Semilir angin malam bertiup dengan tenangnya, menerpa wajah Deandra yang sedang duduk di teras rumahnya. Bsberapa kali Deandra melirik jam di tangannya. Ini sudah telat tiga puluh menit dari waktu janjian. Deandra mendesah, harusnya ia tau Ilham hanya main-main. Tapi bukan itu masalahnya. Deandra sama sekali tidak terjebak dalam permainan Ilham. Hanya saja, Deandra ingin memastikan sesuatu.
Saat Deandra berdiri dari tempat duduk di depan pintu rumahnya, dan bersiap untuk kembali masuk ke dalam, orang yang di tunggunya malah muncul. Dengan nafas tersenggal, terlihat sekali jika Ilham berlari. Tangan Ilham melambai di luar gerbang rumahnya. Disertai senyuman yang kelewat lebar, yang sayangnya, bukan membuat Deandra terpesona, malah membuat Deandra merinding.
Deandra mendesah pelan, lalu berjalan menuju gerbang. Ia membuka pintu gerbang rumahnya, lalu berjalan dengan lempeng yang di ikuti Ilham di belakangnya. Sebisa mungkin Ilham berusaha menyamai jalannya dengan Deandra.
"Gue seneng elo mau gue ajak jalan." Ilham membuka pembicaraan, sambil sesekali ia menoleh pada Deandra yang wajahnya tidak terlihat bahagia. "Yah, meski cuma jalan jalam gini, dan lagi lagi makan es krim depan sana."
"Elo telat tiga puluh menit." Deandra berkata dengan nada sebal. Tanpa menoleh pada Ilham.
"Iyadeh, sori. Tadi hape mati, terus temen temen gue lagi rusuh di rumah."
"Kiran?" Deandra menebak, karena yang Deandra tau teman Ilham yaa Kiran. Dan dua orang lainnya itu, tapi Deandra tak tau siapa nama mereka dan nama genk mereka yang abstrak itu.
"Bukan. Lo gak bakal kenal pokoknya. Tapi mungkin elo kenal Regan."
"Anak IPA 2 yang ganteng itu?"
Ilham mendesis pelan. Cewek emang gak pernah gak kenal sama yang namanya cowok ganteng. Ternyata itu juga berlaku pada Deandra. Bisa bisanya Deandra yang anak baru tau Regan.
"Gantengin guesih kayaknya."
Deandra melirik sebentar pada Ilham yang narsis, dan tanpa sadar Deandra tersenyum tipis melihat kelakuan Ilham.
Ilham menyadarinya. Tentu saja. Senyum itu begitu manis. Meski begitu tipis dan nyaris tak kentara. "Elo cantik kalo senyum. Sering sering senyum dong kalo ketemu gue."
Deandra hanya mendengus menanggapi rayuan Ilham yang garing itu. Sampai tak terasa, akhirnya mereka sampai di depan kedai es krim.
Ilham melangkah lebih dulu, membukakan pintu untuk Deandra, yang sama sekali tidak di pedulikan Deandra. Ia hanya melenggang masuk dan mencari tempat duduk.
"Deandra, kenapa elo segitu juteknya sih sama gue. Harus berapa kali gue bilang, gue udah tobat. Jangan percaya sama si Kiran." Ilham benar-benar frustasi saat mereka berhasil mendaptkan tempat duduk, dan mendapati wajah Deandra masih dingin.
"Berhenti!"
Ilham mengernyit mendengar satu kata yang keluar dari mulut Deandra itu. "Berhenti suka sama elo maksudnya?" Fokus Ilham kini sepenuhnya pada Deandra. Membuat Deandra lagi lagi harus menahan nafas setiap di tatap seperti itu. Lalu kemudian ia menggeleng, seolah menyadari sesuatu.
"Berhenti bersikap 'seolah-olah' elo cinta mati sama gue. Gue muak liatnya!"
Untuk beberapa saat Ilham terdiam mendengar ucapan Deandra. Matanya melebar, dan menatap Deandra begitu terkejut. Namun Ilham buru-buru bersikap setenang mungkin. "Kenapa sih, De? Emang salah ya kalo gue suka sama elo. Kok elo kayak desperate banget." Ilham cemberut, seolah meratapi nasibnya yang menyedihkan.
Deandra mendengus -lagi- melihat akting Ilham yang luar biasa memukau. Tapi sayangnya, Deandra tidak sebodoh itu.
"Gak usah pura-pura lagi. Gue udah tau. Kali ini, apa motif lo ngedektin gue? Pasti ada maunya. Emang selalu kayak gitu kan."
Ilham terkesiap. Lalu menelan kasar ludahnya. Masih tidak percaya dengan ucapan Deandra.
"Oh iya, gak usah berusaha manggil gue Andra. Toh, tadi elo keceplosan manggil gue De. Its mean, Dea. Yang manggil gue dengan nama itu, cuma elo dan Kiran. Gue gak mungkin keliru."
Mata Ilham benar-benar tak berkedip mendengar semua ucapan Deandra. Selama beberapa saat Ilham menahan nafas, lalu menghembuskan nafas kelewat lega.
"Gue harap elo gak ngasih tau Kiran. Seenggaknya jangan dalam waktu dekat ini." Ilham baru kembali angkat suara, dan melemaskan otot ototnya. Kini ia mulai bersandar pada sandaran kursinya. Tatapan ala memuja itu kini telah lenyap, berganti dengan tatapan khas saat bertemu teman lama.
"Jadi nama lo Ilham. Gue ngerasa b**o banget gak tau nama asli temen kecil gue. Tapi saat Kiran cerita sama gue tentang Gusur, gelagat elo yang paling ketebak."
Ilham tersenyum mendengar Deandra. Bahkan nyaris tertawa pelan. "Elo mau bantu gue kan?" Terlanjur basah, akhirnya Ilham mengajukan juga pertanyaan itu.
"Apa gue boleh bilang enggak?"
Ilham tertawa pelan melihat wajah Deandra yang kelihatan sebal.
"Elo emang sahabat gue, De." Ilham mengacak rambut Deandra, kini ia tak lagi mendapat pelototan ala Deandra seperti sebelumnya. Hanya saja, Ilham masih mendengar dengusan Deandra berkali-kali. Seolah semua ini sangat berat untuknya.
"Tapi gue capek." Deandra menatap Ilham lelah. Mencoba berbicara lewat matanya. Mencoba menjelaskan pada Ilham. Tapi Deandra terlalu yakin, Ilham takkan mungkin mengerti.
"Capek kenapa?"
Benar kan! Otak Kiran dan Ilham dari dulu tak pernah jauh beda. Terlalu dangkal dan tidak peka. Sepertinya mereka memang jodoh.
"Gausah di pikirin. Kali ini apa?"
"Setelah elo tau gue ini siapa? Emangnya elo gak mau meluk gue dulu apa? Kita kan udah lama gak ketemu?"
"Males."
"Kalo gitu, gue aja yang meluk lo."
Ilham menggeser kursinya ke sebelah Deandra. Lalu merangkul Deandra dengan akrabnya. Lagi lagi Ilham mengacak rambut Deandra. Dan kini Ilham memaksa Deandra untuk menghadap kearahnya, dan benar benar memeluknya.
Deandra ragu untuk membalas pelukan Ilham. Ia hanya diam di dalam sana. Matanya menerawang jauh. Dari dulu, tidak pernah dan tidak akan pernah berubah. Yang di cintai Ilham hanyalah Kiran, dan dirinya selalu menjadi pion dalam permainan Ilham ini. Permainan yang entah kenapa, Deandra begitu yakin, tidak akan pernah berakhir bahagia. Seperti waktu dulu.
***
Flashback of Arbis
Di dalam hidupnya Arbis tak pernah memikirkan hal hal yangmenurutnya tidak penting. Hidup ini begitu di anggap serius, ohh bukan sepertiitu. Yang jelas, dalam hidup ini Arbis tak boleh kalah dari rivalny yang taklain adalah sepupunya sendiri.
Persaingan sengit yang tumbuh dari masa kecil itu kianberkembang hingga detik ini. Apapun berusaha Arbis dan Rangga dapatkan. Namunsepertinya keberuntungan selalu berpihak pada Arbis, karena apapun, selaluArbis yang meraihnya lebih dulu, barulah Rangga ikut merasakan di kesempatanlain. Bahkan Arbis bilang bahwa Rangga selalu merebut apa yang telah iadapatkan. Dan sepertinya Rangga memang akan selalu berusaha merebut apa yangArbis miliki.
Namun saking seriusnya Arbis menjalani persaingan sengitini, Arbis sampai tak memikirkan tentang wanita. Di umurnya yang sudah dikatakan remaja, yaa jaman jaman smp kan sering sekali di isi oleh kisah cintacintaan. Tak ada gadis yang bisa dekat dengan Arbis, karena Arbis tak pernahmenanggapinya. Sampai dia datang, dan mampu mendekat pada sosok cuek Arbis,dengan caranya yang nekat mendekat, dan tanpa sadar kehadirannya benar benarberharga di hidup Arbis.
Di dalam sebuah ruangan, terlihat begitu ramai para siswaSMP yang berasal dari berbagai sekolah yang berbeda. Saat itu sedang diadakannya perlombaan cerdas cermat antar sekolah. Dan tentunya Arbis berada dipanggung tempat para finalis yang mewakili sekolahnya. Kali ini Arbis satukelompok dengan Rangga, namun tetap saja mereka tak bisa kompak.
Setiap pertanyaan selalu Arbis yang menjawab, Rangga seolahkalah cepat dengan Arbis. Bahkan yang ada di pikiran Rangga bukan memenangkanperlombaan ini, namun memenangkan dirinya dari Arbis. Selalu begini, dan padaakhirnya pasti Arbis yang akan menjadi sorotan. Dan dengan tampang sok tidakpedulinya Arbis akan bersikap cuek disaat seluruh penjuru sekolah mengeluelukannya. Cih, Rangga benar benar membencinya.
Arbis menjawab dengan cekatan, baru saja pembawa acaramembacakan pertanyaan, tanpa terlihat berpikir Arbis langsung menjawab, takmemberikan finalis lain untuk menjawab. Dan di bangku penonton, seorang gadisyang melihat aksi Arbis yang sangat memukau itu memandang Arbis tak berkedip,Tisya tak henti hentinya berdecak kagum sambil menggelengkan kepalanyakeheranan.
"Gila! Itu orang apa dewa sih? Jawabnya gak pakemikir." Gumam Tisya, tanpa mengalihkan pandangannya dari Arbis. Mungkin,itulah pertemuan pertamanya dengan Arbis, dan mungkin, dari sejak itulah Tisyamulai tertarik pada sosok Arbis.
***
Tisya tersenyum riang, saat baru menginjakan kakinya dikelas barunya ini, matanya menangkap sosok yang tidak asing di matanya. Tisyamelangkah menghampiri orang itu dengan senyumnya yang belum meluntur, ia takmenyangka akan bertemu dengan Arbis di sekolah barunya ini.
Saat itu Arbis sedang terduduk santai sambil bersandar ditempat duduknya, tangannya dengan lihai memainkan rubik berbentuk kotak. Dantanpa memerlukan waktu lama rubik itu sudah tertata sesuai warnanya.
Prok prok..
"Wah keren, cepet banget lo nyusunnya." Dengangaya sok akrabnya, Tisya bertepuk tangan dengan riangnya, saat melihatkecepatan tangan Arbis yang memainkan rubik.
Arbis melirik Tisya sekilas, gadis itu terlihat asing dimatanya. "Siapa lo?" Desis Arbis dengan sikap dinginnya. Tangannyakembali mengacak ngacak rubik miliknya, lalu membenarkannya lagi. Membuat Tisyaterheran heran, Tisya saja belum pernah sekalipun mampu menyelesaikan masalahrubik itu.
"Gue gak nyangka loh kita bisa ketemu lagi disini. Inibener bener kebetulan." Tisya duduk di bangku sebelah Arbis, iamengesampingkan badannya agar menghadap Arbis. Tisya masih begitu antusias saatmelihat Arbis, bahkan ia tak menjawab pertanyaan Arbis.
Arbis mengerutkan dahinya, pertanda bingung. Ia menatapTisya intens, berusaha mengingat wajah oriental Tisya.
"Elo itu yang menang lomba cerdas cermat antar sekolahbulan kemaren kan? Sumpah gue bener bener kagum ngeliat jawaban lo yang gakpake mikir itu. Gila ya, otak lo terbuat dari apasih? Bisa bisanya lo jawabnyalancar banget. Dan lo bisa ngalahin perwakilan dari sekolah lama gue, dan asallo tau, dia itu pringkat satu yang gak pernah terkalahkan. Dan saat tandingsama lo gitu, dia sama sekali gak bersuara. Omaygat, lo keren pokoknya."Mendapat tatapan seperti itu dari Arbis, Tisya menjelaskan tentang hal ini.Tisya masih begitu antusias bercerita pada Arbis, ia memang tidak bisamenyembunyikan rasa kagumnya pada Arbis.
"Lebay." Arbis bangkit dari duduknya, lalu pergimeninggalkan Tisya yang sama sekali tak di kenalnya itu.
"Yah, kok gue di katain lebay?" Tisya menatappunggung Arbis yang menjauh dari pandangannya, Arbis mulai keluar darikelasnya.
Tisya ikut berdiri, ia mengejar Arbis yang pergi karenakehadirannya. "Hey tunggu!" Panggil Tisya, kakinya terus berlarimengejar Arbis yang semakin menjauh. "Duh, siapa yaa namanya? Eh eh, diasiapa sih namanya?" Tisya bingung sendiri karena tidak mengetahui namaArbis, dengan asal ia bertanya pada siapapun orang yang ada disitu.
Rangga menoleh, mendapati seseorang menepuk bahunya. Iamelirik orang yang di tunjuk Tisya. Oh sungguh, sejujurnya Rangga malasmenyebutkan nama itu. Namun tidak enak juga jika ada orang bertanya tidak dijawab. "Arbis." Jawab Rangga pelan seakan penuh ketetpaksaan.
"Oh thanks. Arbis!! Tungguin dong." Tisya kembaliberlari mengejar Arbis yang semakin jauh darinya.
Arbis menghentikan langkahnya, lalu berbalik badan, dan kinisampailah Tisya di hadapan Arbis dengan nafas tersenggal senggal. Tisya tampakkelelahan, kini ia membongkok karena saking lelahnya.
"Lo ngapain sih ngikutin gue?" Arbis menatap Tisyatak habis pikir. Untuk apa gadis ini mengikutinya? Padahal Arbis sama sekalitak mengenalnya. Arbis risih dengan kelakuan aneh Tisya itu.
"Abis cuma lo yang gue kenal disini."
"Tapi gue gakenal sama lo!"
"Oh iya, gue belom kenalan kan. Gue Tisya. Gue muridbaru disini, baru sehari masuk kok. Dan elo orang pertama yang gue kenal disekolah ini. Gue pindah kesini karena rumah gue pindah di deket deket sini.Jaraknya deket banget, pokoknya kepeleset nyampe deh." Tisya mulaibercerita yang menurut Arbis gak penting juga buat hidup Arbis. Kesan Arbispada Tisya saat ini adalah, Tisya bener bener gak jelas.
Arbis kembali pergi, tidak memperdulikan Tisya yang terusberkicau gak jelas. Arbis gak ngerti, kok ada orang sok kenal kayak gitu?
"Ih Arbisaaa!! Masa gue di tinggal lagi?" TeriakTisya frustasi, karena di tinggal Arbis lagi. Tapi, yasudahlah, yang Tisya tau,Arbis kan sekelas dengannya. Dan Tisya tak mau tau, bagaimanapun caranya Tisyaharus sebangku dengan Arbis.
***
Arbis mendenguskan nafas sebal ketika ia harus duduk bersamagadis aneh yang di kenalnya tadi pagi. Bisna merutuki keadaan tempat dudukkelas ini, mengapa hanya bangku di sampingnya sih yang kosong? Mengapa terlalukebetulan seperti ini?
Saat guru menerangkan pelajaran, Tisya tampak seriusmemperhatikannya. Namun beda dengan Arbis yang moodnya sedang jelek karenaharus duduk dengan Tisya. Diam diam tangan Arbis hanya terus memainkan rubiknyadi bawah meja, Tisya melirik sekilas, dan entah mengapa Tisya ragu Arbis itupintar. Padahal saat guru menerangkan ia malah asyik sendiri.
"Kamu! Anak baru, coba maju ke depan. Selesaikan soalhukum pascal ini."
Tisya gelagapan, saat guru yang mengajar menunjuknya. Meskisedari tadi ia menerangkan, namun Tisya tak sepenuhnya mengerti. Apalagi jikaharus mengerjakan di depan, Tisya akan di landa rasa gugup sehingga ia tak kanmampu menyelesaikan soal yang ada di depan itu.
Dengan gemetar Tisya berdiri, melangkah ke depan kelas.Semua mata yang ada di kelas kini memandangnya. Oh God, help me please. BatinTisya terus memohon.
Tisya meraih spidol yang di berikan sang guru. Lalu kini iamenghadap ke papan, memperhatikan soal. Tangannya masih tak bergerak untukmenuliskan sesuatu pada papan tulis itu, masalahnya Tisya tidak tau apa yangharus ia tuliskan.
Dari bangkunya Arbis terkekeh pelan, gadis itu, benar benaraneh bukan? Bukankah tadi ia memperhatikan dengan serius? Tapi masih tidakmengerti. Arbis saja yang sambil bermain rubik sudah tau bagaimanamenyelesaikan soal tersebut.
"Saya gabisa, Bu." Aku Tisya akhirnya, ia menundukmenghadap pada guru tadi.
"Gabisa? Saya liat kamu merhatiin saya serius sekalitadi."
"Saya masih belom ngerti."
"Ohh." Guru itu berucap dengan nada sinis."Karena kamu murid baru, saya akan menegaskan sama kamu. Saya paling gaksuka menjelaskan berkali kali. Cuku sekali dan kalian harus paham dengan yangsaya ajarkan."
Tisya bengong, terus dia harus apa? Aish guru ini egoisbanget. Tisya yakin bukan hanya dirinya saja yang masih bingung denganpelajaran ini. Tisya mematung di depan, ia bingung harus apa? Kembali kebangkunya atau bagaimana. Guru itu tidak memberikan instruksi dengan jelas.
"Arbis! Maju ke depan! Coba kamu ajari pada temansebangku mu ini." Tatapan guru itu kini beralih pada Arbis. Seketikajantung Tisya berdegup makin kencang. Apa ini pertanda akan ada bencana baru?Apa Arbis bisa mengajarkannya? Jelas jelas Arbis tadi tak memperhatikan samasekali. Ia sibuk dengan rubiknya.
Setelah berdiri di depan, Arbis merebut spidol dari tanganTisya. Ia menatap soal sekilas, lalu ia berbisik sinis pada Tisya. "Begobanget sih lo! Soal gini aja gak ngerti." Bisik Arbis pelan, membuat Tisyatercengeng mendengar ejekan Arbis.
Tisya kini melihat Arbis yang mengerjakan soal. Tisya takmengerti apa yang Arbis tuliskan. Apa ia hanya sedang mencoret coret papantulis atau bagaimana?
***