- 55 -

2172 Kata
Semua orang berpakaian serba hitam memenuhi rumah keluargaArbis. Salah satu anggota keluarga mereka ada yang meninggal dunia. Suasanaberkabung menyelimuti rumah keluarga ini. Para keluarga dan kerabat berusahamenahan isak tangis karena merasa kehilangan.   Arbis terkujur kaku di tempatnya, dari lantai dua Arbisdapat melihat, jasad ibunya sedang di kerubungi para pelayat. Dari tadi Arbisbelum menghampiri Ibunya sama sekali. Arbis hanya diam. Mematung. Tanpaekspresi. Tanpa sepatah katapun terucap dari bibirnya.   Matanya menatap nanar ke bawah, perasaan tidak ikhlas, tidakrela, bercampur aduk di benaknya. Namun tak ada ekspresi dari Arbis. Entah apayang sebenarnya Arbis lakukan. Kehancuran Arbis hanya di ekspresikan dengansikap diamnya.   "Kamu gak mau nganter Mama kamu ke tempatperistirahatan terakhirnya?" Oma Rani berkata dengan lembut, saat dilihatnya cucunya ini tak berkutik sama sekali sejak tadi.   Arbis diam. Tak menjawab. Tatapamnya masih tetap lurus.Menatap sang ibu yang sudah tak bernyawa itu.   "Arbis yang sabar yaa, kan masih ada Oma sama Papa.Arbis jangan kayak gini." Ucap Oma Rani lagi, berusaha menenangkan Arbis. Namun Arbis sama sekali tak mempedulikan ucapan Omanya. Arbis ingin menangis,namun setetes air matapun tak keluar dari matanya. Hatinya sudah benar benar beku saat itu. Perasaannya seakan sudah mati, ikut pergi bersama ibunya.   Di lantai dasar Tisya celingukan, mencari sosok Arbis yang sama sekali tak terlihat dari kerumunan yang ada di bawah. Tisya benar benar khawatir akan kondisi Arbis, pasti dalam prakara ini Arbis yang paling terpukul.   Saat Tisya menenggak, Tisya menemukan Arbis sedang  berdiri bagai raga tak bernyawa. Tatapannya kosong, wajahnya pucat, berdiri mematung di tempatnya tampa bergerak atau berkedip sedikit pun. Tisya dapat melihat beberapa kali Oma Rani berbicara dengan Arbis, tapi Arbis sama sekali tak merespon. Tisya pun segera menaikianak tangga rumah ini. Di hampirinya Arbis yang berdiri bersama Oma Rani. Tisya mengerti sekali bagaimana perasaan Arbis. Arbis pasti shock, rapuh, tidak percaya, namun apa yang bisa di lakukannya selain ikhlas. Ibunya tidak bisakembali lagi.   "Oma.." Tisya menyentuh pundak Oma Rani, matanya menatap Arbis seolah bertanya pada Oma Rani.   "Arbis dari tadi cuma berdiri disitu. Gak bergerak sama sekali, Oma bener bener takut, Tisya." Oma Rani mengadu pada Tisya. Tisya mengangguk paham.   "Biar aku coba ngomong sama Arbis yaa, Oma." Ucap Tisya lembut. Oma Rani mengangguk, lalu kemudian pergi.   Tisya tak langsung bicara, ia mengamati dengan lekat betapa pucatnya wajah Arbis. Jika di gambarkan, Arbis tak lebih baik dari pada mayat hidup. Masih tetap tak bergerak, tak berkedip, namun masih bernafas. Sungguh bagai raga tak bernyawa, saat melihat wanita yang sangat di sayanginya, ibunya, sudah tidak bernyawa lagi.   "Bis.." tangan Tisya menggapai tangan Arbis yang memegangi besi pembatas. Terasa dingin dan kaku. Tisya nyaris menahan nafasnya  merasakan betapa dinginnya tangan Arbis. "Elo.. baik baik aja kan?"Tanya Tisya begitu lembut, meski Tisya tidak tau bagaimana rasanya di tinggal ibu, tapi Tisya tau, pasti itu sakit sekali.   Arbis menarik tangannya yang di gapai Tisya, tanpa menolehsedikitpun kearah Tisya, Arbis segera berjalan menuruni tangga. Tisya taklangsung mengikuti, ia melihat sejenak apakah Arbis akan pergi ke jasad ibunya,untuk mencium sang ibu untuk yang terakhir kalinya? Tapi ternyata dugaan Tisya salah, Arbis malah berjalan ke pintu keluar. Tisya pun segera melangkah untuk mengikuti Arbis.   Dari banyaknya kendaraan yang memenuhi halaman rumah keluarga ini, Arbis mengambil sebuah sepeda yang terletak di ujung garasi.Arbis memejamkan matanya sejenak, lalu menaiki sepeda itu. Tak peduli apa yangsedang terjadi disini, yang jelas Arbis ingin pergi, Arbis tak ingin melihat semua ini. Arbis benci peristiwa ini.   Arbis mengayuh sepedanya dengan kecepatan maksimal, dapat Arbis rasakan, di belakang sepedanya ada orang yang mengejarnya. Tanpa perlu menoleh Arbis sudah tau, pasti si cewek kepo itu. Siapa lagi kalo bukan Tisya. Cewek yang belakangan ini benar benar menghantui hidupnya. Dan selalu ingin tau tentang apa yang Arbis lakukan dan Arbis alami.   "Arbis tunggu!!" Tisya berteriak begitu kencang, terdengar jelas di telinga Arbis, namun Arbis sama sekali tak mengindahkan panggilan untuknya itu. Arbis terus mengayuh sepedanya semakin kencang.   Sampai di ujung komplek, Arbis menghentikan kayuhan sepedanya, Arbis melirik ke sampingnya, sebuah lapangan outdoor tempat Arbis bermain futsal.  Arbis membanting sepedanya asal, lalu berjalan ke lapangan tersebut. Di sudut lapangan, ada sebuah bola tereletak di sana. Suasana lapangan inipun sedang sepi. Tak ada siapapun. Kecuali Arbis bersama bola yang saat ini sudah di giringnya. Arbis menatap tajam pada gawang yang bertengger tak jauh darinya, dengan segala amarah yang ada di hatinya, Arbis menendang bola itu sekuat kuatnya. Seakan ingin membuang semua beban yang melekat pada dirinya.   "Arghh!" Teriak Arbis parau, matanya masih memerah, bola yang di tendangnya sukses menjebret gawang yang tidak ada penghalangnya.   Setelah itu Arbis menjatuhkan tubuhnya pada lapangan itu, ia berbaring dengan kepala menengadah keatas, menatap langit yang sudah terik oleh sinar matahari. Mata Arbis sudah pasti silau, namun Arbis tak peduli. Matanya terus menatap ke atas, seolah ingin menantang teriknya matahari. Sebut sajaArbis sudah gila. Apa pun yang di lakukannya, Arbis seakan ingin menyakiti dirinya sendiri.   "Kalo Mama udah ada disana, aku cuma mau bilang, Mamajahat! Udah berani beraninya ninggalin aku." Desis Arbis, tanpa berkedipsedikitpun menatap langit yang begitu terik.   Arbis kembali bangkit, rebahan seperti itu sama sekali tak mengurangi amarahnya. Arbis berjalan kembali menghampiri bola. Lalu menendang sekuat kuatnya. Bola itu menyentuh tiang, dan kembali pada Arbis, Arbis kembali menendangnya dengan seluruh tenaga yang di milikinya, seakan ingin mengeluarkan semua bebannya bersamaan dengan melayangnya bola tersebut menuju gawang. Mata Arbis menoleh ke bawah, ada sebuah kaleng bekas minuman di dekat kakinya, Arbis segera menendangnya ke segala arah. Merasa belum puas dengan apa yang ditendangnya, Arbis menghampiri pinggir lapangan, di tendangnya tempat sampah yang bertengger disana sampai tebalik, sampah yang ada di dalamnya berserakan keluar semua. Arbis benar benar kalap. Jika selama ini dia jarang berekspresi, tapi kehilangan sesuatu yang sangat berharga di hidupnya, benar benar menarik seluruh emosi yang ada pada dirinya untuk keluar.   Arbis harus marah pada siapa? Takdir? Atau pada yang membuat takdir? Arbis tak tau, Arbis tak peduli. Yang ia lakukan hanya menyakiti dirinya sendiri tanpa kesadaran yang sepenuhnya normal. Sampai kini, Arbis malah meninju pohon besar yang ada di sana, berulang kali Arbis lakukan, takpeduli tangannya sudah berdarah, Arbis tetap melakukannya. Dan yang terakhir Arbis lakukan, kini Arbis membenturkan kepala belakangnya pada pohon itu, lalu tubuhnya merosot kebawah. Kini matanya terpejam, merasakan kesakitan yang dibuatnya sendiri.   "Ya Tuhan, Arbis!" Tisya menutup mulutnya melihat keadaan Arbis yang bersimbah darah, matanya masih terpejam, lalu kemudian mengerjap saat menyadari kedatangan Tisya.   Sayup sayup mata Arbis mulai terbuka, Arbis dapat melihat betapa Tisya shock sambil berdiri di hadapannya. Tisya kini ikut terduduk menyamai Arbis. Tangannya ingin menggapai kepala bagian belakang Arbis yang berdarah.   "Mau apa lo? Ngapain ngikutin gue?" Arbis menangkap tangan Tisya, lalu memelintirnya dengan gerakan cepat, seolah peringatan agar Tisya jangan pernah sekali sekali menyentuhnya lagi.   "Ahh," Tisya mendesah pelan, sambil memegangi tangan kanannya yang di pelintir Arbis. "Dalam situasi kayak gini, kalo gue gak ngikutin lo, lo bisa aja bunuh diri tanpa di ketahui siapa pun."   "Jadi, lo ada disini buat jadi saksi bunuh diri yang akan gue lakuin sebentar lagi."   "Arbis!" Tisya menyentak dengan suaranya yang terdengar lebih keras. Tisya benar benar tak habis pikir dengan jalan pikiran Arbis, Tisya tau Arbis kehilangan. Tapi tak harus menyiksa dirinya seperti ini. "Gue ngerti perasaan lo, tapi lo gak harus kayak gini!"   "Apa yang lo ngerti? Lo gak ngerti apapun!"   "Apa lo pikir dengan cara lo nyakitin diri lo sendiri gini, nyokap lo bisa balik lagi hah? Enggak!" Tisya tak kalah berteriak dari Arbis. Kini rahang Arbis benar benar mengeras melihat kegigihan cewek di hadapannya ini yang seakan, mendesaknya untuk bicara. Meski tidak secara langsung, tapi Arbis benar benar sesak menanggungnya sendirian.   "Seenggaknya gue bisa nebus dosa yang udah guelakuin." Suara Arbis terdengar melemah, namun Tisya justru menegakan punggungnya menatap Arbis tidak mengerti. "Apa lo pikir kalo nyokap gueitu mati wajar gue bakal sampe segininya? Bahkan gue takut buat mendekat sama jasad nyokap gue. Karena lo tau kenapa? Karena gue yang ngebunuh dia! Dan gue gak berani bilang itu sama siapapun. Karena gue takut mereka semua nyalahin gue. Seolah olah gue gak ngerasa kehilangan juga, seolah olah setelah gue ngelakuin hal bodoh itu gue puas. Padahal, gue yang paling hancur!" Arbis berteriak dengan suaranya yang keras, runtuh sudah pertahanannya. Ia taksanggup memikul beban sendirian. Alasan mengapa ia sampai bahkan tak mau mendekat pada jasad Ibunya. Bahkan Arbis tak mau mengantar ke pemakaman ibunya. Arbis lebih memilih menyiksa dirinya sendiri.   Tisya semakin menutup mulutnya saat Arbis bicara dengan intonasi yang cukup keras namun menyayat hati. "Lo gak salah apa apa, Arbis! Gak mungkin lo tega ngebunuh nyokap lo sendiri. Ini takdir."   "Udah gue bilang lo gak tau apa apa!" Arbis menatap galak pada Tisya, Arbis benci di perlakukan seperti itu. Sudah jelas jelas Arbis yang menyebabkan kematian ibunya, masih ada saja orang yang berusaha simpati dan menenangkannya.   "Oke, kalo lo ngerasa elo yang penyebab nyokap lo meninggal, emang apa yang udah lo lakuin hah?"   Arbis kembali terdiam, semuanya kembali terekam jelas di kepalanya. Membuat kepalanya berdenyut hebat. Pertahanan Arbis benar benar roboh, kini Arbis sudah terisak tanpa bicara sepatah kata pun. Kejadian itu benar benar membuatnya ingin mati detik itu juga. Hal spele yang di lakukannya, ternyata berhasil merenggut nyawa ibunya. Isakan Arbis, benar benar membuat siapapun yang mendengarnya menjadi terenyuh, begitu sakit saat suara isakan itu semakin menjadi. Arbis sungguh tak bisa menahan tangisnya pecah saat ini, bahkan sangat sulit untuk menghentikannya.   "Bis.." tanpa sadar Tisya ikut menangis menyaksikan Arbis yang begitu terisak. Perlahan, Tisya mencoba untuk merengkuhArbis, membawanya kedalam pelukannya, setidaknya, saat ini Arbis betul betul membutuhkan seseorang untuk menjadi sandaran.   Arbis tak menolak saat Tisya menariknya ke dalam pelukannya,Tisya yang saat itu berusaha terduduk tegak, dan Arbis yang mulai membungkuk karena beban yang terlalu berat di punggungnya. Kepala Arbis kini terbenam di d**a Tisya. Arbis menangis sejadi jadinya di pelukan Tisya, bahkan ia seakan tak ingin mengangkat kepalanya dari sana, ia tak berani untuk kembali menatap luasnya langit.   Tisya tak mengeluarkan suara, ia membiarkan Arbis terlarut dengan tangisnya, biarkan Arbis menumpahkannya saat ini, Tisya akan menunggunya sampai Arbis mau bicara padanya.   Barulah beberapa saat kemudian, Arbis mulai tenang. Tangisnya perlahan reda, meski kepalanya terasa begitu berat, ia berusaha mengangkat kepalanya dari pelukan Tisya. Kepala Arbis kini bersandar pada pohon yang ada disana. Kepalanya mendongak, menatap langit, yang tidak ada mendungmendungnya. Sangat mengejek. Saat suasana hatinya berkabung, alam ini seolah tidak peduli, cuaca hari ini tetap cerah tanpa mempedulikan disana ada Arbis yang bergelut dengan kesesdihannya.   "Gara gara gue, Sya." Arbis mulai kembali bersuara, begitu lirih, sungguh tidak seperti suara Arbis biasanya. "Garagara gue numpahin minyak di tangga, Mama jadi kepeleset disana. Dan.. ah."Arbis tak meneruskan ceritanya, ia benar benar tak sanggup mengingat semua itulagi. Seandainya minyak yang di bawanya tidak tumpah, pasti tidak akan seperti itu kejadiannya. Yaa, setelah semuanya terjadi, hanya kata seandainya yang selalu di harapkan seseorang.   "Enggak apa apa. Itu udah takdir, Bis. Lo bukan pembunuh. Nyokap lo udah tenang disana." Tisya berusaha menenangkan, baru pertama kali ia menemukan Arbis serapuh ini. "Dan sekalipun nanti semua orang nyangka elo pembunuh, gue enggak kok. Gue percaya semua itu kecelakaan. Jangan nyalahin diri lo lagi yaa?" Ucapan Tisya semakin melembut, Arbis sampai tertegun mendengarnya, tak pernah ia sangka, ternyata di saat seperti ini,Tisya-lah orang yang ada bersamanya.   "Kenapa? Kenapa lo peduli sama gue?"   "Karena gue sayang sama lo." Tisya dengan terusterang berkata, dengan senyuman yang mengulum indah di bibirnya. "Kita ini makhluk sosial, Bis. Gak bisa hidup sendirian. Lo butuh temen."   "Gak ada yang mau bertemen sama gue. Mereka bilang, mereka terlalu minder buat temenan sama gue."   "Siapa bilang? Ada kok. Gue sama sekali gak minder temenan sama si pemilik otak jenius kayak lo. Malah gue bangga."   Arbis melirik kearah Tisya yang dengan semangat berkatademikian. Masalah sebelumnya seakan terlupakan oleh obrolan mereka yang mulai merambah ke segala arah. Dan entah mengapa, untuk ke sekian kalinya, saat Arbis bersama gadis ini, Arbis merasa nyaman.   ***   Pukul tujuh kurang lima menit, saat Tisya dan Arbis sedang perjalanan menuju sekolah, mendadak sepeda yang di gunakan Arbis untuk membonceng Tisya rantainya terlepas. Sontak keduanya melongo karena sepeda yang di kayuh tak kunjung berjalan. Ternyata penyebabnya adalah rantainya.   "Tinggal lima menit lagi. Apa keburu kalo benerin sepeda dulu?" Desak Tisya sambil melirik jam tangan digitalnya.   Arbis mendengus kesal dengan kepanikan Tisya. "Kalokamu takut telat, pergi aja sana duluan. Aku gak akan ninggalin sepeda aku di sini."   Tisya diam sesaat. Senyumnya perlahan mengembang. "Aku juga gak akan ninggalin kamu sama sepeda kamu disini kok. Maaf yaa, aku emang panikan."   Entah sejak kapan, hubungan mereka menjadi sangat dekat, bahkan gaya bicara yang mereka pakai sudah Aku-Kamu. Tidak ada hubungan spesial apa pun selain berteman, tapi kedekatan mereka rupanya telah mengubah sikap kasar Arbis karena keceriaan Tisya.   Tangan Arbis yang kini sudah penuh dengan oli sepeda,rupanya tak menolong kerusakan sepedanya. Jika tadi rantainya hanya terlepas, kini sukses putus. Mau tidak mau Arbis harus mendorongnya sampai ke sekolah.   "Kita bakal telat." Ucap Arbis muram, sambil tangannya terus menggandeng sepeda di sampingnya.   "Tentu aja. Mukzizat banget kalo kita sampe gak telat. Sekarang aja udah jam tujuh lewat sepuluh." Tisya melirik jam tangannyalagi, memberi penjelasan pada Arbis bahwa sekarang sih sudah lebih dari telat. "Yang piket bu Riska." Tisya bersuara lagi, kepalanya menoleh pada Arbis yang menatap jalanan sepi menuju sekolahnya.   "Apa?" Arbis mengerti arti tatapan Tisya, yang seolah mengatakan 'Tenang aja, kita aman'.   "Kamu kan akan kesayangannya. Mana mungkin gak boleh masuk. Paling kamu cuma perlu kasih alesan yang sesungguhnya sama dia. Habis perkara. Bu Riska pasti bakal ngerti."   "Kamu pikir semudah itu."   "Taruhan sama aku, kalo sama aku bener, kamu traktir es bubble ya?"   "Oke, siapa takut?"   ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN