Brakk..
Arbis menggebrak pintu UKS, lalu segera menutupnya karena siapa tau guru kepo itu mengikutinya. Menyadari ada yang datang, Ilham membuka salah satu tirai yang menutupi ranjang uks. Arbis segera menghampiri tirai tersebut.
"Gila, si Santo punya dendam apa coba sama gue?" Arbis mengoceh sambil berjalan menuju teman-temannya.
Kiran dan Sayna cekikikan mendengar curhatan Arbis. Bukan rahasia umum kalo Pak Santo merupakan guru yang paling benci dengan kehadiran genk meresahkan ini.
"Di apain lo sama dia?" Tanya Kiran, yang duduk berdampingan dengan Sayna di ranjang seberang Ilham duduk. Mereka membuka tirai ranjang ini, agar menjadi lebih lega.
"Omongan gue disautin semua. Bener bener parah, hampir stres gue ngomong sama dia."
Sayna, Ilham, maupun Kiran tertawa mendengarnya. Ditambah melihat tampang Arbis yang segitu frustasi. Arbis sampai mengusir Ilham dari ranjangnya, menyuruh pindah karena Arbis akan berbaring disana.
"Bis, mau coklat gak?" Sayna menawarkan coklat yang sedang di makannya bersama Ilham dan Kiran. Tidak salah, itu coklat dari pengagum rahasianya.
Coklat yang di kirim ke Sayna bukan coklat silverqueen yang gak rela buat di bagi-bagi, tapi sekotak coklat yang dengan tingkat ketebalan lumayan yang bakalan bikin sakit gigi kalo di makan sendirian. Makanya Sayna memakannya bersama ketiga temannya.
"Woy, mau dong." Arbis segera bangkit dari rebahannya, lalu meloncat keranjang sebelah. Dimana ada Kiran dan Ilham yang sedang rebutan coklat.
Tangan Ilham yang sudah ingin memasukan coklat ke mulutnya tiba-tiba Arbis menyelanya, di tariknya tangan Ilham hingga memutar menuju mulut Arbis. Alhasil coklat yang tadinya ingin dimakan Ilham menjadi di makan Arbis.
Dan posisi itu, tanpa sengaja terfoto oleh Sayna yang semula ingin selfie. Dan Sayna sedikit terkejut saat melihat hasil jepretannya.
"Omaygat, Ran. Are you see them?" Sayna heboh mengguncang Kiran.
Semula Kiran bingung, lalu kemudian mengerti. "The mean is, they are bromance omaygat!" Kiran ikut berseru heboh, menyadari gerakan Arbis yang mengundang pikiran negatifnya.
"Gue dapet fotonya tadi gak sengaja."
"Oh ya, gece share instagram."
"Okesip."
"Hey!" Arbis dan Ilham yang baru menyadari menyentak bersamaan. Berniat untuk merebut ponsel Sayna, lalu Kiran menghalangi mereka dengan badannya. Menjadi tameng Sayna selama Sayna men-share foto aib keromantisan Arbis-Ilham.
"Eh, Na jangan gitu dong. Gak enak kalo mantan gue liat. Bisa turun derajat gue." Ilham memprotes, dengan tangan yang berusaha mendorong tubuh Kiran.
"Bagus dong, jadi mereka bersyukur putus sama lo. Karena lo gak normal haha." Sayna tertawa begitu renyah, dengan mata yang tak lepas dari ponselnya.
"Woy, nanti Karin pingsan liatnya."
"Itu lebih bagus, gue juga kurang setuju lo sama Karin." Kiran menyauti omongan Arbis. "Gara-gara lo jadian sama Karin, gue jadi gak bisa meres si Rizky lagi tau." Lanjutnya. Masih tetap menghalangi Ilham dan Arbis untuk melindungi Sayna.
"Oke selesai." Sayna tersenyum bangga setelah menyelesaikan tugasnya.
Ilham dan Arbis lemas seketika. Hancurlah sudah image mereka sebagai cowok maco. Sedangkan Sayna dan Kiran malah sibuk bertoast ria sambil terus cekikikan.
"Elo sih, Bis. Ngapain juga nyuap coklat dari tangan gue." Ilham menyalahi Arbis.
"Guekan cuma iseng."
"Emang lo gak normal kali ah." Kiran terus menggoda Arbis dan Ilham. Senyum jail tak luput dari bibirnya. Efek sakit hati di tolak Rafa tak lagi membayanginya karena beberapa kejadian hari ini yang cukup menyenangkan. Dengan pagi yang di habiskan bersama Eza, serta kebersamaannya bersama Klover. Mereka memang istimewa. s**l, gue mulai kayak cherrybelle. Gumam Kiran.
Tokk tokk..
Suara pintu UKS terketuk, membuat mereka heboh seketika. Ada yang datang, dan dengan buru-buru Klover yang tadinya berkumpul di dekat satu ranjang mencar. Kiran dan Ilham seketika meloncat untuk pindah keranjang sebelah, lalu pura-pura tidur layaknya orang sakit. Begitupun dengan Arbis dan Sayna. Namun ada yang salah disini, mereka tidur berhimpitan satu ranjang, dengan Arbis dan Sayna lalu Kiran dan Ilham.
Sayna yang menyadari lebih dulu, dengan gerakan cepat kakinya menendang Arbis. "Lo ngapain tidur sama gue, kita malah disangkai ngapa-ngapain pea! Pindah sono ama Ilham." Sayna mengoceh, dan tendangannya berhasil membuat Arbis jatuh dari ranjang. Bunyi gedebuk karena benturan tubuh Arbis dengan ubin terdengar dengan jelas.
"Ah iya, dasar Ilham b**o. Kesempatan lo yaa tiduran sama gue." Kiran yang baru sadar langsung bangkit dan melompat, berniat pindah ranjang.
Karena terburu-buru, loncatan Kiran tidak mendarat dengan sukses, ia malah terjatuh menimpa Arbis yang baru saja akan bangun, dengan tangan yang memegangi pingganya yang sakit karena jatuh dari ranjang. Dan kali ini, malah ditimpa Kiran. Oh, hari ini Arbis benar-benar s**l.
"Kiraan! Sayna! Badan gue remuk!" Arbis berteriak kesal karena ulah kedua teman ceweknya ini.
Srekk..
Hordeng yang menutup kedua ranjang uks itu terbuka, menampakan seorang siswa yang kini berdiri di ambang hordeng. Arbis dan Kiran yang berada di lantai awalnya melihat pada sepatu convers yang melekat pada kaki jenjangnya. Ketika menenggak keatas, bersamaan, Kiran, Ilham, dan Sayna menghembuskan nafas lega saat melihat siapa yang berdiri disana. Hanya Arbis, yang detik itu juga malah menahan nafas, karena lagi-lagi melihat wajah itu.
"Kalian lagi apa?" Tanya Tisya, sedikit bingung dengan keadaan di balik hordeng ini. Arbis yang berada di lantai, dan Kiran yang juga terduduk disana. Bukan itu point yang penting, tapi Tisya lebih memperhatikan bagaimana wajah kesal Arbis yang tadi meringis, seolah semuanya tidak penting. Yang Tisya pedulikan hanya Arbis.
"Biasalah, kayak gak tau aja lo, Sya." Ilham yang menjawab, sambil bangkit dari rebahannya, dan terduduk di ranjang. "Lo sendiri ngapain? Emang gak ada guru?" Ilham lanjut bertanya.
Tisya melirik ponsel yang berada dalam genggamannya, lalu mengulurkan pada Arbis. "Hape lo, dari tadi geter terus. Kayaknya ada yang nelpon."
Arbis menyambarnya dengan cepat, lalu ia berdiri dan terduduk di ranjang tempat Sayna tiduran. "Minggir lo! Sono minggat, gara-gara lo berdua pulang-pulang gue musti ke tukang urut nih. Kayaknya gue kecengklak deh." Sama sekali tak menggubris ucapan Tisya, Arbis malah menarik Sayna untuk bangun dari sana.
"Cih, berasa bayi banget lo kecengklak. Suka gak inget umur." Cibir Kiran, seraya bangkit dari lantai dan duduk di sebelah Ilham.
Tisya diam, tak langsung bergerak. Ia mengamati Arbis sejenak. Yang di tatapnya hanya mengedarkan pandangan ke segala arah dengan asal. Asal tak bertemu pandang dengannya.
"Gue balik ke kelas yaa, have fun kalian." Tisya tersenyum pada Ilham, Sayna, dan Kiran. Lalu berbalik untuk keluar.
Kiran, Ilham, dan Sayna kini sibuk mengobrol. Sedang Arbis memeriksa ponselnya, yang di katakan Tisya ada yang menelpon. Sempat terkejut melihat nama Karin tertera di missed call-nya. Tapi kemudian Arbis teringat, ini masih perkara yang tadi. Entah Karin menelpon untuk minta maaf, atau kembali memaksa Arbis agar ikut olimpiade konyol itu.
Tak lama ponselnya kembali bergetar, masih nama Karin yang muncul disana. Arbis melirik ketiga temannya yang terlarut dalam obrolan seputar 'gebetan baru Kiran'. Arbis masih tak tau apa yang akan di bicarakan bersama Karin, takut menyinggung soal privasinya, Arbis memilih untuk keluar.
"Guys, gue ngangkat telepon dulu." Arbis turun dari ranjang, membuka hordeng dan keluar dari sana. Terdengar cibiran Kiran yang mengatai Arbis sok privasi. Sampai topik mereka bertiga berganti menjadi 'Arbis yang sok privasi'.
Arbis hanya tersenyum dengan kelakuan mereka. Ilham juga, yang noteband nya cowok, kalo udah gabung ama biang rumpi semacem Kiran dan Sayna, mendadak muncul sisi lainnya.
****
Tisya menutup pintu UKS dengan tenang, saat ia berbalik dan hendak kembali ke kelas, langkahnya terhenti mendadak. Tisya yang menunduk dapat melihat ujung sepatu cowok yang sangat di kenalnya itu, seketika jantungnya berdetak menyadari ia masih berdiri di depan ruang UKS.
"Kamu sakit?" Tanya Angga, diiringi senyum manis yang terasa mengerikan di mata Tisya. Bukannya tersirat rasa khawatir, tapi Tisya merasa Angga malah melirik ke UKS dengan pandangan menyelidik.
"Em, itu.. tadi." Sedikit gelagapan, Tisya menunjuk tidak jelas kearah pintu UKS. Apa akan aman jika Tisya berkata jujur? Bahwa ia baru saja mengembalikan ponsel Arbis.
Ceklek..
Pintu UKS terbuka, munculah Arbis yang kini berjalan keluar. Tidak terlalu memperhatikan keadaan, Arbis berbelok kearah kanan sambil terus berbicara serius dengan orang yang di telponnya.
Jantung Tisya mendadak berhenti berdetak, saat mata Angga menangkap sosok Arbis. Pandangannya berubah semakin mengerikan, menatap Tisya tanpa kedip.
Tisya mati kutu, tak berani menenggak. Ia hanya menunduk, menatap sepatu conversnya. Tangannya sibuk meremat ujung jari-jarinya. Tak tau ini akan menjadi bencana untuk dirinya atau Arbis.
"Abis dari dalem, sama Arbis, hm?" Tanya Angga, suaranya terdengar dingin dan mencekam.
Tisya menggeleng, dengan menggigit bibir bawahnya. "Tadi, ada temen temennya kok." Jawab Tisya, dengan suara yang bergetar. Nyaris tak terdengar, kalau saja Angga tak menajamkan pendengarannya.
"Jadi sekarang, kamu gabung sama genk dia?"
Lagi-lagi Tisya menggeleng, di interogasi seperti ini membuatnya ingin menangis.
Setelah mematikan teleponnya dengan kesal, Arbis berbalik. Dan sedikit terkejut saat melihat Angga bersama Tisya. Bukan itu, yang membuat Arbis terkejut adalah saat Tisya menunduk dengan tangan yang meremat, bahkan punggungnya teelihat bergetar, menandakan bahwa cewek itu sedang ketakutan.
"Hey, elo! Bisa jelasin kenapa cewek gue keluar darisana? Dan ada elo pula?"
Sedikit terkesiap, Arbis baru menyadari ternyata Angga sedang berbicara dengannya. Nada bossy dan posesif begitu kentara dalam penuturannya. Membuat Arbis muak dengan cowok itu.
"Lo bisa tanya dia langsung, dia ada di depan lo sekarang." Jawab Arbis setenang mungkin.
Lalu tangannya menggapai kenop pintu, bermaksud untuk segera kedalam dan tak ingin terlibat dengan urusan ini.
"b******k! Dia abis dari dalem sama lo! Gue udah pernah bilang, jangan deketin cewek gue!"
Gerakan tangan Arbis tertahan, mendengar desisan dari Angga. Emosinya seakan tersulut, setiap kali Angga dengan lantang mengatakan 'cewek gue' dalam setiap kalimatnya. Tidak perlu di ulang sampai berkali-kali, demi Tuhan Arbis tidak tuli, tapi hatinya seakan di remas saat di tunjukan kenyataan seperti itu.
Arbis membatalkan niatnya untuk masuk, tubuhnya kini menghadap Angga. Tatapan tajamnya di arahkan pada satu titik. Tatapan penuh kebencian.
"Gue gak pernah deketin cewek lo. Gak pernah." Ucapan Arbis lebih terdengar seperti desisan.
Angga menyunggingkan senyum miring, melihat Arbis yang serius. "Gue gak pernah percaya sama omongan lo. Gak pernah." Angga membalikan omongan Arbis. Membuat Arbis semakin geram. "Gue lebih percaya sama yang gue liat."
Tisya memejamkan matanya, merasa akan terjadi perselisihan di antata Angga dan Arbis lagi. Dan posisinya, Tisya kembali berada di tengah-tengah mereka. Maju selangkah, Tisya berusaha menggapai tangan Angga, bermaksud melerai. Karena tak mungkin Tisya menghampiri Arbis, pasti akan tambah runyam.
"Angga udah. Pliss.. aku mohon." Tisya berbicara dengan getir, menggenggam pergelangan tangan Angga.
Merasa risih, saat tangan Tisya menggenggamnya semakin erat. Berusaha untuk melerai, bahkan berusaha untuk menarik Angga darisana. Angga menarik tangannya dengan kasar, bahkan sampai terdorong Tisya dan terjatuh di sampingnya.
Arbis terkesiap. Urat-urat di lehernya kini mulai terlihat, melihat dengan jelas bagaimana kasarnya Angga dengan Tisya. Arbis maju selangkah, tangannya mulai terkepal. Ia tidak terima melihat Tisya sampai terjatuh seperti itu.
"Jangan kasar sama dia!" Geram Arbis, nafasnya memburu, matanya melotot hampir keluar.
Senyum Angga semakin lebar, begitu sinis. Melihat Arbis yang begitu emosi, ada kesenangan tersendiri bagi Angga. Mungkin Arbis mengatakan sudah punya pacar, tapi Angga tau persis bagaimana perasaan Arbis. Dan saat ini Tisya berada dalam genggamannya, menjadikan Tisya pion untuk menghancurkan Arbis. Hancur sehancur-hancurnya sampai tak tersisa.
"Gak usah urusin cewek gue. Urusin aja idup lo!" Balas Angga.