Bel istirahat pertama sudah berbunyi, namun tak ada ekspresi gembira di wajah Arbis, Ilham, maupun Sayna. Padahal biasanya mereka selalu senang saat saat istirahat. Dan langsung ngacir ke kantin tanpa banyak mikir. Tapi khusus hari ini wajah mereka terus menerus cemas sejak tadi pagi, sejak Karin mengatakan Kiran sudah berangkat sekolah sejak tadi pagi. Pagi pagi sekali bahkan. Tapi buktinya, sekarang Kiran gak ada?
Yang membuat mereka semakin khawatir juga karena cerita Karin yang mengatakan bahwa malam minggu kemarin, Kiran di tolak Rafa. Dan mereka belom ada yang tau tentang itu. Entah mereka benar benar khawatir atau pikiran mereka sudah terpengaruh sinetron semua. Bayangan Kiran yang sedang patah hati lalu berdiri di atas jalan layang dan siap melompat ke bawah seakan di depan mata. Yang mereka pikirkan, namanya juga orang patah hati, kelakuannya suka gak di pikirin.
"Gue udah nelpon berkali kali tapi sibuk terus." Sayna menatap ponsel nya kesal karena menelpon Kiran tidak terhubung terus.
"Jelas aja sibuk. Lo nelponnya barengan gitu, yaa bentrok lah." Kepala Arbis menenggak, menunjuk Ilham yang juga terlihat sedang menelpon Kiran. Sama halnya dengan yang di lakukan Sayna.
Sayna memukul bahu Ilham karena kesal. "Lo jangan ikut ikutan nelepon dong!"
"Mana gue tau lo juga nelpon Kiran." Ilham meringis, sambil menjauh dari Sayna, menghindar jika nanti Sayna memukulnya lagi.
"Gue bbm-in ceklis doang. Data dia gak nyala kayaknya." Arbis ikut bicara sambil menatap ponselnya.
"Bukan gak nyala, dia kan emang gak pernah paketan." Ilham menyaut, mengingat kebiasaan Kiran yang gak pernah pake paket. "Kiran kan di apartemennya ada wifi, di sekolah ada wifi, kalo jalan jalan maunya ke tempat yang ada wifi, makanya dia gak pernah pake paket." Ilham menambahi, Ilham memang sudah sangat hafal dengan kebiasaan Kiran itu. Karena beberapa kali Kiran suka pergi ke restoran Mama Ilham cuma buat nyari wifi karena wifi di apartemennya lagi eror. Dan Kiran ngejelasin sama Ilham kalo dia gak pernah pake paket. Makanya pulsa Kiran selalu banyak karena gak kepotong sama paket tiap bulan kayak temen temennya.
"Lagian tuh anak kemana coba? Tadi pagi dia masih sms gue buat jemput Karin." Arbis yang semula berdiri kini duduk di kursinya. Di ikuti Ilham dan Sayna.
"Apa dia pergi ke kampus Rafa dan teriak teriak frustasi disana karena cintanya di tolak?" Sayna berspekulasi mengenai Kiran.
"Kebanyakan nonton sinetron lo!" Ilham menimpali sambil menoyor kepala Sayna. Sayna melotot dan balas menoyor kepala Ilham. "Kalo gue sih mikirnya Kiran lagi berdiri di atas gedung bangunan sambil ngelamun, dan mikirin niat buat terjun dari sana." Tambah Ilham yang memikirkan tentang Kiran sedang apa.
"Itu lebih sinetron!" Arbis segera mengalihkan perhatian dari ponselnya saat mendengar jawaban Ilham. "Kalo kata gue, Kiran tuh lagi ada di tempat yang di depannya ada danau. Duduk di atas rumput sambil meratapi nasibnya. Ngeliatin air danau yang gak salah apa apa. Dan tatapannya pasti kosong dan frustasi." Kali ini Arbis ikut ambil suara. Agak dramatis memang penuturannya.
Namun ucapannya di sambut oleh mata Sayna dan Ilham yang langsung menyipit menatap Arbis. Seolah Arbis ini manusia langka atau alien yang terdampar di bumi.
"Itu sinetron banget!" Sayna dan Ilham langsung berteriak dengan kompak kearah Arbis. Mereka pikir Arbis punya pemikiran lebih baik, ternyata sama saja.
Mereka semua sama. Sama sama korban sinetron.
***
"Gue mau up-load foto ke f*******: dong." Kiran merebut mouse yang di pegang Eza. Mengambil alih agar dirinya yang bermain. Eza pun mengalah dengan pasrah, karena sedari tadi Kiran cuma ngeliatin Eza main game.
Kiran mengambil ponselnya yang berada di dalam tas. Rupanya sejak tadi Kiran sama sekali tidak menyentuh ponselnya. Saat di lihat, ternyata ponselnya mati karena baterainya habis. Kiran meringis, gara gara semalam Kiran lupa mencharger ponselnya, Kiran jadi membawa ponsel lowbet hari ini.
"Bawa kabel data gak?" Kiran menoleh pada Eza yang saat itu tengah memakan pilus yang tadi di belinya.
"Bawa kayaknya, ambil aja di tas. Nyolok di power bank deh. Tas gue di depan." Jawab Eza tanpa menoleh, ia terlihat sibuk melakukan atraksi dengan melemparkan pilus keatas lalu menangkap dengan mulutnya.
"Ambilin gih." Kiran mendorong dorong Eza agar beranjak dari kursinya. Eza hampir jatuh jika tidak menahan diri. Meski tidak jadi jatuh, tapi Eza sukses keselek pilus yang di makannya.
"Uhuk, Kiran! Ah, uhuk." Eza terbatuk sambil mendelik menatap Kiran.
"Eh, duh, yah, kok lo gak ngomong sih lagi makan? Nih nih minum. Nanti mati lagi." Kiran mengeluarkan botol air minum yang ada di tasnya. Gini gini, Kiran emang selalu bawa air minum kalo sekolah.
Eza menerima air minum dari Kiran. Lalu segera meneguknya sebelum Eza membuat rekor mati gara gara keselek pilus.
Eza menghembuskan nafas lega setelah minum dari botol air minum Kiran. Lalu ia menyodorkannya kembali pada Kiran.
"Tuh gue udah baik ngasih lo minum. Sana, ambilin kabel data lo."
Eza melotot mendengar ucapan Kiran. Eza udah keselek hampir mau mati -oke Eza emang sedikit lebay- masih aja di minta buat ngambilin kabel data. Kiran emang keterlaluan.
"Gue keselek gara gara lo tau! Lagian kan lo yang mau minjem, ambil ah sendiri."
"Gak baik ngacak ngacak tas orang laen, gimana kalo nanti gue nemuin sesuatu yang pribadi punya lo." Kiran mengelak, berusaha agar Eza yang mengambilkan untuknya. Masalahnya Kiran udah keenakan duduk, jadi males gerak.
"Emangnya gue cewek, suka naro roti tawar di tasnya buat jaga jaga." Eza masih enggan untuk bergerak, jawabannya malah merembet karena pancingan Kiran. Lagian setau Eza, cewek kan emang suka sensitif kalo tas nya di geratak, karena di dalemnya suka ada istilah roti tawar itulah buat jaga jaga kalo tamu bulanannya dateng.
Mata Kiran menyipit mendengar ucapan Eza. Bisa bisanya Eza tau kayak gituan. "Heh, lo gak ngacak ngacak tas gue kan?!" Kiran langsung menarik tasnya. Wajahnya terlihat salah tingkah.
"Ah, rupanya di tas lo juga ada." Eza tersenyum geli saat melihat tingkah Kiran.
Bletak..
Botol air yang tadi di pegang Kiran kini mendarat di kepala Eza. Kiran menggetok Eza tanpa ancang ancang sehingga Eza tak mampu mengelak ataupun menghindar. Eza meringis memegangi kepalanya. Kok bisa yaa, cewek yang baru bertemu dua kali, dan kenal dengannya beberapa hari lalu, setega itu ngelakuin hal yang seharusnya di lakuin sama orang yang udah bener bener deket.
"Udah sana ambilin kabel data lo! Nanti keburu abis waktunya. Atau mau gue getok lagi?" Kiran kembali ke topik utamanya. Ia mengangkat kembali boto airnya, bersiap untuk menggetok Eza.
Mau tak mau Eza pun akhirnya berdiri, daripada nanti di getok lagi. Ia segera berjalan ke pelataran depan tadi, tempatnya menaruh tas.
"Nih." Eza menyodorkan kabel datanya setelah kembali.
Kiran segera menyambutnya lalu mencolokan ke ponsel dan cpu komputer. Lalu matanya kembali beralih pada monitor untuk memilih milih poto mana yang akan di unggah itu.
"Lo maen berapa jam sih, Za? Kok gak abis abis yaa?" Kiran mengoceh tanpa mengalihkan pandangannya dari layar monitor.
"Cuma empat jam." Jawab Eza santai. Pantas saja sedari pagi mereka main belum abis juga. Padahal sekarang udah hampir tengah hari.
"Omaygat!" Kiran berteriak heboh sambil matanya terbelalak menatap monitor komputer. Ekspresinya memang berlebihan, sampai Kiran menutup mulutnya yang menganga dengan gaya alay.
"Apasih?" Eza yang penasaran karena ulah Kiran cukup menyita perhatian, ikut menatap monitor yang terpampang poto yang barusan di unggah. Lalu? Kiran histeris karena apa?
"See? Lihat! Gue yakin mereka lagi barengan, tapi kenapa mereka komen poto gue keroyokan?" Kiran menunjuk kolom komentar. Disana sudah terpampang tiga komentar dari Arbis, Sayna, dan juga Ilham dengan selisih waktu hampir bersamaan.
Dan lagi, mereka bukan mengomentari foto Kiran. Padahal Kiran udah susah susah milih poto yang bagus, masa di komen sama Arbis gini. "Ran, dmana lo?" Dan di bawahnya Sayna ikutan. "Lo kmn Kiran?" Dan di bawahnya lagi barulah Ilham "rese lo! Cabut ga ngajak2"
"Gue lupa bilang sama mereka, pasti Karin udah bocor sama Arbis, otak mereka yang drama pasti lagi ngira gue bakalan pergi ke atas jembatan layang buat bunuh diri. Kalo enggak, mereka gak bakalan seposessif ini." Kiran mengoceh tanpa peduli Eza kenal atau tidak dengan nama nama yang di sebutkannya.
Mata Eza masih tak beralih dari monitor komputer. Eza ikut memperhatikan komentar di f*******: dari teman teman Kiran itu. Ada satu nama yang menarik perhatiannya. Dia. Benar. Sayna. Jadi, Kiran teman Sayna? Jadi, Kiran adalah anggota genk yang pernah di ceritakan Sayna?
Tapi Kiran sama sekali tidak tau Eza. Eza mengangguk pelan tanpa kentara, baiklah, tidak ada yang perlu di perjelas. Jika Eza menjelaskan keadaannya pada Kiran, pasti situasinya akan berbeda. Setidaknya, untuk beberapa waktu ini, Eza ingin menikmati waktunya untuk dapat lebih mengenal Kiran.
Eza tau. Tentu saja Eza tau tentang perasaan Sayna. Hanya saja, ada sesuatu yang sulit untuk di jelaskan, jika saatnya tiba, mungkin Eza akan memberitahu alasannya pada Sayna tentang mengapa Eza bersikap seperti itu. Yang pasti, itu bukan karena Sayna kurang menarik atau kurang pintar apalagi bukan tipe Eza. Bukan itu. Ada satu hal pribadi yang nanti akan Eza coba jelaskan pada Sayna.
Kiran berdiri sambil menenteng tasnya, membuat perhatian Eza beralih saat menyadari gerakan Kiran. "Gue mau ke sekolah ah, mau mengklarifikasi pikiran pikiran konyol temen temen gue itu." Kiran segera menjelaskan saat menyadari Eza menatapnya dengan pandangan bingung.
"Ke sekolahan? Jam segini? Emang bisa masuk?" Eza melihat jam tangannya, yang benar saja Kiran mau ke sekolah jam segini. Ini jam setengah dua belas loh.
Kiran mengangguk tanpa ragu. Tangannya mencabut kabel data dari cpu, lalu melepaskan ponselnya dari kabel data milik Eza. Ia menaruh kabel data tersebut di hadapan Eza. "Bisa dong. Kan tas-nya gue taro mobil, jadi gue ke sekolahan gak bawa tas, nanti bilang aja ama satpam abis beli makanan di depan." Jelas Kiran. "Nah mobilnya gue parkir di parkiran kafe yang ada di ujung jalan deket sekolahan gue. Beres kan?" Lanjutnya, menjawab pertanyaan yang tadinya ingin di lontarkan oleh Eza namun sudah di jelaskan oleh Kiran.
***
Bel istirahat kedua sudah berbunyi, perut Arbis, Sayna, dan Ilham rasanya sudah bunyi sedari tadi karena menahan lapar. Istirahat pertama tadi mereka tidak sempat makan karena memikirkan Kiran. Tapi kali ini mereka sudah tidak memikirkan apapun lagi selain untuk berlari ke kantin dan memesan makanan.
Mereka langsung berjalan menuju pintu untuk segera ke kantin. Namun saat baru keluar dari pintu, seorang siswi yang berjalan berlawanan arah dengannya hampir saja menanbrak Arbis, Sayna, dan Ilham yang berjalan beriringan.
"Eh, duh! Pada mau kemana sih? Hampir aja gue nabrak lo pada." Kiran langsung mengoceh ketika mendapati ketiga temannya hampir saja menabraknya saat ia baru ingin ke kelas untuk mencari mereka.
"Kok lo disini? Abis darimana aja tadi?" Sayna langsung menyerbu Kiran dengan pertanyaannya ketika tersadar bahwa siswi itu adalah Kiran.
"Tadi gue abis maen, terus langsung teleportasi kesini. Makanya gue bisa disini." Kiran menjawab asal pertanyaan Sayna. Sayna menghembuskan nafas sebal dengan jawaban Kiran.
"Ujung ujungnya balik sendiri. Yaudalah, gue laper, ayok ke kantin. Kenapa pada diem?" Ilham berjalan mendahului yang lainnya. Disusul berlarian oleh Arbis dan Sayna, dan juga Kiran yang gak ngerti apa apa karena baru dateng.
Suasana kantin saat istirahat kedua tidak terlalu ramai, karena biasanya para siswa mengunjungi kantin saat istirahat pertama. Klover langsung mengambil tempat di meja kantin yang paling besar. Mereka semua malah duduk tanpa memesan apapun, alhasil mereka berpandangan saat melihat semuanya duduk.
"Lo yang mesen sana, elo kan baru dateng." Arbis mendorong Kiran yang sudah duduk di sebelahnya. Kiran yang tidak tau akan di dorong seperti itu hampir terhuyung jatuh.
"Ih gak usah dorong-dorong, gak usah pegang-pegang." Kiran membersihkan lengan seragamnya yang bekas dorongan tangan Arbis dengan gayang sombong. "Oke gue yang pesen, bayarnya tiga kali lipat gue gak mau tau! Gak pake protes! Gak bisa di cancel!" Kiran berdiri setelah menatap ketiga temannya dengan tatapan sengitnya yang lebih terlihat lucu.
"Idih, pakedar jalan palingan lima langkah aja harus bayar tiga kali lipat? Bakat banget lo jadi lintah darat!" Sayna berteriak mengatai Kiran yang sudah berjalan tanpa peduli teman-temannya berkata apa.
Sambil menunggu makanan yang sedang Kiran pesan datang, Arbis, Ilham, dan Sayna sibuk memainkan ponselnya. Sambil sesekali matanya melirik, melihat-lihat suasana kantin. Ternyata saat di perhatikan, tak jauh dari meja yang mereka tempati, tepatnya berjarak dua meja kesamping, ada Regan dan Sesil yang sedang makan bersama.
Klover yang emang kepo langsung nengok kearah itu, ponselnya seakan sudah tidak menarik lagi untuk di lihat. Pasalnya, sudah sangat jarang sejak Regan dan Sesil putus, mereka makan di kantin berdua.
"Mereka balikan yaa?" Ilham membuka pertanyaannya.
"Kayaknya.." Arbis menanggapi setengah menggantung, karena ucapannya dengan cepat di sambung Sayna.
"Enggak!" Sayna berkata dengan penuh keyakinan. Sayna yakin banget kayak gini karena Regan kemaren ngomongnya begitu pas mereka kebeneran ketemu di mall dan mereka nonton bareng. Emang gak rugi Sayna ketemu Regan kemaren, di tambah lagi ada Rizky, Sayna ikutan nonton tapi sama sekali gak keluar duit. Yang bayar nontonnya Regan, yang beliin makanan Rizky, ah kan jarang jarang baek pada kompakan gitu. Ilham sama Arbis aja gak pernah.