Sialnya saat tadi datang parkiran penuh, membuat Eza harus memarkirkan motornya di tempat lain. Dan jalan menuju tempat lain itu harus melewati jalanan sepi ini. Yang kata Eza, lewat sini lebih dekat. Kiran yang tidak tau daerah sini hanya menurut saja.
"Kok gak nyampe-nyampe yaa." Kiran memecah kesunyian dalam suasana seperti ini. Kepalanya menoleh kesana-kemari, yang terlihat hanya rumah bederet yang mengapit jalanan yang sedang dilaluinya.
"Bentar lagi kayaknya."
Gug.. gug..
"Ah," Kiran merapatkan tubuhnya pada Eza, mengamit tangannya karena gerakan refleks akibat ketakutan dengan suara anjing.
Eza terkekeh pelan dengan gerakan Kiran. "Di dalem rumah kok anjingnya." Eza berusaha menenangkan.
"Gimana kalo dia loncat?" Kiran menjauhkan dirinya dari Eza, berusaha berjalan normal. Meski sebenarnya masih ada sedikit ketakutan.
"Orang di rantai masa lon-"
Gug.. gug..
Terdengar lagi suara anjing menggonggong, yang memotong omongan Eza. Namun kali ini bukan hanya terdengar suaranya, tapi juga terdengar derap langkah seekor binatang berlari. Dari arah belakang.
Mereka menyadarinya. Kiran maupun Eza untuk sesaat terdiam. Dan tanpa sadar, Kiran dengan segera menggenggam tangan Eza. Langkah mereka berhenti seketika, untuk memastikan menoleh ke belakang pelan-pelan.
Gug.. gug..
Tepat saat mereka menoleh ke belakang, benar ada seekor anjing besar berwarna hitam gelap sedang berlari kearah mereka. Jaraknya semakin mendekat seiring dengan kecepatan kaki anjing tersebut. Eza maupun Kiran terkesiap, tanpa berpikir apapun lagi, mereka segera berlari dari tempat itu.
Presetan dengan kata orang jika di kejar anjing jangan lari, memang ada yang mau dengan sukarela berdiam diri lalu gerogoti anjing liar itu? Siapa yang tau dengan kandungan dari air liurnya, apalagi jika anjing itu rabies. Maka yang dilakukan Eza dan Kiran untuk menyelamatkan diri hanya lari. Lari sekencang mungkin, menghindar dari anjing itu.
"Lo bilang anjingnya dalem rumah?" Sambil berlari Kiran memprotes, tangannya masih berpaut dengan Eza. Larinya tidak begitu kencang kalau saja Eza tidak menariknya.
"Biasanya gitu. Gue gatau ada anjing nyasar." Balas Eza.
Semakin lama kakinya terasa lelah, tulang-tulang yang menyangga seluruh tubuhnya itu seakan ingin remuk saat itu juga. Namun saat menoleh ke belakang, anjing itu masih mengejar. Dengan jarak yang semakin dekat.
"Ran, larinya cepet. Anjingnya makin deket." Eza mempercepat larinya, menarik tangan Kiran.
Kiran kewalahan dengan lari Eza. Tapi saat menoleh ke belakang, melihat anjing yang semakin dekat, lari Kiran seketika meningkat. Dan kali ini, benar kata orang, lari tercepat adalah saat kamu di kejar oleh anjing. Seumur hidup, Kiran tidak pernah berlari secepat ini, dengan catatan menggunakan wedges pula.
"Motor lo dimana sih?" Kiran mulai keki, merasa terus berlari tanpa arah.
Eza baru tersadar, lalu menarik Kiran untuk memutar arah. "Belah sono." Mereka berbelok, memasuki jalanan yang lebih kecil daripada tadi, tapi anjing tersebut masih tetap mengejar.
Beruntung, saat di ujung jalan tersebut terlihat motor Eza yang terparkir. Lari mereka semakin di percepat. Dan seketika Eza melompat menaiki motornya, ingin segera pergi darisana. Kiran juga segera nemplok di jok belakang Eza. Tapi motor tak segera jalan, pertanyaannya sekarang, kuncinya mana?
"Mampus!" Eza menepuk jidat, merogoh semua kantong celananya, namun tak menemukan kunci motornya.
Kiran yang melihat itu segera membuka tas mininya, merogoh isi tasnya. Setelah menemukan apa yang dicari, Kiran segera menyerahkan segerincing kunci pada Eza. "Dasar b**o! Tadikan elo nitip sama gue!"
"Oh iya lupa."
Tanpa banyak bicara Eza segera memutar kunci motornya, dan bertepatan dengan anjing yang semakin mendekat, Eza menggas motornya begitu kencang, hampir membuat Kiran yang berada di belakang terpental. Dan dengan spontanitas Kiran berpegangan erat pada bahu Eza.
Sesekali Kiran menoleh ke belakang. Gila! Tuh anjing masih ngikutin juga! Yang punyanya kemana kali? Kiran menepuk bahu Eza, sambil berkata. "Za, lebih cepet lagi bisa gak? Tuh anjing masih ngikutin." Kiran bertriak, agar suaranya dapat terdengar ditengah riuhnya angin yang tercipta karena kecepatan motor Eza.
"Pegangan yang kenceng."
Kiran mengeratkan cengkramannya di bahu Eza, namun Eza malah terkekeh.
"Pegangan pinggang kek! Mana kuat megang bahu gitu!"
Kiran mendengus. Dasar cowok. Pinter banget nyari kesempatan. Mau tak mau, karena keadaan emergency, Kiran akhirnya berpegangan pada pinggang Eza. Tangannya melingkar di pinggang itu, merapatkan tubuhnya, menyatukan kedua tangannya yang sudah berkeringat dingin.
Dengan posisi seperti ini, bukannya mempercepat laju motornya, Eza malah sibuk dengan perasaannya. Detak jantungnya seketika meningkat merasakan tangan itu memeluknya dari belakang. Udara dingin di sekitarnya seolah tak terasa, berganti dengan hawa panas yang menjalarinya. Pikiran Eza kacau, padahal ini bukan kali pertama Eza membonceng cewek.
"Eh, Za. Udah gak ada anjingnya. Capek kali dia." Kiran masih mengamati ke belakang, tidak lagi melihat anjing hitam besar yang mengejarnya.
Eza menghembuskan nafas lega, ini sungguh pengalaman pertamanya di kejar anjing. Bersama Kiran. Eza tersenyum, banyak hal baru yang di lakukannya bersama Kiran. Apapun yang terjadi, Eza tak akan mungkin melupakan saat-saat bersama Kiran. Tanpa perlu berpikir apa yang sedang di rasakannya, yang Eza tau, saat ini, Eza sedang mencintai Kiran dengan segala tingkahnya.
Eza menepikan motornya di bahu jalan, dekat dengan pedagang rokok pinggir jalan. Mereka belum berada di jalan raya, karena Eza sendiri tidak tau kemana arah ia mengemudikan motornya. Sengaja Eza berhenti di dekat warung untuk membeli minum, terang saja mereka haus karena habis lari gila-gilaan.
Kiran turun duluan, ia malah tertawa mengingat kejadian tadi. Konyol. Seumur-umur, meski Kiran iseng, gak pernah yang namanya Kiran di uber anjing sampe segitu jauh. Padahal waktu kecil Kiran suka gangguin anjing tetangga, melempari mereka dengan batu kecil, tapi mereka takkan bisa mengejar Kiran karena di rantai. Dan akhirnya Kiran dapat balasannya di umur tujuh belas tahun.
"Sumpah, gila! Elo tau gak sih pas lo bilang tuh anjing ada di dalem rumah. Gak gataunya pas kita nengok udah ada anjing lagi lari, dan, dan, ahahahaha. Gila! Beneran apes, Za gue sama elo!" Kiran bercerita tentang kronologi barusan, dengan tawanya yang terbahak. "Thanks banget yaa, Za. Sumpah malem ini beneran gila!" Kiran melompat saat itu juga, tangannya seketika melingkar di leher Eza, kepalanya kini berada di sebelah kepala Eza.
Eza terkejut. Pelukan yang sangat tak terduga. Menyadari Kiran yang melompat seperti itu Eza meraih pinggangnya, agar cewek yang lebih kecil darinya itu tidak terjengkang karena sesaat tubuhnya bergelayut dengan tangan yang masih di leher Eza.
Kiran melepaskan pelukannya dan kembali berdiri santai, tidak tau betapa sulitnya Eza menata partikel-partikel hatinya yang berserakan. Cewek itu kini malah meninju pelan bahu Eza. "Udah sana beli minum. Aus juga ternyata."
Eza menurut, ia berjalan menuju warung dan membeli dua minuman jeruk botol. Lalu kembali pada Kiran yang menunggu di motor. Eza melemparkan minumannya yang dengan sigap di tangkap Kiran.
Mereka meneguknya bersamaan, dalam sekali teguk, minuman berwarna orange itu tinggal tersisa sedikit. Kini keduanya sedang istirahat sebentar duduk di motor sebelum melanjutkan perjalanan.
"Ran.." panggil Eza saat keduanya tengah terdiam.
"Apa?"
"You're the one and only."
Kiran menoleh terkejut saat mendengarnya. Eza juga ikut menoleh menyadari gerakan Kiran. Eza tersenyum sebentar melihat ekspresi Kiran. "Gue gak pernah ketemu cewek kayak lo." lanjutnya.
Dahi Kiran mengerut pertanda bingung. "Emang gue cewek kayak apa?"
"Gila!"
Kiran seketika melotot dengan jawaban Eza yang hanya satu kata itu. Awalan yang manis. Pernyataan yang terlalu jujur. Tapi Kiran menyukainya.
***
Malam ini kamar Ilham begitu ramai dengan suara dari play station serta dua orang yang sedang menghuni di dalam kamar itu. Tanpa ada rencana sebelumnya, tiba-tiba Regan dan Rizky malam ini berencana menginap di rumahnya. Hanya karena Rizky memiliki kaset ps terbaru dan Ilham memaksa meminjam, dan ajang paksa memaksa itu berujung dengan Rizky dan Regan yang menginap disini.
Rizky asik tidur-tiduran di tempat tidur king sizenya Ilham, sambil mencomoti ciki kentang yang disediakan oleh Ilham. Meski saat itu hanya di tiduri satu orang, tempat tidur Ilham sukses acak-acakan oleh sampah sampah makanan Rizky.
Sementara itu, Ilham dan Regan begitu serius bermain playstation, mata mereka tak lepas dari televisi besar yang berada di samping tempat tidur Ilham. Tangan mereka begitu kuat memegang stik ps tersebut, beberapa kali mereka menggerakan tangannya saking gemas oleh permainan.
"Ham, cikinya abis nih. Ada lagi gak?" Rizky membalikan badannya yang semula terlentang menjadi tengkurap. Agar bisa melihat pada Ilham yang sedang serius.
Ilham dengan segera mempause permainan karena ia yang memegang kendali atas stik satu. Tak ayal Regan memberontak kesal.
"Kok di pause?"
"Bentar. Gue mau liat keadaan kasur gue yang kayak abis kena bencana alam." Ilham mengggelengkan kepalanya melihat keadaan tempat tidurnya. Benar benar hancur, seprainya sampai terlepas, tak tau bagaimana cara Rizky berbaring sampai segitunya. "Rizky gue gamau tau kasurnya beresin, sampahnya pungutin, seprainya benerin!" Ilham berteriak kesal.
"Selaw sih, Ham. Udah sana maen lagi aja. Eh, tumben lo gak bareng genk lo?" Rizky kembali berbaring dengan santai.
Ilham mendengus dan kembali bermain. "Kalo gak di beresin, elo tidur di toilet!" Tandas Ilham masih kesal. "Yakali kepengen ngumpul mulu, lagian si Kiran lagi jalan sama gebetannya yang entah siapa itu, Arbis udah pasti mantengin apartemin Karin tau si Kiran minggat, dan-"
"s****n si Arbis! Gue beneran gak bisa bergerak kalo Karin di tempelin mulu gitu. Oh, Tuhan! Masih adakah harapan agar hamba dan Karin bersatu? Singkirkanlah Arbis sejauh-jauhnya agar Karin bisa menjadi milikku." Rizky memotong cepat, dengan gayanya yang dramatis Rizky mengangkat kedua tangannya seraya berdoa. Ia berdoa sekeras mungkin, namun tak di hiraukan oleh Ilham dan Regan yang menganggapnya sama sekali tidak penting.
"Kalo Sayna?" Regan mengingatkan soal penjelasan Ilham yang tadi sebenarnya akan menceritakan soal Sayna.
Ilham diam sebentar nama itu, lalu beberapa saat ia malah nyengir. Membuat Regan penasaran.
"Kenapa?" Regan tak kuasa menahan pertanyaannya melihat reaksi Ilham.
"Sayna pasti lagi ngomel-ngomel gak keruan gara-gara gak ada yang bantuin ngerjain tugas kelompok kita. Sebenernya sih giliran gue sama Sayna yang ngerjain tugas, berhubung gue lupa, ditambah hape gue daritadi mati, jadi.. yah, begitu deh haha." Ilham menjawab sambil tak kuasa menahan tawa. Otaknya sudah penuh dengan bayangan Sayna yang sedang mengamuk di kamarnya, frustasi dengan tugas yang seharusnya dikerjakan kelompok, malah di kerjakan olehnya sendiri.
Regan mengangguk-angguk, waktu SMP, dia pernah satu kelas dengan Sayna. Dan Regan paham, Sayna emang gak pinter, apalagi rajin. Ngerjain tugas individu aja Sayna ngomel terus, apalagi tugas kelompok yang di kerjain individu. Memikirkan cewek itu, tak kuasa Regan menahan senyum. Membayangkan Sayna sedang ngomel dengan semua orang di rumahnya. Regan hanya berharap Sayna di jauhkan dari benda benda pecah belah. Ah tidak- Regan terlalu over thinking. Anak manis kayak Sayna gak bakalan sebuas itu.
"Ya ampun gue lupa!" Ilham menepuk jidatnya, dan meletakan stik ps secara asal. Ia segera melompat ke tempat tidur mencari ponselnya. Mendorong Rizky yang sedang telentang di tengah-tengah tempat tidurnya.
"Ah elo maennya kacau, Ham. Lagi seru juga." Regan meracau kesal, ikut membanting stik ps.
Namun Ilham tak mendengar, ia terfokus pada ponselnya yang kini sedang ia sambungkan pada charger.
"Gue keluar sebentar yaa. Ntar malem maen lagi sampe pagi." Ilham segera berjalan menuju pintu di kamarnya, tanpa membawa ponsel. Karena tau ponsel itu lowbet parah. "Oh iya, feeling guesih, pasti Sayna dateng kesini buat ngomel -maksudnya minta bantu ngerjain tugas. Tolong handle ya, Gan."
Setelah berkata seperti itu, Ilham telah menghilang dari balik pintu kamarnya. Membuat Regan hanya menatapnya bingung. Siapa yaa yang dengan ngotot memaksa Rizky -yang kemudian Rizky memaksa Regan- untuk menginap disini? Dan sekarang? Siapa yaa yang malah kabur gak jelas dari rumahnya sendiri?
"Gue udah menduga kok, Gan kalo anak Klover tuh sakit jiwa semua. Elo gak usah aneh gitu liat kelakuan Ilham." Rizky berteriak santai, sambil mengunyah kripik singkong yang ia ambil dari atas laci Ilham.
"Gue tau kok." Regan ikut mengangguk paham.
Dan kali ini, otaknya sedang penuh dengan hal lain. Perkataan Ilham tadi, yang menyuruh Regan untuk menghandle Sayna. Regan tersenyum, meski bertemu setiap hari, rasa rindu Regan pada cewek itu sedikitpun tak pernah sirna. Selama ia tidak sadar siapa itu Regan -tapi Regan juga tidak mau Sayna menyadarinya.
***