakan hal yang sama.
"Ran! Buka dong. Gue mau ngambil hape nih! Lo pikir ini kamar lo sendirian!" Akhirnya Karin berkata ketus, dengan nada seperti biasanya, yang senantiasa jutek.
Mendengar itu, Kiran akhirnya mau membukakan pintu. Terdengar derap langkah kaki Kiran yang mendekati pintu, lalu derita kunci yang beresekan untuk membukanya. Tak lama pintu terbuka, memunculkan sosok Kiran yang, wajahnya sungguh berbeda dari biasanya. Lebih dingin. Hampir mirip dengan Karin, meski mereka bukan kembar identik.
Karin melenggang memasuki kamarnya, di ikuti dengan Kiran yang kembali berjalan menuju tempat tidurnya yang bersebrangan dengan tempat tidur Karin. Karin memperhatikan Kiran melalui ekor matanya, tak ada yang di lakukan Kiran. Kiran hanya bersandar pada sandaran tempat tidurnya, sambil memeluk guling. Tatapannya yang biasanya ceria seakan kosong.
"Kenapa?" Tanya Karin yang kini sudah berdiri di dekat tempat tidur Kiran.
Kiran mendongak, menatap Karin sekilas, yang biasanya gak pernah kepo sama apapun, kini mendadak bertanya 'kenapa' pada Kiran.
Karin duduk di tepi ranjang tempat tidur Kiran. Kiran dapat melihat wajah Karin yang tetap datar, namun memancarkan rasa peduli. Kepeduliaan untuk satu satunya anggota keluarga yang ada di dekatnya. Yaa, orang yang menjalani hidup bersamanya, yang berbagi rahim ibunya selama sembilan bulan.
"Gue pengen kayak anak anak normal, Rin." Kiran membuka pembicaraan.
Karin menatapnya lekat, Kiran yang selalu mengatakan tidak peduli terhadap orang tua, ternyata menaruh harapan besar pada orang tuanya. Karin tidak menyela ucapa Kiran, ia tau Kiran hanya mengambil nafas untuk kembali bicara.
"Yang elo dan gue lakuin sama sekali gak pernah berguna. Mau gue pinter kayak elo atau b**o pun gak berpengaruh. Gak ada yang ngomelin gue disaat nilai gue ancur, gak ada juga yang bangga sama lo di saat nilai lo itu memuaskan. Semuanya gak berguna. Karena kita gak pernah punya orang tua.." suara Kiran terdengar lirih, membuat Karin menarik tangan Kiran, ia tau arah pembicaraan Kiran. Setiap Kiran membuka fakta demi fakta tentang orang tuanya, hati Karin pun merasa teriris mendengarnya.
"Gue pengen ngerasain, gimana rasanya di telponin sama Mama atau Papa di saat gue maen. Mereka nanyain pulang jam berapa? Mereka yang khawatir anaknya kenapa napa..."
"Gue selalu khawatir kalo lo belom pulang, Ran. Gue selalu nelponin lo kalo lo udah maen kelewat bates, gak perlu mereka, Ran. Ada gue disini.."
Hati Kiran bergetar mendengar Karin menyela ucapannya dengan cepat. Tangisnya menyeruak, tersadar bahwa mereka memang tidak membutuhkan orang tua. Meski ingin, rasanya itu hanyalah suatu mimpi belaka.
Entah sejak kapan mereka kini sudah saling berpelukan. Tangan Karin melingkar di pundak Kiran, jidat mereka saling bertubrukan, terlihat dengan jelas keduanya sudah sama sama menangis, mengingat kisah hidupnya yang hanya berlangsung berdua.
***
"Terus, jalan keluar kita gimana? Gue gak mau sukarela gak naik kelas gini." Ilham menatap ketiga temannya yang kini tampak berpikir keras.
Di dalam kelas, sebelum bel masuk berbunyi, Klover mengadakan rapat dadakan. Membahas tentang surat peringatan yang di layangkan pada Klover kemarin. Kiran dan Arbis yang duduk di depan Ilham dan Sayna jelas menengok ke belakang.
Arbis sih bisa saja, mengeluarkan kemampuannya yang sudah lama di kuburnya, tapi Arbis gak mau ninggalin teman temannya. Dan gak lucu juga kan, Arbis yang terkenal dengan nilainya yang hancur tiba tiba langsung melejit dengan otak jeniusnya.
"Percuma belajar sampe botak di rumah, gue gak bakal bisa ngerti kalo gak ada yang ngajarin." Kiran angkat bicara. "Lagian, gue sama sekali gak ngerti apa yang para guru terangin itu." Lanjutnya dengan tampang frustasi.
"Kita les privat aja gimana?" Sayna mencetuskan ide, sambil menatap ketiga temannya, seolah bertanya apa idenya ini di setujui atau tidak.
"Jangan!" Arbis mulai bersuara, setelah berpikir sejenak, sepertinya ia mendapat ide yang lebih efesien. "Guru privat gak ada yang asik. Kita minta ajarin Karin aja. Elo, Ran! Punya sodara pinter kagak di manfaatin." Usul Arbis, membuat ketiganya kini menatap Arbis dengan serius. Seolah mempertimbangkan usulan Arbis.
"Boleh tuh, irit waktu dan biaya." Ilham mengangguk angguk, menyetujui ucapan Arbis.
"Hey, lo gak tau Karin kalo ngajar kayak apa?" Kiran mendelik, suaranya meninggi, mengingat terakhir kali Kiran minta di ajarkan Karin. "Galak, man! Persis banget kayak utusan yang di kirim dari neraka buat nyiksa para makhluk b**o macam kalian."
"Cih, elo ngomong seakan akan lo gak b**o gitu, Ran." Sayna memprotes. "Tapi seenggaknya kita juga butuh guru yang keras biar bisa. Gue setuju." Sayna tersenyum menyetujui usulan Arbis.
"Jadi, pada mau kan minta ajarin sama Karin?" Arbis memandang ketiga temannya lagi, mengulang pertanyaannya.
"Pertanyaannya, Karin mau gak ngajarin kalian."
Semuanya kini menata Kiran, sepertinya Kiran berusaha agar tidak di ajar oleh Karin. Gak usah du tanya lagi kenapa, Kiran udah ngalamin sendiri kok, gimana sadisnya Karin kalo ngajar orang. Yang di ajarnya, di paksa untuk mengerti, otak Kiran yang sulit mencerna membuatnya frustasi dengan cara mengajar Karin.
"Nanti kita tanya sama orangnya langsung. Kalo bisa sih paksa, kan emang itu gaya kita."
Sayna dan Arbis mengangguk dengan usulan Ilham kali ini.