- 51 -

1812 Kata
Kiran makin menganga mendengar penuturan Arbis kali ini. Dan demi apapun, ini perkataan Arbis paling panjang dan penuh perasaan sepanjang Kiran mengenal Arbis. Tapi perkataan Arbis ada benarnya, apa Kiran akan seperti itu jika nanti bertemu Rafa. Tidak. Untuk saat ini Kiran belum ingin bertemu Rafa. Kiran, belum siap. "Dalem banget, mas. Pengalaman ya?" tiba-tiba Karin muncul dari kamar, dan kini bersandar di ambang pintu kamarnya sambil menekuk kedua tangannya. Tatapan tak peduli namun meledek ia tunjukan pada Arbis. Arbis seolah tersadar saat melihat Karin. s****n! Kenapa sekarang gue gampang baper? Arbis meremas tangannya, merutuki ucapannya sendiri. Dan entah mengapa, Karin juga tidak suka mendengar ucapan Arbis tadi. Yang mengatakan: nunjukin ke dia kalo elo udah bisa ngelepas dia dan jalan sama yang laen. Tidak salah. Yang lain itu adalah Karin. Karin yang di jadikan pelarian saat peran utama tidak bisa bersama Arbis. Terlebih saat Arbis beberapa kali menunjukan bahwa Arbis masih sangat mencintai cinta pertamanya tersayang itu. Disini, Karin terlihat begitu menyedihkan. Berperan sebagai pacar Arbis tapi Arbis masih terlalu berharap pada sang mantan. Mengapa alur pacaran pura-pura mereka jadi semberaut? Dan kenapa, Karin harus peduli? "Pengalaman? Sama siapa, Bis?" Kiran mencairkan suasana saat Arbis dan Karin saat itu terdiam, sibuk dengan pikirannya. Arbis tak menjawab. Tidak tau harus menjawab apa. Tapi Arbis terkejut saat Karin yang menjawab dengan nada, jika Arbis tidak salah dengan, sinis. Atau Karin memang selalu berbicara sinis. "Mantannya lah." Kiran menepuk jidatnya, menyesali jawaban Karin. "Orang tuh kalo susah move on dari mantan, nah gue disebutnya apa? Jadian aja kagak kesampean." Kiran mendumel, meratapi nasibnya. Banyak kenalan cowok tapi belum pernah pacaran. "By the way, emang mantannya Arbis siapa, Rin?" Kiran berdiri, setelah memakai sepatu berwedgesnya dengan sempurna. Arbis menenggak. Melotot pada Karin. Tidak perlu di pelototi Karin juga mengerti. "Jangan tanya gue. Tanya sama orangnya." Karin berjalan menuju sofa, duduk disana dan tangannya meraih remote untuk menyalakan tv. "Lo gak bakal kenal!" Arbis segera menjawab saat tatapan Kiran beralih pada Arbis. Kiran cemberut. "Ternyata, ada juga yang pernah mau sama lo, Bis. Gue kira cuma si Karin aja yang lagi khilaf pas pacaran sama lo." Kiran nyengir penuh kemenangan. Dan mendapati dua pelototan dari Arbis dan Karin. Kiran langsung ngacir, membuka pintu lalu menuju lift. Saat pintu sudah tertutup dan Arbis mulai duduk disofa, pintu kembali terbuka. Menampakan kepala Kiran yang datang lagi. "Ngomong-ngomong, coba gue tebak. Mantan lo Tisya kan." Teriak Kiran. Tanpa menunggu bagaimana reaksi Arbis, Kiran sudah kembali pergi. Just it. Kiran kembali hanya untuk mengatakan itu. Arbis melongo. Kaget. Dan Karin biasa saja mendengarnya. Kontan Arbis melotot pada Karin. "Lo yang ngasih tau?" tembak Arbis, tanpa perlu basa-basi. Karin menoleh malas. "mereka gak buta. Mereka liat lo pelukan sama Tisya di UKS." jawab Karin. "Lagipula, kayaknya Kiran gak b**o-b**o amat buat narik kesimpulan." tambahnya. Lalu kembali berfokus pada siaran di televisi. *** Kiran beberapa kali mengerjap, memandangi tempat ini. Sebelumnya, Kiran belum pernah kesini. Bahkan Kiran tidak tau ada tempat seperti ini. Taman skatboard. Tempat para pecinta skatboard bermain pada arenanya. Beberapa lintasan penuh rintangan atau lapang ada disana. Tempat yang malam ini lumayan ramai, sampai parkiran penuh. Motor Eza sampai di parkir di tempat lain yang lumayan jauh darisini. Rata-rata, yang datang kesini membawa papan beroda itu. Dan kini Kiran melihat kelincahan mereka bermain diatas papan tersebut. Kiran menggaruk kepalanya bingung, ngapain juga Eza ngajak kesini? "Kita ngapain kesini sih? Emang lo punya papan yang kayak mereka apa?" Kiran menoleh, memperhatikan Eza yang bahkan tidak membawa apapun. "Papan gue di rumah. Lagi dipake nyuci sama Mama." Kiran memicingkan matanya, lalu seketika dengan sinis Kiran tertawa. "HAHA Lucu." tawa Kiran datar, terdengar kesal dengan gurauan Eza. Eza terkekeh melihat kelakuan Kiran. Bersama cewek ini, rasanya Eza tak dapat berhenti tersenyum. "Skat gue dibawa temen gue, kemanain yaa tuh anak?" Eza celingukan, lehernya memanjang, berusaha mencari temannya di taman ini. "Serius lo bisa?" Kiran menatap Eza antusias. Eza mengangguk. "Terus, ceritanya elo bawa gue kesini pengen pamer kalo lo bisa maen gituan?" Kontan Eza yang sibuk mencari temannya menoleh karena pertanyaan Kiran. Pertanyaan yang terdengar sinis justru malah mengundang tawa Eza saat melihat wajah Kiran seperti itu. "Enggak lah." jawab Eza, di iringi tawa kecilnya. Tangannya lalu menyentuh telapak tangan Kiran, menggenggamnya, lalu menarik Kiran untuk mengikuti langkahnya. "Kesono yuk, cari temen gue dulu." Kiran tersenyum melihat perlakuan Eza yang semula canggung. Dirinya di bawa lebih dalam memasuki area taman skatboard ini. Menyusuri pinggir jalan, karena takut tertabrak orang yang sedang bermain. "Gue cuma pengen ngajak lo, ke tempat yang belom pernah lo datengin." ucap Eza, di tengah jalannya mencari sang teman yang membawa skatboard miliknya. "Benerkan elo belom pernah kesini?" tambahnya, sambil menoleh pada Kiran yang matanya masih bergeriliya memandangi keadaan taman ini. "Ah, eh, tau darimana gue belom pernah kesini?" "Feeling aja." Mereka akhirnya bertemu dengan teman Eza. Eza segera meminta skat miliknya, lalu kembali berjalan mencari tempat yang enak untuk bermain. Dan Kiran jadi bingung, sementara Eza main dia cuma nonton gitu? "Dih, Za. Masa lo ngajak gue kesini cuma buat nontonin elo maen doang sih?" Kiran memprotes saat Eza sudah mulai bermain. Berjalan diatas papan beroda itu, dengan berbagai gaya, melompat-lompat lalu kembali lagi pada papan tersebut. Eza berhenti sejenak, dengan lihai kakinya menginjak skat lalu papan itu meloncat keatas dan ditangkap oleh Eza. "Mau gue ajarin?" tawar Eza. Sambil berjalan kearah Kiran yang daritadi ribut karena ditinggal maen. "Pengen sih, tapi ngeri ah." "Nanti gue ajarin, tapi gue keliling bentar yaa. Gatel kakinya nih." Eza kembali menaruh skat di bawah, dan sebelah kakinya mulai naik. "Elo tunggu sini yaa, jangan kemana-mana." "Dih, gue sendirian. Suruh bengong gitu?" Kiran siap memprotes. Namun dengan cepat Eza menimpali. "Sambil mikirin gue juga gapapa." dan setelah itu Eza melesat bersama skatnya. Kiran yang ditinggal, tak kuasa menahan senyum. Setiap ucapan Eza terdengar manis dan lucu. Apapun yang terjadi kemarin, Kiran benar-benar mensyukuri hari dimana ia bertemu Eza. Meski timingnya agak kurang bagus, apalagi saat Kiran tau-tau nangis dan cerita gak karuan. Tiga puluh menit Kiran menunggu, akhirnya Eza datang. Kiran tersenyum cerah melihat Eza yang kini datang dengan kaos tanpa lengannya yang kebesaran, padahal tadi Eza menggunakan kemeja panel. "Baju lo kemana?" Tak sempat menjawab, Eza malah menjatuhkan tubuhnya di sebelah Kiran. Tangannya merentang, matanya terpejam, Eza mengatur nafasnya. Tubuhnya berkeringat dan mengeluarkan aroma khas lelaki. "Capek juga udah lama gak maen skat." kata Eza, matanya masih terpejam. Kiran mengamati wajah Eza yang kelelahan seperti itu. Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat. Eza terlihat menarik dengan wajah kelelahan dan keringat bercucuran di wajahnya. Apalagi dengan mata terpejam seperti itu, dan ternyata bila di perhatikan Eza lumayan ganteng. Kiran terkekeh dengan pikirannya sendiri. "Tuhkan! Gue udah ditinggal setengah jam sekarang malah ditinggal tidur!" Kiran berteriak dengan tangannya mengguncang tubuh Eza. Mau tak mau mata Eza mulai terbuka, ia tersenyum tipis saat matanya menangkap sosok Kiran yang pertama kali dilihatnya saat ia membuka mata. "Sori-sori, abis tadi capek banget. Bangunin gue dong." Eza menangkat tangannya, seraya menyuruh Kiran untuk mengangkatnya. Kiran mendumel sebentar, lalu ia berdiri dan menarik tubuh Eza untuk bangun. Kini Eza sudah duduk. Mengatur nafasnya sebentar lalu ia berdiri. Eza mengelap dahinya yang berkeringat dengan punggung tangan. Melihat itu Kiran mengeluarkan sapu tangan dari dalam tas mininya. Kiran menyodorkan sapu tangan itu pada Eza. "Elapin dong." Eza menatap Kiran dengan pandangan meledek. Kiran tertawa melihat itu. Namun tak ayal akhirnya Kiran mengusap dahi Eza dengan sapu tangannya. Namun untuk beberapa saat, tangan Kiran terhenti saat pandangannya menangkap Eza yang memperhatikan wajahnya begitu lekat. Pandangan mereka bertemu, dalam beberapa detik mereka terdiam. Lalu Kiran yang tersadar lebih dahulu segera menurunkan tangannya. "Elap sendiri ah. Manja lo!" Kiran menyerahkan saputangannya pada Eza. Kiran memalingkan wajahnya kearah manapun asal tidak ke Eza. Namun Eza dapat melihat bagaimana pipi Kiran bersemu merah. Tetap seperti ini. Eza mohon. Meski belum memiliki hubungan yang jelas, saat ini, Eza merasa bahagia bersama Kiran. Ijinkan Eza mengenal Kiran lebih jauh, sebelum Kiran tau siapa dirinya. Sebelum Kiran menyadari bahawa dirinya adalah orang yang hampir setiap hari diceritakan sahabatnya, Sayna. "Mau belajar gak? Naek sini." Eza menunjuk pada papan skat yang sudah ia letakan di bawah. Kiran menatap papan itu sejenak, lalu dengan ragu sebelah kakinya mulai naik pada papan itu. Eza menyodorkan tangannya, sebagai pegangan Kiran untuk menaikan kakinya yang satu lagi agar tidak jatuh. Kedua kaki Kiran kini dengan sempurna berpijak pada papan skat. Tentunya setelah melepas wedges yang di pakainya. Tangannya bertumpu pada kedua tangan Eza yang memeganginya. Eza dapat merasakan pegangan tangan Kiran mengencang karena Kiran mulai ketakutan saat Eza sudah menuntunnya agar skatnya jalan. Sementara roda yang berada di bawah papan itu bergulir, kaki Kiran yang menopang tubuhnya di atas papan malah bergetar karena takut. "Tenang aja, gabakal gue lepasin sebelum lo bisa." Eza menenangkan, dan ucapannya bagai sugesti yang seketika membuat Kiran yakin dan percaya pada Eza. Perlahan Kiran mulai berjalan dengan tenang, sesekali kakinya turun untuk menggerakan skatnya, sesuai intruksi Eza. Bahkan kini Kiran hanya berpegangan satu tangan pada Eza. "Coba, Za lepas. Gue pengen belajar jalanin sendiri." pinta Kiran yang mulai merasa sudah bisa. "Beneran?" Eza menatap Kiran ragu, sesungguhnya, Eza tak ingin melepaskan tangan itu. "Iya. Elah, elo mah kesempatan daritadi megangin tangan gue." Kiran melirik pada tangannya, menatap Eza meledek. Eza terkekeh. s**l, ketahuan kan. Tanpa menyaut Eza pun melepaskan tautan tangannya dengan Kiran. Kiran mulai bermain pelan-pelan, dengan Eza yang selalu mengikutinya dengan berlari pelan, takut Kiran jatuh. Dan dugaannya benar, kaki Kiran terlalu ke belakang sehingga papan menjadi oleng dan menjungkal. Kiran panik, dan untungnya Eza ada di dekatnya. Belum sempat Eza menangkap Kiran, tangan Kiran dengan segera menangkap bahu Eza. Kiran yang mau terjatuh kakinya sedikit tertekuk, sehingga menarik kepala Eza untuk membungkuk. Hanya deruan nafas Kiran yang terdengar masih shock akibat ingin jatuh. Dan seketika Kiran baru sadar akan posisinya yang seperti memeluk Eza. Detak jantungnya seketika meningkat, berada sedekat ini dengan Eza. Kiran bahkan lupa bahwa tadi dirinya hampir jatuh dari skat. Mengapa hari ini benar-benar sinetron sekali? Kiran membenarkan posisinya begitupun Eza. Lalu Eza mengamati kaki Kiran yang tadi sempat tertekuk. "Kaki lo gapapakan?" Kaki Eza menekuk, untuk melihat kondisi kaki Kiran. Takut Kiran keseleo. "Gapapa kok, Za. Beneran, cuma kaget aja tadi." Kiran membungkuk, untuk menarik Eza berdiri. Karena tidak enak di perhatikan orang. Eza berdiri lalu mengambil skatnya yang terbalik. Dan menghampiri Kiran yang duduk di pinggir untuk memakai kembali sepatunya. "Masih jam delapan. Lo mau kemana?" Eza ikut duduk di sebelah Kiran, kepalanya melirik jam tangan di pergelangan tangannya. "Guesih bebas. Ikut aja. Ambil baju lo dulu tapi. Bau ih keteknya keliatan gitu." Kiran menutup hidungnya, memperlihatkan ekspresi kebauannya. Eza nyengir. "Iya iya." Eza mengacak rambut Kiran , membuat Kiran cemberut karena rambutnya acak-acakan. Namun saat tangan itu menyentuh puncak kepalanya, hati Kiran malah merasa nyaman. *** Dari taman skat tadi mereka kini berjalan di jalanan yang sepi. Di kiri kanan mereka memang ada rumah, hanya saja rumah ala perkomplekan tentunya jam segin sudah tertutup semua. Dan hanya ada Kiran dan Eza yang berjalan di kesunyian malam ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN