- 56 -

1345 Kata
Pulang sekolah kali ini mereka --Arbis Tisya--berjalan kaki.Sepeda Arbis yang beberapa hari lalu rantainya putus masih belum di perbaiki. Tentang ketelatan mereka kemarin, benar saja kata Tisya, hanya perlu menjelaskan sedikit, mereka berdua sudah di perbolehkan masuk ke sekolah dengan selamat tanpa ada hukuman apapun. Arbis memang banyak di senangi guru karena kepintarannya, Arbis juga tak pernah membuat masalah, jadi jika suatu hari Arbis terlibat masalah, pasti guru guru langsung mengambil kesimpulan, itu bukan sepenuhnya kesalahan Arbis, atau pasti ada salah paham.   Sambil berjalan kaki, mereka melewati kedai es bubble. Tista menoleh girang sambil menarik narik ujung lengan seragam Arbis. Arbis menoleh,lalu dengan komunikasi non verbal, mata Tisya mengarah pada kedai es bubble itu.Seolah menagih janji Arbis yang kemarin.   "Apa?" Tanya Arbis masih tidak mengerti.   "Gak usah belaga lupa. Kemarin kan aku bilang kalo kita masuk selamat tanpa di jegat Bu Riska, kamu traktir aku es bubble."   "Emang sekarang?"   "Kapan lagi? Mumpung kita lewat. Ayok." Tisya mengapit tangan Arbis dengan ceria, membawa Arbis ke kedai es bubble tersebut. Tisya segera memesan es yang di inginkannya, Arbis hanya mengikutinya saja.   Sambil menunggu, mereka berdua duduk di bangku yang disediakan disana. Mereka bersendu gurau sambil tertawa. Lebih sering Tisya yang tertawa, Arbis hanya mengulum senyum melihat Tisya yang begitu ceria.   "Eh iya, Bis. Tadi kamu liat Leslie nembak Valeria gak? Aih sumpah, Les itu emang sweet banget deh." Tisya mulai bercerita tentang kejadian di sekolahnya.   Arbis menggeleng pelan, mana pernah Arbis memperhatikan sekelilingnya. Selama ini ia tak pernah peduli akan apapun, kecuali saat ini,Arbis sangat peduli terhadap gadisnya, tentu saja Tisya.   "Bis, kalo status kita itu apa?"   Arbis terhenyak saat Tisya bertanya seperti itu, Arbismenoleh kaku, lalu memandang Tisya sejenak. Selama ini mereka memang hanya jalan bersama saja, tanpa adanya status yang jelas, padahal jika dari cara  mereka berbicara, siapapun akan menebak jika mereka berpacaran. Tapi pasalnya, Arbis tidak pernah menyayakan perasaannya pada Tisya.   "Setelah apa yang kita lakuin sama sama kayak gini,kamu mikirnya kita itu apa?" Arbis malah balik melontarkan pertanyaan,yang di sambut dengan kerutan di dahi Tisya.   "Yang aku pikirin. Kita gak jelas. Gak ada statusapapun. Tapi, cuma aku cewek yang deket sama kamu, dan cuma aku cowok yang deket sana aku."   "Yaudah. Kamu gak cukup bodoh kan buat narik kesimpulan." Arbis masih saja mutar mutar, Arbis memang enggan untuk menyatakan perasaannya, mungkin Arbis memang tidak tau bagaimana caranya mengungkapkan perasaan pada seorang gadis.   "Aku kan butuh kejelasan. Nanti kalo ada cowok yang naksir aku, terus aku bilang aku belom punya pacar, karena kamu emang gak pernah nembak aku juga. Terus dia nyolong start duluan gimana? Atau gimana kalo orang tua aku ngejodohin aku sama orang lain, nanti mendadak aku di lamar gitu, nah itu lebih gimana?"   Arbis terkekeh pelan mendengar penuturan Tisya yang berlebihan. "Gak usah hiperbolis. Kita aja masih kelas dua smp."   "Yaa aku kan bicara kemungkinan." Tisya memajukan bibirnua seraya cemberut.   Arbis bergerak menarik tangan Tisya ke dalam genggamannya,matanya menatap manik mata Tisya. Tisya menjadi tekejut dengan perlakuan Arbis."Aku suka kamu. Aku sayang kamu. Kamu pacar aku sekarang." Ucap Arbis lembut, entah menggunakan cara pernyataan cinta dari mana, begitu datar.   "Kamu emang sama sekali gak romantis yaa."Komentar Tisya sambil terkekeh pelan.   "Emang kamu suka cowok yang romantis?"   "Aku lebih suka yang dingin dan cuek kayak kamu. Tapi sekarang, aku udah berhasil bikin kamu gak dingin sama aku kan?"   Kini gantian Arbis yang terkekeh pelan. Arbis juga tak tau bagaimana bisa ia menarik kesimpulan bahwa yang di rasakannya adalah cinta. Yang Arbis tau, seringkali perasaan nyaman menyeruak keluar saat berada didekat Tisya. Bersama Tisya, Arbis merasa hidupnya tidar sedatar sebelumnya,Tisya yang ceria, membuat harinya tidak terlalu suram. Dan hanya Tisya, yang paling mengerti bagaimana Arbis.   ***   Arbis tidak tau lagi bagaimana cara menyatakan betapa hidupnya sangat sempurna saat ini. Arbis bahagia dapat mengenal Tisya, Arbis bahagia memiliki kekasih seperti Tisya, hampir setiap saat mereka bertemu, jikadulu Arbis menganggap harinya adalah apes karena bertemu Tisya. Kini Arbis akanmengatakan, Tisya adalah anugerah di hidupnya.   “Sebelumnya tak adayang mampu... Mengajarku untuk bertahan di kala sedih... Sebelumnya ku ikat hatiku...Hanya untuk aku seorang...Sekarang kau disini... hilang rasanya...Semua bimbang tangis kesepian...   “Kau buat aku bertanya...Kau buat aku mencari...Tentang rasa ini aku tak mengerti...Akankah sama jadinya bila bukan kamu...Lalu senyummu menyadarkanku...Kau cinta pertamadan terakhirku...Huuu... u u uuuh...   “Sebelumnya tak mudahbagiku...Tertawa sendiri di kehidupan yang kelam ini... Sebelumnya rasanya takperlu... ( tak perlu... ) Membagi kisahku... tak ada yang mengerti...Sekarangkau disini... hilang rasanya...Semua bimbang tangis kesepian...   “Bila suatu saat kauharus pergi...Jangan paksa aku tuk cari yang lebih baik...Karena senyummu menyadarkanku...Kaulah cinta pertama dan terakhirku...”   Suara Arbis yang serak baru saja selesai menyanyika lantunan lagu indah dari Sherina Munaf. Dengan permainan gitarnya yang begitu memukau, di taman ini, malam ini, hanya Arbis yang berada disini. Ia tersenyum puassetelah menyanyikan lagu itu, lagu yang mungkin sangat cocok untukkehidupannya. Sayangnya, Arbis tak mau menjadi sok romantic dengan menyanyikanlagu itu di depan Tisya.   Namun ternyata, Tisya sudah mndengar semuanya. Sedari tadi Tisya sudah berada di sana tanpa Arbis sadari. Tisya tersenyum, sambil ikutduduk di dekat Arbis, membuat Arbis terkejut akan kehadiran gadisnya itu.   “Kamu, sejak kapan ada disitiu?” Arbis sedikit terkejut, diletakannya gitar yang tadi di gunakan di sampingnya.   “Sejak kamu nyanyi, makasih lagunya.”   “Lagu.. apa?” Arbis sedikit salting, dengan menggaruk kepalanya yang tak gatal, Arbis berusaha mengalihkan pandangannya.   “Lagu tadi, buat aku kan?”   “Pede banget.”   Tisya tersenyum mendengar Arbis yang tak mau mengakuinya. Sudahlah, tak ada gunanya Arbis mengakui juga, toh memang lagu itu untuknya.Kalo bukan untuk Tisya untuk siapa lagu? Memang siapa lagi cewek yang dekat dengan Arbis selain Tisya?   “Ngapain disini?” Tanya Tisya kemudian, karena aneh untuk Tisya melihat Arbis malam malam berkeliaran di komplek yang sepi ini.   “males di rumah, Papa bawa seseorang.”   Tisya memandang Arbis dengan tajam, berusaha mengerti artiu capan seseorang itu. “Calon Mama baru?”   Arbis mengangguk malas saat Tisya menebaknya dengan tepat.   “Gapapa, aku yakin dia bakal tetep sayang sama kamu.” Tisya tersenyum, berusaha menenangkan Arbis, tadi Tisya sempat melihat Papa Arbis yang datang dengan  membawa seorang wanita, yang sepertinya tidak buruk, wanita itu terlihat dewasa dan pengertian. “Lagipula, kan masih ada Oma Rani yang sayang sama kamu.”   Arbis tersenyum mendengarnya, Tisya memang selalu bisa menenangkan hatinya, setidaknya, kali ini Arbis benar benar menemukan tempat berbagi. “Dan kamu,,” Arbis menambahi, membuat Tisya tercengang. Mendapat tatapan tajam dari Arbis, jantung Tisya nyaris terlepas. Ada sesuatu yang ingin Tisya sampaikan pada Arbis malam mini. Tapi, melihat Arbis seperti ini, Tisya menjadi ragu mengatakannya.   Tisya tak menjawab, ia hanya tersenyum sambil mengangguk. Namun tatapan itu beda dari biasanya, sungguh, Tisya tak mampu untuk mengatakannya.   ***   “Bis, Arbis..” Tisya memukul pipi Arbis pelan, berusaha membangunkan Arbis dari tidurnya. Meski hari masih pagi, namun Tisya terpaksa membangunkan Arbis.   “Ngh,” Arbis mengerjapkan matanya, dan betapa terkejutnya melihat Tisya yang sudah begitu rapi kini berada di kamarnya. Arbis langsung bangkit dan terduduk di ranjangnya. “Ada apa? Kita mau kemana, kamu rapi bener?”   Tisya diam sesaat, lalu tersenyum, kali ini tak bisa ditunda lagi. Ia harus mengatakannya. “Bukan kita yang mau kemana, tapi aku..”Tisya menahan ucapannya, benar benar tak ingin mengatakannya.   “Iya, kamu?” Arbis bertanya lembut, meski baru bangun dan nyawanya belum sepenuhnya terkumpul.   “aku harus pergi, maaf ninggalin kamu, tapi aku..”   Arbis tak mau mendengarnya, Arbis sudah tau lanjutannya tanpa perlu di jelaskan. Arbis benci seperti ini, disaat ia sudah mulai mencintai seseorang, mengapa dia harus pergi.   “Pergi aja sana.” Ucapan Arbis kali ini terdengar dingin, wajahnya berubah jutek, sungguh, Arbis benci perpisahan.   “Tapi, Bis..”   “Aku bilang pergi aja sana!” Suara Arbis kali ini terdengar membentak.   “Aku janji akan kembali.”   Arbis dapat mendengarnya, namun Arbis tak mempedulikannya.Saat nyawanya belum sepenuhnya berkumpul, namun kenyataan pahit sudah harus diterimanya. Arbis berharap ini hanya candaan, namun ternyata Tisya benar benar pergi, Tisya keluar dari kamar Arbis. Lalu setelah sampai bawah, Arbis dapat melihat Tisya pergi dengan keluarganya, terbukti saat Arbis melihat mobil kelurga Tisya berlalu dari sana.   Kejadian itu berlalu begitu cepat, bagaikan mimpi, tanpa mengucapkan apa apa lagi, Tisya benar benar pergi. Dan Arbis benar benar taktau bagaimana caranya kembali menghadapi hidup ini. Tanpa Tisya. Seperti awal lagi. Hidup Arbis mungkin akan kembali datar lagi. Yang tersisa hanya kenangan yang sudah tertinggal disini. Dan sejak saat itu, Arbis benar benar mengikat hatinya untuk siapa pun. Meski ucapan Tisya yang berkata akan kembali terdengar tidak begitu jelas, tapi entah mengapa, ucapan itulah yang di acukan Arbis sebagai harapannya. Semoga dia benar benar kembali, Arbis berjanji tetap akan menunggunya, sampai kapan pun Arbis berjanji akan tetap menjaga hatinya, hanya untuk dia. Hanya untuk Tisya.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN