- 25 -

1547 Kata
Kalimat itu, membuat Arbis tersentak. Dulu, iya dulu, dan tentunya sekarang sudah berbeda. Seketika, seakan ada yang berteriak di telinganya dengan kencang. Dulu sama sekarang itu beda! Kejadian dulu gak akan terulang lagi sekarang. Tanpa berkata apapun Arbis masuk ke kamarnya. Ia menyambar kunci motor yang di geletakannya di meja kecil samping tempat tidurnya. Arbis berjalan dengan cepat keluar dari kamarnya lalu menuruni tangga. Ia ingi pergi dari sana, ia ingin pergi dari masalalunya. Masalalunya yang terasa indah, namun terasa menyakitkan mengingat kenyataan sekarang. Percuma Arbis kesini, jika pada akhirnya harus melihatnya yang seperti dulu. Arbis menyalakan mesin motornya, lalu keluar dari gerbang rumah ini. Malam ini ia memang membawa motor untuk ke rumah neneknya, karena sedang ada masalah dengan mobilnya. Melihat Arbis yang seketika ingin pergi, Tisya pun mengikuti turun ke bawah. Ia segera berlari keluar untuk menghampiri Arbis. Tanpa menggunakan sendal ia berlari keluar dan mengejar motor Arbis yang sudah separuh jalan. "Arbis, tunggu! Ada yang harus kita selesaikan!" Teriak Tisya sambil tetap berlari mengejar motor Arbis. Suara Tisya terdengar lirih, membuat laju motor Arbis tidak secepat biasanya. Arbis ingin berhenti dan berbicara dengan gadis itu, hanya saja hatinya tak cukup kuat untuk menatap dan berhadapan dengannya. "Arbis, plis! Gue mohon berhenti!" Tisya kembali berteriak, membuat hati Arbis tergoyah, dan pikirannya terpecah. Hingga motornya oleng dan berbelok tanpa di komando, hingga akhirnya motor itu jatuh kejalan dan menimpa Arbis. "Argh!" Arbis merintih kesal, namun dengan sekuat tenaga ia keluar dari motor yang menindihnya itu. s**l! Arbis tidak pernah sekagok ini saat naik motor. Tisya pun mempercepat larinya, dan menghampiri Arbis yang masih terduduk karena kakinya menahan sakit. Dan saat berada di dekat Arbis, Tisya ikut menjatuhkan dirinya yang sudah lelah berlari. Di jalanan komplek yang sepi, kini keduanya duduk tanpa alas di atas aspal. Saling menatap satu sama lain, tanpa sepatah katapun. Hanya terdengar lenguhan nafas masing masing yang saling memburu. "Maaf.." ucap Tisya dengan suara lirihnya, Tisya menunduk, menahan air mata yang sudah hampir menyeruak keluar dari matanya. "Lo gak salah." Jawab Arbis dengan cepat. Membuat Tisya menenggak menatap Arbis, ini begitu perih rasanya. "Maaf, maaf, maaf.." "Seribu kali pun lo minta maaf, gue gak pernah tau dimana letak kesalahan lo!" Arbis masih berbicara dengan dingin, meski hatinya terus memberontak saat melihat gadis itu sudah di depan matanya. Terdengar lenguhan nafas Tisya, matanya yang kini terlihat sayu mengunci pandangan Arbis. "Jangan pura pura b**o di hadapan gue, gue kenal elo, gue tau elo. Lo juga pasti tau dan ngerti banget dimana letak kesalahan gue." "Gue udah bilang, lo gak salah. Disini yang salah itu gue, gue salah karena udah terlalu berharap lebih sama lo." Tisya makin tercengang, nafasnya kini terasa sesak. Setiap kata yang di ucapkan Arbis, pelan pelan seakan menampar hatinya. Tisya bodoh! Bagaimana bisa ia melepaskan sosok Arbis yang dulu sangat sulit untuk di raihnya. Mengapa kini dengan mudah ia bisa sampai melepaskannya dan melukai hatinya? "Lo bilang gue gak salah, tapi gue bener bener ngerasa bersalah sama lo, Bis. Gue.. gue.. ahh!" Tisya tak dapat membendung tangisnya lagi, bahkan ia tak mampu melanjutkan ucapannya. Tangisnya pecah, ia tak tahan dengan semua ini. Dan hati Arbis semakin bergetar saat melihat air mata itu meluncur di pipi Tisya, oh Tuhan, gadisnya menangis. Arbis tak tega melihatnya, terlebih saat isakannya mulai terdengar. Tanpa berpikir panjang, bahkan tak sempat terpikir, tangan Arbis bergerak untuk menyapu air mata di pipi mulus Tisya ini. Arbis membalas tatapan mata sayu itu dengan tatapan di matanya yang kini sudah tampak sangat merah, terlihat sekali Arbis pun menahan tangis. Dan seketika Tisya menghambur kedalam pelukan Arbis. Tisya melingkarkan tangannya pada punggung Arbis, mendekapnya begitu erat. Inilah sesuatu yang sejak pertama ia melihat Arbis ingin di lakukannya, namun belum sempat. Sedang Arbis tak menjawab, ia hanya diam, ingin membalas pelukan Tisya, namun masih ragu. “Sekarang… Saat ini saja… Untuk beberapa detik saja… aku ingin bersikap egois. Aku ingin melupakan semua orang, mengabaikan dunia, dan melupakan asal-usul serta latar belakangku. Tanpa beban, tuntutan, atau harapan, aku ingin mengaku, Aku mencintaimu.” kata kata itu meluncur dari mulut Tisya dengan lirih dan lembut, kembali menggunakan bahasa aku-kamunya yang dulu pernah di pakainya saat mereka masih berpacaran. "Aku kangen sama kamu, Sya. Kangen banget. Aku cuma pengen kamu tau, meski lingkungan di sekitar sini semuanya sudah berubah, tapi sedikitpun perasaan aku ke kamu gak ada yang berubah. Masih sama kayak dulu." Arbis mulai membalas pelukan Tisya, dan juga berbicara dengan bahasa lembutnya. Kini, diantara keduanya sudah terungkap tentang perasaan masing masing. Meski Arbis masih tidak tau, apa yang Angga lakukan hingga Tisya tidak dapat kembali padanya. Padahal perasaan keduanya masih sama seperti dulu. "Setelah ini, aku janji gak akan ganggu kehidupan kamu lagi, Bis. Keadaan udah berbeda, ada sesuatu yang gak bisa aku jelasin sekarang tentang kenapa kita gabisa bersama lagi." "Semua karena Angga, aku tau itu." "Aku harap kamu ngerti, aku gak mau terjadi apa apa sama kamu." "Angga ngancem apa sama kamu sampe kamu kayak gini, Sya?" Arbis melepaskan pelukannya, kini kedua tangannya meraih pipi Tisya, mendongkakan wajahnya, menatapnya dengan lembut. Tisya menggeleng, yang artinya tak dapat ia jelaskan saat itu, meski belum mengeluarkan suara lagi, matanya berusaha menjelaskan. "Aku gak bisa jelasin, lagian, kamu udah bahagia kan sama dia." Arbis mengerutkan keningnya menatap Tisya. "Dia? Siapa?" Tanya Arbis dengan tatapan penuh tanya tanda tidak mengerti. "Pacar kamu, siapa lagi?" "Pacar?" Kini Arbis layaknya orang bodoh, ia seperti amnesia, bahkan ia tak ingat bahwa dirinya berpura pura pacaran dengan Karin di hadapan Tisya dan semua orang. "Karin, dia pacar kamu kan?" "Ahh, ii..iiya, maaf, pikiran aku beneran kacau." Arbis berusaha mencari alasan. Bodoh! Mengapa Arbis tidak ingat! Ah, apa ini terlihat mencurigakan? ***   "Gue tau lo pasti kesini." Rafa tersenyum sinis, saat ia sampai di kost-an dan mendapati seorang lelaki tengah menunggunya di ruang tamu kost itu. "Buat apa lo ngikutin gue tadi, ada masalah?" Tanya Rafa, membuat orang itu, yang ternyata adalah dia, menatap Rafa dengan tatapan paling tajam. "Jauhin Kiran." Desisnya, matanya masih menatap tajam kearah Rafa. Wajahnya terlihat datar dan dingin. Rasa kebencian begitu terlihat dari tatapan tajamnya. "Lo gak ada hak ngelarang gue buat deket dengan siapapun." "Jauhin Kiran, b******k!" Dia maju beberapa langkah, tangannya menarik kerah baju Rafa. Meski dia tak lebih tinggi dari Rafa, namun ia berusaha berjinjit untuk menyamai tingginya dengan Rafa. Di cengkramnya kerah itu dengan sangat kuat, matanya menatap gahar mata Rafa. Terdengar nafasnya yang begitu memburu, dia tampak emosi saat berhadapan dengan Rafa. "Jangan maen maen sama Kiran, atau gue gak akan segan segan ngebunuh lo saat itu juga!" "Gue gak maen maen!" Rafa dengan tegas membalas tatapan dia. Dia terasenyum meremehkan pada Rafa. "Cih! Gue tau elo b******n! Dan pada akhirnya lo pasti akan nyakitin Kiran!" "Lo bisa bersikap lebih sopan dokit sama Kakak lo ini?" Rafa mendorongnya, menjauhkannya sedikit dari tubuhnya. Masih bersikap santai menghadapi adiknya ini, meski kasar dan tempramen, meski hubungan di antara mereka tidak baik, Rafa tetap harus bersikap dewasa menghadapi adiknya ini. "Sampe bumi runtuh pun gue gak akan sudi ngakuin lo sebagai Kakak gue. Gue gak punya kakak b******k dan b******n kaya lo!" *** Pagi yang sangat indah yang mampu membuat Ilham hari ini bersenandung di atas motornya, berjalan hendak keluar dari komplek perumahannya. Tak tau ada angin apa antara Ilham dan Arbis hingga keduanya berubah menjadi pengendara motor. Atau mereka janjian? Entahlah~ Dari balik helm-nya, Ilham melihat sebuah truk besar bertengger di pinggir jalan. Sepertinya truk itu truk pindahan. Karena truk itu berhenti tepat di depan sebuah rumah yang kemarin Ilham lihat masih ada plang bertuliskan 'Dijual'. Rupanya ada penghuni baru di komplek ini. Seketika Ilham tak dapat mengalihkan pandangannya dari satu objek, bahkan ia tidak memperhatikan jalanan di depannya. Tatapannya tertuju pada seorang gadis dengan rambut panjang terurai ikut mengangkut barang barang yang tidak terlalu berat. Tubuhnya sudah di balut seragam SMA, sepertinya dia aka ke sekolah, namun ingin ikut membantu sebentar pindahan rumahnya ini. "Deandra, cepat kamu berangkat ke sekolah nanti kamu telat." Tak lama kemudian datanglah seorang wanita paruh baya dengan membawakan tas milik gadis yang di panggilnya Deandra ini. "Huh, Mama gak asik. Ini kan hari pertama kita pindahan, masa Andra langsung sekolah." Deandra memanyunkan bibirnya sambil menerima uluran tas dari Mamanya. "Mama udah mengurus pindahan sekolah kamu dari sebulan yang lalu, dan hari ini adalah hari pertama kamu ke sekolah." "Yaudah, Papa mana? Andra di anter Papa kan?" "Kamu naik taksi aja dari depan." "Hah, Mama fix gak asik. Andra sebel." Dengan langkah gontai bercampur kesal Deandra melangkah menyusuri jalanan komplek sambil menenteng tas nya asal. Hari ini sangat tidak menyenangkan. Sedangkan Ilham yang masih terpaku dengan pesona Deandra, tanpa berkedip Ilham menatap Deandra. Hingga tanpa di sadarinya, motornya kehilangan keseimbangan dan.. Brukk.. Ilham menabrak sebuah pohon yang ada di samping jalan. Untungnya kakinya dapat menahan motor besar yang di bawanya sehingga hanya miring, dan suara yang di timbulkannya karena tabrakannya dengan pohon. Deandra terperanjat melihat Ilham yang menabrak sebuah pohon. Padahal pohon itu berada di samping jalan, bagaimana bisa Ilham sampai menabraknya. Deandra melihat keselilingnya, tak ada orang yang lewat, hanya ada dirinya, haruskah Deandra menolongnya? Karena rasa kemanusiaan di dalam dirinya, Deandra pun menghampiri Ilham yang tampak kesulitan menegakan motornya kembali karena salah satunya masih menahan motor itu yang miring. "Mau gue bantu?" Deandra mencoba bertanya terlebih dulu. Namun yang di tanyanya malah bengong memandang Deandra tak berkedip. Dan, Brukk.. motor itu kini malah sukses menimpa tubuhnya. "Em, yah, sepertinya gue butuh bantuan lo buat ngeluarin diri dari tindihan motor ini." Sahut Ilham sambil menampakan senyum termanisnya, senyum ala playboy Ilham. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN