Begitu sampai di depan gerbang sekolahnya Kiran menghentikan mobilnya. Bahkan pintu gerbang masih di tutup, satpam yang menjaga pun belum datang. Rupanya Kiran emang datang kepagian. Akhirnya Kiran memutar kembali mobilnya. Mendadak hari ini Kiran jadi malas ke sekolah.
Kiran mengemudikan mobilnya kembali ke jalanan. Jalan raya belum terlalu ramai sepagi ini. Udara di luar sebenarnya cukup sejuk. Tapi Kiran sama sekali tidak membuka kaca jendela mobilnya sehingga tidak merasakan sejuknya udara pagi di luar.
"Pagi pagi gini ngapain?" Kiran bertanya sendiri. Ini merupakan kali pertama Kiran bolos sendirian. Biasanya kan selalu bersama Klover. Entah mengapa kali ini Kiran tak mau melibatkan Klover. Ini masalah perasaannya yang kurang baik, dan Kiran ingin menenangkannya sendiri.
Entah kapan Kiran berpikirnya, tiba tiba saja ia membawa mobilnya masuk ke dalam sebuah perumahan yang Kiran sendiri tidak tau apa namanya. Toh tujuan Kiran bukan ingin main ke salah satu rumah yang ada disana. Ia hanya ingin ketaman yang kemarin malam ia kunjungi. Entah mengapa ia ingin ke tempat itu, tempatnya bertemu cowok bernama Eza itu. Kiran memang tidak sempat mengetahui apapun tentang Eza selain namanya.
"Tapi gue ke tempat ini gak ngarep ketemu dia jug kok." Lagi lagi Kiran berbicara sendiri. Seolah membantah suara hatinya yang sebenarnya memang ingin bertemu dengan cowok itu lagi. Kiran tidak bisa memungkiri cowok itu memang baik dan asik. Setidaknya dia orang pertama yang hadir saat hatinya sedang kacau.
Kiran memarkir mobilnya di pinggir taman. Lalu ia turun dari mobil. Berjalan menyusuri taman ini yang masih sepi. Tepatnya sangat sepi. Lagipula siapa juga yang kurang kerjaan main ke taman sepagi ini?
Udara sejuk begitu terasa pagi ini. Di tambah lagi di taman ini di tumbuhi beberapa pohon rindang. Rerumputan yang berada di kiri dan kanan jalan setapak yang mengitari taman itu terlihat masih berair. Kiran menyusuri jalan setapak itu, sambil menoleh ke segala arah, melihat pemandangan taman yang cukup indah.
"Hey, lo yang punya mobil yang di parkir di depan itu?" Sebuah suara berasal dari belakang Kiran, yang sepertinya berbicara dengan Kiran.
Kiran berbalik. Merasa sepertinya memang orang itu berbicara dengannya. Lagipula rasanya memang tadi Kiran memarkir mobil disana. "Iya, kenapa? Loh Eza?" Kiran agak terkejut saat melihat oramg yang memanggilnya adalah Eza.
"Kiran? Ngapain pagi pagi kesini?" Orang itu yang ternyata adalah Eza juga ikut terkejut saat melihat Kiran ada disana.
"Lo sendiri ngapain?" Kiran enggan langsung menjawab. Masalahnya Kiran juga belom tau jawaban apa yang tepat. Masa iya Kiran bilang nyariin Eza? Kan tengsin.
"Rumah gue emang deket sini. Tadi gue penasaran siapa yang parkir mobil sembarangan di depan. Pagi pagi gini pula."
"Lo petugas keamanan komplek yaa? Ngapain juga lo ngurusin ada mobil yang parkir sembarangan." Kiran langsung menodong Eza dengan pertanyaan anehnya. Dengan jari telunjuknya yang kini menunjuk kearah Eza, dan matanya yang menyipit menatap Eza penuh selidik, membuat Kiran terlihat lucu.
Eza tersenyum melihat itu. Kelakuan Kiran memang ada ada saja, seperti di awal pertemuan mereka, Kiran yang tau tau nangis, lalu mendadak jutek, sampai teriak histeris sambil curhat pada Eza. Aneh. Tapi, entah mengapa malah membuat Eza penasaran.
"Emang gue punya tampang kayak petugas keamanan apa?" Eza balik bertanya. Sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Sedikit sih."
"Lo ngapain disini?" Eza kembali ke pertanyaan awal. Karena Eza yakin Kiran bukanlah penghuni salah satu rumah yang ada di dekat sini. Jelas aja, kalo gitu ngapain Kiran kesini naik mobil segala.
"Gue cabut. Males sekolah. Hati gue masih dalam suasana berkabung."
"Kenapa cabutnya malah kesini?"
"Terus gue harus kemana sepagi ini? Jadi gue kesini aja."
Eza manggut manggut dengan jawaban Kiran. Tak tau kenapa, melihat Kiran disini, membuat Eza juga malas untuk pergi ke sekolah. Kalo alasan Kiran hatinya masih dalam suasana berkabung, Eza juga dong. Eza kan juga baru putus sama pacarnya. Sedih juga kalo di pikirin, pacarnya yang masih sayang sama mantannya, dan yang paling bikin Eza gak percaya adalah, mantan pacarnya itu adalah sahabatnya sendiri. Kenapa bisa bisanya Eza gak pernah tau?
"Ikut gue yuk.." Eza menarik tangan Kiran agar ikut bersamanya. Mau tak mau Kiran mengikutinya.
"Eh mau kemana?" Kiran agak kagok mengikuti langkah kaki Eza.
"Nyari tempat yang enak buat cabut."
"Loh, elo gak sekolah?"
"Ah hati gue juga masih dalam suasana berkabung. Emang enak apa cabut sendirian?"
Eza telah membawa Kiran keluar dari taman tersebut. Terlihatlah motor Eza yang terparkir sebelah dengan mobil Kiran. Jalanan sini emang masih sepi sekali, mobil Kiran emang cukup mencolok buat siapapun yang lewat.
"Naik mobil gue aja ah." Kiran segera melepaskan tangannya dari Eza yang hendak membawanya naik motor. Percuma dong Kiran bangun pagi pagi dan ngambil hak milik mobilnya dari Karin kalo ujung ujungnya Kiran malah naik motor.
"Terus motor gue gimana?" Eza tak langsung ikut Kiran ke dalam mobilnya.
"Katanya rumah lo deket. Yaa taro aja dulu."
"Kalo gue naro motor dulu, nanti ketauan sama nyokap gue kalo gue gak sekolah dong."
Ah iya Kiran lupa. Selain dirinya, anak anak sepantarannya kan memang masih punya orang tua yang selalu memperhatikan anak-anaknya. Memikirkan itu Kiran jadi tersenyum getir, mengingat semua itu takkan pernah ada habisnya. Mau di pikirkan sampai kepala Kiran botak juga kedua orang tuanya tidak akan tau tau pulang dan mengurus mereka kan?
Tiba tiba sebuah ide muncul di otak Kiran yang sebenernya sangat jarang di pake buat mikir. "Gini aja, lo pasti kenal dong sama petugas keamanan disini. Titipin aja. Komplek ini aman kan?"
Eza mengangguk setuju. "Boleh deh." Eza pun berjalan ke pintu penumpang mobil Kiran.
"Za!" Panggil Kiran saat Eza hendak menyentuh gagang pintu mobilnya. Eza menoleh pada Kiran yang ada di seberangnya. "Lo aja yang nyetir." Kiran melempar kunci mobilnya dengan asal. Eza menangkapnya dengan tepat. Lalu mereka bertukar tempat.
Kiran sengaja membiarkan Eza yang menyetir, karena Kiran tak tau tujuan mereka akan kemana. Lagipula yang mengatakan ingin mencari tempat kan Eza.
Mobil Kiran berhenti di depan sebuah bangunan berlantai dua yang terletak di pinggir jalan yang tidak terlalu ramai oleh kendaraan. Setelah Eza memarkirkan mobil Kiran di tempat parkir yang tersedia mereka pun turun darisana. Sejenak Kiran memandangi bangunan tersebut yang di lantai dasar di tutupi oleh jendela berkaca gelap, sehingga Kiran tidak terlalu bisa menerka itu tempat apa. Namun saat menenggak keatas, di lantai dua, Kiran melihat beberapa remaja yang sepantaran dengannya atau mungkin di atas Kiran sedikit sedang mengobrol atau makan sambil menghadap ke jalanan. Ruangan di atas lebih terbuka. Terlihat seperti 7eleven, tapi Kiran tau tempat ini bukab sevel. Karena tidak ada nama yang biasanya terpampang besar besar di depan minimarket itu.
"Ini apasih?" Tanya Kiran, sambil mengikuti Eza yang mulai berjalan menuju pintu masuk.
"Warnet." Eza menjawab singkat, tangannya kini mendorong pintu tempat yang kata Eza warnet itu.
"Warnet?"
"Warung Internet." Eza menjelaskan arti singkatan itu.
"Gue juga tau!" Kiran mendelik, emang Kiran sebodoh itu apa sampai tidak tau singkatan itu. "Maksud gue, warnet kok begini. Di atasnya ada yang pada makan." Mata Kiran kini mengedarkan pandangannya pada ruangan yang tidak terlalu besar namun di penuhi oleh komputer komputer dan segala perangkatnya. Suara suara berisik dari game online yang di mainkan terdengar mendominasi tempat itu.
"Diatas emang sebagian tempatnya buat nongkrong gitu. Kayak buat orang yang pada begadang terus laper. Atau yang dateng pagi pagi gini kayak kita kan belom sarapan..."
"Gue udah." Kiran menyela, habis yang di bilang Eza kita. Kiran kan udah sarapan, Eza doang kali yang belom.
Eza menghela napas, mulai memahami sikap ekspresif Kiran ini. "Oke, gue doang maksudnya. Jadi gue bisa makan dulu gitu. Dan yang lebih penting, di warnet boleh pake seragam. Di daerah gue warnetnya gak boleh pake seragam."
Kiran manggut manggut, namun ia kelihatan bingung saat melihat seluruh komputer sudah terisi oleh orang. Kenapa pagi pagi udah serame ini? "Kita maen dimana? Penuh banget gitu. Lagian itu orang gak pada punya kerjaan apa pagi pagi udah ke warnet?"
"Mereka yang begadang. Rata rata udah gak pada sekolah kan." Eza menghampiri operator untuk memeli billing. Setelah memnayar Eza terlihat membawa kertas semacam struk yang berisi id dan password untuk mengakses komputer yang ada disana. "Katanya diatas ada yang kosong satu. Lo aja maen duluan. Gue mau makan." Eza menyerahkan kertas sejenis struk itu. Lalu mengajak Kiran berjalan menuju tangga.
Di lantai dua tidak terlalu banyak komputer. Atau lebih tepatnya tidak sebanyak di bawah. Karena dilantai ini tempatnya di penggal menjadi dua, untuk tempat makan. Di lantai ini juga tidak terlalu berisik karena komputer disini di lengkapi headphone. Tidak seperti di bawah yang menggunakan speaker.
Eza pun berjalan ke area luar untuk makan. Sedang Kiran kini sedang menyalakan komputer satu satunya yang kosong. Sebenernya ajakan Eza tepat juga sih. Kiran jelas aja anteng di ajak ke warnet, Kiran gak terlalu alay di sosmed sih, dia cuma lebih senang alay di bbm. Cuma kalo maen warnet gini Kiran seneng nonton youtube, buka buka video video lucu, atau thriller film baru, atau nonton anime.
Dan sekarang Kiran sedang cekikikan karena nonton film spiderman yang di dabbing dengan omongan omongan ngawur. Saking seriusnya nonton, Kiran gak sadar Eza datang dan udah ngambil bangku plastik buat duduk di sebelahnya.
"Apanya yang lucu dari spiderman?" Eza menatap monitor yang menampakan film spiderman tersebut. Karena suaranya hanya mampu di dengar oleh Kiran yang menggunakan headphone, Eza jadi tidak tau.
"Kapan lo dateng?" Kiran agak terkejut saat menoleh kesampingnya sudah ada Eza. "Nih lo dengerin dia ngomong apa. Masa pengen ngeluarin jaring malah ngomonh 'astagfirullah, masyallah' gue baru tau kalo Peter Parker orang islam." Kiran memasangkan headphone yang di dengarnya pada Eza.
Setelah mendengarkan beberapa saat, mau tak mau Eza tak mampu menahan senyumnya dengan ucapan ucapan dabbing itu.
"Nonton Naruto dong." Eza menggerakan mouse untuk membuat tab baru. "Gue mau maen sendiri tapi gak ada yang kosong." Keluhnya, sambil memandang berkeliling namun tak ada tempat yang kosong.
"Nonton gituan di anime indo dot tv itukan? Gue sering nonton disitu."
"Oh ya? Lo sering nonton naruto? Lo udah nonton sanpe episode berapa?" Eza tampak tertarik dengan ucapan Kiran. Jarang jarang cewek tau situs tempat nonton anime itu.
"Guekan cuma bilang sering nonton disitu. Bukan nonton Naruto." Tandas Kiran. Membuat Eza gak terlalu bersemangat, padahal kan tadinya Eza mau mengajak Kiran berdiskusi seputar Naruto. "Lagian apa bagusnya sih Naruto? Gambarnya gak ada yang imut imut. Aneh semua. Mana orang orangnya pada pake iketan di kepalanya kayak mau demo. Mana kelakuan Narutonya kayak orang bego." Kiran nyerocos tentang kartun yang menurut Kiran gambarnya gak ada bagus bagusnya itu. Kiran emang kalo nonton anime lebih sering liatin gambarnya ketimbang jalan ceritanya. Siapa sih yang peduli sama jalan ceritanya kalo tokoh tokohnya gemesin gitu. Begitu komentar Kiran kalo nonton anime.
"Elo gak ngikutin cerita dari awalnya sih. Ceritanya seru deh. Mereka bukan mau demo, itu namanya lambang perguruan tau."
"Peduli amat sama jalan ceritanya. Yang penting tuh gambarnya imut imut. Mana gak tamat tamat lagi."
Mereka terus berdebat seputar anime itu. Warnet lantai dua yang biasanya sepi mendadak ribut cuma karena ocehan mereka berdua. Mana suara Kiran gak bisa pelan lagi.
***