Mimpi

1035 Kata
"Ayahmu kemana? dari kemarin kakek tidak melihat ayahmu Deva," ujar pak Bagong kepada sang cucu.   " Ayah sedang keluar kota kek” ujar Deva singkat.   Deva nampak sibuk mengerjakan tugas dari sekolahnya yang begitu banyak.   "Kakek heran, sebenarnya gudang itu akan dipakai ayahmu untuk apa ?"   "Deva tidak tahu kek” ujar Deva singkat.   "Kakek, Ipah mau tidur dengan kakek” ujar Ipah kecil sambil mengapit tangan sang kakek.   "Kalau tugas sekolahmu sudah selesai, cepatlah tidur'’ ujar sang kakek.   "Iya kek" jawab Deva lalu tersenyum kearah sang kakek.   Pak Bagong menggendong Ipah kecil menuju kamarnya, nampak sang nenek sedang tertidur lelap di atas ranjangnya. Ipah lalu tidur diantara kakek dan neneknya. Anak kecil itu memeluk kakek neneknya. Anak kecil itu memeluk kakek yang sangat disayanginya itu, lalu dengan cepat Ipah telah tertidur lelap . Sang kakek mengelus rambut cucunya itu, di ciumnya kening cucu mungilnya itu, nampak pak Bagong begitu sangat menyayangi sang cucu, lalu pak Bagong pun tertidur.   Malam semakin larut, tidak terasa jam dinding telah menunjukkan pukul 21.30 WIB.   "Ternyata sudah malam" ujar Deva.   Beberapa kali Deva menguap, tangannya menutup mulutnya itu. Dengan menahan kantuk yang tiba-tiba datang, Deva memasukkan buku kedalam tas sekolahnya, dia segera berdiri dan mengunci pintu, kemudian dengan membawa tas sekolahnya, dia berjalan menuju kamarnya.   Suara pintu berderit, Lalu Deva menyalakan lampu tidurnya, meletakkan tas sekolahnya di atas meja, kemudian menutup pintu kamarnya.   "Aku benar-benar mengantuk” ujar Deva lirih Setelah beberapa kali menguap ,tidak membutuhkan waktu lama Deva telah tertidur lelap.   "Kenapa sepi sekali?"   Deva berteriak sekuat tenaga.   "Kenapa tidak ada yang menjawab panggilanku, kemana mereka "   "Kalian dimana ?" teriak Deva.   Namun tidak ada jawaban sama sekali. Deva membuka pintu, berjalan menuju teras depan rumah, matanya melihat ke segala penjuru, namun keadaan begitu sepi dan sunyi. Terlihat sekelebatan bayangan dari dalam rumah, Deva menoleh terdengar suara tawa Ipah begitu nyaring. Deva berjalan menuju kamar Roy, pintu kamar itu tertutup rapat.   " Kak nakal, itu tidak boleh."    "Hahahaha... Ipah ...kamu lucu sekali."   "Kak Roy nakal.”   "Hahahaha."   Deva mendengar suara itu dengan jelas dari balik pintu yang tertutup itu.   "Dasar anak nakal, kalian ternyata sedang main petak umpet dengan kakak ya, awas nanti akan kakak cubit pipi kalian," gumam Deva dalam hati.   Dibukanya pintu itu pelan-pelan untuk memberi kejutan kepada sang adik. mengejutkan sang adik, namun hati Deva benar -benar dibuat kaget, didalam kamar Roy ternyata kosong. Rasa takut mulai menyelimuti hati Deva.   "Roy ....Ipah sayang, keluarlah...kakak tidak mau main petak umpet” ujar Deva memohon, suaranya terdengar lirih, jantung Deva berdegup kencang.   Dia melihat kolong ranjang, barang kali sang adik sedang bersembunyi, namun ternyata kosong.   "Roy ... Ipah," ucap Deva lirih.   Dengan pelan dia berjalan menuju lemari, barang kali sang adik sedang bersembunyi didalamnya.   "Brak..!" suara pintu kamar tertutup dengan sendirinya.   Deva terkejut dibuatnya, dia segera berlari keluar dari kamar sang adik.   "Kemana mereka? ini tidak seperti biasanya, kemana mereka " tanya Deva.   "Hahahaha .... " terdengar suara sang ayah.   "Ayah tertawa begitu keras, aku harus menemui ayah" ujar Deva.   Dia mencari asal suara sang ayah. Sumber suara itu berasal dari gudang. Deva berhenti tepat di depan pintu gudang itu. Terdengar sang ayah sedang berbicara dan terdengar juga suara seorang wanita. Deva menempelkan telinganya ke pintu ruangan itu.   "Ayah sedang berbicara dengan siapa?" tanya Deva dalam hati.   Terdengar suara canda tawa antara sang ayah dengan seorang wanita. Rasa penasaran menguasai hati Deva. Kemudian Deva mencoba mengintip dari lubang kunci, sebenarnya sang ayah berbicara dengan siapa, Deva dibuat terkejut dengan pemandangan yang dilihatnya, sang ayah sedang memeluk gadis cantik didalam ruangan itu   “Ayah..., ayah keterlaluan." ujar Deva.   Hatinya hancur dan sedih melihat pemandangan itu dengan sekuat tenaga Deva membuka pintu kamar itu dengan paksa. Tiba-tiba pintu kamar pun terbuka.   "Ayah memalukan ...” ujar Deva dengan marah.   Nampak didepannya sang ayah sedang memeluk seorang gadis cantik. Sang ayah menoleh kearah Deva tanpa berbicara apapun. Dan tiba-tiba tangan gadis cantik itu berubah, kuku gadis itu semakin memanjang dan begitu runcing, rambut indah tergerainya berubah menjadi seperti rambut gimbal nan panjang, wajah gadis itu berubah menakutkan, dia menyeringai nampaklah giginya yang runcing seperti taring harimau buas, matanya melotot dan berwarna merah. Makhluk itu berjalan menghampiri Deva, dan berusaha untuk membunuhnya.   " Jangan.....jangan....." Deva berteriak sekeras -kerasnya.   "Pergi....pergi ...kau makhluk terkutuk” ujar Deva.   Makhluk itu mencengkeram leher Deva. Deva meronta berusaha melepaskan diri.   " Nak....bangun nak" ujar Pak Bagong sambil menggoyangkan tubuh Deva.   Keringat mengucur deras, Deva segera memeluk sang kakek. Deva pun menangis, dalam pelukan sang kakek.   "Kamu pasti mimpi buruk, Deva tadi sudah berdoa sebelum tidur apa belum?" tanya sang kakek.   Deva menggelengkan kepalanya, anak yang menginjak remaja itu terdiam.   "Ceritakan nak tentang mimpimu, kenapa kamu sampai berteriak seperti itu " ujar sang kakek.   "Kakek, berarti aku tadi berteriak sangat keras ya kek? " tanya Deva.   "Iya, kakek terbangun mendengar teriakanmu nak, untung nenek, ibu dan adikmu masih tertidur lelap " ujar sang kakek.   "Sebenarnya kamu tadi bermimpi apa?" ujar sang kakek mengulangi pertanyaannya.   Deva hanya terdiam, dia bingung haruskah dia menceritakan mimpinya atau dia diam saja. Lagi pula semua itu hanyalah sebuah mimpi. Deva hanya terdiam.   "Ya, sudah cepatlah kamu tidur, besok kamu harus masuk sekolah” ujar sang kakek.   "Iya kek" ujar Deva singkat. Kemudian sang kakek meninggalkan kamar Deva.   "Untunglah semua hanya mimpi."   "Sebenarnya aku ingin bercerita kepada kakek, tetapi aku tidak mau kakek jadi risau dengan mimpiku, toh itu hanya sebuah mimpi" ujar Deva lirih.   Mimpi itu benar -benar sangat menakutkan dan mimpi itu terekam dengan jelas dalam ingatan Deva.   "Tuhan, semoga semua itu hanyalah sebuah mimpi.”   “Ayah...sebenarnya ayah sekarang berada dimana? apa yang sedang ayah lakukan? kenapa ayah tidak menelepon kami?" gumam Deva dalam hati.   Deva lalu mengambil selimutnya, kemudian dia menyelimuti tubuhnya dengan selimut itu. Dia mencoba menenangkan dirinya sendiri, mencoba mengatur napasnya yang sedang tidak menentu dan dia mencoba untuk melupakan mimpi buruk yang baru saja dialaminya.   Dalam hati Deva membaca doa yang dia kuasai, memohon perlindungan kepada Tuhan. Deva berharap mimpi buruk itu tidak terulang kembali. Deva mencoba memejamkan mata, meski sulit dan bayangan sosok menakutkan itupun sangat sulit menghilang dari ingatannya, setiap kali Deva mencoba memejamkan mata, wajah menakutkan itu selalu muncul. Deva terus mencoba memberanikan diri, dia mencoba memejamkan matanya, akhirnya Deva pun tertidur lelap.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN