Regan tak langsung menjawab, ia sedang berpikir, entah Kiran memang perhatian atau hanya sekedar kepo.
"Cuma mimpi buruk biasa, Ran. Lo tumben maen ke perpus. Pagi-pagi gini lagi." Regan berusaha mengalihkan topik, seolah enggan membahas topik ini. Ia sangat tidak menyangka bisa kepergok seperti itu oleh Kiran. Kepergok sedang bermimpi itu lagi, mimpi buruk yang selalu menggerayangi Regan sejak lima tahun belakangan ini.
"Cih." Kiran mencibir, menyadari Regan berusaha mengalihkan topik. "Yaa gue emang sekedar kepo sih, Gan. Apalagi gue udah liat lo kayak tadi, gue pasti bakal nuntun penjelasan. Gak mungkin mimpi buruk biasa. Gue gak bakal pergi sebelum lo jelasin. Seenggaknya, mungkin lo bisa lega, gak ngerasa mikul beban sendirian." Meski di awal Kiran mengatakan kepo, tapi sesungguhnya Kiran memang tidak tega melihat Regan seperti tadi. Dan baru kali ini Regan melihat Kiran sedewasa tadi. "Omaygat, senengnya bisa mikul beban bareng Regan. Gue bakal ceritain ini sama Sayna dan Karin. Kalo Ilham ama Arbis pasti gak mau dengerin."
Regan terkekeh, baru saja Regan menganggap Kiran sedikit dewasa, ternyata sikap ekspresif Kiran takkan pernah bisa terlepas.
Menghembuskan nafas, Regan pun mengangkat kepalanya, menoleh pada Kiran. Mencoba meyakinkan diri. "Oke."
Kiran tersenyum cerah, lalu kemudian tangannya kini menopang dagunya. Bergaya senyaman mungkin untuk mendengarkan cerita Regan. Regan agak terkekeh dengan gaya Kiran yang seperti itu.
"Seperti yang tadi gue bilang, itu cuma mimpi buruk." Regan menghela nafas sebentar. "Mimpi buruk yang bikin gue susah tidur sejak lima tahun yang lalu."
Kiran agak sedikit terkejut mendengarnya, namun ia sama sekali tidak menyela. Hanya matanya yang seolah bertanya kenapa?
"Kecelakaan itu. Gue selalu mimpiin kecelakaan itu." Regan menggelengkan kepalanya, mengingat kejadian itu lagi. "Dulu, gue pernah punya.. em enaknya dibilang apa yaa? Adek-adekan gitudeh, atau sahabat, em tepatnya tetangga. Umur dia satu tahun di bawah gue. Dia lucu, gue selalu suka cara dia cerita tentang masalah di sekolahnya. Tentang dia yang lagi musuhan sama temen-temennya, lo taulah musuhan anak sd kayak gimana?
"Yep, waktu itu gue baru kelas satu SMP, dan dia kelas enam SD. Karena faktor tetanggaan, kita emang akrab, terlebih dia manja banget sama gue. Mungkin dia emang nganggep gue kakaknya, tapi dia yang emang masih polos pernah bilang suka sama gue. Lucu banget." Regan berhenti sejenak, lalu tersenyum mengingat kejadian itu. Regan tak pernah lupa, bagaimana gadis kecil dengan rambut yang selalu di kuncir satu itu dengan riang dan polosnya mengatakan suka terhadapnya.
*
"Kakk! Ajarin aku dong, seminggu lagi aku UN." gadis itu melempar buku-bukunya di ruang tengah rumah Regan. Dengan wajah cemberut karena malas berkutat dengan materi UN. "Sebenernya aku males belajar, kalo gak dipaksa Mama. Makanya aku bilang aja mau belajar sama Kakak." Gadis itu nyengir, membuat Regan juga ikut tersenyum.
"Belajar aja males, gimana kamu mau lulus. Ayok, kita belajar." Regan membuka buku pelajaran gadis itu. Menatapnya serius, memperhatikan soal-soal yang pernah di pelajarinya setahun yang lalu.
"Aku seneng punya kakak." Gadis itu tiba-tiba bicara, setelah memperhatikan wajah Regan yang serius menatap soal. "Kakak itu pinter, ganteng lagi. Kakak baik sama aku, sering jajanin aku, dan mau nolongin aku kalo di gangguin sama anak-anak nakal, kakak selalu jagain aku. Kalo udah besar nanti, aku mau jadi pacar kakak."
Regan seketika menoleh mendengar ucapan gadis itu. Dengan nada yang begitu tenang dan terdengar polos bagi anak sepantarannya. Namun Regan tersenyum saat melihat wajah itu.
"Tapi kakak gak mau jadi pacar kamu. Soalnya kamu itu males belajar." Regan tersenyum jahil sambil mengacak rambut dia.
Gadis itu cemberut. "Siapa bilang aku males belajar? Aku mau kok belajar, tapi yang ngajarinnya kakak."
"Kamu yaa, masih kecil pinter banget ngerayu."
"Huh, kakak sok tua. Padahal kan umur kita cuma beda satu tahun."
*
Regan tersenyum getir, mengingat kejadian itu. Gadis itu sangat lucu, polos, dan Regan sangat menyayanginya. Entah sebagai apa.
"Sampe akhirnya, pas dia selesai UN gue pernah janji sama dia buat ngajak jalan-jalan. Kebeneran gue baru bisa naek motor waktu itu. Sebenernya dia agak ragu, dan nyuruh gue buat jalan-jalan pake mobil aja sama sopir. Tapi, yaa namanya juga baru bisa naek motor. Jadi pengennya naek motor terus.
"Gue benci bagian ini, pas gue kejebak macet di jalan karena lampu merah, banyak banget kendaraan di jalan itu. Gue yang emang baru belajar motor, agak kagok karena ramenya jalanan. Mendadak gue bingung dan lupa caranya ngendarain motor dengan tenang. Motor gue agak oleng, dan gue bisa ngerasain gimana tangan dia mulai meluk gue kenceng banget. Dia pasti ketakutan. Dan, bener aja, karena gue gak fokus liat jalanan, tiba tiba ada truk yang nyalip motor gue. Kita jatoh. Gue ketimpa motor, dan dia mental ke jalanan depan."
Regan menghentikan ucapannya, matanya menerawang pada kejadian mengerikan itu. Berulang kali Regan menggeleng, membuat Kiran jadi panik.
"Gan.." Regan menyentuh tangan Regan yang sudah dipenuhi keringat dingin. Berusaha menenangkan, sekalian modus dikit. Kapan lagi bisa kesempatan pegang-pegang tangan Regan.
"Darah." Itu kata pertama yang kembali di ucapkan Regan. Suranya bergetar. "Ditengah jalan, badan dia kegeletak di penuhin darah. Darah itu ngalir dari kepalanya, kepalanya, Ran." Regan menelan ludahnya yang terasa kasar. "Badannya juga lecet semua, dan hampir semuanya ngeluarin darah. Meski gue ketimpa motor, gue masih sadar dan bisa ngeliat dia. Ngeliat dia yang di penuhin darah itu. Dia.. dia.." kepala Regan menggeleng, tenggorokannya seakan tercekat untuk kembali melanjutkan ceritanya. Lagi-lagi wajahnya berkeringat seperti saat Regan bangun tidur tadi.
"Udah, Gan udah. Gue ngerti.." tangan Kiran semakin menggenggam erat tangan Regan. Kiran menjadi tidak enak memaksa Regan untuk kembali bercerita. Regan tampak sangat trauma dengan kejadian itu. Kiran hanya bisa menebak, mungkin gadis itu sekarang sudah tiada, dan Regan sangat menyesal dengan kejadian itu. Meski Regan mengatakan bahwa ia seperti adiknya, Kiran tau, pasti Regan mencintai gadis itu. Dan Kiran paham, alasan Regan putus dengan Sesil, karena mungkin hingga detik ini Regan belum bisa mencintai gadis lain selain gadis itu.
"Wuih, pantesan tumen-tumbenan si Kiran betah di perpus. Lagi sama Regan ternyata, s**l lo, Ran gak ngajak-ngajak."
Kiran menoleh saat mendengar suara yang di kenalinya. Kiran dan Regan pun menenggak, melihat Sayna yang sedang berdiri di dekat rak buku. Regan buru-buru mengubah aura traumatiknya, cukup Kiran yang mengetahuinya.
"Aelah, ganggu lo, Na. Lagi seru nih, kapan lagi gue bisa pegang-pegangan gini sama Regan." Kiran mengangkat tangannya yang masih menggenggam Regan.
"Mau nyebrang kali pegangan." Cibir Sayna. "Balik ke kelas, si Arbis belom dateng noh. Gak masuk kayaknya."
Kiran pun berdiri dengan malas, meski sebenarnya khawatir juga dengan Arbis. "Gue gak ngerti sama masalah tuh anak, tapi kemaren itu bukan Arbis banget sih." Kiran mendekati Sayna, tidak bisa di pungkiri, jika Kiran sudah bertemu dengan Sayna pasti kerjaannya ngerumpi. Tapi Kiran teringat dengan Regan, lalu menoleh. "Gan, gue ke kelas yaa. Lo gak ke kelas? Bareng yuk."
"Regan gak asik, yang di ajak mojok Kiran doang. Gue ikutan kek." Sayna mulai ikut-ikutan menggoda Regan.
Regan tersenyum melihat kelakuan mereka berdua. "Duluan aja, gue mau pinjem buku dulu."
"Oke, duluan, Gan."
"Thanks ya, Ran."
Kiran membalas dengan tersenyum manis. Dan Sayna langsung menatap Kiran bingung, sambil berbalik dan berjalan menjauh darisana, Sayna bertanya. "Elo abis ngapain sama Regan, kok dia pake bilang thanks segala?"
"Ish kepo! Itu privasi gue dan dia, gak enak kalo di umbar." Kiran tersenyum jail.
Sayna hanya mencibir.
"Eh, lo dapet coklat lagi gak?" Kiran mengalihkan topiknya.
"Dapet dong." Sayna tersenyum bangga.
"Lo bilang dong, besok-besok kirimin cheesecake gitu. Sakit gigi coklat terus." Kiran masih aja usaha mengubah hadiah dari secret admirer Sayna.
"Lo pikir dia cenanyang, kalo gue bilang kepengen cheesecake langsung tau. Eh tapi cheesecake boleh juga sih, hari minggu beli yuk."
Cheesecake.
Dia tersenyum mendengarnya, entah ini kebetulan atau apa, tapi setiap kali Sayna ingin protes dengan hadiahnya tanpa sengaja dia mendengarnya. Yaa, mungkin besok coklat itu akan berubah menjadi cheesecake. Apapun akan dia lakukan asal Sayna senang, karena hanya ini yang bisa ia lakukan, memberikan sesuatu kepada Sayna secara sembunyi-sembunyi, karena tak ingin menyakiti gadis itu lagi. Cukup memantaunya dari jauh, karena jika ia berhasil dekat lagi, ia takut gagal menjaga Sayna.
Regan memang tidak becus.
***
Sudah tiga hari Arbis tidak masuk sekolah. Klover serasa tidak lengkap, yang awalnya seperti roda mobil ada empat, mendadak menjadi roda becak yang hanya tiga. Dan hari-hari mereka, menjadi tidak menyenangkan karena selalu kepikiran soal Arbis.
Kiran, Ilham, Sayna, bahkan Karin, sudah berulang kali ke rumah Arbis. Tapi Arbis tidak ada disana. Ibu tiri Arbis mengatakan Arbis tidak pulang sejak tiga hari yang lalu, tepatnya sejak kejadian di UKS tempo hari. Dan Klover tidak pernah tau tempat mana yang di tuju Arbis.
"Sya, sebenernya hubungan lo sama Arbis itu apa? Elo tau sekarang Arbis ada dimana? Lo kenal Arbis sejak kapan? Biasanya dia itu kemana kalo lagi ada masalah kayak gini? Lagian sebenernya masalahnya itu apasih? Terus masalahnya antara elo sama Angga juga apa? Serius deh, Arbis gak pernah kayak gini sebelumnya."
Jika kalian mengira yang melontarkan kalimat itu adalah Kiran, kalian salah. Itu Sayna yang bertanya. Sayna yang biasanya bicara tidak sepanjang itu, mendadak jadi wartawan karena tingkat kekhawatiran yang sudah memuncak. Pagi itu Tisya serasa disidang, di kelilingi oleh Ilham, Kiran, dan Sayna.
Tisya tetap bungkam, menatap ngeri pada ketiganya. Bahkan semua pertanyaan Sayna satupun tidak ada yang dijawabnya.
"Plis deh, lo gak usah GTM kayak gembong n*****a gitu deh!" Kiran berteriak kesal karena Tisya tetap diam.
"Eh, GTM apa, Ran?" Ilham menoleh bingung dengan singkatan Kiran.
"Gerakan Tutup Mulut, gimana sih, lo gak pernah denger polisi di wawancara apa?" Jawab Kiran keki.
Ilham cuma manggut-manggut, lalu ikut kembali menatap Tisya. "Sya, lo bener-bener gak tau Arbis dimana? Dia gak ngabarin lo?" Ilham bertanya lebih kalem, karena biar bagaimanapun Ilham kan cowok, gak lucu kalo ikutan ngelabrak kayak Kiran dan Sayna. Seenggaknya, biar keliatan lebih wibawa dikit.
"Eng, enggak. Arbis gak mungkin ngabarin gue. Emang gue siapanya." Barulan Tisya membuka mulut, dan di sambung dengan petikan jari Kiran.
"Nah! Itu dia. Itu pertanyaan gue. Elo siapanya Arbis? Kenapa bisa-bisanya di UKS kalian peluk-pelukan. Dengan elo yang nangis, Arbis yang emosi. Sebenernya ada apa?" Tak jauh beda dengan pertanyaan Sayna, Kiran ikut mempertanyakan soal masalah itu.
Brakk..
Pintu kelas XI IPS 4 terbuka dengan kencang, hampir semua anak di kelas itu menoleh ke pintu karena terkejut. Ternyata yang berdiri di ambang pintu adalah Karin. Tanpa mempedulikan tatapan anak di kelas XI IPS 4, Karin berjalan menghampiri meja di mana Klover minus Arbis berkumpul.
"Lo tau rumah neneknya Arbis yang di Depok?" Karin menerobos Klover yang berkumpul mengerubungi Tisya. Sama seperti Klover, Karin ikut melontarkan pertanyaan pada narasumber satu-satunya. Karena sangat tidak mungkin Angga dijadikan narasumber.
Tisya agak terkejut dengan kehadiran Karin, pacarnya Arbis. Pasti dia juga khawatir dengan menghilangnya Arbis. Batin Tisya. Ada perasaan tidak enak menyelimuti Tisya, biar bagaimanapun Arbis sekarang sudah punya pacar. Dan Tisya malah membuat keadaan runyam, sampai semua khawatir pada Arbis.
"Ng, tau." Jawab Tisya akhirnya.
Karin menghembuskan nafas lega, lalu menoleh pada Kiran. "Kunci mobil mana?"
Kiran berjalan menuju bangkunya, merogoh isi tasnya, lalu memberikan kunci mobil pada Karin.
"Anterin gue kesana." Karin menarik pergelangan tangan Tisya, memaksa Tisya untuk bangun dari sana.
Tisya menahan diri, agar tidak terbawa Karin. Ia menggeleng lemah. Matanya terlihat meminta maaf.
"Kenapa lagi?" Kiran nyaris membentak karena gemas dengan Tisya. Untung saja Ilham berusaha menahan amarah Kiran.
"Angga.."
Karin mengangguk paham, cewek ini pasti takut dengan Angga. "Oke, gue bakalan ijin sama Angga. Lo ikut gue." Karin tetap menarik tangan Tisya. Dan kali ini Tisya tidak menahan. Mau tak mau ia mengikuti Karin.
"Lo mau cabut, Rin?" Tanya Kiran, saat Karin sudah di ambang pintu.
"Iya. Ijinin gue sama guru piket." Jawab Karin singkat.
***