Acara tahunan kembali di gelar, acara yang hanya di peruntukan untuk anak kelas sebelas. Jadi, setiap angkatan emang cuma ngalamin ini satu kali. Dan kali ini, Klover dan kawan kawan yang berkesempatan untuk menikmati acara yang di gelar setiap tahunnya ini. Camping. Yep, acara tahunan ini sedang menggemparkan seluruh siswa kelas sebelas, supermarket terdekat dari apartemen Kiran dan Karin bener bener ludes di borong.
Kiran beli makanan sebanyak banyaknya, buat persediaan tiga hari kedepan selama camping. Dari mulai snack, biskuit, coklat, sampe pop mie dan spagethi la pasta. Gak lupa juga Kiran beli sabun, odol, shampe, sikat gigi, conditioner, dan berbagai peralatan lainnya. Karin pun gak mau kalah, meski kadar belanja Karin masih lebih normal daripada Kiran.
Hal yang sama pun dilakukan Sayna, Arbis, Ilham, Rizky, Regan, dan para siswa kelas sebelas di SMA Paramitha lainnya. Dan pastinya, mereka semua tak sabar menanti hari esok tiba, dimana mereka akan hidup di alam luar. Tidur beralaskan tikar dan terlindungi tenda, pasti seru.
***
Benar saja, pagi pagi sekali Kiran sudah bangun dengan semangat. Padahal baru jam empat pagi. Karin sih masabodo, dia masih tetap menempel di tempat tidurnya. Bukannya Karin gak bersemangat, tapi emang Kiran aja yang terlalu bersemangat.
"Kariiinnn!! Wedges biru gue dimana sih?" Kiran berteriak dari ruang tamu, setelah beberapa menit mengacak rak sepatu, mencari wedges miliknya.
"Gatau!" Balas Karin ketus, teriakan Kiran sukses membuatnya terbangun dan mengambil handuk yang tergantung di belakang pintu kamar.
Karin berjalan keluar dari kamarnya yang berarti membuatnya muncul di ruang tamu. Terlihat Kiran yang frustasi sedang mencari sepatu wedges-nya. Kiran beneran udah rapi, dengan celana jeans panjangnya, dan baju panjang yang di lapisi rompi, belum lagi kacamata besar berbingkai hitam yang di pakainya. Rambut panjangnya tetap di biarkan tergerai, dengan model seperti biasa, di belah dua.
"Lo mau camping pake wedges?" Tanya Karin sinis, di tatapnya Kiran yang kini mengangguk. "Lo mau camping apa mau mejeng? Kita itu camping di hutan, tapi dandan lo kayak mau ke mall. Kecengklak baru tau rasa lo."
"Penampilan itu tetep nomor satu, gak peduli mau ke hutan atau ke laut! Kecengklak itu kalo gue pake heels, bukan wedges!" Kiran menjawab, sambil bangun lalu pergi ke kamarnya, membuka lemarinya yang ada beberapa sepatu baru. Kiran emang kolektor sepatu, dia sering beli sepatu tapi jarang sempet di pake, jadi ada banyak sepatu barunya yang masih di kardusin di dalam lemari.
Setengah jam kemudian Kiran dan Karin keluar dari apartemennya dengan membawa tas besar yang ada di pundaknya. Belom lagi tentengan di tangannya, bekel makanan buat di dalem bis, dan tas kecil tempat naro dompet dan handphone.
Mereka berangkat naik taksi, karena gak mungkin naik mobil sendiri. Di sekolahnya sudah tersedia sembilan bis pariwisata. Empat buat anak IPA, empat lagi buat anak IPS, dan satunya buat para guru dan staf sekolah yang ikut. Bis di sediakan untuk masing masing kelas, bis XI IPS 4 ada di paling ujung. Nasib kelas buangan.
Saat turun dari taksi, Kiran dan Karin, oh ralat, maksudnya hanya Karin, sudah di sambut oleh Arbis yang segera menghampirinya. Seolah menunjukan -sikap pacar yang baik- Arbis langsung membawakan semua bawaan Karin.
"Gak usah ih!" Karin menarik narik tasnya yang sudah di tenteng Arbis.
"Tau, Bis. Mending lo bawain tas gue. Dasar temen durhaka." Kiran manyun sambil menggendong ransel besarnya dan beberapa bawaannya di tangan kanan kirinya.
"Minta tolong sono sama pujaan hati lo yang anak kuliahan, siapa itu namanya?" Arbis mencibir, menggoda Kiran yang tampangnya udah bete abis.
"Gak usah bawa bawa Ka Rafa dalam perkara ini ya!" Tegas Kiran, berbicara dengan gaya inteleknya, seolah olah ini pembicaraan serius.
Saat manik mata Kiran menangkap sosok Regan dan Rizky yang melintasinya, mata Kiran langsung semangat. Yess, seenggaknya mereka bedua bisa jadi jongos sementara.
"Gan, Ki, tolongin gue bawain ini dong. Berat nih, Arbis penghianat noh malah bawain punya Karin doang." Kiran mengadu pada Regan dan Rizky.
"Sini gue bawa, ke bis IPS 4 kan?" Regan yang ganteng dan baik hati pun langsung menyambut uluran tas dari Kiran. Kiran emang gak salah ngidolain Regan. Udah ganteng, pinter, ramah, baik hati pula.
"Ki, lo bawain yang ininih." Kiran menyodorkan kantong plastik besar berisi makanan.
"Gue mau bawain punya Karin aja." Rizky langsung berlari menghampiri Karin yang berjalan berdampingan dengan Arbis.
"s****n! Gue kayak sampah kagak di anggap."
Regan hanya tersenyum mendengar ucapan Kiran. Matanya ikut melihat pada Karin, Arbis, dan Rizky yang kini sedang terjadi perebutan tas. Dan saat itu pula Karin menoleh kearah Kiran dan Regan, ingin tau, ingin melihat, sosok Regan yang malah membantu Kiran. Jujur, Karin iri, ingin rasanya seperti Kiran yang blak blakan. Tapi urat malu Karin belom putus kayak Kiran, sehingga Karin selalu menomorsatukan malunya itu.
"Elo apa apaan sih? Dateng dateng nyamber tas yang gue bawa. Kayak jambret!" Arbis menatap Rizky kesal karena kelakuannya.
"Gue cuma mau bantuin Karin."
"Gak perlu, dia udah punya gue. Jadi gak butuh bantuan lo tau!"
"Gabisa gitu, lo harus fair dong. Lo nikung gue gitu aja, jadi lo gak boleh ngelarang gue buat melanjutkan aksi pdkt gue sama Karin." Rizky ngotot dengan mata melotot menatap Arbis. Tangannya tetap menarik narik tas yang sedang di pegang Arbis.
Karin tak peduli dengan kedua makhluk yang selalu bergentayangan mengganggu hidupnya itu, Karin melenggang pergi meninggalkan segala barang bawaannya yang di perebutkan oleh Arbis dan Rizky. Bodoamat gimana nasib barang barangnya itu, tapi kalo sampe ada yang ilang, awas aja, Karin gak segan segan menggal kepala mereka berdua terus di lemparin ke kandang komodo.
"Oke, bawa semua sama lo. Gue mau bawa yang punyanya aja. Bye!" Arbis berseru keras tepat di depan wajah Rizky, bahkan beberapa ludahnya muncrat mengenai muka Rizky. Arbis yang menyadari Karin sudah pergi, segera berlari mengejar Karin, mensejajari langkahnya dengan Karin. Saat Karin menoleh kesampingnya, dan tepat melihat Arbis ada disana, Arbis hanya cengar cengir menanggapi Karin.
"Arbis sialaaann!! Karin tersayang tungguin gue dong." Rizky berteriak sambil berlari mengejar Arbis dan Karin, meninggalkan barang bawaan Karin di tengah jalan begitu saja. Kalau sampai pemiliknya tau, habislah riwayat Rizky.
Mendapati Rizky yang kini sudah berada di samping kirinya, Karin menatap Rizky begitu tajam. Memperhatikan setiap detailnya, lalu kembali menatap Arbis, dan barulah Karin sadar, barang barang bawaannya sama sekali tidak di bawa oleh dua cowok tidak berguna ini.
"Di tinggalin dimana barang barang gue?" Tanya Karin ketus, sambil menghentikan langkahnya, dan di ikuti oleh Arbis dan Rizky.
Rizky baru tersadar, bahwa tadi ia berlari begitu saja. Rizky menepuk jidatnya seakan baru teringat, lalu dengan terbirit b***t berlari ke tempat dimana barang Karin di tinggal olehnya.
"Bawa ke bis kelas kita aja, Ki. Aduh, lagi kerjaan lo gimana sih, gak bener banget." Arbis mencibir dari tempatnya, tanpa ada niata sedikitpun untuk membantu Rizky.
"Anak orang di kerjain, parah banget sih lo." Karin kembali melanjutkan jalannya mencari bis kelasnya. "Eh, tadi lo nyuruh Rizky bawa ke bis kelas elo? Kelas gue kan XI IPA 1 tau!"
"Anak orang di ketusin, lebih parah elo." Arbis membalas omongan Karin yang membicarakan tentang Rizky, sambil menunjukan senyum jailnya. "Yaa elo naik bis kelas gue ajalah, lo kan tau bis pariwisata gini AC nya suka dingin, gak enak tau dingin dingin sendirian." Mata Arbis menggerling nakal, diiringi dengan senyuman khasnya, membuat Karin makin enek melihatnya.
"Gue gak mau yaa di sangkain gak bisa baca tulisan yang ada di depan bis. Jelas jelas itu bis tulisannya XI IPS 4." Karin tak menanggapi omongan Arbis, ia kembali ke persolan awal.
"Masalahnya, ada juga anak XI IPA 1 yang gabisa baca tulisan di depan bis, sampe dia nyasar ke dalem bis kelas gue."
Karin menaikan sebelah alisnya, tidak terlalu lama berpikir, ia langsung mengerti makna yang tersirat dalam ucapan Arbis. "Angga?"
"Yess, siapa lagi yang mau ngumbar kemesraan di depan gue. Dia gak tau apa itu wilayah gue." Ucap Arbis berapi api, pasalnya sejak baru naik ke bis kelasnya, Arbis sudah terlanjur emosi melihat Angga dan Tisya yang sudah menempati bangku bis, dan sedang cekakak cekikik gak jelas. "Ayolah, Rin. Peliss.."
Karin tidak menjawab apa apa, tapi tangan Arbis memaksa Karin untuk pergi ke bis XI IPS 4, karena tenaga cowok lebih kuat, tentu saja pada akhirnya kini Karin menaiki bis XI IPS 4 karena di paksa Arbis.
***
Suasana gaduh mewarnai perjalanan di bis XI IPS 4, sebenarnya anak kelas itu tidak semuanya rusuh. Buktinya dari tadi mereka tidak terlalu berisik, kecuali Klover, genk meresahkan yang tidak pernah berhenti membuat ulah. Disaat perjalan sudah sampai di pertengahan, dan para murid keburu kelelahan di perjalanan, Kiran justru malah teriak teriak di dalam bis.
"Ciyeee Sayna anteng sama Rizky. Liat tuh si Rizky sampe tidur sandaran gitu, awas, Na ilernya ngeces." Cetus Kiran sambil berbalik ke belakang bangku, setengah kakinya di angkat ke bangku, sehingga ia bisa melihat Rizky dan Sayna yang duduk di belakangnya.
"Hahaha, pules banget lagi tuh si Rizky kayak orang mati. Jangan bilang Sayna lagi dag dig dug tuh deket deket Rizky." Arbis ikut ikutan, ia yang duduk di depan Kiran ikut menoleh ke belakang.
"Heh batu! Lo semua penghianat tau, tega ngebiarin gue duduk sama Rizky." Sayna menjawab dengan garang.
"Eh lo mending duduk sama Rizky tidur mulu, nih gue, makanan gue sekantong plastik GEDE ludes sama si Ilham k*****t ini." Kiran menoyor kepala Ilham, yang kini sedang memakan twister yang di bawa Kiran. Sontak Ilham pun keselek dan sibuk mencari minum.
"s****n, mana pucuk yang tadi? Ah uhuk, keselek kan gue, uhuk." Ilham berbicara tidak terlalu jelas karena sambil terbatuk batuk.
"Jiah bengek, mau mati noh." Sayna mulai ikut berkoar kini mengatai Ilham yang sedang terbatuk batuk.
"Abis tau pucuk gue, lo modal kek!"
"Uhuk, minum gue di uhuk, ah s**l, uhuk uhuk, yang baik hati gue bagi minum dong, uhuk." Ilham makin parah batuk batuk karena di paksakan ngomong.
"Nih, Ham, tangkep." Arbis melempar botol minumnya kebelakang tanpa menoleh, alhasil botol itu mengenai kepala Ilham. Sontak tawa Klover pun menyembur dan membahana di bis yang sebetulnya sunyi senyap ini.
"Lo berempat gak pada bisa diem apa? Berisik tau!" Karin akhirnya bersuara, dengan suara ketusnya, ia menatap Klover satu persatu ke belakang.
"Hey, Rin. Jangan belagu lo! Ini wilayah kita tau, lo ngapain nyangsang kesini." Sayna berteriak dari tempatnya.
"Tau, ternyata anak IPA 1 pada gak bisa baca. Jelas jelas ini bis IPS 4." Ilham mencibir, karena ia tau bukan hanya Karin anak IPA 1 yang ada disana.
"Heh, gue juga kalo gak di paksa sama nih kunyuk satu juga gue kagak bakal mau, tau!" Karin menjawab dengan ketus, tidak peduli dengan Angga yang duduk di seberang bangkunya. Sikap Karin memang tidak bisa berpura pura, sesungguhnya jika di perhatika mereka sama sekali tidak seperti orang pacaran, karena rasanya Karin yang senantiasa jutek terhadap Arbis sekalipun.
"Yaudah, jangan hiraukan mereka, kita lanjutin aja tadi, udah sampe mana?" Arbis mengibaskan tangannya di udara, lalu pandangannya beralih pada Karin.
"Sampe mana apaan?"
"Yang tadi kita omongin."
"Kita gak ngomongin apa apa." Karin berkata makin ketus.
"Oh gitu, yaudah kita makan yuk. Laper nih gue, mana makanan lo?" Arbis mengalihkan pembicaraan, kini ia benar benar tidak menghiraukan Klover yang sedang berisik di belakang.
Karin melongo, dasar cowok gak modal. Kenapa daritadi makanan Karin mulu yang di ambilin, cowok di Klover emang hobinya minta doang.
"Tadi gue liat lo kan beli nasi padang dulu tuh sebelum berangkat, udah buka aja sekarang, nanti keburu basi, gue laper nih." Arbis mengusap usap perutnya yang kerempeng itu, di sesuaikam tampangnya yang memelas layaknya orang kelaparan.
"Enggak, modal dikit kek idup lo!"
"Ah Karin, gue bawa pop mie nih, yakali gue gerogotin. Gak ada air panas buat nyeduh." Arbis menggapai kantong plastik yang ia taruh di atas bangkunya, di tempat untuk menaruh barang. "Noh." Arbis pun menunjukan pop mie yang di bawanya.
"Yaudah grogotin ajasih, biasanya juga gitu, Bis." Ilham yang ada di belakang Arbis ikut ikutan.
"Huss, jangan buka buka aib gue dong."
"Tisya bawa termos tuh, tadi pagi kan dia nyeduh pop mie juga." Sayna ikut bersuara, memberi saran pada Arbis.