Bertapa ditengah hutan seorang diri bisa membuat siapa saja yang berada disana akan merasakan suatu nuansa mencekam, tidak hanya ketakutan pada ancaman binatang buas tetapi juga gangguan dari makhluk tak kasat mata. Tetapi pak Parto nampak begitu tenang, dia nampak khusuk dengan semedinya, menyatukan dirinya dengan alam.
"Haaa....... uuuuum" terdengar suara harimau, begitu jelas ditelinganya, terasa binatang itu begitu dekat dengannya, namun tak sedikitpun pak Parto bergeming dari tempatnya bersemedi.
Berkali kali dia mendengar auman binatang buas itu, terasa begitu dekat dan mengancam jiwanya. Tetapi pak Parto masih nampak begitu tenang dalam semedinya. Lambat laun suara itupun menghilang.
Tiba-tiba terdengar desis suara ular, yang bergerak seolah menghampirinya, seekor ular besar, melilit tubuh pak Parto dan kepala ular itu tepat berada didepannya, lidahnya menjulur kearah wajah pak Parto, ular itu membuka mulutnya lebar dan nampaklah taringnya, begitu menakutkan seolah hendak menelan bulat-bulat kepala pak Parto. Pria itu masih nampak memejamkan matanya, dan nampak tenang dalam semedinya, lambat laun ular itu tiba-tiba menghilang dengan sendirinya.
"Hi...hi...hi..." suara tawa wanita terdengar jelas.
"Hi...hi....hi....hi...” tawa wanita itu terdengar begitu nyaring ditelinga pak Parto, tidak hanya suara bahkan pak Parto mampu merasakan tangan wanita itu menyentuh wajahnya, membelai lembut rambut pak Parto dan punggungnya.
Namun pak Parto tetap memejamkan matanya, dan nampak tenang. Dia tidak memperdulikan apapun. Lalu seperti terdengar ledakan di langit ,begitu keras dan seolah gubuk tempat pak Parto bersemedi itu bergetar. Wanita -wanita itupun menghilang.
"Buka matamu hai manusia” ujar suara itu begitu menggelegar.
Perlahan pak Parto membuka matanya, nampak didepannya makhluk yang begitu menakutkan sosoknya tinggi besar, rambutnya panjang dan gimbal, memiliki taring, kuku tangan dan kakinya begitu panjang dan runcing, matanya melotot dan berwarna merah menyala.
“Apa yang kau inginkan hai manusia?" ujar makhluk itu.
" Saya ingin kekayaan, kedigdayaan” ujar pak Parto.
Terdengar makhluk itu tertawa begitu nyaring, suaranya bergema di angkasa, membuat siapapun yang mendengar akan merasa ketakutan.
"Aku akan mengabulkan semua keinginanmu hai anak manusia" ujar makhluk itu.
Wajah pak Parto yang awalnya merasa takut kini mulai agak lebih berani.
" Tapi kau harus ingat hai anak manusia, bahwa apa yang aku berikan kepadamu itu meminta imbalannya, apa kau bersedia dengan semua syarat yang aku berikan kepadamu?" tanya makhluk itu dan menatap tajam kearah pak Parto.
Dan pak Parto yang telah dibutakan oleh bayangan akan harta duniawi itu dengan mudahnya menyanggupi semua persyaratan makhluk itu.
"Hahaha....beri aku darah” ujar makhluk itu lalu berubah wujud menjadi sebuah boneka kecil yang menakutkan, boneka itu panjangnya kurang lebih 12 cm. Sekilas kita akan melihat benda ini hampir mirip dengan leak di Bali, tetapi benda ini bukanlah sebuah boneka biasa, dia bisa berubah wujud menjadi makhluk yang sangat menyeramkan. Makhluk itu bernama "jenglot"
Tangan pak Parto mengambil boneka kecil itu, yang tidak lain adalah jelmaan makhluk yang mengerikan, nampak senyum kemenangan dibibirnya, dia membayangkan kekayaan besar akan didapatkannya dengan mudah. Pak Parto duduk di dalam gubuk itu sambil menunggu sang mentari bersinar menerangi bumi.
Nampak dari kejauhan Mbah Wo berjalan, menuju gubuk kecil itu. Mbah Wo menatap tajam kearah Parto, seolah dia tahu apa yang sebenarnya telah terjadi. Lalu Mbah Wo mengajak pak Darto kembali kegubuknya, meninggalkan gubuk tempat pertapaan itu.
Sepanjang jalan Mbah Wo hanya terdiam. Pak Parto pun ikut terdiam, dia tidak berani untuk bersuara. Cukup menyita tenaga perjalanan mereka untuk kembali ke gubuk itu, tetapi mereka telah kembali dengan selamat .
"Makanlah! " ujar mbah Wo Didepan mata telah terhidang bubur.
"Makanlah, untuk mengembalikan energimu." ujar Mbah Wo.
Pak Parto lalu makan bubur yang disuguhkan pria tua itu.
“Hmm... Kau telah melakukan perjanjian gaib dan mau tidak mau, kau harus siap dengan segala akibatnya, apa kau tahu apa yang diinginkan oleh makhluk itu"
"Darah mbah," ujar pak Parto.
"Darah manusia, kematian dari anggota keluargamu," ujar mbah Wo dengan gamblang.
"Darah mereka adalah wadalnya" ujar mbah Wo.
"Maksud mbah, tumbal?" tanya pak Parto, dengan wajah terkejut.
si mbah hanya mengangguk.
"Setiap persekutuan pasti membutuhkan wadal/tumbal, entah itu nyawa binatang ataupun nyawa manusia " ujar mbah Wo.
"Setiap pesugihan itu butuh wadal atau tumbal misal blorong tidak hanya nyawa manusia yang akan menjadi wadalnya ,tetapi dirimu juga harus memuaskan hasrat birahi makhluk siluman itu," ujar si mbah Wo.
Pak Parto mendengar setiap ucapan si mbah dan semua itu tidak mengubah pendirian pak Parto. Memang hidup adalah sebuah pilihan dan pak Parto telah memilih jalan yang seharusnya tidak pernah dia tempuh. Pak Parto telah jatuh dan dia telah memasuk dalam sebuah perjanjian yang menyesatkan hanya untuk mendapatkan kesenangan duniawi yang hanya sesaat. Si mbah Wo hanya menggeleng lemah.
"Dimana keris itu?” tanya mbah Wo dengan menatap tajam ke arah pak Parto.
"Kenapa kau masih menyimpannya?" tanya mbah Wo.
"Karena dia menginginkan energi darimu, semakin sering kau menggauli wanita siluman itu, semakin kuatlah energinya, seharusnya kau tidak melakukan itu, pada malam jumat kliwon nanti, kau harus datang kepadaku untuk memberikan keris itu. Karena energi dari kedua makhluk yang bersamamu itu saling bertentangan, kau harus memberikan salah satu kepadaku" ujar mbah Wo memperingatkan.
Pak Parto hanya terdiam, baginya ucapan mbah Wo merupakan pilihan yang berat baginya. Dia telah terjerat dan terperangkap oleh makhluk itu yang selalu datang dikala dia tertidur.
“Eyang apa aku bisa memiliki keduanya, merawat 2 benda itu sekaligus" tanya pak Parto.
Mbah Wo hanya menggelengkan kepalanya. Pak Parto hanya terdiam dan tidak berani untuk berkata-kata, dia hanya berani menatap wajah mbah Wo yang sudah sangat tua itu, namun masih nampak begitu sehat dan lincah. Sebenarnya dalam hati pak Parto bertanya, siapa sebenarnya mbah Wo ini, kenapa pria itu memiliki aura mistis yang begitu melekat pada dirinya, tatapan matanya juga begitu tajam, sorot matanya mampu menembus jantung siapa saja yang memandangnya.
Satu lagi, kenapa mbah Wo tidak pernah mau menerima uang pemberian dari pak Parto atau siapapun yang mendatangi gubuknya, dan dan darimana makanan ini. Itu semua adalah pertanyaan yang masih mengganjal dalam hati pak Parto.
Tidak terasa, sudah beberapa hari pak Parto telah berada di hutan itu, semua ritual untuk mendapatkan kekayaan telah dia lakukan, dan nasib baik juga menghampirinya, pak Parto mendapatkan keinginannya, meskipun semua itu tidaklah percuma, harus ada yang dikorbankan.
"Hmm...bukankah untuk meraih kekayaan dan keinginanku, memang harus ada yang dikorbankan” ujar pak Parto dalam hati.
Pak Parto nampak begitu bahagia, seolah tidak ada penyesalan bahwa dia telah melakukan sebuah kesalahan fatal yang seharusnya tidak pernah dia lakukan.
*****
Pagi itu, Marni begitu sibuk merias wajahnya, wanita berusia 36 tahun itu masih nampak cantik, meskipun telah memiliki 3 buah hati.
"Ibu akan kemana? tanya Deva sore itu.
"Ibu akan kerumah Ajeng untuk mengambil uang arisan nak, allhamdulilah ibu mendapat arisan" ujar Marni pada putrinya.
“Deva ...apa kamu mau menemani ibu nak?" tanya Marni pada sang putri.
" Baik bu, sebentar Deva akan berganti baju" jawabnya.
ABG cantik itu segera menuju kamarnya, dia segera berganti pakaian, dia mengambil kaos warna putih dan celana jeans model pensil. Deva nampak begitu cantik, lalu dia menyisir dan menguncir rambutnya. Dengan sigap tangannya meraih jaket yang tergelantung di gantungan baju. Segera dia berlari menghampiri sang ibu.
"Deva sudah siap bu " ujar Deva.
Marni menatap putrinya yang semakin hari tumbuh semakin cantik. Mereka berjalan menuju teras depan dimana motor mereka terparkir.
“oiya ibu lupa bilang ke kakek kalau kita akan pergi ke tempat bu Ajeng, cepat kamu temui kakekmu, kita harus berpamitan biar kakek dan nenek tidak mencemaskan kita" ujar Marni kepada sang putri.
"Baik ibu" Deva pun segera berlari mencari kakek dan neneknya.
"Kakek nenek Deva akan menemani ibu ke rumah bu Ajeng" ujar Deva lalu mencium tangan sang kakek dan neneknya.
"Brum....brum " suara Ipah kecil sedang bermain mobil-mobilan milik sang kakak.
"Kak Deva ..aku mau ikut" ujar Roy.
"Hush!" ujar Deva jari telunjuknya berada didepan bibirnya seolah memberi isyarat kepada Roy untuk tidak melanjutkan ucapannya. Seolah mengerti maksud sang kakak. Roy pun akhirnya terdiam lalu melanjutkan permainannya dengan sang adik.
"Ibu, ayo kita berangkat " ujar Deva.
Merekapun menaiki motor menuju rumah bu Ajeng, perjalanan kerumah ibu Ajeng hanya membutuhkan 15 menit perjalanan. Tidak beberapa mereka telah sampai dirumah tujuan.
"Ini rumah ibu Ajeng? " tanya Deva dengan kagum.
Nampak di depannya rumah yang sangat besar, bercat putih dan megah. Marni hanya mengangguk membenarkan ucapan sang anak. Lalu mereka berjalan menuju rumah itu. Ting tong.... Ting tong...
Bunyi bel dipencet
Seorang wanita separuh baya, membuka pintu
"Ibu Ajeng ada, saya bu Marni teman arisannya " ujar bu Marni.
"Sebentar bu, silakan masuk," ujar wanita itu yang tidak lain dia adalah asisten rumah tangga di rumah bu Ajeng. bu Marni dan sang putri duduk dikursi mewah rumah itu.
“Teman ibu kaya sekali, memang dia kerja apa bu?” tanya Deva lirih.
"Bu Ajeng tidak bekerja, tetapi yang aku dengar suami bu Ajeng adalah seorang pengusaha yang sukses, dan jarang sekali dirumah, karena memiliki bisnis sampai keluar negeri juga” ujar bu Marni lirih.
"Bisnis apa bu?" tanya Deva.
Bu Marni hanya menggelengkan kepalanya
"Eh, bu Marni." sapa bu Ajeng Kemudian duduk disamping bu Marni.
"Pasti mau ambil uang arisan ya bu, ini sudah aku siapkan, oh ya total uang arisan Rp 5.000.000 bu Marni hitung dulu," ujar bu Ajeng.
Bu Marnj menerima amplop coklat itu, lalu menghitung uang yang ada didalamnya.
“Assallamuallaikum" tiba-tiba terdengar suara dari luar.
Seorang pria lalu masuk kedalam rumah itu dengan membawa koper.
"Waallaikumsalam, eh ayah sudah pulang,” ujar bu Ajeng lalu mencium tangan pria itu yang tidak lain adalah suaminya.
"Eh pak Andika, pak Andika sudah pulang?" ujar pelayan itu, lalu mengambil koper dari tangan tuannya.
Mata bu Marni tiba-tiba memandang ke arah pria itu. Bu Marni terkejut, pria yang berada didepannya mirip dengan wajah pria yang sangat dia cintai waktu itu. Begitupun dengan Andika, suami bu Kartika dibuat shock, kenangan masa lalu yang ingin dilupakan sejak lama.