- 46 -

1762 Kata
"Saya akan menjelaskan mengenai kedatanganmu kesini, meski saya enggan untuk mengatakannya." Guru kimia berkacamata yang duduk di bangkunya berkata dengan wibawa yang begitu tinggi, namun terdengar jelas adanya nada kesinisan saat berbicara seperti itu. Dengan tatapan yang hanya mengarah pada Arbis. "Arbis, kamu akan mengikuti olimpiade cerdas cermat untuk menggantikan Angga yang harus mengikuti pertandingan basket di Bali." Pak Santo menjelaskan dengan tak mengalihkan tatapannya dari Arbis. Tatapan tajam untuk kaum anak-anak bengal semacam Arbis dan genk-nya. Mata Arbis membesar mendengar pernyataan Pak Santo. Seketika tubuhnya langsung tegak, dengan mata yang melotot menatap gurunya. "Gak. Bapak ini mau bunuh diri atau apa? Bapak tau saya kan?" Bantah Arbis, suaranya langsung meninggi. Bahkan urat-urat di lehernya sampai terlihat. Saat nama itu disebutkan, demi apapun, Arbis tidak ingin berhubungan dengan dia. Pak Santo mengatur suaranya yang agak serak karena batuk-faktor umur. "Saya tau. Sangat tau. Hanya saja, ada satu orang yang dengan antusias merokemendasikan kamu dalam tim ini. Meski saya ragu, tapi dia mengatakan kamu pasti bisa." Seketika Arbis menoleh pada Karin yang berada di sebelahnya. Mata Arbis sudah merah. Bahkan tangannya terkepal. Jadi ini ulah Karin? "Maksud lo apa?" Arbis langsung menatap Karin dengan geram. Tatapan itu lagi. Tatapan mengerikan yang sudah beberapa kali Karin lihat. Tatapan kesal bercampur keputusasaan. Sisi Arbis sebenarnya. "Gue cuma-" "Saya tidak akan mengikuti olimpiade konyol ini. Jika Bapak bisa berpikir rasional, harusnya jangan pernah menuruti apa kata orang." Mata Arbis tidak lepas dari Karin. Masih menatapnya dengan mata mengerikan itu. Berdiri dari duduknya, Arbis berbalik untuk keluar dari ruangan itu. Hal konyol apa yang sedang Karin rencanakan? "Kamu harus ikut. Karena meski saya tau ini tidak rasional, tapi dia telah membuat janji dengan saya. Bahwa kamu harus ikut atau Karina Nasya Mahira dikeluarkan dari sekolah." Langkah Arbis terhenti di ambang pintu saat mendengar pernyataan itu. Menelan ludah kasar, tangan Arbis terkepal lebih kencang. Karin sudah menceburkan diri terlalu jauh rupanya. Tanpa menjawab Arbis melanjutkan jalannya, diputarnya kenop pintu ruangan Pak Santo ini, lalu berjalan dengan cepat keluar. Dan tanpa sadar, Karin mengikutinya. "Bis, maksud gue-" Kari mengejar Arbis yang berjalan cepat. Dan seketika Arbis berbalik, membuat Karin menghentikan langkahnya secara mendadak. "Gue ngijinin lo tau, bukan berarti lo bisa bongkar semuanya!" Arbis membentak Karin, dengan suara yang cukup keras. Untungnya koridor sudah mulai sepi karena bel masuk sudah berbunyi beberapa menit yang lalu. "Cuma sekali ini. Atau gue bakal dikeluarin. Gue mohon." Nafas Arbis memburu. Dadanya terlihat naik turun. Matanya sudah sangat merah. "TERSERAH! Elo mau dikeluarin? GUE GAK PEDULI!" Tandas Arbis, menegaskan setiap kalimatnya. Lalu berbalik untuk kembali berjalan. Meninggalkan Karin yang masih mematung dengan sikap Arbis. *** Gemericik kucuran air keran ditangkap tangan Arbis, yang dengan segera digunakan untuk membasuh wajahnya. Rasa dingin kini menyapu wajahnya, mencoba untuk tidak terlalu menunjukan wajahnya yang kacau. Mata yang semula terpejam menikmati sapuan air dingin di wajahnya, perlahan mengerjap. Menenggak, Arbis menatap cermin yang berada di hadapannya. Bayangan dirinya muncul disana, dengan rambut kusut yang bagian depannya lusuh karena terkena air, matanya yang memerah, wajahnya yang menegang. Bukan. Dia bukan Arbis yang dikenal Klover. Bukan Arbis yang berpura-pura berpacaran dengan Karin. Bukan diri Arbis seperti dua tahun terakhir ini. Itu juga bukan Arbis dua tahun lalu, yang setidaknya hanya dingin dan tidak peduli apapun. Itu adalah Arbis yang kacau karena takut kehidupan tenangnya akan terusik. Itu adalah Arbis yang mulai memberontak dengan keadaan. Itu adalah Arbis yang benci karena munculnya masalalunya lagi, terlebih bukan untuknya. Itu adalah Arbis yang tidak ingin berurusan sama sekali dengan apapun yang berbau masalalunya. Arbis ingin melupakan semuanya, melepaskan semuanya, menbiarkan semuanya terbang bersama angin. Arbis ingin move on. Tapi, tidak semudah itu. Toilet cowok yang sepi membuat Arbis leluasa memandangi wajah mengerikannya itu. Sekiranya cukup, Arbis menutup keran air yang dibukanya. Arbis keluar dari toilet cowok, dan muncul di koridor yang sepi. Jam pelajaran sudah dimulai sejak setengah jam yang lalu, tanpa banyak berpikir Arbis segera berjalan menuju kelasnya. Mungkin kelakuan teman-temannya mampu mengangkat separuh beban pikirannya. Sesampai di depan kelas Arbis membuka kenop pintu kelas, dan seketika Arbis langsung menghembuskan nafas kesal ketika melihat guru yang bertengger di depan kelas. Guru itu. Lagi. s**l! Kenapa Arbis harus lupa jika ini adalah jam kimia. Dan, kenapa Pak Santo harus datang secepat ini, padahal tadi masih ada di ruangannya untuk membicarakan soal olimpiade dengan Regan dan Karin. "Masuk, Arbis." Ucapannya terdengar biasa, tidak mainstream seperti biasanya. Karena kali ini Arbis sendirian, tidak dengan komplotannya. Arbis yang masih berdiri di ambang pintu, karena melihat guru yang mengajar serta tidak adanya satupun temannya yang ada di kelas. Sudah pasti Kiran merencanakan bolos di mata pelajaran paling mem-tidak, maksudnya di pelajaran yang gurunya sangat membosankan, karena Klover selalu di awasi. "Eh, ada barang saya yang ketinggalan di-" "Barang apa? Tidak terlalu penting bukan? Bisa duduk sekarang agar pelajaran bisa dilanjutkan?" Pak Santo memotong omongan Arbis cepat, karena sudah hafal dengan maksud Arbis yang ingin menyusul teman-temannya. Arbis tak menjawab, ia berjalan dengan sepatu yang diseret seolah memberi kesan kemalasan. Baru beberapa detik Arbis menaruh tubuhnya diatas bangku, Pak Santo sudah berteriak lagi. "Isi bangku depan yang kosong. Pasti kamu akan tidur jika duduk di belakang sendirian." Perintah Pak Santo, seolah belum cukup menambah kejengkelan Arbis terhadapnya. Mata Arbis memandangi teman yang duduk sejajar dengannya, lalu memandang Pak Santo protes. "Yang laen banyak duduk di belakang, kenapa saya doang yang disuruh pindah?" "Karena kamu murid spesial dipelajaran saya." "Cih, manis banget. Jadi terharu." Arbis berdecak dengan nada sinis, namun akhirnya berdiri dengan menggemblok tas ranselnya. "Pindah kemana sih, Pak?" Tidak langsung bergerak, Arbis mengamati beberapa bangku depan yang kosong. Namun, pandangannya jatuh pada satu bangku yang kosong. Tidak. Tepatnya satu-satunya bangku barisan depan yang kosong. Tepat di sebelah bangku dia. "Di sebelah Tisya kosong bukan." Enteng sekali Pak Santo berkata, dia tidak tau bagaimana posisi Arbis saat ini. Bagaimana sulitnya Arbis mengontrol perasaan. Berada di sebelah dia, rasanya Arbis ingin segera memeluk tubuh gadisnya itu. "Saya duduk disini aja." Arbis menghempaskan kembali pantatnya pada bangku, enggan untu pindah. "Janji deh gak bakal tidur." Ucap Arbis malas. Namun hatinya memberontak tak keruan. Ingin Arbis duduk di sebelahnya lagi, lalu Arbis akan memainkan rubik saat guru menerangkan. Dan dia akan melirik diam-diam, sambil sesekali mengganggu Arbis. Dan tak bosan-bosan berdecak kagum ketika melihat Arbis menyelesaikan rubiknya dengan benar. Oh gawat, Arbis mulai flashback. Ketika sadar itu hanya sesuatu yang dulu pernah dialaminya, kepala Arbis mendadak seperti diremas. Sayangnya, itu semua hanya dulu, dan tidak akan bisa terjadi sekarang. "Tidak bisa. Kamu harus pindah ke depan!" Pak Santo bersikeras memaksa Arbis. Tidak sadar bahwa jam pelajarannya sudah terpotong karena berdebat dengan Arbis. "Kayaknya hobi Bapak emang mengganggu ketentraman orang!" Arbis mengalah, tak ingin membuat keributan semakin panjang. Kembali diraihnya ransel hitam itu, lalu berjalan dengan malas -dalam hati bergetar hebat- ke bangku di sebelah Tisya. Arbis membanting tasnya pada meja di sebelah Tisya, dengan malas Arbis duduk pada bangku yang kosong itu. Tanpa menoleh sama sekali, Arbis segera menaruh kepalanya di atas tas yang tadi digeletakan asal di meja. Tak peduli lagi dengan ocehan Pak Santo yang tak henti-hentinya memanggil namanya. Kepala Arbis saat ini benar-benar terasa berat, setiap detiknya seakan bertambah besar dan memanas, tinggal menunggu waktu saja kapan akan meledak. Ponsel di saku celana Arbis bergetar, menandakan ada panggilan masuk. Arbis menegakan tubuhnya, lalu merogoh saku celananya. Saat dilihat Pak Santo yang sedang menghadap ke papan tulis, Arbis segera berjongkok di bawah meja. Bukannya Arbis tidak berani mengangkat telepon secara blak-blakan, tapi Arbis masih sayang dengan ponsel yang baru dibelinya kemarin ini. Bisa-bisa disita oleh guru itu. "Pada kemana lo, pea?!" Arbis segera menyemprot orang yang menelponnya, sudah pasti itu adalah salah satu anggota genknya. Menggunakan ponsel Ilham, namun yang terdengar adalah suara Kiran. "Wets, selaw, Bis. Kita di UKS nih. Elo di kelas yaa?" Kiran membalas dengan santai, dan sedikit terkekeh dengan nada sewot dalam ucapan Arbis. Dari bangkunya Tisya melihat Arbis yang seperti anak tikus bersembunyi di bawah meja. Yang jelas sekali, bukan Arbis yang dulu di kenalnya. Bahkan kali ini Arbis sama sekali enggan untuk meliriknya. "Kenapa gak ngomong-ngomong gue! Gue udah kejerat pelajaran si Santo susah keluar nih." "Alesan apa kek gitu, ke wc, beli pulpen, atau ngapain. Biasa lo jago mengarang bebas." Itu suara Sayna yang ikut berkomentar, dan kali ini Arbis tau bahwa panggilannya sedang di loudspeaker. "Gigi lo somplak! Tuh guru gak bisa gue kibulin, dari tadi juga gue udah pengen ij.." "Arbis Karisma! Ngapain kamu di bawah sana?" Dugg.. "Aww.." Arbis meringis saat kepalanya tanpa sadar membentur meja yang ada di atasnya, karena terkejut dengan suara Pak Santo yang tiba tiba muncul. Secara refleks Arbis menarik tangan Tisya yang menggantung di bawah, lalu menyelipkan ponselnya kedalam genggaman Tisya. Tisya melotot karena gerakan Arbis yang tiba-tiba, tak bisa menolak, Tisya hanya menuruti kemauan Arbis, dan membiarkan ponsel Arbis berada di genggamannya. Arbis keluar dari bawah meja dan duduk di bangkunya, tangannya masih sibuk mengusap kepala yang tadi terbentur meja. "Bapak bisa gak sih gak ngagetin? Sakit nih kepala saya." Arbis balas mengomel. "Orang saya cuma ngambil pulpen yang jatoh kok." Kilah Arbis, sambil mengangkat pulpen yang kebetulan di pegangnya. Pak Santo tak menjawab, ia kembali ke depan. Rasanya menghadapi murid semacam Klover memang harus di butuhkan perhatian khusus. "Bis, kepala lo gapapa?" Tisya tiba-tiba bersuara, seketika membuat jantung Arbis berhenti berdetak untuk beberapa saat. Tak ingin terlarut, Arbis segera tersadar. "Hm." Jawabnya singkat. Bahkan enggan menoleh. Arbis memutar otaknya, bagaimana cara ia untuk keluar dari sini. Dikelas tanpa Klover, Arbis serasa berada dalam penjara. Dengan Pak Santo sebagai penjaga sipilnya. Bahkan penjara ini lebih mirip neraka. "Pak, ke toilet yaa. Kebelet banget nih." "Sepertinya pas datang tadi kamu habis dari toilet." "Pulpen saya habis, Pak. Ijin ke koperasi yaa." "Pakai pulpen saya." "Pak, buku cetak saya ada di loker. Saya ambil dulu yaa." "Kamu bisa berbagi buku cetak dengan teman sebelahmu." "Pak, tadi kembalian saya belom di ambil di ibu kantin." "Bisa diambil nanti sepulang sekolah." Arbis mengacak rambutnya frustasi, berbagai alasan telah di keluarkan agar dirinya bisa keluar dari kelas ini, namun dengan santai setiap alasan Arbis di sanggah oleh Pak Santo. Arbis sampai kehabisan kata-kata untuk kembali beralasan. Akhirnya kesialan tak terus menerus mengikuti Arbis, saat ponsel guru tua itu berbunyi, ia keluar dari kelas untuk mengangkat ponselnya. Arbis tak menyia-nyiakan waktu itu, dengan segera Arbis bangkit untuk keluar darisana. Di tatapnya teman-teman sekelas yang kini memperhatikan gelagat Arbis, lalu Arbis meletakan jari telunjuk seraya memberi isarat untuk diam. Pak Santo berdiri di samping kanan kelas, tanpa banyak berpikir Arbis berjalan pelan ke samping kiri. Saat telah agak jauh, Arbis segera berlari, menuju lantai dua, tempat dimana UKS berada.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN