- 48 -

2116 Kata
Tisya yang jatuh terduduk mencoba berdiri, namun tangannya yang bertumpuan pada lantai, tiba-tiba sepatu Angga yang berada di dekatnya dengan tepat menginjak tangan Tisya. Berat tubuh Angga yang seluruhnya bertumpuan pada kaki membuat tangan Tisya terasa panas, di tambah lagi tajamnya alas sepatu Angga. "Ahh.." Tisya meringis, berusaha menarik tangannya. Namun kaki Angga seolah sengaja enggan beranjak darisana. Angga malah semakin kuat menapaki tangan Tisya. Arbis melihatnya. Bagaimana Tisya merintih kesakitan. Berusaha menarik tangannya. Namun Angga berpura-pura tidak sadar. Ia masih saja berdiri di atas tangan Tisya. Arbis menggeretakan giginya, saking menahan emosi. Tangannya sudah terkepal kuat. "Ga, tangan ak.. ku.." suara lirih Tisya terdengar, masih berusaha menarik tangannya. Bahkan Arbis dapat melihat, mata Tisya mulai berair. Menahan tangis karena perih yang ia rasakan. Tanpa ragu Arbis maju beberapa langkah, mendekat Angga. Dengan mata yang sangat merah dan nafas memburu, tangan yang sudah terkepal kini mencengkram kerah kemeja Angga, mendorongnya kebelakang agar menjauh dari Tisya. Bugh.. "b******k! Lo sengaja nginjek dia! Lo bilang dia cewek lo!" Setelah memberikan jotosan tepat di wajah Angga, Arbis menggeram pada Angga. Tangannya belum terlepas dari kerah kemeja Angga. Arbis mulai kalap. Ia tidak terima Tisya di perlakukan seperti itu. Keributan di luar terdengar sampai kedalam UKS. Membuat Ilham, Sayna, serta Kiran keluar darisana. Betapa terkejutnya mereka saat melihat Arbis yang sedang mencengkram kerah Angga, serta ada Tisya yang masih terduduk sambil menangis. Dan yang membuat mereka semakin tidak mengerti, apa hubungan antara Arbis dengan Angga dan Tisya. Bahkan mereka tidak tau Arbis mengenal Angga. "Arbis!" Kiran berteriak, terkejut melihat Arbis yang dengan kuat tangannya masih memegangi kerah seragam Angga. Cengkraman Arbis mengendur, menyadari ada teman-temannya. Arbis menghembuskan nafas beratnya, ia lupa jika ada teman-temannya di dalam. Arbis mundur beberapa langkah, membiarkan Angga menghirup nafas bebas. Menyadari Angga sudah ingin maju selangkah, untuk menghampiri Tisya, Arbis bergerak lebih cepat. Ia melihat Tisya yang baru saja berdiri, segera Arbis sambar tangan itu, menariknya dengan cepat. Membuat Tisya mau tak mau mengikuti langkahnya. Angga melotot melihat Arbis membawa ceweknya, sedang Kiran, Sayna, dan Ilham semakin menatap Arbis tak mengerti. "Bis.." Sayna memanggil ketika Arbis melewatinya. Tanpa menggubris ketiga sahabatnya, Arbis memasuki UKS dengan masih menyeret Tisya. Arbis membanting pintu UKS, lalu terdengar suara Arbis mengunci pintu itu. Dan tak lama, Angga menggedor pintu UKS. "Bis, lepasin. Sakit.." Tisya mengerang, berusaha menarik tangannya yang masih di cengkram Arbis. Arbis baru tersadar, lalu melepaskan tangannya. Arbis menatap mata sendu milik Tisya. Bahu itu berguncang pelan, pertanda dia menahan tangis. Arbis memegangi pelipisnya, bertahun-tahun sudah Arbis membangun pertahanan, akhirnya runtuh juga melihat kelakuan Angga terhadap gadisnya. Arbis tak akan membiarkan siapapun, siapapun menyakiti Tisya. "Bilang sama gue, dia ngancem lo apa?" Tanya Arbis, terdengar pelan, seperti desisan. Tisya menggeleng, ia menggigit bibir bawahnya. Tisya tidak bisa memberitahu Arbis. Arbis menghembuskan nafas sebal. Menarik nafas, di luar kendali Arbis akhirnya membentak Tisya. "DIA NGANCEM LO APA? NGOMONG SAMA GUE!" Bentak Arbis, membuat Tisya seketika mematung. Ia tak pernah melihat Arbis semarah ini. Mata Tisya yang masih memanas kembali menangis, kakinya lemas, membuat ia kembali terjatuh lunglai di atas lantai. Tangisnya pecah, bahkan Arbis mendengar dengan jelas isakan gadis itu. Arbis semakin frustasi, ia tidak pernah tau akar permasalahannya itu apa? Bagaimana bisa Tisya berada di cengkaraman Angga? "Gue udah bilang, gue gak bisa ngasih tau." Tisya menjawab pelan, namun Arbis masih bisa mendengarnya. Arbis berjongkok, menyamai posisi Tisya. Matanya mengunci pandangan Tisya, jauh di dasar hatinya, seberusaha apapun Arbis tidak peduli, Arbis justru sangat peduli terhadap Tisya. Kedua tangan Arbis menyentuh bahu Tisya yang bergetar. Seketika bahu itu menjadi diam, hanya nafasnya yang belum teratur. Arbis menatap Tisya getir, meski tidak tau apa yang selama ini di pendam Tisya, tapi Arbis tau pasti itu berat. "Jangan sama dia. Gue bisa ngelepas lo sama siapapun asal jangan sama dia.." Arbis berbisik pelan, suara seraknya menggema di telinga Tisya. Tisya mendongak, menatap mata itu. Mata yang sangat di rindukannya. Darah Tisya sekan bersesir mendengar penuturan Arbis, jadi selama ini Arbis masih sangat peduli dengannya? "Gabisa.." Tisya semakin lirih. Bukannya Tisya betah, Tisya juga ingin bebas dari Angga. Hanya saja tidak bisa sekarang, atau Arbis yang menjadi taruhannya. Arbis menghembuskan nafas yang entah sudah keberapa kali sepanjang hari ini. Perlahan, Arbis menarik Tisya kedalam pelukannya. Di rengkuhnya tubuh cewek itu, dengan lembut, membiarkan cewek itu mengurai tangisnya di d**a Arbis. Arbis tak ingin melepaskan pelukan ini, Arbis sangat merindukannya. Jika di ijinkan, Arbis ingin waktu di hentikan untuk beberapa saat. Ijinkan Arbis memeluk gadisnya lebih lama. Brakk! Pintu UKS terbuka, hasil dobrakan Angga tentunya. Tangan Angga terkepal melihat pemandangan di hadapannya. Bagaimana Arbis memeluk Tisya dengan erat. Bagaimana cewek itu tak ingin lepas dari pelukan Arbis. Kedua insan yang seakan di takdirkan untuk happy ending. Cih, jangan harap. Selama Angga masih bernafas, Angga tak akan membiarkan semua itu terjadi. Angga menendang Arbis dengan kencang, sampai pelukannya dengan Tisya terlepas. Bahkan kini Arbis terlempar ke sudut ruangan. Tubuhnya yang tidak siap menerima dorongan sukses membentur tembok. Tisya menjerit, hendak menghampiri Arbis, namun saat melihat mata Angga yang mulai kesetanan, langkah Tisya terhenti. Ia tak ingin Biama terluka lebih dalam. Melihat kejadian itu, Kiran menahan nafas, Sayna menutup mulutnya, sedang Ilham seketika maju menghampiri Angga, tidak terima sahabatnya di perlakukan seperti itu. "Woy! Lo bisa lebih sopan gak? Ada masalah apa sama sohib gue?" Ilham tanpa pikir panjang segera mencengkram kerah Angga, sudab berniat ingin menjotoskan tangannya ke wajah itu. Namun Angga malah menoleh kearah Arbis. "Apa lo bakal ngelibatin sahabat tercinta lo kali ini dalam masalah kita? Guesih fine aja." Angga berbicara santai, tanpa ada niatan melawan Ilham. Ilham ikut menoleh pada Arbis, lalu Ilham dapat melihat Arbis menggeleng. Tangannya masih sibuk memegangi kepalanya yang barusan terbentur tembok. "Ham.." Arbis mengangkat dagunya, memberi isyarat agar Ilham mundur. "Tapi, Bis." Ilham masih tidak terima dengan keputusan Arbis. Arbis berdiri, menarik Ilham darisana. Membuat ia kembali berpandangan dengan Angga. "Jangan pernah sentuh satupun temen temen gue!" Desis Arbis, kemudian keluar darisana. Menerobos Sayna dan Kiran yang masih berdiri mematung. Semua kejadian yang berlangsung barusan, baik Ilham, Sayna, maupun Kiran, tidak ada yang mengerti. Bahkan mereka tidak tau Arbis mengenal Angga dan Tisya sampai sejauh itu. Mereka tidak tau ada hubungan apa antara Arbis dan Tisya. Satu yang mereka dapat tarik kesimpulan, mungkin mereka semua orang-orang dari masalalu Arbis. Masalahnya, ternyata mereka baru sadar, jika selama persahabatan mereka berlangsung, mereka sama sekali tidak tau latar belakang satu sama lain. Tidak ada yang pernah membuka cerita tentang kisah kelam atau apapun yang terjadi di masa lalu. Mungkin baru Kiran yang belakangan ini menceritakan soal Gusur. Atau hanya Sayna yang selalu membahas topik Eza? Tidak. Itu hanya sebagian kecil dari masalalu mereka. Dan Ilham pun sama sekali tidak menceritakan apapun sama halnya dengan Arbis. Banyak kejadian di masalalu mereka, yang tidak mereka saling ketahui. Akankah persahabatan ini bertahan tanpa adanya kepercayaan? Akankah mereka dapat percaya untuk menceritakan apapun kisah mereka? Atau mereka hanya akan menganggap, masalalu biarlah berlalu, tanpa mereka sadari semua itu akan berpengaruh terhadap masa depan mereka nantinya. Tanpa mereka sadari, bahwa nantinya yang akan menghambat jalan hidup mereka adalah masalalu itu sendiri. Karena sesungguhnya, masalalu itu belum terselesaikan. *** Sepanjang perjalanan menuju ke sekolah Kiran tak henti-hentinya mengeluh, memprotes pada Karin yang berangkat sekolah sepagi ini. Karena mobil yang mereka miliki hanya satu, mau tak mau Kiran mengikuti Karin untuk berangkat pagi. Sangat disayangkan, stok tukang ojek Kiran sekarang sedang menipis. Tentunya karena tragedi Rafa, Kiran menganggap ingin serius dengan Rafa sehingga ia tak lagi menjalin hubungan tidak jelas dengan banyak cowok. Tapi nasib baik memang belum berpihak pada Kiran. "Noh liat, Rin. Polisi aja belom pada jaga. Nah kita udah berangkat. Kurang kerjaan banget kali." Kiran masih mengoceh, dengan pandangan kesamping, yang biasanya terdapat polantas di samping lampu merah. "Arbis hari ini masuk?" Kebiasaan Karin, tak pernah mempedulikan omongan lawan bicaranya. Karin malah mengalihkan topik. Tentu saja berita soal Arbis yang berkelahi dengan Angga, serta berbagai adegan drama sampai terjadinya peluk-pelukan antara Arbis dan Tisya, sudah sampai di telinga Karin. Sejak pulang sekolah kemarin, di perjalanan pulang, Kiran menceritakan dengan heboh perihal kejadian itu. Sebenarnya Kiran ingin memprotes juga, Karin kan pacar Arbis, ngapain juga Arbis peluk-pelukan sama Tisya? "Gatau. Gak ada kabar soalnya. Gue bbm malah ceklis, sms gak terkirim, nelepon gak nyambung, mention juga gak di bales, ngeline malah gagal." Karin tak lagi menanggapi, ia memfokuskan diri pada jalanan yang sebenarnya belum terlalu ramai. Dalam diam Karin berpikir, dan mungkin untuk kali pertama Karin memikirkan soal Arbis, bukan berpikir tentang betapa menyebalkannya Arbis, tapi Karin seperti khawatir. Karin tahu persis betapa sentimentilnya Arbis jika masalalunya telah diusik. Mobil mereka sudah memasuki area sekolah, bahkan di parkiran masih sedikit kendaraan yang terparkir. Tanpa sadar saat keluar dari mobil Karin mencari mobil Arbis. Tidak ada. Mungkin Arbis bawa motor. Langkah Karin pun berlanjut di parkir motor, tidak ada juga. Entah ini terlalu pagi, atau memang Arbis tidak masuk. "Widih, si Regan udah nangkiring aja motornya disini. Mungkin emang penyakit orang pinter kerajinan kali." Disebelah Karin, Kiran mengoceh saat melihat motor Regan. Karin agak terkesiap, bahkan ia tak memperhatikan itu. Biasanya Karin selalu memperhatikan apapun yang berhubungan dengan Regan, sepertinya otaknya memang sedang konslet karena masih pagi sudah memikirkan Arbis. Mereka berpisah saat sampai di koridor, kelas Karin dan Kiran yang memang berjauhan. Kiran dengan santai melenggang menyusuri koridor yang masih sepi. Pasti kelasnya juga masih kosong. Mungkin hanya ada beberapa anak yang tugas piket yang datang sepagi ini. "Hey, gue boleh minta tolong gak?" Kiran menoleh saat menyadari seseorang ternyata berbicara dengannya. Rupanya ketua osis yang super repot. Dan saat ini, di radius sepagi ini, sang ketos membawa buku lumayan banyak di tangannya. Hampir mirip nerd, untungnya tampangnya gak jelek jelek amat. "Kenapa?" Tanya Kiran, merasa kasihan dengan kerepotan sang ketos. "Bawain buku-buku ini ke perpus dong. Masih ada sesuatu yang harus gue urus." Pandangan Rendy, ketua osis, terlihat penuh harap. Dan sangat berharap Kiran mau menolongnya. "Sini." Kiran mengulurkan tangan untuk menerima buku-buku dari tangan Rendy. Meski Kiran gak ngerti si Rendy ini ngeberesin buku sebanyak ini darimana. Rendy tersenyum lega, lalu mengulurkan buku-bukunya pada Kiran. "Thanks." Ucapnya, lalu berlalu dari sana. Dengan jalan yang tergesa, kembali menuju ruang osis. Tanpa menaruh tas, Kiran berjalan menuju perpustakaan yang berada di lantai tiga. Lumayan juga pagi-pagi olahraga. Sesampainya di lantai tiga Kiran ngos-ngosan. Menarik nafas sejenak, lalu Kiran melanjutkan langkahnya menuju perpustakaan yang berada di ujung. Gimana anak SMA Paramitha gak pada males ke perpustakaan, tempatnya gak strategis gini. Aroma buku-buku menguar ketika Kiran memasuki perpustakaan. Ada seorang penjaga perpus yang duduk di belakang mejanya. Kiran menghampiri meja tersebut. Dan sialnya, Kiran malah keterusan di mintai tolong. Buku-buku yang tadi Kiran bawa malah disuruh taro sesuai katagori. Karena jarang banget ke perpustakaan, Kiran bener-bener bingung dengan kategori buku-bukunya. Saat sedang menaruh buku, mata Kiran menangkap seseorang seperti tertidur di salah satu meja yang berada di pojokan perpustakaan. Kiran yang emang kepo pun menghampiri meja itu, siapa juga yang pagi-pagi ke perpustakaan ternyata buat tidur. Agak terkejut, mata Kiran membesar ketika melihat orang itu. Hampir Kiran berteriak histeris seperti biasanya jika tidak ingat ini adalah perpustakaan. Itu Regan si ganteng yang pinter, baik hati, dan tidak sombong. Batin Kiran mulai heboh. "Mor.." "Ngh.. ngh.." Ucapan Kiran terhenti saat melihat sekujur tubuh Regan terlihat kaku. Dalam tidurnya, Regan terdengar melenguh. Wajahnya yang sedikit terlihat, tampak di banjiri keringat. Pelipis Regan begitu basah, dengan wajahnya yang kini pucat. Dan tak henti-hentinya Regan melenguh, seperti sedang mimpi buruk. Kiran terkejut melihat Regan yang seperti itu, sangat berbeda dengan Regan yang biasanya tenang. Entah apa yang sedang di impikan Regan, yang dapat Kiran terka pastilah itu bukan mimpi baik. "Gan." Tangan Kiran menyentuh dahi Regan untuk mengetahui suhu tubuh Regan. Dan ternyata keringat yang membanjiri wajahnya adalah keringat dingin. Seketika Regan tersadar saat merasa ada yang menyentuh kepalanya, gerakan Regan yang refleks begitu terkejut. Dan saat Regan sudah duduk tegak, nafasnya masih terdengar tidak teratur. Matanya terlihat memerah, itu benar-benar bukan Regan yang biasa Kiran lihat. "Lo gapapa?" Tanya Kiran, tangannya menyeret bangku dari salah satu meja untuk mendekat pada Regan. Regan tak langsung menjawab, ia masih mengatur nafasnya. Matanya seolah masih menerawang soal mimpinya barusan. Tangan kanannya kini memijat pelan pelipisnya, Regan tampak seperti kelelahan. "Minum dulu nih, elo kayak shock gitu." Kiran mengeluarkan botol minum dari tasnya, menyodorkan pada Regan. Regan menyambutnya, lalu meneguk botol minum Kiran. Setelah menghabiskan setengah dari isi air di botol minum Kiran, barulah Regan mulai bisa menatap Kiran dengan tenang. "Thanks." Regan tersenyum, mulai seperti biasanya. Senyuman manis yang menambah tingkat ketampanannya. Kiran balas tersenyum, namun matanya tak lepas memandang Regan. Seolah mencari sesuatu dari wajah itu, mengorek sesuatu dari manik mata Regan. "Kenapa?" Regan yang merasa risih dengan tatapan Kiran membuyarkan pandangan Kiran. "Harusnya gue yang nanya. Lo kenapa?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN