Malamnya, semua mahasiswa dan mahasiswi kembali berkumpul di ruang tamu. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, Seruni yang selesai melaksanakan sholat isya pun kini tengah berbincang-bincang dengan teman lainnya, mereka semua membahas tentang hari pertama besok.
Mereka telah dibagi menjadi grup kecil, jumlahnya ada 3.
Seruni berserta Amel, Yudi dan Dayu tengah membentuk lingkaran, karena keempatnya berasal dari fakultas pendidikan, maka program kerjanya dikhususkan seputar mengajar anak-anak di desa ini.
“Aku ada ide, dihari pertama nanti kita mulai perkenalan aja dulu, terus lihat sampai tahap mana anak-anak di desa ini menguasai pendidikan. Apakah bisa baca tulis atau malah sampai tahap berhitung.” Seruni mengusulkan idenya, mereka semua mendengarkan usulan gadis itu.
“Boleh juga, pinter kamu Run.” Yudi Isaneni menjentikkan jarinya, ia senang karena sekelompok dengan orang pintar.
“Lalu, dari kalian ada ide lain?” Seruni bertanya dengan mereka, ia tak mau terlihat egois karena memaksakan idenya sendiri.
Amel dan Yudi kompak menggeleng, pikiran mereka buntu.
Namun, ada sebuah suara yang memecahkan keheningan grup tersebut.
“Hati-hati.”
Sontak saja semua orang menatap ke sumber suara dengan heran, ucapannya sama sekali tidak nyambung dengan pembahasan.
“Kamu ada masalah apa sih? Coba cerita sini sama kita-kita, makanya jangan jadi orang pendiam.” Yudi berseru.
Dayu mengangkat kepalanya perlahan, ia meneliti semua grupnya dari Yudi, Amel hingga Seruni.
“Kamu tahu maksudku, Seruni.” Dayu berujar kembali saat netranya bertatapan dengan gadis itu.
Seruni mengerjapkan mata, berusaha maksud inti dari ucapan Dayu.
Hati-hati? Apa maksudnya harus hati-hati selama mereka berada di sini?
Kalau begitu, Seruni memang sudah antisipasi sejak awal. Di desa ini terasa sangat ‘ramai dan penuh’ karena banyaknya makhluk gaib yang berdesakan. Hutan adalah sumber tempat tinggal mereka, maka tak heran jika Seruni merasa sesak saat menapaki kaki di sekitaran sini.
Amel dan Yudi menggeserkan pandangan, keduanya kompak menatap Seruni tuk meminta penjelasan.
“Jaga sikap kalian selama ada di sini, aku tidak ingin kalian dalam bahaya.” Hanya itu yang bisa Seruni katakan.
Dayu tersenyum amat tipis, Seruni semakin yakin kalau Dayu juga memiliki kemampuan sama sepertinya atau bahkan lebih tinggi.
“Kalau itu sih udah ku terapkan, aku nggak berani macam-macam di sini.” Amel berujar sambil bergidik ngeri.
Di sisi lain, ada juga grup lain. Mereka disatukan sesuai dengan fakultas agar lebih mudah mengerjakan program kerjanya.
Seruni menyenderkan punggungnya pada tembok bambu. Ia melirik ke arah grup lain, ada Venska yang sedang berjalan menuju ke dalam sambil menggerutu karena kesal dengan Roni si pemalas.
Lalu ke grup lainnya di sana tampak tenang-tenang saja karena Sahel dan Handi cukup handal perihal mata kuliah dan pendidikan.
Semakin malam angin semakin berhembus kencang, mereka semua merekatkan jaket dan selimut yang dipakai. Celah-celah tembok bambu ini mampu membawa semilir angin hingga membuat bulu kuduk meremang.
“Dingin banget sih.” Yudi berujar sambil bergidik.
“Tuh kopi panas.” Sahut Roni yang posisinya tak jauh dari lelaki itu.
“Boleh juga,” ujar Yudi.
“Ini yakin nggak ada ide lain? Atau kita pakai idenya Seruni aja untuk hari pertama, hari selanjutnya kan udah diatur tuh dikertas program kerja kita, khusus awal-awal kita perkenalan aja dulu sambil review.” Amel berujar sambil menggigit kue kering yang ia bawa dari rumah.
Yudi yang sedang menuangkan kopi dari teko ke gelasnya pun hanya mengangguk asal. Ia hanya ikut saja, tak memiliki ide lain.
“Kalau kamu, Yu?” Amel giliran bertanya pada Dayu.
“Terserah kalian saja.” Jawabnya dengan cuek.
Amel memutar bola mata jengah, sama saja ia bicara dengan tembok berjalan.
“Oke lah kalau begitu, fiks sama idenya Runi ya. Awas kalau kalian ada yang protes!” Amel menunjuk mereka berdua dengan jari telunjuknya.
Yudi membalasnya dengan santai, ia menyerutup kopi hitamnya dengan nikmat.
“Ahh.. segarnya.”
Roni mendekat pada Yudi dan ikut nimbrung dengan grup itu, ia melirik ke sekitar dengan cemas.
“Kalian ngerasa nggak sih kalau suasananya jadi berubah, serem aja gitu, yakin kalau rumah ini bukan bekas tempat pembunuhan?” Roni mencondongkan tubuhnya dan berbisik pada grup itu.
“Jangan aneh-aneh deh, Ron. Kamu balik aja sana ke grupmu sendiri.” Amel mengusir Roni, datang-datang malah membuat panik.
Seruni terdiam, ia juga merasakannya. Begitu juga dengan Dayu, lelaki itu menggenggam tangannya dengan erat sambil berkeringat dingin.
Seruni dan Dayu saling melirik, melempar kode antisipasi karena feeling mereka mengatakan kalau akan ada suatu hal buruk terjadi.
“Seperti kata Pak Dayat, namanya juga hutan, pasti ada penunggunya.” Yudi menimpali dengan santai.
Angin semakin tertiup dengan kencang bahkan mampu menerbangkan kertas-kertas mereka melalui celah-celah tembok bambu. Alhasil grup-grup itu pun saling tercerai berai dan mencari posisi aman, angin yang tak wajar.
“Ada apa ini?” Putri mulai panik.
“Jangan-jangan hantu.” Amel menyahut.
“Sttt.. kalian tenang dulu, cari posisi aman dan lindungi kepala masing-masing.” Sahel memberi intruksi.
Bahkan gelas kopi milik Yudi pun turut bergeser cukup jauh saking kencangnya angin. Kejadian itu berlangsung sekitar lima menit, lalu setelahnya angin hilang seakan-akan tak pernah ada kejadian sebelumnya.
Semua kembali tenang, namun ketenangan itu tetap membuat tiga orang di sana waspada.
Handi membuka jendela dengan kasar, ia melihat ke pelataran rumah dan membelalakkan mata.
Seruni dan Dayu segera mengikuti arah pandang Handi, benar saja di depan sana sudah ramai oleh makhluk gaib.
“Ada apa sih?” Tanya mahasiswa lain, mereka ikut-ikutan mengintip dari balik jendela.
“Jangan buka pintu!” Tukas Handi dengan cepat.
“Nggak ada apa-apa kok, kamu lihat apa?” Sahel bertanya, juga diangguki oleh yang lainnya.
Otomatis Handi menatap mereka bergantian. Terkahir ia melihat ke arah Seruni dan Dayu, keduanya pun saling mengangguk pelan.
Ya, bisa disimpulkan bahwa yang bisa melihat ‘mereka’ hanya tiga orang; Dayu, Handi dan Seruni, sedangkan yang lain tidak bisa melihat apapun.
Melihat keterdiaman Handi membuat mereka kebingungan.
“Katakan, Han.” Desak Siska.
“Ikuti saja perintah Pak Dayat, jangan keluar di malam hari, selesaikan semua urusan di siang hari.” Tegasnya, Handi tak mau berbicara banyak karena itu hanya akan menambah rasa takut teman-temannya.
Hal yang bisa Handi, Dayu dan Seruni lihat adalah banyaknya makhluk gaib berkumpul di depan sana. Bentuk mereka beraneka ragam, ada yang berupa kuntilanak menangis, genderuwo besar serta hantu tanpa kepala.
Sahel menaikkan sebelah alisnya. “Jangan bilang kalau ini soal hantu, sudah ku katakan tidak ada hantu di dunia ini.”
“Sahel stop! Kamu memang pandai dan realistis, tapi sekali saja coba pikirkan hal-hal lain diluar nalarmu. Mereka ada, mereka sedang berdiri di depan sana.” Handi terpancing emosi, ia geram dengan pemikiran kolot temannya itu.
Handi tahu bahwa Sahel adalah mahasiswa ilmu sains yang pintar, hal-hal gaib memang bertentangan dengan sains. Namun, ia berharap agar Sahel sekali saja berpikir di luar kepintarannya, banyak hal yang terjadi di luar akal dan nalar manusia.
Handi yang awalnya tidak ingin bercerita macam-macam pun terpaksa membongkar keadaan depan rumah pada teman-temannya. Benar saja, mereka terlihat cemas dan ketakutan.
“Katakan! Kamu bohong kan, Han?” Siska berujar.
Handi menggeleng. “Aku berbicara jujur.”
“Apa buktinya?” Sahel bersikeras untuk menentang hal-hal gaib, ia tidak percaya sama sekali dengan bualan itu.
“Di sini bukan hanya aku yang bisa melihat mereka, tanyakan pada Dayu dan Seruni.” Handi kembali menaikkan nada satu oktaf saat membalas perkataan Sahel, ia juga menunjuk Seruni dan Dayu secara bergantian.
Atmosfer di ruang itu cukup memanas akibat perdebatan sengit Sahel dan Handi.
“Seruni, ku harap kamu mau berkata jujur. Yang dikatakan Handi apakah benar atau hanya bualannya semata?” Sahel menatap Seruni menuntut penjelasan.
Seruni menarik napas dalam-dalam lalu mengangguk.
“Benar, aku juga melihatnya.”
Sahel mendesah kasar, ini masih belum bisa diterima dalam otaknya. Selama ia belajar ilmu pengetahuan, tak ada yang namanya hantu, itu hanya halusinasi manusia saja.
Seruni menunduk dalam, belum ada semalam ia tinggal di sini tapi sudah diperlihatkan oleh sosok-sosok mereka, bahkan sudah dalam tahap mengganggu ketenangan.
Di saat mereka sedang saling fokus berpikir, tiba-tiba saja terdengar suara jeritan dari dalam.
“ARGHH…..”
Sontak saja mereka kembali ketakutan, Amel bahkan sudah berlindung di belakang Seruni. Ia menelan ludahnya susah payah, cobaan apa lagi ini.
Siska tersadar akan sesuatu lalu berkata, “Venska ada di belakang, kamar mandi.”
Seruni menoleh cepat pada Siska, ia memang sempat melihat kepergian Venska. Jeritan yang sama seperti kasus tikus sebelumnya.
“Kita cek segera, kalian ikut semua.” Handi segera mengambil alih, ia tak mau jika temannya ada yang menjadi korban gangguan penunggu hutan.
Sahel menipiskan bibirnya, kini Handi telah mengambil alih tugasnya.
Mereka pun berlari menuju ke sumber suara, kamar mandi berada di area belakang rumah, letaknya ada di belakang dan dikelilingi oleh pepohonan rindang.
Di malam hari, pohon-pohon itu sangat mencekam.
“Venska?!” Handi segera menghampiri gadis itu dengan mendobrak pintu tua kamar mandi.
Handi dan Venska merupakan sepupu, ayah mereka saling bersaudara, tapi hubungan keduanya merenggang akibat masalah keluarga.
Venska tersungkur di lantai kamar mandi, tubuhnya basah oleh air serta dahinya mengeluarkan banyak keringat.
Siska melihat temannya dengan kaget, keadaan Venska sungguh mengenaskan, deru napas gadis itu juga putus-putus.
“Mereka menakutkan, aku takut…” Venska bergumam amat lirih, hanya Siska dan Handi yang bisa mendengarnya karena posisi mereka cukup dekat dengan gadis itu.
“Mereka siapa?” tanya Siska.
Tangan Venska terulur untuk menunjuk rerimbunan hutan, Siska mengikuti arah tunjuk temannya dan tak dapat melihat apapun di sana kecuali gelapnya malam.
Namun, berbeda dengan Handi yang justru memincingkan mata tuk melihat obyek di sana.
Sudah ia duga!
“Lebih baik bawa Venska masuk ke kamar, ganti pakaiannya.” Sahel datang dari sela-sela mahasiswa lain yang menutupi jalan.
“Anggap kejadian ini tidak ada, tetap fokus pada KKN kita.” Lanjutnya.
Meski sudah melihat sendiri kondisi Venska, tapi tetap saja ia tak percaya jika kejadian ini ada hubungannya dengan hantu. Sahel menganggap bahwa Venska tergelincir di lantai dan berhalusinasi yang aneh-aneh.
Handi menatap Sahel dengan sengit, tidak menyukai sifat lelaki itu yang egois dan hanya mementingkan satu sisi. Kejadian ini tidak bisa dilupakan begitu saja, jika sudah ada satu orang yang menjadi korban, maka akan terjadi pada mahasiswa-mahasiswa lain.
Ini tak dapat dibiarkan begitu saja, mereka sudah menampakkan diri dan mengganggu. Padahal di hari pertama ini para mahasiswa belum melakukan apapun, tapi mereka memberikan ‘penyambutan’ luar biasa seakan-akan ingin membunuhnya.
Siska dan Samirah menggotong tubuh Venska untuk dibawa ke kamar.
“Run, apa benar ini ulah hantu?” tanya Amel, ia semakin takut.
Seruni belum bisa memberikan hasil, dari auranya memang benar mereka melakukannya. Namun, ia tak bisa asal menuduh, terlebih lagi ini wilayah orang.
“Jangan khawatir, selama kamu tidak melanggar apapun dan selalu berdoa, semua akan baik-baik saja.”
Amel mengangguk lemah.
“Pembahasan kita selesai, silahkan kembali ke kamar kalian masing-masing.” Sahel sudah tidak bernafsu membahas program kerja mereka, moodnya telah hancur.
Ia pun langsung melenggang pergi dari sana dengan ekspresi menahan emosi.
Putri, Yudi dan Roni pun turut beranjak dari sana.
"Kalian juga berpikiran sama sepertiku?" Handi menatap pada Seruni dan Dayu bergantian.
Dayu mengangguk pelan. "Mereka mengincar kita, padahal kita baru saja menapakkan kaki di sini."
"Hutan yang ditunjuk Venska, di sana memang sarang mereka." Balas Seruni, sedari tadi ia tiba di sini, matanya terus fokus ke arah sana.
"Sayangnya Sahel sangat kolot dan tak percaya dengan hantu, bagaimana bisa kita kompak jika begini?" Amel mendesah frutasi. Semua keputusan ada di tangan Sahel, jika lelaki itu tidak mau bertindak atau melapor, maka mereka semua akan berada dalam bahaya.
“Kita bahas besok saja, keadaan tidak cukup aman.” Dayu berujar.
"Kamu benar, mereka masih berada di sekitar kita." Balas Handi sembari mengitari sekitarnya.
Mereka pun sepakat untuk balik ke kamar masing-masing, kejadian malam ini sangat membekas.
Kembali, angin bertiup kencang menerbangkan dedaunan hingga berjatuha, beratus mata merah membara terus mengawasi sebuah gubuk tua itu yang di dalamnya terdapat anak-anak manusia yang sedang tertidur lelap.
Kapan pun mereka siap melakukan tugasnya, mengambil jiwa serta raga yang pantas untuk dikorbankan.
Geraman pelan terus bersahutan dalam mencekamnya suasana malam, semakin menjauh kala kaki-kaki berbulu dan melayang itu menjauh dari target.