- 54 -

1876 Kata
Tisya makin kagum sama sosok Arbis, bahkan rasa kagumnyamerambat menjadi rasa cinta pada Arbis. Arbis memang lelaki idaman, multitalent, calon suami yang baik, Tisyaemang terlalu lebay mikirnya sampe kesono. Tapi demi apapun kali ini Tisyacinta mati sama Arbis. Tisya juga tidak menutupi perasaannya pada Arbis. Iablak blakan menunjukan dengan sikapnya. Istilahnya mah kode kodean.   "Nih, lo pasti aus kan?" Tisya dengan sigapnyamenyodorkan sebotol minuman dingin pada Arbis yang baru selesai bermain bola.   Saat istirahat Arbis memang sering bermain futsal dilapangan indor yang ada di sekolahnya, dan Tisya tak pernah absen menontonArbis yang bermain bola ini. Tisya bener bener meleleh seketika melihat Arbisdengan keringat yang bercucuran lalu mengenbangkan senyumnya ketika berhasilmencetak gol. Tisya sangat menyukainya, apapun yang Arbis lakukan.   "Thanks, lo ngapain sih?" Arbis menerima sodoranminuman itu, namun tetap saja Arbis jutek pada Tisya.   "Liatin lo main." Tisya tersenyum lebar menatapArbis, yang di tatapnya malah mengalihkan perhatian.   "Kurang kerjaan." Sahut Arbis dingin, lalu pergimeninggalkan lapangan futsal itu, tidak peduli dengan sikap Tisya yang sudahpeduli dengannya. Arbis kan tidak minta.   Tisya berlari kecil mengejar Arbis, ia berusahamensejajarkan jalannya dengan Arbis. Namun langkah Arbis begitu cepat, membuatTisya sulit untuk menyamainya, alhasil Tisya seperti orang berlari lari kecilyang bersanding di sebelah Arbis.   Arbis menghentikan langkahnya, menatap Tisya dengan kesal.Semenjak kehadiran Tisya, hidup Arbis seakan di bayang bayangi oleh Tisya.Kemanapun ia pergi, kemanapun ia jalan, selalu di ikuti. kecuali ke toilet,tentu saja.   "Elo itu, bisa gak sih, sehari aja gak ngikutin gue.Gak nguntit gue. Pusing tau gak gue liat lo." Ketus Arbis sambil menatapTisya dengan dingin.   Tisya menggeleng dengan semangat sambil tersenyum, meskiberkali kali di omeli Arbis, tapi Tisya tetap saja mengikuti Arbis kemanapun."Enggak bisa. Nah elo sendiri bisa gak sih sehari aja bersikap manis dikitsama gue. Jangan jutekin gue mulu." Tisya membalikan omongan Arbis. Pasalnya,Arbis memang tak pernah memperlakukan Tisya itu ada. "Oh iya, nanti pulanggue ikut sepeda lo yaa. Rumah kita kan sebelahan."   Kedatangan Tisya memang seakan menjadi kiamat untuk hidupArbis, Arbis benar benar ketiban apes karena ketemu Tisya. Bukan hanya sekelasdan duduk sebangku, tapi ternyata Tisya juga tinggal di sebelah rumahnya.Setiap hari, bahkan setiap saat, Tisya selalu menggentayangi Arbis. MembuatArbis sampai frustasi ketika melihat Tisya.   "Gak! Lo bilang rumah lo deket, kepeleset langsungnyampe. Kenapa lo gak kepeleset aja sana."   Tisya tercengang, s**l, bisa saja Arbis membalikannya. Tisyabahkan lupa ia pernah berkata seperti itu.   ***   Strategi Tisya emang gak ada abisnya, faktor rumah merekayang sebelahan, membuat Tisya setiap hari main ke rumah Arbis. Bukan main cumacuma, kalo gitu pasti bakal langsung di usir oleh Arbis. Saat ini Tisya mintadi ajarin segala mata pelajaran sama Arbis yang noteband nya memang pintar.Tentu aja Arbis gak langsung mau, tapi Tisya emang gak keabisan akal, dia dapetbantuan dorongan dari Oma Rani. Tisya datang ke rumah Arbis dengan alasanmengantarkan masakan Mamanya untuk Oma Rani. Lalu ia berkata pada Oma Raniingin belajar dengan Arbis. Arbis yang tidak mau, tapi di paksa oleh Oma Rani,akhirnya mau tak mau Arbis mengajarkan Tisya.   "Capek gue ngajarin lo gak ngerti ngerti!" KesalArbis dengan nada frustasi, sudah berulang kali Arbis menjelaskan, namun takada yang nyangkut di kepala Tisya.   Jelas aja. Tisya sama sekali gak merhatiin apa yang Arbisterangin. Tisya lebih sibuk merhatiin yang neranginnya. Tisya seneng bangetngeliat wajah Arbis kalo lagi menyelesaikan urusan pelajaran.   "Makanya elo ngajarinnya yang jelas. Berarti lo gagaljadi orang pinter, karena lo gabisa ngajarin gue."   "Otak lo aja yang minim."   "Ih gue tuh gak fokus kalo belajarnya sama lo. Guemalah sibuk ngurusin detak jantung gue yang berdebar gak keruan." Tisyamulai berlagak alay, dengan tampang sok imutnya, wajahnya tersenyum jailmenatap Arbis.   "Belajar sana sendiri!" Arbis bangkit dariduduknya dan meninggalkan Tisya. Bener bener gak ada untungnya ngajarin Tisya.Cewek itu emang gak pernah serius buat ukuran Arbis yang selera humornya benerbener rendah.   Tisya ikut berdiri, mengejar Arbis yang hendak pergi. Kalobelajar sendiri mah di rumah juga bisa, niat Tisya kesini kan emang cuma modusaja buat deketin Arbis.   "Arbis mah gitu. Lo tuh kalo pinter harus bagi bagi,jangan di makan sendiri."   Prang... Tisya yang berjalan tergesa, tanpa sengaja ia menabrak mejadimana di atasnya ada sebuah guci yang bertengger di sana. Guci itu suksesjatuh ke lantai, bentuknya yang semula utuh kini menjadi tak beraturan. Tisyamenutup mulutnya terkejut, matanya terbelalak, tubuhnya langsung gemetarketakutan. Takut takut, kali ini bukan hanya Arbis yang akan mengomel padanya,tapi seluruh anggota keluarga yang ada disini. Bisa bisa Tisya tidak boleh lagimain kesini.   "Gue.. gue.. gue ga sengaja. Nanti gue ganti.."Suara Tisya terdengar begitu pelan dan lirih, mungkin saat itu Tisya inginmenangis karena saking ketakutannya. Tisya masih mematung di tempatnya, Tisyadapat melihat Arbis menatapnya semakin dingin.   "Lo tau gak guci itu di beli dimana dan harganyaberapa?" Arbis setengah menggentak pada Tisya.   Tisya semakin diam, tak mampu menjawab apapun, tidak sepertibiasanya ia selalu nyerocos gak keruan. Kini tampangnya benar benar ketakutan,buku buku di tangannya memutih, wajahnya pun mulai memucat saking takutnya.Tisya benar benar ingin mengangis saat itu juga.   Melihat wajah Tisya yang begitu shock dan ketakutan, Arbishanya mengulum senyum namun sebisa mungkin tetap berekspresi datar. Tapi pemandangan itu benar benar ingin mengocokperutnya, rasanya Arbis ingin memuntahkan tawanya melihat Tisya yang tak mampuberkutik seperti itu. "Bahahahaha." Arbis tertawa begitu puas sampaiterpingkal, wajah Tisya yang ketakutan benar benar lucu.   Tisya tercengang saat melihat Arbis tertawa begitu puas.Tidak pernah Tisya melihat Arbis sampai tertawa seperti itu. Berarti tadi Arbishanya iseng mengomeli Tisya. Berarti, berarti, ah s**l! Rupanya Arbis mengerjaiTisya.   "Sumpah tampang lo lucu banget. Hahaha, harusnya guefoto itu."   "Arbis sialaannn!!" Tisya kesal setengah mati,tapi ia juga senang bisa melihat Arbis tertawa seperti itu. Tisya mengambilancang ancang, ia melompati bagian lantai yang ada serpihan belingnya, laluberlari untuk menggapai Arbis.   Arbis yang melihat Tisya berlari untuk menghampirinya,segera menghindar dan ikut berlari. Arbis berlari sekencang mungkin, menyusurisetiap ruangan yang ada di rumah ini. Bahkan Arbis sampai naik turun tangga,dan kini mereka sudah berada di halaman belakang rumah Arbis. Tisya yanghyperaktif tidak ada lelahnya mengejar Arbis meski tidak juga mendapatkannya.   "Udahan stop gue capek!" Arbis berhenti berlari,tubuhnya kini membungkuk saking lelahnya. Arbis mengatur nafasnya yang terengahengah. Dan saat itu juga Arbis baru tersadar. Barusan apa yang di lakukannya?Main kejar kejaran? Apa itu! Permainan bocah yang sama sekali gak bermutu.Tapi.. tapi.. perasaan apa ini? Arbis merasakan kepuasan di dalam hatinya. Adakesenangan tersembunyi yang menjalar dalam dirinya. Disaat Arbis terus berlarisambil tertawa. Arbis tak pernah seperti ini.   "Lo ngomelin gue kayak tadi, abis itu lo ketawa. Apamaksudnya hah?" Dengan suaranya yang cempreng Tisya berteriak dan mulaimenghampiri Arbis yang kini menjatuhkan tubuhnya keatas rerumputan yang ada dihalaman belakang rumahnya ini.   "Abis, abis, muka lo lucu banget. Hahahah." Arbiskembali tertawa dengan nafas yang masih tersenggal senggal.   "Emang itu guci gak berharga apa?"   "Buat gue sih enggak, guci itu punya bokapnya Ranggakok."   "Ih Arbis serius? Terus gue gimana? Aduh mana belingnyabelom gue beresin. Huaaaa gue gimana?" Tisya berteriak makin heboh, lalukembali berlari menuju ruang tengah tadi untuk membersihkan serpihan belingyang bertebaran disana.   Arbis makin terkekeh melihat sikap Tisya. Kelakuannya,memang ada ada saja. Meski terkadang mengesalkan, tapi hari ini dia begitumenghibur. Hey ini apa lagi? Arbis kembali tersadar telah tertawa seperti tadi.Arbis tak pernah sampai seperti itu. Tapi, lagi lagi, Arbis merasa puas dengansegala yang ia lakukan hari ini. Hidup Arbis yang datar, flat, kini seakanmenemukan celah untuk bisa merasakan yang di namakan, bahagia.   *** "Em, Rangga, itu, tadi, gue.." Tisya gelagapansaat ia sampai di ruang tengah dan melihat disana ada Rangga yang sedangmerapikan serpihan beling itu.   Arbis yang kini sudah berada di lantai dua, dapatmemperhatikan gelagat Tisya yang kembali panik. Biama tersenyum, lucu sekalimelihat wajah itu ketakutan. Arbis sudah tidak memperdulikan lagi tentang halaneh yang sedang menggerayanginya hari ini. Arbis menikmatinya, dan ia seakanbaru merasa hidup hari ini.   "Gapapa, lagian ini udah lama kok. Wajar kalo kesenggolpecah." Rangga tersenyum ramah pada Tisya. Membuat Tisya makin tidak enak,Rangga baik banget.   Tisya pun berjongkok menyamai posisi Rangga, Tisya ikutmemunguti serpihan beling itu, dan memasukannya ke kantong plastik yang sudahdi sediakan Rangga. Diam diam Rangga memperhatikan Tisya, cewek ini, satusatunya cewek yang berani deket sama Arbis. Meski Rangga tau Arbis tak pernahmerespon, tapi Rangga yakin, lambat laun Arbis akan tertarik dengan cewek ini.Rangga mengulum senyuman liciknya, biarkan cewek ini masuk ke dalam kehidupanArbis, jika kelak Arbis mencintai cewek ini, Rangga akan menjadikannya alatuntuk menjatuhkan Arbis.   "Ahh.." Tisya mendesah saat sebuah beling menancapdi jarinya, darah segar mengalir dari jarinya itu, beling itu masih menancapdengan kokoh di jarinya.   Arbis yang berada di atas sempat terkejut saat melihat Tisyamemegangi jarinya, Arbis seketika berlari dan menuruni tangga. Arbis segeramenghampiri Tisya yang sedang berjongkok bareng Rangga. Dapat di lihat ketikaArbis sampai, tangan Rangga hendak menyentuh jari Tisya yang tertancap belingitu.   "Jangan di sentuh!" Cegah Arbis, membuat Ranggamenghentikan aktifitasnya. "Kalo di cabut pake tangan bisa infeksi. Ikutgue." Arbis pun menarik pergelangan tangan Tisya, mengajaknya pergi darisana.   Manik mata Rangga memperhatikan setiap gerak gerik Arbis.Rupanya dia telah jatuh ke lubang itu. Tunggu saja, Rangga akan membuat Arbissemakin jatuh ke dasar lubang yang paling bawah, dimana nanti Arbis tak akanmendapatkan apapun. Arbis akan kalah telak nanti.   Arbis membawa Tisya ke ruang depan, disana tersimpan kotakp3k yang akan Arbis gunakan untuk mengobati luka. Arbis segera mengambilperalatan yang di butuhkan, di cabutnya beling Arbis yang menancap di jariTisya dengan alat yang ada di kotak p3k.   "Aww.. Arbis pelan pelan." Tisya mengerang,tangannya mencengkram baju yang di pakai Arbis.   "Makanya jangan ceroboh."   Tisya tak menjawab lagi, ia mengamati wajah Arbis yangbegitu serius mengobati lukanya. Arbis itu. Cuek tapi peduli.   ***   Pagi pagi Tisya sudah geger karena sepatunya di ambil olehguru piket. Cuma karena tali sepatunya berwarna putih, sepatu Tisya pun di sitalengkap dengan kaos kakinya. Tisya datang ke kelas dengan kaki tanpa alas,alias nyeker. Arbis melirik kearah kaki Tisya yang saat itu sedang mengocehbetapa kejamnya guru piket di sekolah ini.   Tak lama kemudian bel masuk pun berbunyi, lagi lagi hari iniArbis tetap dingin dengan Tisya. Arbis tak banyak bicara, hanya Tisya yangterus terusan berusaha mengajak Arbis bicara.   Sampai pada jam pelajaran terakhir yaitu pelajaran olahraga, semua siswa sibuk berganti pakaian olah raga. Tisya mulai kelimpungan.Jam pelajaran terakhir di mulai jam 11, tepat di saat matahari sedang menujupuncak teriknya. Dan Tisya tidak memakai sepatu. Lalu harus bagaimana? Semuamurid sudah keluar dari kelasnya kecuali Tisya. Arbis juga sudah keluar sejaktadi. Tinggal Tisya yang ada di dalam kelas.   "Ngapain kamu masih di kelas?" Seorang gurumemakai pakaian traning datang ke kelas Tisya, dan memergoki Tisya sedang dudukdi kelas.   "Sepatu saya di ambil pak, kalo saya.."   "Cepat keluar, gak usah pake sepatu."   Tisya melongo, sekolah ini benar benar. Gurunya gak ada yangpunya perasaan. Akan jadi apa kaki Tisya nantinya kalo gak pake sepatu. Manasinar matahari sama sekali gak bisa di diskon dikit lagi, terik banget.   Dengan malas Tisya keluar dari kelasnya menuju lapangan.Para siswa sudah berbaris rapi dengan jarak yang cukup renggang. Tisya jadiminder saat perhatian mereka semua tertuju pada Tisya yang gak pake sepatu.Saat Tisya mulai melangkahkan kaki ke lapangan, terasa sekali kakinya panassaat menyentuh lapangan. Tisya berjalan sambil berjinjit karena tidak tahandengan rasa panas yang menjalar di kakinya.   Tisya berbaris di barisan belakang sambil terus berjinjitjinjit. Tisya sama sekali gak fokus sama instruksi guru yang berbicara didepan. Arbis dapat melihatnya, karena itu perlahan Arbis mundur ke barisanpaling belakang, dan kini Arbis telah berhasil berada di sebelah Tisya.   "Lo sama sekali gak bawa sepatu ganti?" TanyaArbis ketika melihat Tisya yang masih belum bisa berdiri dengan posisi yangbenar.   Tisya menoleh, baru saar ternyata Arbis di sebelahnya. Tisyamenggeleng lemah. "Kalo bawa udah gue pake daritadi."   Arbis pun berjongkok, lalu membuka tali sepatunya. Arbismelepaskan satu persatu sepatunya. Lalu ia sodorkan ke dekat kaki Tisya.   "Pake sepatu gue."   "Hah? Terus lo pake apa?" Tisya agak terkejut saamArbis memberikan sepatu miliknya, terlihat kini Arbis hanya memakai kaos kaki.   "Gue biasa maen bola gapake sepatu kok."   Tisya masih tak bergerak, tak tau harus pakai sepatu Arbisatau tidak. Tapi kakinya sudah tidak tahan, Tisya pun memutuskan untukmemakainya. Tisya benae benar tak pernah mengerti dengan jalan pikiran Arbis.Tak pernah. Terkadang Arbis dingin, cuek, galak. Tapi terkadang Arbis jugapeduli terhadapnya.   ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN