- 45 -

2195 Kata
"Kata siapa?" Kiran yang baru dateng langsung nyamber, Kiran denger kok apa yang mereka omongin, apalagi tatapan mereka tertuju kesatu titik secara berbarengan gitu. Kiran kembali duduk di sebelah Arbis sambil meletakan piring berisi siomay-nya. Pedagang di kantin yang mengantarkan makanan pesanan Kiran pun meletakan makanannya di atas meja Klover itu. "Kok siomay semua?" Ilham langsung berseru dengan keras saat melihat makanan mereka tak ada bedanya. Kiran tidak langsung menyaut, ia sedang mengunyah siomaynya. "Emang tadi ada yang ngomong mau pesen apaan? Yaa gue beli asal aja samain kayak gue." Kiran menyaut santai tanpa peduli tatapan kesal teman-temannya itu. "Sepiringnya tiga puluh ribu yaa." Lanjutnya dengan riang. "Siomay apaan harganya tiga puluh ribu?" Arbis langsung menyambutnya dengan teriakan saat ucapan Kiran mengenai harga siomay yang di atas normal itu. "Lo bilang harganya tiga kali lipat, harga nih siomay kan cuma goceng, kalo tiga kali lipat yang lima belas ribu lah. Gimana bisa tiga puluh ribu?" Arbis memperhitungkan tentang omongan Kiran. Yang bener aja, udah lagi gak pengen makan siomay, harganya malah mahal pula. "Guekan gak bisa matematika, jadi tiga kali lipatnya goceng bagi gue itu yaa tiga puluh ribu." Kiran menyaut santai sambil terus mengunyah siomaynya. "Gue gak mau bayar!" Mata Kiran langsung beralih pada Sayna yang tidak banyak bicara tapi malah berkata tidak mau bayar. "Heh! Yang namanya utang itu harus dibayar, kalo kagak di bayar, gue kejer lo pada sampe ke liang kubur." "Utang sih utang, rentenir aja enggak segila elo, naikin harga sampe enam kali lipat." Ilham kembali berteriak, menyumbang suaranya yang juga tak kalah kencang dari Kiran. Untung kantin lagi sepi, jadi mereka teriak teriak kayak apa juga gak terlalu ganggu. "Tinggal bayar aja apa susahnya sih? Hari gini jasa itu harganya mahal tau! Kalo lo gak pada mau bayar..." Kiran menggantung ucapannya, matany terlihat mencari sesuatu. Lalu ia menyunggingkan senyum tipisnya. Tangannya kemudian bergerak menuju kantong celana Arbis, dimana ada dompet Arbis yang nongol dari kantong celananya. "Nah, gue ambil seratus ribu nih ya, buat bayar kalian bertiga sembilan puluh ribu. Nih nih, gue kembaliin ceban, jadi elo berdua, Ilham, Sayna, tinggal bayar sama Arbis oke?" Kiran mengenluarkan uang seratus ribuan dari dompet Arbis yang berhasil ia ambil. Lalu Kiran meletakan dompet itu pada meja bersama uang sepuluh ribuan yang di katakan kembalian itu. "Wah parah lo ah, kok pake duit gue sih? Lo bukan cuma bakat jadi lintah darat, tapi jadi copet juga tau!" Arbis ngomel ngomel sambil bersunggut sebal memandang Kiran. Ia mengecek isi dompetnya yang barusan di ambil Kiran. "Aku udah terlalu sabar buat nurutin semua keinginan kamu, dari mulai kita pacaran, kamu yang selalu sibuk sama urusan kamu dan gak ada waktu buat aku. Oke, aku bisa terima.." suara Sesil menghentikan semua aktifitas Klover. "Sampe kamu tiba-tiba pengen kita putus, aku gak pernah pengen, tapi.. ah, lagi lagi aku harus ngalah, dan setelah itu kamu nyuruh aku pacaran sama Eza. Lagi-lagi," Sesil menggantung ucapannya, menganmbil nafas sejenak. "dengan bodohnya aku nurutin kemauan kamu. Dan sekarang, aku mau ngambil keputusan sendiri. Aku gak pernah cinta sama Eza, tolong jangan paksa aku. Aku..." suara Sesil nyaris habis karena terlalu banyak bicara, di tambah dengan emosi yang menguasai dirinya, nafasnya naik turun. Ia menelan ludahnya sejenak, lalu dengan yakin ia melanjutkan. "Aku, cintanya sama kamu, Gan." Sesil membuang nafasnya setelah ia selesai berbicara, Sesil sama sekali tidak menatap Regan yang berada di hadapannya. Ia hanya menunduk. Sambil terus makan, mengunyah siomay, tahu, ataupun kentang yang ada di piring, tatapan Klover sepenuhnya sedang menyaksikan drama percintaan live. Dan dramanya Regan Sesil emang paling favorit mereka. "Maaf.." hanya satu kata yang mampu Regan ucapkan, dengan suara yang terdengar lirih. Regan terlihat meremat tangannya sendiri. Ia seakan bingung harus bertindak apa. Ia menatap iba pada sosok Sesil yang selalu mengikuti keinginannya itu. Ia ingin merengkuh gadisnya itu, gadisnya sudah terlalu lelah untuk memikul bebannya. Regan memang egois. Tatapan penyesalan mewarnai mata Regan. Tangannya menarik tangan Sesil yang berada di atas meja. Di genggamnya tangan itu dengan kuat. Membuat Sesil mendongak dan mulai menatap Regan. "Balikan, atau enggak?" Ilham berseru lumayan keras, di kalangan Klover tentunya, untungnya tidak terlalu terdengar Regan dan Sesil. Sepertinya, ajang taruhan tidak jelas itu akan kembali di mulai. "Enggak!" Kiran dan Sayna menjawab dengan kompak dan yakin. Ilham cuma mendengus, jelas aja mereka bilang enggak, mereka kan penggemar Regan. "Balikan." Arbis memberikan suara berbeda dari Kiran dan Sayna. "Yoi, gue setuju ama elo, Bis. Liat tampang Regan yang udah kayak gitu, udah pasti balikan." Ilham bertoast ria dengan Arbis. Dan kali ini, suara Kiran tidak sendirian. Sayna berada di pihaknya. "Enggak mungkin balikan, kemaren itu Regan bilang sama gue cuma mau jaga tali silaturahmi sama mantan doang kok." Sayna ngotot dengan jawabannya. "Taruhan es cendol depan yaa, kata gue balikan. Kalo sampe balikan lo berdua gue gatak gatakin yaa?" Arbis dengan berapi-api tetap mempertahankan jawabannya. "Maruk banget lo udah minta di traktir pengen gatak juga. Kalo sampe enggak elo gue tonjok juga yaa?" Kiran menjawab dengan sewot sambil menunjukan kepalan tangannya. "Cih, apa rasanya di tonjok pake tangan segede gini?" Ilham mengambil tangan Kiran, mengukur betapa kecilnya tangan itu di banding tangannya. "Oke, kalo di tonjok kagak berasa, gue pelintir tangan lo kayak gininih." Kiran menarik tangannya yang di pegang Ilham, lalu dengan gerakan cepat ia yang malah memegang tangan Ilham dan mempelintirnya. "Aww.. sakit b**o!" Ilham menarik tangannya sambil meringis. Merasa kasihan Kiran pun melepaskan tangannya, ia menyunggingkan senyum puas karena berhasil membuat Ilham kesakitan gitu. "Regan, dipanggil sama Pak Santo." Suara datar itu tiba-tiba memecah keheningan antara Regan dan Sesil. Keputusan yang ditunggu-tunggu Klover harus sirna karena kedatangan Karin yang merusak suasana banget. "Apa?" Kontan Regan melepaskan genggamannya dari tangan Sesil, lalu mendongak menatap Karin yang berdiri di samping mejanya. Karin menghembuskan nafas sebal, paling malas jika disuruh mengulang ucapannya, apalagi jika lawan bicaranya itu Regan yang lagi fokus sama cewek di depannya ini. "Dipanggil Pak Santo." Ucapan Karin semakin datar, bahkan terdengar ketus. "Karin ganggu!" Ilham berteriak sebal, membuat Karin menoleh pada asal suara itu. Tepat, pada satu meja yang diisi oleh komplotan Klover. Tanpa mengindahkan ucapan Ilham, ataupun menunggu sautan Regan, Karin melangkah menuju meja tersebut lalu menatap Kiran yang sedang menyeruput minumannya. "Kapan lo balik?" Kiran mengangkat kepalanya setelah menelan minumannya, tepat saat Karin betanya padanya. "Barusan. Kangen ya?" Mata Kiran menggerling, mencoba menggoda Karin. Meski sesungguhnya geli, tapi Karin menghembuskan nafas lega, setidaknya mata itu tidak semengerikan tadi pagi, yang frustasi karena sakit hati. "Elo juga di panggil Pak Santo, Bis." Lagi. Karin tak menanggapi ucapan orang yang berbicara dengannya. Tanpa memperdulikan aksi narsis Kiran, Karin malah beralih pada Arbis. Arbis yang baru menyuapkan siomay ke mulutnya menoleh, melihat pada Karin yang senantiasa memasang wajah frustasi ketika berurusan dengan Klover. "Kenapa, sayang? Gue dipanggil si Santo? Mau ngapain tuh guru?" Tolong beri Karin kantong plastik, rasanya mendengar kata 'Sayang' yang keluar dari mulut Arbis, dengan santainya, seolah telah terbiasa, Karin ingin muntah di tempat. Hiperbolis. Tapi Karin benar-benar geli mendengarnya. "Pak Santo. Bukan si Santo!" Koreksi Karin, dengan mata melebar yang melotot pada Arbis. Seolah memprotes soal panggilan Arbis tadi. Arbis tersenyum tipis dengan kilatan jail di matanya, melihat reaksi Karin. "Whatever. Emang ada apa?" Arbis tetap bertanya pertanyaan pertama. "Jeblok lagi kali nilai lo." Tebak Ilham asal. "Enak aja, kalo nilai gue jeblok Kiran juga lah. Guekan kalo dapet soal isinya sama semua ama Kiran." Arbis membantah tidak terima. "Si Santo gak enak kalo ngasih gue jeblok, karena gue teralalu cantik." Kiran tersenyum bangga, tepatnya sok imut. Membuat yang melihat dan mendengar ucapannya serasa ingin menimpuk. "Rin, gue doang yang dipanggil?" Regan muncul dari belakang Karin, setelah urusannya dengan Sesil selesai. "Gue dipanggil bareng Regan?" Tanya Arbis. "Ya." Jawab Karin singkat. "Diwakilin sama gue aja bisa gak? Arbis kelamaan." Kiran berseru girang, dengan mata jail yang selalu menggoda Regan. Karin malas berada lama-lama dengan Klover, yang mereka bicarakan tidak penting. Meski di kesempatan kali ini, Sayna diam? Tanpa ikut berkomentar apapun. Ah Karin tak peduli dengan urusan genk meresahkan itu. "Elo mau ikut gue atau masih mau denger celotehan gak penting mereka?" Ekor mata Karin berputar pada Regan yang kini berdiri di sampingnya. Tanpa menunggu jawaban yang pasti, Karin sudah berjalan meninggalkan meja itu. Lalu diikuti Regan di belakangnya, yang kini berusaha mensejajari jalannya dengan Karin. Melihat Karin sudah pergi, Arbis segera melompat dan berjalan cepat untuk mengejar Karin. Dari belakang Arbis merangkul Karin, lalu menaruh wajahnya di pundak Karin, dengan posisi seperti itu, sebenarnya Arbis hanya ingin berbisik pada Karin. "Elo sih maunya diikutin Regan." Wajah Karin memerah tiba-tiba, antara salting dan panik, seketika Karin melepaskan tangan Arbis yang dengan sok akrabnya merangkul Karin. Lalu menjauhkan diri dari Arbis. Meski sebelumnya sempat menatap Arbis kesal. Arbis kembali berjalan mendekati Karin, lagi-dengan suara berbisik, Arbis berkata. "Tenang, dia gak denger. Ganteng ganteng tapi budeg." Arbis tersenyum jail setelah membisiki Karin seperti itu. Ini yang Karin benci saat Arbis mengetahui perasaannya, Arbis akan terus menggodanya, dan tidak tau sikon pula. Sudah jelas Regan berjalan di sebelah Karin, dan Arbis malah mengusik soal perasaannya terhadap Regan. Satu kalimat. Arbis emang laknat. *** Ditengah kegaduhan yang terjadi, karena kedatangan Karin dan disusul Regan, Sayna malah fokus dengan selembar kertas di tangannya. Surat yang rutin ia dapatkan setiap pagi, dan tadi pagi Sayna tidak sempat membacanya, dan hanya memasukan asal di saku seragamnya. Barulah Sayna membacanya tadi, membuatnya tidak peduli dengan semua urusan. Entah sejak kapan, Sayna menyukai setiap rangkaian kata indah yang menyusun bait demi bait dalam surat itu. Surat yang tidak Sayna ketahui dari siapa pengirimnya. "Apaan sih, Na?" Kiran merebut selembar kertas itu dari tangan Sayna, membuat Sayna seketika berusaha mengambilnya kembali. Kiran tersenyum saat membaca tulisan yang ada disana, lalu menatap Sayna. "Tulisan lo?" Tanyanya. Sayna menggeleng. "Bukan." "Dari orang?" Ilham ikut bertanya, meski ia tak tau apa isi tulisan itu, namun Ilham dapat menerkanya. Sayna mengangguk. "Dari siapa?" Dan lagi-lagi, Sayna menggeleng. Persis Seperti di introgasi. Dan jawaban Sayna hanya mengangguk dan menggeleng. "Emang apaan sih isinya?" Ilham penasaran, merebut kertas tersebut dari Kiran. Kamu adalah paket pertama bagiku Kamu tau apa itu paket pertama? Pertama kalinya jantungku bedetak dengan kencang adalah saat di dekatmu Pertama kalinya aliran darahku berdesir dengan cepat adalah saat bersamamu Pertama kalinya pandanganku tak dapat teralihkan adalah saat menatapmu Pertama kalinya pikiranku hanya penuh oleh satu nama, yaitu namamu Pertama kalinya aku selalu mampu menghafal dengan begitu detail, adalah segal hal tentangmu Pertama kalinya aku tau bahwa itulah pertanda cinta, dan aku mengerti bahwa aku mencintaimu Ilham ikut beralih menatap Sayna setelah selesai membacanya, satu kali Ilham berdecak kagum, rangkaian katanya hebat. Dan ditujukan untuk sahabatnya, yang Ilham ketahui jarang dekat dengan cowok kecuali dirinya dan Arbis. "Elo beneran gak tau ini dari siapa?" Ilham mengulang pertanyaan Kiran, berharap mendapat jawaban lain dari Sayna. Sayna menggeleng lagi. "Nggak tau. Lagian, itu bukan pertama kalinya." Sayna menjawab santai, mungkin sudah saatnya Sayna akan bercerita. Apalagi saat melihat wajah penasaran teman-temannya ini, Sayna tak mungkin lagi bisa mengelak, mereka akan memaksa menuntut penjelasan. "Jadi, lo sering di kirimin surat ginian?" Kiran menatap Sayna tidak percaya. Dan kali ini disambut anggukan Sayna. "Oh my God!" Kiran menutup mulutnya dengan gaya berlebihan. "This is secret admirer." Kiran berseru dengan heboh, sambil mengguncang bahu Sayna. "Iya gue tau. Awalnya tiap pagi selalu ada yang ngirim surat dan bunga di depan rumah gue atau laci meja, tapi belakangan setelah gue bilang 'bunga gak bisa dimakan, kenapa gak coklat aja?' Sekarang kiriman berubah jadi surat dan coklat. Ternyata dia denger, tapi siapa ya?" Sayna bercerita, menerangkan kronologis kejadian tentang seret admirernya itu. "Nah itu dia!" Kiran kembali heboh, seolah mengetahui jawabannya. "Gimana kalo lo bilang sakit gigi dikirimin coklat mulu, lagi kepengen keju. Dia pasti bakal ngasih lo keju!" Ilham menepok jidatnya mendengar Kiran, ucapan Kiran sama sekali tidak membuahkan jalan keluar. Ngaco. Padahal cara penyampaiannya seolah Kiran baru saja mendapat pencerahan. "Kira-kira siapa yaa? Gue mau bilang makasih." Gumam Sayna, diiringi senyum. Sambil membayangi seperti apa wajah pengangum rahasianya itu. "Makasih? Buat apa? Karena dia udah cinta sama lo?" Ilham menyodorkan kertas itu pada Sayna kembali. "Bukanlah. Karena coklat yang udah dikasih ke Sayna tiap hari." Kiran menyela sebelum Sayna menjawab. Lalu ia melirik pada Sayna. "Bener gak, Na?" Kiran mengangkat alisnya, meminta persetujuan. "Yoi! Baru gue mau ngomong." Sayna dan Kiran tertawa melihat ekapresi Ilham yang sudah serius. Lalu mereka malah bertoast ria karena sejalannya pikiran mereka. Terkadang, Ilham tidak mengerti seperti apa jalan pikiran cewek. Sementara Kiran dan Sayna masih tertawa karena hal tidak jelas, Ilham melempar pandangannya ke samping. Dan tepat, tak lama dia melintas. Dia. Gebetan baru Ilham. Dengan semangat bak panglima perang, Ilham segera meraih tangan Deandra, menahannya, membuat cewek itu berhenti seketika. Deandra menoleh, dan menatap malas saat tau yang menarik tangannya adalah Ilham. "Lepasin!" Ketusnya. "Pulang bareng gue. Gue jemput di kelas lo pas bel. Jangan lari!" Tandas Ilham, diiringi senyum jumawanya. Lalu melepaskan pegangan tangannya dari Deandra. Membiarkan cewek itu melenggang pergi. Tanpa menjawab ajakannya. Tidak. Itu bukan ajakan. Itu pernyataan yang tidak bisa diganggu gugat. Jika Ilham sudah menargetkan sesuatu, Ilham takkan membiarkan dia lepas begitu saja. "Modus mulu!" Kiran melempar es batu yang tepat mengenai kepala Ilham, yang Kiran dapatkan dari mengobok gelas es Arbis. Biarlah, Arbis sudah pergi ini. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN