Jam pelajaran ke tujuh, guru yang mengajar di kelas XI IPA 4 lagi-lagi tidak masuk. Ralat, guru tersebut sempat masuk ke kelas beberapa menit, untuk memberikan tugas mencatat materi yang ditulis sekertaris di depan kelas. Hingga memberikan tugas perihal latihan soal yang jumlah soalnya tak kira kira banyaknya.
Tentu saja, siswa penghuni kelas ini mana mungkin ada yang kerajinan untuk mengikuti arahan guru tersebut. Alih alih mengerjakan tugas yang sudah diberikan dengan tenang, para siswa tampak asik dengan kegiatan masing masing. Dari sekelompok siswa yang menggelar lapak gosip, untuk membicarakan para kakak kelas ngetop yang kerap kali menjadi idaman siswi kelas XI. Ada juga yang menggelar lapak pembahasan seputar drama korea yang sedang ramai di perbincangan.
Sekumpulan anak cowok justru malah bermain kartu di kursi paling belakang. Cewek cewek peduli penampilan berkumpul di depan, untuk bermain catokan rambut dan membuka salon kecantikan di sana.
Klover sendiri, sibuk dengan aktivitasnya yang sudah pasti gak penting!
Sambil menikmati brownies yang dikirim pengagum rahasia Sayna, Klover kini sedang khidmat menyimak cerita Kiran seputar gebetan barunya itu. Meski di awal Sayna sempat protes, karena masih mengingat dengan jelas Kiran yang seperti mau meninggal saat Rafael terbukti mempermainkannya.
"Bentar bentar, jadi lo ketemu sama si cowok gak jelas ini-"
"Ih! Dia jelas ya!" Kiran menyela ucapan Ilham yang menyebut Eza --yang namanya belum mau ia sebutkan karena hubungan mereka belum resmi-- Kiran sudah tobat dengan hubungan tidak jelas. Kali ini, ia mau hubungannya dengan Eza sejelas jelasnya saat ini.
Ilham berdecak, masih enggan mengakui kejelasan cowok yang tidak sengaja bertemu Kiran di jalan saat cewek itu sedang menangis karena dicampakan oleh Rafael.
"Cowok nemu di jalan kok dibilang jelas." Sayna ikut mencibir, menyetujui ucapan Ilham.
Hal itu membuat Ilham mengangkat tangannya untuk high five dengan Sayna karena mereka yang satu suara.
"Terus? Setelah malem lo nangis nangis, besoknya ketemu lagi secara gak sengaja dan kalian bolos bareng, malem minggu kemaren lo jalan lagi sama dia?" Arbis, satu satunya yang masih mau menyimak cerita Kiran tanpa judging sosok Eza.
Kiran mengangguk dengan semangat, menyahuti ucapan Arbis. "Malem minggu kemaren emang diniatin jalan, bukan gak sengaja. Gue di ajak maen skat, ih lucu tauu. Modus ngajarin maen skat jadi uwu."
"Uwu tuh, lo di grepe grepe kan, pas dia sok ngajarin lo maen skat?" Ilham masih menyahuti cerita Kiran dengan sinis.
Kiran melotot, Ilham benar benar menyebalkan hari ini. Gak asik!
"Iya, di grepe grepe, tapi gue malah keenakan. Puas lo?" balas Kiran kesal.
Arbis tertawa mendengar ucapan Kiran.
"Jadi, siapa namanya? Masa ampe ceritanya abis kita gak di kasih tahu namanya." Sayna mengingatkan kembali perihal Kiran yang masih belum menyebutkan nama gebetan barunya itu.
Kiran mengangkat bahunya, sambil menimbang untuk menyebutkan nama Eza atau tidak. "Nanti deh gue kasih tau, sekalian gue kenalin sama kalian. Dia masih SMA juga, gak mungkin ninggalin gue pake alesan mau tunangan lagi kayak si b*****t Rafael itu!" Kata Kiran dengan suara menggebu gebu, masih merasa kesal tiap teringat Rafael.
Ilham tersenyum kecil, berusaha untuk tidak kentara di depan Kiran.
Kakaknya memenuhi janjinya dengan sangat baik. Rafael tidak berhak bersama Kiran, tidak setelah apa yang dilakukan Rafael di masa lalu.
Rafael adalah definisi tidak termaafkan bagi Ilham. Rafael tidak berhak bahagia atas apa pun. Lelaki itu harus menebus dosa dosa yang telah diperbuatnya.
"Yaa, good luck deh, Ran. Semoga baik ya kali ini. Ngebet juga kan lo pengen pacaran, gara gara liatin gue sama Karin yang kian hari nambah mesraaa." Arbis berkata dengan nada yang terdengar menggelikan di akhir kalimatnya, membuat Klover bergidik saking gelinya dengan ucapan Arbis.
"Mesra apanya! Karin lebih sering cemberut tiap deket lo, daripada menebar senyum kebahagiaan, tau!" Sayna memprotes ucapan Arbis, karena tidak setuju.
"Loh, emang kapan Karin suka senyam senyum ceria riang gembira kayak lo pada? Cara Karin mengekspresikan kebahagiaannya emang harus cemberut dong!" Arbis berusaha membela diri, meski ucapannya makin terdengar tak masuk akal.
"Bodo amat yaa, Bis! Diliat dari sudut mana pun, gue tetep gak habis pikir, Karin kerasukan apa sih bisa nerima lo? Lagian, anjir ya, gimana ceritanya sih lo bisa sama Karin?" Kiran yang masih kerap kali shock akan hubungan kembarannya bersama sahabatnya itu, nyaris terserang sakit kepala setiap kali mengingat hubungan mereka. "Ngaku lo! Lo ngancep Karin kan biar dia mau pacaran sama lo?" Tuduh Kiran antusias, yang disetujui teman temannya.
"Ya ampun! Seudzon mulu deh otak lo pada nih. Cinta itu tak mengenal batas, gue ama Karin emang ditakdirkan bersama, gak peduli sama badai badai penghadang yang masih aja gak terima, kayak lo pada nih!" Arbis menyahut santai, tidak merasa terganggu atau tersinggung dengan ucapan teman temannya.
Tisya yang duduk tak jauh dari meja Klover, dapat mendengar obrolan mereka. Diam diam, cewek itu ikut berpikir tentang hubungan Arbis dan Karin yang masih di anggap tidak wajar, bahkan oleh teman temannya sendiri.
Sebenarnya, peran apa yang sedang dimainkan Arbis saat ini, demi melindungi luka hatinya yang tak pernah sembuh.
Saat Tisya diam diam memperhatikan Arbis yang duduk di bangku belakang, saat itu juga Arbis tampak sedang mencuri pandang kepadanya. Namun, cowok itu buru buru mengalihkan pandangannya.
Tatapan itu. Tatapan putus asa yang pernah dilihat Tisya malam itu, saat keduanya meluruh bersama pada perasaan mereka yang sesungguhnya masih belum berubah, juga tatapan putus asa yang sama saat kejadian di UKS tempo hari.
Tisya mendesah. Ia ingin berlari pada Arbis, melanjutkan kisah mereka yang sempat tertunda. Namun, keadaan membuatnya terikat bersama Rangga, yang hanya menjadikannya ajang balas dendam semata, demi Arbis merasa semakin tersiksa.
Tisya benci setiap kali memikirkan dirinya tidak berdaya.
"Gue mau ke kantin!" Arbis bangkit dari tempat duduknya, merasa jenuh berada di dalam kelas, terlebih saat tertangkap basah memperhatikan Tisya.
Matanya tidak pernah mampu berbohong, betapa ia ingin terus melihat ke arah cewek itu. Namun, kenyataan terus menyeretnya, untuk menghadapi takdir b******k yang menciptakan jurang pemisah tak kasat mata di antara mereka berdua.
Arbis mengerang frustrasi. Sebenarnya apa yang dilakukan Rangga pada Tisya? Hingga Tisya tidak mampu berlari ke arahnya?
Masih tidak cukup kah, Arbis undur diri dari dunia persaingan s****n, dan memilih untuk menjadi g****k karena bisa hidup dengan tenang, tanpa bayang bayang perlombaan yang menciptakan kedengkian Rangga?
"Ikut, Bis!" Kiran menyusul berdiri, sambil berjalan mengikuti Arbis.
"Gue mau tidur aja," kata Sayna yang sudah merapatkan kursi sebelahnya yang tadi diisi Kiran, dan sekarang sudah kosong.
"Gue juga!" Ilham melakukan hak yang sama, menaruh tas untuk menjadikannya alas kepala pengganti bantal.
***
Suasana kantin SMA Andhara di jam pelajaran, terbilang cukup ramai, mengingat sedang di adakannya jam olahraga di salah satu kelas. Pasca berolahraga, biasanya para siswa dibebaskan untuk pergi ke kantin, untuk membeli minum dan makanan ringan.
Arbis dan Kiran sedang menikmati es kelapa yang dipesannya dari salah satu stan yang ada di kantin. Di luar, cuaca sedang panas panasnya. Kiran sampai kasihan pada kelas yang kebagian jam olahraga di sekitar tengah hari seperti ini, bukannya sehat, malah kulit gosong.
"Bis," panggil sebuah suara yang kini sudah berdiri di samping meja kantin tempat Arbis dan Kiran duduk.
Keduanya menoleh, melihat sosok Karin berdiri di sana, sambil menggunakan seragam olah raga.
"Eh, Sayang? Kenapa?"
Karin memutar bola matanya, sambil bergidik ngeri mendengar panggilan Arbis barusan. Berengsek! Arbis memang sengaja membuatnya ingin muntah.
"Mau gak, Rin?" Kiran menawarkan es kelapa mudanya pada Karin.
Karin menggeleng. "Gue mau ngomong." Karin kembali fokus pada Arbis.
"Yaudah, sini duduk." Arbis menggeser tubuhnya, dan menepuk tempat kosong di sebelahnya, seraya mempersilahkan Karin duduk.
"Gak di sini," tolaknya.
Arbis mulai serius menatap Karin. Firasatnya mengatakan ada yang tidak beres. Hal yang ingin dibahas Karin, Arbis seolah dapat menebak.
Berengsek! Pasti cerdas cermat s****n itu!
"Kalo masalah itu, gue gak mau bahas. Gue menolak keras, lo cari yang laen aja." Air muka Arbis mendadak berubah, suara jadi terdengar lebih dingin.
Kiran yang berada di sana, tidak mengerti perihal arah obrolan keduanya, tampak kebingungan.
"Let's discuss first." Karin masih berusaha mencoba.
Arbis meneguk air liurnya yang terasa keras di tenggorokan. Hingga kemudian cowok itu berdiri, karena enggan membahas masalah ini di depan Kiran.
Tanpa menyahut lagi, Arbis meraih pergelangan tangan Karin, lalu menggandeng cewek itu untuk pergi dari kantin dan membahas apa pun itu yang sesungguhnya Arbis benci.
Kiran yang menyaksikan hal itu, tampak takjub. Atmosfer beberapa menit lalu, terasa asing dan mencekam, seolah keduanya sedang menghadapi masalah serius.
Woah! Kiran pikir hubungan mereka hanya keanehan belaka, ternyata Arbis dan Karin memiliki sekelumit konflik seperti hubungan orang pada umumnya, yang tidak dimengerti Kiran.
***
Arbis membawa Karin ke lab multimedia yang sedang tidak dipakai, ia memilih cari aman dari pada harus membahas hal ini di koridor sekolah.
Keduanya duduk di kursi yang berada di belakang meja berisi komputer.
Karin dapat melihat wajah Arbis yang saat ini mulai mengeras, tidak lagi santai seperti biasanya.
Arbis mengembuskan napasnya beberapa saat. "Gue pikir, masalah ini udah kelar. Lo gak bakal bahas lagi dan maksa maksa gue buat ikutan acara g****k itu."
Karin terdiam beberapa saat, lalu menjawab, "Kemarin, situasinya terlalu kacau buat gue bahas masalah ini lagi. Bis, please… lo tahu kan konsekuensinya, nasib gue taruhannya." Karin berusaha memohon pada Arbis.
Arbis berdecak. Ia tidak menyangka, menunjukan sisi lainnya di hadapan Karin, justru menjadi bumerang untuk Karin dapat memperalatnya. "Gue gak mau."
Benar. Arbis hanya tidak mau. Bukan tidak bisa. Hanya perkara mengikuti cerdas cermat, jelas bukan perkara sulit. Arbis sering mengikutinya dulu. Bahkan, meski beberapa tahun ini Arbis sudah tidak menggeluti hal itu lagi, ia tetap masih menguasai banyak hal terkait pelajaran.
Ia bisa. Tentu saja. Tapi ia tidak mau. Ia tidak mau membuat masalah baru dan mengejutkan semua orang. Ia hanya ingin hidup dengan tenang.
"Cerdas cermat ini tertutup. Gak ada siswa sekolah ini yang nonton. Klover atau siapa pun itu, gak bakal tahu lo ikut ini." Karin kembali bersuara, menjelaskan teknis dari lomba cerdas cermat ini.
"Terus apa kata guru guru, Rin? Mereka pasti tau, kan? Mereka bakal mikir apa, pas liat gue tiba tiba ikutan cerdas cermat dan jawab pertanyaan yang biasanya gue isi asal asalan. Mereka pasti bakal mikir gue mempermainkan mata pelajaran."
"Lo bisa alesan, lo cuma males, makanya nilai nilai lo selama ini jelek. Kalo belajar dab serius sedikit, lo bisa ngerjain soal soal itu."
Arbis menatap Karin lekat lekat. Cewek itu pantang menyerah.
"Kalo gue ikut, untungnya buat gue, apa?" tantang Arbis, yang akhirnya mulai mengikuti keinginan Karin.
"Gue bakal ngabulin apa pun permintaan lo." Karin menyahut dengan yakin. Dengan mata yang tidak berkedip sama sekali. Ia sudah memperhitungkan segala hal, permintaan Arbis tidak akan aneh dan sulit, ia yakin itu.
Arbis berpikir sebentar, menimbang penawaran Karin. Setelah beberapa saat, ia akhirnya berkata, "Oke," ucapnya dengan suara rendah.
"Apa permintaan lo?" tanya Karin tanpa basa basi, dan tidak mau sibuk menerka nerka.
"Kita pacaran beneran, gak pura pura."
Mata Karin melotot, menatap Arbis tidak percaya.
Apa katanya? Pacaran beneran? Yang mengatakan hal seperti itu adalah Arbis, yang membuatnya terjebak dalam hubungan pura pura ini demi melindungi dirinya atas masa lalu yang tiba tiba kembali. Arbis yang dengan jelas masih cinta mati pada mantannya, dan tidak ada niatan untuk mengakhiri perasaannya.
Arbis yang jika disodorkan Tisya dalam kondisi menderita, akan berlari kencang demi menolong cewek itu, tak peduli ada ribuan bahaya menghadang. Arbis yang perasaannya masih sepenuhnya untuk Tisya, dan hanya menjadikan Karin sebagai alat untuk menutupi hal itu.
Dan barusan, Arbis mengatakan ingin pacaran betulan? Permainan apa lagi yang berusaha dimainkan Arbis?
"Beneran? Gue harus beneran suka sama lo, dan sebaliknya? Gak salah? Emang lo bisa?" Karin mencecar Arbis dengan pertanyaan retorisnya.
"Bantu gue naksir beneran sama lo."
Mata Karin melotot. Ia tak percaya mendengar ucapan itu terlepas dari mulut Arbis.
"Lo… gila ya?" sentak Karin yang masih dipenuhi rasa terkejut.
Arbis mengembuskan napasnya lagi. "Bantu gue berhenti peduli sama Tisya."
Karin seketika terdiam. Tenyata, alasannya tak pernah lepas dari sosok mantan Arbis.
"Kalo ternyata nanti malah gue yang baper?" Tanya Karin terang terangan.
Arbis menatap cewek itu yang menatap matanya dengan berani. "Bagus. Pacaran beneran, kan. Berarti perasaan kita juga beneran."
"Kalo suatu hari Tisya balik lagi sama lo. Lo bakal ninggalin gue?" Karin masih mencecar Arbis dengan pertanyaan lainnya.
"Tergantung…."
Karin benci dengan kata tergantung, yang bersifat tidak pasti dan malah menggantungkan jawaban pada keadaan yang belum jelas. Tergantung, jalanin aja, kata kata itu selalu sarat akan ketidakpastian.
Namun, demi cerdas cermatnya, Karin mengangguk setuju. "Deal. Pacaran beneran. Perlu ciuman beneran juga?" tanya Karin datar.
"Yah, kalo diperluin sih." Tangan Arbis bergerak untuk merapihkan rambut Karin, menyelipkannya rambut itu ke belakang telinga. "Hal hal kayak gini. Ayok mulai terbiasa."
Karin dapat merasakan jantungnya berdetak dua kali lipat lebih cepat dari biasanya. Meski wajahnya masih terlihat datar, tapi sesuatu dalam dirinya seolah meledak.
Perjanjian konyol macam apa yang sedang dimainkannya. Pilihan satu satunya adalah menjatuhkan diri pada Arbis, sosok yang tidak pernah disukainya.
Tisya ya. Cewek seperti itu yang dicintai Arbis mati matian. Cewek itu jelas berbeda jauh dengannya. Apa yang Arbis coba temukan dalam dirinya?
***