Acara camping yang membawa petaka itupun telah berakhir, tak lupa saat hendak pulang para Klover mengajukan komplain sebesar besarnya pada OSIS karena dua dari anggota Klover sampai celaka. Mereka benar benar rusuh dan berbicara begitu ngotot pada sang ketua osis. Dari mulai di katai tak tau diri, tak bisa memilih tempat, osis malah ongkang ongkang kaki di tenda, pokoknya osis benar benar habis di caci maki oleh Arbis, Kiran, Ilham, dan Sayna. Sampai sampai mereka kewalahan menanggapinya.
Namun ternyata kondisi Kiran tidak terlalu parah, medis yang ada di sana mengatakan racun yang ada di tubuh Kiran tidak terlalu banyak karena ada seseorang yang menghisapnya. Dan Kiran benar benar yakin, bahwa saat Gusur datang itu bukan mimpi, itu nyata!
Sedangkan kondisi Arbis secara fisik memang lumayan parah, tapi beruntungnya Arbis tidak ada luka dalam sehingga dapat di atasi dengan mudah.
Mereka semua pun kembali ke Jakarta pada hari Jumat sore, sehingga memungkinkan mereka untuk berisitirahat di hari sabtu dan minggu setelah menjalan acara camping yang melelahkan ini. Dan sangat tumben, selama dua hari weekend ini Klover sama sekali tidak ada acara main atau apalah. Mereka benar benar fokus istirahat karena terlalu lelah. Sayna dan Ilham yang tidak kenapa kenapa pun merasa lelah dan malas untuk main. Masing masing dari mereka anteng di dalam rumahnya.
Seperti halnya Kiran yang hari ini sedang bersantai santai ria tiduran di sofa ruang tengahnya sambil tangannya jail menggunta ganti chanel tivi dengan remotnya. Sudah tidak menjadi rahasia umum jika Kiran menonton tivi itu tangannya tidak pernah bisa diam untuk menggonta ganti channelnya. Kondisi Kiran sudah cukup baik dan tentunya besok ia akan tetap melakukan rutinitasnya untuk berangkat ke sekolah.
"Kiran! Jangan di gonta ganti terus! Gue pusing liatnya." Karin yang juga ada di ruang tengah, duduk ngedeprok di lantai sambil memainkan notebooknya, merebut remote yang ada di tangan Kiran karena tak tahan dengan kebiasaan Kiran itu.
"Elo apasih? Orang daritadi lo liat notebook ngapain pusing coba?" Kiran bangkit dari tidurannya dan membungkuk untuk merebut remote dari Karin.
"Mendingan lo maen daripada ada di rumah malah nyusahin!" Dumel Karin saking kesalnya dengan kelakuan Kiran.
"Kalo gue maen terus nanti lo kesepian lagi."
Betapa eneknya Karin mendengar ucapan Kiran itu. Namun Karin tak membalas lagi, jika adu mulut dengan Kiran tentunya ia akan kalah. Dan kalo sampe ngeladenin Kiran itu gak bakal ada abisnya. Mendingan yang waras ngalah.
Pintu apartemen mereka seperti ada yang mengetuk. Bukannya disini tidak ada bel, hanya saja Kiran maupun Karin tak pernah suka menyalakan bel. Mengganggu. Itulah menurut mereka. Toh apartemen mereka pun tidak besar besar amat, jika ada yang mengetuk masih terdengar.
Karin pun berdiri untuk membuka pintu, Kiran yang emang kepo matanya mulai mengarah pada pintu untuk melihat siapa yang datang. Karena biasanya kalo ada tamu itu yaa buat Kiran, gak mungkin buat Karin, rata rata orang yang mengenal Karin tidak tau tempat tinggal Karin, dan masalahnya, kenalan Karin juga gak banyak banyak amat.
"Em, Kiran ada?" Tanya cowok yang kini berdiri di ambang pintu. Karin menatap cowok itu sekilas.
Mendengar suara itu Kiran langsung semangat, tuhkan bener, mana ada tamu yang sukarela mencari Karin.
"Ada." Saut Karin singkat, membuat Rafa paham tentang apa yang di ceritakan Kiran tentang Karin. "Masuk aja." Karin pun mempersilahkan masuk Rafa dengan jauh dari kata ramah.
Karin berjalan mendahului Rafa untuk masuk ke dalam, ia mengangkut notebooknya dan berjalan ke dalam kamar. Kiran yang tadi tiduran dengan semangat langsung bangkit dan terduduk tegak sambil tersenyum pada Rafa.
"Gue kira lo cuma becanda mau kesini." Kata Kiran seraya berbasa basi menyambut Rafa. Tapi hati Kiran bener bener loncat loncatan karena tujuan Rafa kesini sudah pasti ingin menjenguknya. Kiran sih gak ngomong ngomong lagi sakit gara gara di patok uler. Tapi twit twit Kiran ituloh yang kelewat lebay, dan kode banget cari perhatian.
"Abis kayaknya lo parah banget sakitnya. Sampe lo ngetwit, hampir aja mati."
Kiran nyengir malu malu mengingat twitnya itu. Tapi itukan emang fakta, kalo Gusur gak dateng mungkin Kiran udah beneran mati. Abis Ilham juga lama banget datangnya.
"Nih buat lo, gue bingung mau bawa apa." Rafa meletakan sekotak donuts di meja yang ada di sana. Alfi pun segera menyambarnya dan melihat isinya.
"Ya ampun, Kak suka repot deh. Bukan sekalian bawa bakso atau soto gitu kebeneran gue laper." Kiran yang gak tau malu dan selalu ceplas ceplos kalo ngomong, lagi lagi nyengir sambil tertawa.
Rafa tersenyum mendengar ucapan Kiran. Lucu sekali melihat cara cewek ini berbicara lalu di iringi dengan tawa. Begitu manis dan natural. Entah sejak kapan Rafa menyukai itu.
"Ada gitu yaa yang di kasih nawar. Kiran.. Kiran.." Rafa menggeleng gelengkan kepalanya, senyumnya masih mengembang saat Kiran segera membuka kotak donuts itu dan mengambil isinya. Kini mulutnya sudah di penuhi dengan donuts. "Gimana keadaan lo? Gak jadi kan matinya?" Ledek Rafa mengingat twit Kiran itu.
Kiran tersenyum malu malu saat Rafa bertanya begitu. "Gajadi dong, malaikat mautnya gak tega saat melihat muka gue yang cantik dan manis ini." Jawab Kiran dengan asal. Yang lagi lagi membuat Rafa terkekeh. Cewek ini memang punya banyak cara untuk mengekspresikan sesuatu.
"Gue balik yaa, Ran." Suara lembut Rafa kembali terdengar, Kiran yang tidak tau malu sedang melahap donatnya, segera menenggak untuk menatap Rafa.
"Kok buru buru?" Masih dengan mulut yang di penuhi donat Kiran bertanya.
"Masih banyak tugas kampus. Oh iya, sori besok gue gak bisa nganter lo. Soalnya ada kelas pagi."
Kiran tersenyum sejenak, Kiran juga gak pernah minta Rafa buat jadi tukang ojek kok. Rafa aja yang suka rela mau nganter jemputnya. Dan saat melihat wajay Rafa yang begitu sesal karena tak bisa mengantarnya sekolah, jantung Kiran seakan melompat lompat girang gak keruan.
"Gapapa, gue berangkat bareng Karin kok."
"Cepet sembuh yaa.." Rafa pun berdiri, sambil tangannya mengusap lembut puncak kepala Kiran, yang lagi lagi, membuat jantung Kiran serasa ingin meledak. Omaygat, Rafa manis banget. Batin Kiran yang sudah meleleh dengan sikap Rafa.
"Iya, kalo udah di jenguk lo, langsung sembuh deh, Kak." Kiran tersenyum salah tingkah, namun di sambut dengan kekehan Rafa yang mendengar ucapan Kiran. "Hati hati di jalan. Oh iya, kalo mau kesini lagi gak usah repot repot bawa donat. Bawa martabak manis aja, gue doyan itu juga kok." Kiran kembali berceloteh dengan santainya, membuat Rafa ingin terus tertawa.
***
Kekompakan Klover emang tidak tertandingi, terbukti dengan hari ini, Kiran yang masih males masuk sekolah karena masih sakit. Arbis yang katanya badannya masih remuk. Ilham yang katanya mendadak meriang karena udah lama jomblo, Ilham gak bohong kok, dia merindukan kasih sayang katanya. Dan Sayna, yang katanya memiliki jiwa empati yang sangat tinggi, saat semua teman temannya sakit Sayna juga dapat merasakan bagaimana sakitnya hingga membuat mereka tidak sekolah bareng bareng.
Amanlah sudah kelas XI IPS 4 hari ini, setidaknya ketidak hadiran mereka membuat beberapa telinga bisa tenang karena tidak harus merasa terganggu dengan kebisingan mereka. Namun tetap saka harus di pertanyakan, bisa bisanya mereka sakit berempat. Pak Santo, guru yang paling benci setengah mati sama kehadiran Klover ini, jelas saja langsung menelpon orang tua mereka satu persatu, namun jawaban yang di dapatnya sama. Sakit. Kalo Kiran sih bukan di telpon orang tuanya, langsung di tanyain ke Karin.
Dan siang ini, sekitar jam sebelas, meski katanya lagi pada sakit, tapi Klover keliatan lagi ngumpul di apartemen Kiran dengan tampang yang pada sehat walafiat. Mata mereka berempat terpaku pada televisi yang sedang menayangkan kaset yang di setel Kiran. Yang sedang di setel saat ini adalah film Anabele. Yep, kalian tidak salah dengar, meski Anabelle masih tayang di bioskop, tapi ternyata Arbis sudah berhasil dapet kaset bajakannya. Keren bukan? Ngirit biaya ke bioskop.
Berbagai makanan dengan bungkusnya sudah ngelayah di atas meja, siap siap Karin ngomel ngomel pas pulang nanti. Tidak ada yang banyak bicara, meski tercetus komenan komenan iseng saat menonton film ini.
Seperti Ilham yang dengan kencang berkata. "Dih, tuh cewek pea yaa? Kenapa jadi dia yang bunuh diri?"
Sedangkan Kiran mendelik. "Masa masak popcorn doang bisa kebakaran."
"Anabelle itu sejenis boneka kayu yaa? Kayak pinokio dong?" Kali ini Arbis yang berkomentar.
"Itu masa hamil perutnya kayak gunung merapi sih?" Sayna pun tak kalah berkomentar.
Untung mereka tak nonton di bioskop, kalau tidak, pasti sudah di timpukin orang orang karena berisik.
Setelah selesai menonton, mereka pun pada makan siang dengan delivery order. Lalu sibuk mengobrol dan melepas kerinduan karena dua hari tidak bertemu. Asik juga rasanya disaat semua orang masuk sekolah mereka malah libur berjamaah dengan alasan sakit.
Tepat pada saat jam tiga, Karin baru pulang sekolah. Betapa terkejutnya Karin saat melihat apartemennya sudah acak acakan gak meruan hasil ulah Klover yang ngakunya pada sakit. Karin memelototi mereka satu persatu, namun semuanya malah tersenyum sok manis.
"Ayolah, Rin. Kita kan cuma melepas kerinduan karena dua hari gak bertemu." Ilham ngeles, berusaha meredam keseraman wajah Karin saat itu.
"Sebelom pulang beresin dulu sampe rapi, kalo nyawa lo semua masih kepengen nempel." Gretak Karin dengan suaranya yang dingin. Lalu berjalan menuju kamarnya, karena tidak sanggup melihat keadaan ruang tamunya yang sudah tidak berbentuk.
"Duh, pacar gue serem bingitss." Goda Arbis berusaha berbicara dengan logat alaynya. Membuat Karin yang berada di dalam mendengus sebal.
Karin keluar ke ruang tamu setelag berganti pakaian, dengan membawa empat buah amplop yang di titipkan wakil kepala sekolah bidang kurikulum untuk Klover. Dengan asal Karin melempar amplop itu di atas meja. Lalu melanjutkan berjalan menuju dapur untuk mengambil minuman dingin.
"Apaan nih, Rin?" Sayna yang paling dahulu bertanya, dengan nada setengah berteriak agar Karin yang berada di dapur dapat mendengarnya.
"Baca sendiri. Ada namanya masih masing buat kalian." Saut Karin yang tidak terlalu berteriak namun cukup terdengar. Karin menutup kulkas yang di bukanya, lalu ia keluar dari dapur dan duduk di ruang tamu, di sofa yangdi peruntukan untuk satu orang.