50

1803 Kata
"Arbisssss!!" Teriakan Kiran sukses membuat Sayna dan Ilham, bahkan Tisya, menoleh kearah pintu kelas. Dimana Arbis baru saja melangkahkan kakinya disana. Arbis sedikit terkejut dengan antusiasme teman-temannya, yang seketika berlari kearahnya dan tak segan untuk memeluk Arbis. "Elo kemana aja, b**o!" Sayna mengomel dengan suara melengking yang jarang sekali terdengar, pertanda ia sangat gemas pada Arbis. "Abis bertapa di gunung Kelud ya lo?" Sambar Kiran asal, tangannya meninju pelan bahu Arbis. "Gue hampir aja ngajak ribut si Angga kalo elo gak balik-balik juga." Ilham pun turut ambil suara, namun ucapannya sukses mengundang pandangan mengerikan dari Kiran dan Sayna, serta Arbis yang mulai menatapnya serius. "Apa?" Wajah innocent Ilham mengernyit bingung, saat di lemparkan tatapan seperti itu. "AWW!!" Ilham menjerit histeris, saat kedua kakinya diinjak secara bersamaan oleh Kiran dan Sayna. Ilham mundur beberapa langkah, terduduk di meja terdekat, mengangkat kakinya yang terasa perih, tak tanggung-tanggung. Dua-duanya, Kiran ama Sayna emang gak jelas. Emang Ilham salah apa? "Dasar b**o! Perjanjiannya sama Karin kan jangan bahas itu lagi pas Arbis balik. Nanti kalo Arbis ngilang lagi gimana?" Kiran menghampiri Ilham dan berbisik, namun suaranya tetap terdengar di telinga Arbis. "Eh, kapan Karin ngasih taunya? Gue gak tau!" Ilham membela dirinya, setelah mengingat tak pernah mendapat peringatan seperti itu dari Karin. Kiran dan Sayna berpandangan, lalu mengangguk paham. Sambil nyengir tidak jelas, dan mundur pelan-pelan agar tidak disadari. "Oh iya, gue baru ngasih tau Sayna." Kiran nyengir, mengangkat tangannya berbentuk peace. "Yaudah, anggep aja barusan kita ngasih tau." Sayna menambahkan. Arbis tersenyum melihat kelakuan taman-temannya. Selalu ada-ada saja. Mungkin dulu, saat Arbis terpuruk ia tidak punya siapa-siapa. Tapi sekarang, ia memiliki teman-teman yang mengkhawatirkannya. Yang selalu membuat Arbis tersenyum karena ulah mereka. Tidak salah Arbis sangat menyayangi mereka. "Udahlah, duduk yuk, Bis. Mau bel nih, gue punya cheesecake loh." Sayna segera menarik Arbis, untuk berlindung dari Ilham. Sayna hafal betul tabiat Ilham yang pendendam. Pasti ia akan membalas. "Aaaa mau cheese cake. Elo beli apa dari dia, Na?" Kiran berlari mengikuti, tinggalah Ilham yang masih mengamati kakinya yang terlindung dibalik sepatu. Gila, kaki cewek-cewek itu tajem juga, kaki Ilham masih terasa nyut-nyutan. Akhirnya Ilham berusaha turun dan menghampiri bangkunya. Sayna mengeluarkan sekotak cheesecake dari laci mejanya, meletakan di atas meja. "Dari dia. Pagi-pagi udah mejeng aja di laci meja gue." Saut Sayna, menanggapi pertanyaan Kiran. "Gue bilang juga apa, diatuh cenayang, Na!" Seru Kiran heboh. Arbis yang tidak mengerti tentang 'dia' yang di maksud Kiran dan Sayna itu siapa menggaruk kepalanya bingung, tapi tak ayal Arbis juga mencomot cheesecake yang sudah terbuka dengan asal dan memasukan ke mulutnya. Kebetulan Arbis emang belom sarapan. "Dia siapa sih?" Suara Arbis baru saja terdengar, setelah sedari tadi tak berbicara. Ilham yang baru datang langsung mencomot cheesecake milik Sayna, dengan penuhnya makanan di mulut, Ilham berusaha berbicara. "Ehm, umthung adha imni." Bletakk.. Botol minum Kiran, yang entah sudah berapa orang pernah merasakan menempel di kepalanya, kini sukses menggetok kepala Ilham. Ilham meringis sebal sambil menatap Kiran seolah ingin menerkam. "Apa? Telen dulu baru ngomong. Noh guesih cuma mau nawarin air. Gue baik kan? Pasti lo gapunya air minum kan?" Kiran buru-buru berbicara, sebelum di amuk Ilham. Tak ayal Ilham meneguk botol minum Kiran, setelah melotot kesal pada Kiran. Setelah makanannya tertelan dan tidak nyangkut di tenggorokan, Ilham menutup botol Kiran dan menaruhnya di atas meja. "Mau niat baik aja pake nyiksa orang dulu," sunggut Ilham sebal. "Ini kepala, Ran!" Kiran memeletkan lidahnya. "Gue kira bola baseball, gue kan mau latihan mentung." "Dia siapa, Na?" Arbis mengulangi pertanyaan yang belum di jawab. "Ituloh secret admirer Sayna, kemaren-kemaren ngasihnya coklat. Yang kata kita makan di Uks." Kiran yang menjawab dengan antusias, sedang Sayna hanya menganggukan kepala membenarkan ucapan Kiran. Bletakk.. Botol minum Kiran memakan korban lagi, kali ini sang empunya yang menjadi sasaran. Kiran mengusap kepalanya sambil menatap Ilham gusar. "Yang ditanya kan Sayna, kenapa elo yang jawab!" Ilham buru-buru menyela sebelum Kiran mengomel. "Guekan mewakili! s****n, kepala gue sakit pea!" Kiran masih meringis, mengusap-usap kepalanya. "Oh itu kepala, gue kira bola baseball, guekan mau latihan mentung." Kiran melotot mendengar jawaban Ilham, sedang Arbis dan Sayna tertawa mendengar ucapan Kiran di balikan seperti itu. Wajah Kiran yang mulai merah padam, seolah dari hidungnya keluar uap panas, siap untuk mengomel pada Ilham. Namun buru-buru Arbis menyambar cheesecake Sayna dan menjejalkannya di mulut Kiran. "Makan dulu, Ran. Nanti keburu abis." Arbis nyengir setelah memasukan cheesecake kemulut Kiran, membuat mulut Kiran tersumpal dengan ekspresi yang tidak bagus. Tatapan kesal Kiran kini gantian menatap Arbis. Arbis segera mengangkat kedua jarinya, dan disambut tawa oleh mereka bertiga. Sedang Kiran masih bersunggut sebal. Klover itu ada empat. Jika kehilangan salah satunya pasti suasana tidak terasa lengkap. Klover. Persahabatan sederhana dengan tingkat keanehan diatas rata-rata. Meski bahkan arti nama Klover saja mereka tidak tau. Tapi mereka mengerti arti kebersamaan yang terjalin di persahabatan kecil mereka. *** Eza: Ran Kiran: Apa? Eza: kaki lo kenapa? Kiran: hah? Kaki? Gapapa. Sakit lo yaa, tiba tiba nanya kaki. Eza: bisa jalan? Kiran: bisalah! Eza: oh, oke. Gue otw rumah lo, ganti baju sana Kiran: hah? Senyum Kiran mengembang, begitu lebar, tak kuasa menahannya saking geli dengan chat-annya bersama Eza. Kiran geleng-geleng kepala sama tingkah Eza, meski pertamanya rada bingung. Siapa yang gak bingung coba, kaki gak kenapa-napa ditanyain. Kiran sampe meriksa kakinya saking bingung. Kiran yang sedang rebahan di sofa segera bangkit, masih dengan senyum mengembang di wajahnya. Belakangan ini Kiran emang makin deket sama Eza, meski belum ketemu lagi sejak bolos bareng. Tapi Kiran dan Eza sering berkomunikasi lewat chat bbm atau line, malah tak jarang malam-malam Eza menelpon Kiran. "Gila lo yaa, cengar-cengir gitu." Karin bergidik ngeri saat menoleh pada Kiran yang baru saja memasuki kamar. Kemudian tatapannya kembali pada notebook yang ia taruh di atas bantal. Sambil duduk bersandar di atas kasur, Karin mengisi malam ini dengan bermain sosial media. Sebenernya lagi ngestalk twitter Regan, tapi saat menyadari Kiran masuk ke kamar, buru buru Karin close time line Regan. Ternyata Karin stalker juga. "Gue di ajak jalan dong." Kiran berseru girang, meski ini bukan kali pertama Kiran di ajak jalan sama cowok. Tangannya kini sibuk mencari baju dari lemari kayu yang berada disudut kamar. "Guesih ogah diajak jalan, pegel." "Garing err." Kiran memandang Karin sejenak. Lalu kembali fokus pada lemarinya. Karin tak menjawab. Malas menanggapi celotehan Kiran. Mencoba kembali fokus pada notebooknya, ponsel Karin malah bergetar, menandakan ada telepon masuk. Karin melirik ponsel yang tergeletak asal di kasurnya tanpa minat, dan semakin tak berminat saat melihat siapa si penelepon. "Apasih?" Saut Karin malas, mau tak mau akhirnya ia mengangkat telpon itu. Hanya satu orang yang berhasil membuat moodnya turun seketika. No wonder. Arbis. "Gue depan apartemen lo nih, tumben amat pintunya di kunci. Bukain dong." Karin menghembuskan nafas beratnya. Arbis memang tak mengijinkan sedikit saja hidup Karin tenang tanpa gangguannya. Wait, padahal kemarin Arbis menghilang dan tidak mengganggu Karin sama sekali, tapi faktanya Karin tidak sujud syukur dan menikmati hari-hari tenangnya. Ia malah khawatir tak karuan dan mencari Arbis. Dan menjemput si pengganggu hidupnya. Karin memang sulit dimengerti. "Ran, temen lo depan noh. Bukain pintu sana." Karin sedikit menjauhkan ponselnya, memanggil Kiran yang sedang bercermin. Tapi Arbis masih mendengar suara Karin. Dan dengan cepat Arbis menyela. "Gue nyari pacar gue bukan si Kiran tau!" Arbis berteriak, nyaris membuat Karin terkejut saat hendak menaruh ponselnya di dekat telinga. Detik itu juga Karin memutuskan sambungan. Dan diluar Arbis hanya terkekeh dengan kelakuan Karin. "Si Arbis yaa? Gila juga bacot tuh orang, teriak di telpon sampe kedengeran." Kiran menanggapi sambil memoleskan sedikit bedak baby pada wajahnya. Kiran mengambil tas mini yang tergantung di belakang pintu, lalu keluar dari kamarnya. Sebelum memakai sepatu Kiran membuka pintu terlebih dahulu, tidak tega membiarkan Arbis berdiri disana. Dan saat pintu terbuka tubuh Arbis yang sedang menyender pada pintu seketika oleng dan jatuh kedalam rumah Kiran. "Huaaa." Arbis berteriak saat tubuhnya tidak stabil. Kiran yang ada disana sama sekali tidak ada niatan untuk menangkap Arbis, nanti malah jadi sinetron. Kiran membiarkan Arbis dengan sukses jatuh di lantai dengan posisi yang gak banget. "Ahahaha, nasib lo emang selalu jatoh, Bis!" bukan menolong, tentu saja, Kiran malah mentertawakan Arbis dengan renyah. Arbis misuh-misuh sambil berusaha berdiri. Dan dengan cekatan menjitak kepala Kiran. Kiran meringis sebentar sambil memegangi kepalanya. "Mau kemana lo? Rapih amat." tanya Arbis, tangannya membersihkan celananya yang sedikit berdebu. Kiran tersenyum sebentar, lalu matanya berubah berbinar. Lalu dengan gayanya yang super heboh ia langsung memeluk Arbis sambil mengguncang tubuh Arbis. "Huaaaa Arbis! Lo tau gak akhirnya gue bapernya gak lama-lama. Cowok yang boleh nemu di taman ternyata bisa bikin gue move on dari Rafa. Ya ampun gue ganyangka semudah itu, hiks." Kiran melepaskan pelukannya, dengan gaya super lebay Kiran seolah menghapus air mata yang bahkan tidak keluar sebagai tanda bahwa ia terharu. Arbis menatap Kiran dengan tatapan -sumpah temen gue emang freak banget- lalu kemudian tertawa pelan. Dan baru menyadari apa arti dari omongan Kiran. "Berarti kemaren lo emang ga ada rasa apa-apa sama Rafa." Arbis menanggapi saat Kiran sedang duduk di lantai, memakai sepatunya. Kiran menoleh pada Arbis. Menggeleng. "Kalo gue gak ada rasa apa-apa, gue gak bakalan girang tiap kali Rafa ngasih gue perhatian yang nunjukin kalo dia peduli sama gue. Kalo gue gak ada rasa apa-apa, pasti rasanya gak bakalan sesakit kemaren pas Rafa dengan gampangnya malah nyodorin undangan saat gue nyatain perasaan gue. Dan gue juga gak bakal nangis sesenggukan semaleman, bahkan berusaha buat tegar, dan mangkir kalo gue ini gak kenapa-napa karena toh cuma di tolak. Gue udah pernah ngalamin. Tapi nyatanya gue kenapa-napa. Tapi, yaudalah udah lewat. Jangan sampe gue baper lagi ah." Kiran mengibaskan tangannya setelah mengakhiri pembicaraan soal perasaannya kemarin. Benarkan ia sudah benar-benar move on? Tapi, mengapa masih sesakit ini saat ia kembali bercerita tentang hal itu. Seolah, Kiran belum bisa mengikhlaskannya. Arbis tertegun, selama ini Kiran memang berusaha terlihat tegar, bahkan Kiran sama sekali tidak cerita soal kejadian ini pada Klover. Kiran tidak ingin mengungkit, Kiran seberusaha mungkin terlihat seolah tidak terjadi apa-apa. Seolah hal itu biasa, bukan hal besar. "Yakin move on?" tanya Arbis, ketika melihat wajah Kiran saat berbicara tadi seolah air mukanya berubah. Kiran mau tak mau kembali menoleh pada Arbis. "Silahkan lo bilang lo udah move on sama gue kalo lo ketemu dia setelah kejadian itu dan perasaan lo, biasa aja." Kiran tertegun dengan pertanyaan Arbis. Terlebih saat mata Arbis mulai menerawang. Jauh. Seolah bukan lagi membahas topik Kiran dan Rafa. "Kalo nanti elo ketemu dia dan perasaan lo masih sakit kayak dulu, masih gak ikhlas, berusaha nyari pelarian, dan nunjukin ke dia kalo elo udah bisa ngelepas dia dan jalan sama yang laen, tapi disisi laen sebenernya lo masih berharap banyak, berharap bisa ngubah takdir, berharap bisa baca apa yang dia pikirin sampe bisa-bisanya ngambil keputusan kayak gitu. Dan elo, akan seberusaha mungkin nahan diri buat gak meluk dia dan ngebangun benteng pertahanan supaya gak jatoh. Berarti lo belom bener-bener move on."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN