Mau tau gimana rasanya suka sama pacar orang? Tanya aja sama Sayna. Pasti Sayna bakal jawab dengan lantang, sakitnya tuh disini. Makan hati setiap kali liat si doi lagi berduaan ama pacarnya. Rasa kesal campur sedih menyelimuti hati Sayna. Kadang, Sayna pun kesal dengan pacar Eza, meski Sesil tidak ada salah apapun dengan Sayna. Hah, bagi Sayna, kesalahan Sesil itu pacaran sama Eza.
Pasalnya, pagi pagi buta begini, saat Sayna baru datang dan memarkirkan mobilnya di parkiran, mata Sayna seketika memanas melihat kearah gerbang. Pemandangan gak enak lagi lagi harus di saksikannya. Eza yang mengantar Sesil sekolah lalu mengecup keningnya dengan mesra. Hah, kapan Sayna bisa seperti itu dengan Eza?
Tinn.. tinn..
Suara klakson motor terdengar mengejutkan di telinga Sayna. Seketika Sayna melotot pada si pengendara motor yang tersembunyi di balik helm itu. Tanpa melihat wajahnya, daro motornya, Sayna tau dia siapa. Siapa lagi kalo bukan makhluk paling ganteng seantreo sekolah ini. Regan. Dengan Rizky yang ada di boncengannya.
"Ihh Regan! Pagi pagi udah bikin gue jantungan, gue kan jantungan kalo pagi pagi gini udah harus ketemu lo."
Its show time, tak jauh beda dengan Kiran, Sayna juga selalu seperti itu jika bertemu dengan Regan. Bukannya marah karena telah di kejutkan, Sayna justru malah menggoda Regan.
Regan tersenyum simpul menanggapi godaan Sayna. "Pagi pagi lo bengong, kesambet setan loh." Canda Regan, sambil memarikirkan motornya di antara jejeran motor.
"Hus, jangan ngomongin setan. Nanti yang di belakang lo marah." Sayna melirik Rizky yang tadi di bonceng Regan lalu mulai turun dari motor Regan. Regan hanya tersenyum geli saat lagi lagi anggota Klover selalu meledek Rizky.
***
Saat sekolah mulai bubaran, para siswa keluar berbondong bondong dari kelasnya, berjalan menghampiri gerbang untuk yang ingin naik angkot dan menunggu di halte, atau yang memarkirkan kendaraannya di parkiran tentu berjalan ke parkiran. Seperti Klover yang berjalan dengan cekikikan sambil ajang toyor toyoran kepala, tidak jelas apa yang mereka bicarakan. Bahkan beberapa dari siswa yang berjalan berdampingan dengan mereka, menganggap Klover ini sakit jiwa karena tidak bisa diam.
"Ran, lo ngapain ikut ke parkiran? Lo kan gak bawa mobil?" Cibir Arbis ketika Kiran ikut ikutan berjalan ke parkiran, padahal jelas jelas tadi pagi dia di antar oleh gebetan pujaan hatinya itu. Dan Karin pun tidak bawa mobil, karena tadi pagi Arbis menjemputnya dan mengajaknya berangkat bareng -dengan cara paksa tentunya- karena Karin tak mungkin dengan sukarela mau pergi dengan Arbis.
Kiran menatap semua temannya, masing masing bawa kendaraan. Buat apa gunanya temen kalo gak bisa di tebengin. "Gue balik bareng Ilham." Seru Kiran setelah berpikir sejenak akan nebeng dengan siapa.
"Gabisa!" Ilham menjawab dengan cepat, membantah omongan Kiran. "Gue balik bareng Deandra." Kilahnya.
"Oh gitu, lo anggep apa gue selama ini, hah?" Teriak Kiran dengan nada menyentak, ucapannya terdengar drama banget. Membuat Sayna, Arbis, maupun Ilham muak mendengarnya.
"Drama lo!" Suara koor Arbis, Ilham, dan Sayna berteriak kompak, mengatai Kiran. Membuat Kiran makin kesal.
"Ahh, yaudah gue balik bareng Arbis."
"Dih, apaan lo?" Arbis langsung menoleh gak terima. "Karin kan gabawa mobil, gue balik bareng dia."
"Karin naek taksi bisa."
"Lo juga bisa naek taksi." Arbis membalikan. Kiran jadi kesel setengah mati.
"Na, lo bawa mobil kan?"
"Noh lo yang nyetir, gue males bawa mobil." Tanpa menjawab Sayna langsung melempar kunci mobilnya dan dengan cekatan Kiran menangkapnya. Kiran pun mengembangkan senyum penuh kemenangan pada Ilham dan Arbis.
"Mulai sekarang, kalian gue pecat jadi jongos gue! Sono lo, hus hus." Kiran mencibir pada Arbis dan Ilham sambil kakinya menendang nendang kaki Arbis dan Ilham.
"Dan setelah lo mecat kita berdua, sekarang lo malah jadi supir Sayna. Haha." Arbis tertawa puas melihat Kiran, di ikuti dengan tawa Ilham yang lebih menggelegar. Kiran makin gondok sama kedua teman cowoknya itu.
***
"Tuhkan, kenapa sih kalian, para Klover, hobi banget nganiaya gue?" Rizky kembali memasang tampang memelas, membuat Sayna tersenyum geli.
"Hoii, lo berduaan mulu ah, Gan. Betah amat bareng nih orang." Kiran yang baru datang bergabung dengan hebohnya. Tangannya mendorong Rizky dengan sok akrab. Membuat Rizky kembali melotot pada Kiran. "Elo jangan berdiri berdampingan ama Morgam gitudeh. Sakit mata gue liatnya, ga cocok. Cocokan begini, minggir lo." Kiran menggeser posisi Rizky yang tadinya ada di sebelah Regan, dan kini Kiran yang ada di sebelah Regan. Tangan Kiran di tilap di d**a, sambil tersenyum manis, lalu mengangkat alis, meminta pendapat Sayna. "Cocok kan, Na?"
Sayna memicingkan matanya, melihat Kiran yang berdiri berdampingan dengan Regan. Kiran yang tersenyum manis seraya menggoda, sedang Regan yang tersenyum santai karena sudah terbiasa menghadapi semua ini.
"Cocokan sama guelah!" Sayna menarik tangan Sayna, sehingga kini Sayna lah yang berdiri di samping Regan.
"Hah Sayna suka rusuh." Kiran berdecak sebal. Lalu kemudian matanya mengarah ke gerbang, terlihat Ilham dengan motornya dan membonceng seorang siswi yang, emm emang kriteria mangsa Ilham banget. Ternyata Kiran salah, dikira Ilham beneran udah insyaf. Gataunya liat yang bening dikit juga langsung kambuh.
Lalu siswi yang di bonceng Ilham itu turun di gerbang, sedang Ilham mengarahkan motornya ke parkiran, lagi lagi di parkiran udah kayak ada reunian. Disana ada Kiran, Sayna, Regan, dan Rizky.
Setelah memarkirkan motornya, Ilham ikut bergabung. Senyumnya terlihat cerah. Sangat cerah bahkan. Jelas saja, ternyata gadis yang baru pindahan itu sekolah di sekolah yang sama dengannya. Sungguh kebetulan. Semoga sekelas juga, XI IPS 4 kan kelas buangan, kalo ada anak baru pasti di lemparnya kesitu. Huh semoga begitu. Kalo sampai benar, Ilham yakin mereka memang berjodoh karena semua serba kebetulan.
"Siapa tu cewek, Ham?" Tanya Kiran dengan tatapan sinis, cewek g****k, kenapa mau sama si Ilham playboy jones ini sih? Kiran kan jadi gabisa ngatain Ilham jones lagi. Pasti si Ilham bakalan sok kegantengan lagi deh. Rutuk Kiran dalam hati.
"Calon pacar gue, kece kan?" Ucap Ilham dengan pedenya. Membuat Kiran yang mendengarnya ingin muntah. Dari cara ngomongnya aja, ini playboy jones udah mulai balik kayak dulu.
"Udah ah, ayuk kita ke kelas. Keburu bel nanti. Ayuk, Gan." Dengan mesra Sayna menyelipkan tangannya di tangan Regan, lalu menarik Regan untuk berjalan bersamanya.
"Sayna s****n! Si ganteng gue maen di bawa aja. Udah ayuk, Ham." Seperti biasanya, Kiran menggandeng Ilham dengan akrabnya. "Ky lo gak ke kelas? Mumpung gue baek nih gue ajak." Kiran menoleh kearah Rizky yang masih memasang tampang memelasnya.
Kiran pun mulai mengobrol akrab dengan Ilham, menceritakan kejadian kemarin malam. Tentang kencannya dengan Rafa, tentang Gusur yang mengikutinya, tentang Kiran yang hampir berhasil menangkap orang yang di curigainya, tentang pesan singkat dari Gusur mengenai Rafa, dan tentang celana yang di kenakan Rizky sama dengan celana yang di pakai Gusur. Yaa, Kiran beberkan pada Ilham semuanya, Kiran emang gak enak kalo gak curhat. Dia bukan Karin yang lebih senang menyimpan semuanya sendirian.
"Wah, itusih gak salah lagi, Ran. Si Rizky itu yaa, Gusur." Komentar Ilham saat mereka telah sampai di kelasnya, lalu Ilham duduk di atas meja Arbis yang orangnya belom datang.
"Masasih, Ham. Tapi gue ngerasa bukan Rizky, gak mungkin lah."
"Apanya yang gak mungkin sih? Udah jelas begitu."
Kiran pun hanya mampu diam, meresapi omongan Ilham. Apa iya seperti itu? Masasih Rizky? Kenapa sepupunya Rizky aja? Nahlo Kiran malah ngelantur di pikirannya.
***
"Lo ngapain sih ngajak gue bolos pelajaran, hah?"
Karin berdiri sambil berkacak pinggang, menatap kesal pada Arbis yang berhasil menyeretnya ke UKS untuk bolos pelajaran. Dan seketika pintu uks di kunci Arbis lalu kuncinya di pegang oleh Arbis, sehingga Karin tak bisa berbuat apa apa. Apa yang akan di lakukan Arbis?
"Sekali sekali gapapa, Rin. Anak pinter kayak lo kalo cuma gak ikut satu atau dua jam pelajaran gak akan mendadak g****k kok." Saut Arbis enteng.
Karin hanya mampu mendenguskan nafas sebalnya, lalu ia duduk di tepi ranjangUKS, tepat di sebelah Arbis.lalu menatap Arbis masih dengan pandangan kesal. Apa apan ini? Dia harus di kurung di ruangan dalam sekolah ini yang bernuansa putih dan segala bau obat obatan yang memenuhi ruangan orang sakit ini. Namun ruangan ini juga yang selalu menjadi tempat tujuan anak anak semacam -Klover- untuk bolos.
"Gue males ke kelas, Rin. Gue gasiap ketemu dia semenjak kejadian kemaren." Arbis yang noteband nya hanya akan bercerita pada Karin memulai ceritanya.
Karin mengerutkan keningnya pertanda tidak mengerti, Karin tau siapa yang di maksud 'dia' dalam ucapan Arbis. Namun Karin tidak mengerti tentang kejadian kemarin.
"Malam itu, semuanya terungkap. Dia ngaku sama gue kalo dia masih cinta sama gue. Dan malam itu, kita berusaha melupakan semua kejadian yang udah terjadi, gue dan dia pengen sejenak ngerasain kebersamaan buat terakhir kalinya. Dan disitu juga dia janji gak bakal ganggu gue lagi." Lanjut Arbis dengan sorot mata yang mulai menerawang pada kejadian malam itu. Yang entah mengapa membuat Arbis makin sesak.
"Terus, apa alasan dia ninggalin lo?" Tanya Karin yang merespon omongan Arbis.
"Entahlah, dia gak mau cerita."
Karin pun mengangguk paham, ternyata di balik sikap Arbis yang sangat Karin benci itu, sebenarnya Arbis memikul beban tentang kisah masalalu yang sangat menyayat hatinya. Hanya di hadapan Karin Arbis mampu memperlihatkan dirinya yang seperti ini.
Ternyata dari balik jendela UKS yang hordengnya tidak di tutup, Tisya yang habis dari toilet mampu melihat Arbis dan Karin sedang berdua, berbicara begitu serius, meski Tisya tak tau apa yang mereka bicarakan. Dan entah mengapa, hatinya merasa ngilu melihat semua itu.
________________
Satu-satunya yang bisa kulakukan sekarang adalah keluar dari hidupnya. Aku tidak akan melupakan dirinya, tetapi aku harus melupakan perasaanku padanya walaupun itu berarti aku harus menghabiskan sisa hidupku mencoba melakukannya. Pasti butuh waktu lama sebelum aku bisa menatapnya tanpa merasakan apa yang kurasakan setiap kali aku melihatnya - Autumn In Paris, Ilana Tan