Kini pak Parto benar benar telah berubah. Pak Parto kini mulai menyukai hal hal yang berbau mistis.
Pagi itu,
“Ayah akan pergi kemana? kok membawa beberapa baju ganti?" tanya sang istri sambil melihat sang suami memasukkan beberapa baju kedalam tas ransel miliknya.
“Ayah ada tugas ke daerah, tugas mendadak yang tidak bisa ditunda bu" jawab sang suami datar, tanpa menoleh kearah sang istri.
"Tapi kemana yah? terus berapa hari ayah akan pergi?" tanya sang istri memastikan.
"Namanya juga tugas, aku sendiri juga tidak tahu, yang penting saat aku pulang nanti, keadaan hidup kita akan berubah ujar sang suami dengan kesal.
"Kok ayah bicara seperti itu, bukankah hidup kita tidak kekurangan yah, sekolah anak anak juga lancar, lagipula aku tidak pernah mengeluh pada ayah tentang kebutuhan kita ujar bu Marni mencoba menjelaskan.
"Tapi kamu mengeluh pada orang tuamu, sehingga mereka merasa belas kasihan kepada kita, dan aku nampak rendah dihadapan mereka," ujar Pak Parto dengan marah.
"Kenapa ayah mempermasalahkan hal ini, ayah dan ibuku tidak pernah menghinamu yah, mereka tulus menolong kita, apalagi aku putri satu satunya ,ayah ibuku tidak pernah mempermasalahkan apapun ,mereka tulus membantu kita, aku putri mereka," ujar bu Marni menjelaskan bahwa pemikiran pak Parto itu salah tentang kedua orang tuanya dan dirinya.
"Sudahlah bu, aku muak mengikuti aturan keluargamu, mereka tidak berhak mencampuri urusan kita" ujar pak Parto.
Bu Marni merasa terluka dengan ucapan sang suami, kenapa sekarang suaminya marah kepadanya ataukah ini bentuk pengalihan pak Parto akan pertanyaannya, tapi ucapan pak Parto kali ini benar benar membuat bu Marni sedih, air matanya tak terbendung lagi. Akhirnya butir bening menetes dari kelopak mata indahnya.
Pak Parto melihat ke arah sang istri. Dan dia hanya terdiam.
“Sudah aku berangkat dulu” ujarnya lalu meninggalkan kamar.
Deva melihat sang ayah keluar dari kamar, langsung bertanya kemana sang ayah akan pergi, tetapi sang ayah hanya diam dan pergi dengan mengendarai motornya.
Deva segera menghampiri sang ibu di kamar. Deva melihat sang ibu sedang bercucuran air mata, dia segera menghampiri bu Marni.
Melihat kehadiran putrinya, bu Marni segera menghapus air matanya.
"Ibu menangis? " tanya Deva sambil duduk di depan sang ibu dan menatap wajah bu Marni.
“Apa ayah menyakiti ibu?” tanya Deva dengan tatapan wajah menyelidik.
“Tidak nak, ayah tidak menyakiti ibu, ibu hanya teringat sesuatu dimasa lalu" ujar sang ibu mencoba menutupi kesedihannya.
"Ibu baik baik saja. Apa ayahmu sudah berangkat?" tanya ibu.
Deva hanya menganggukkan kepalanya, dia tahu bahwa bu Marni sedang berbohong kepadanya, tetapi dia tidak berani memaksa sang ibu untuk mengatakan yang sebenarnya.
Setelah melalui perjalanan yang melelahkan, malam itu pak Parto telah sampai di rumah Mbah Wo rumah dari gubuk itu nampak begitu sepi dan sekeliling begitu sunyi dan gelap. Ketika pak Parto mengetuk pintu, sama sekali tidak ada jawaban.
"Memang ini rumah siapa pak, apa bisa saya menginap di sini, jujur ini pertama kalinya saya ke sini, setahu saya hutan ini masih angker pak, biasanya orang datang ke sini untuk lelaku" ujar Tukang Ojek itu.
"Disini jangan banyak bicara" ujar pak Parto memperingatkan.
Tukang ojek itu hanya terdiam dan tidak berani meneruskan kata-katanya. Didalam hatinya dia merasa takut dengan rumah itu, apalagi penerangan depan rumah itu masih memakai obor, bayangkan di era modern seperti ini dimana listrik sudah sangat familiar dalam kehidupan manusia, bahkan banyak gedung bertingkat, dan mall, kenapa ada orang yang mau tinggal di dalam hutan seorang diri seperti ini, membayangkan hal itu Tukang ojek itu menjadi merasa takut sendiri.
Suasana begitu gelap, sunyi hanya suara binatang malam dan gesekan daun membuat bulu kuduk tukang ojek itu berdiri, apalagi pria di sampingnya hanya diam seribu bahasa. Benar benar menakutkan.
Cukup lama tukang ojek itu menunggu, hingga dia tidak bisa menahan rasa kantuknya, akhirnya tukang ojek itu merebahkan tubuhnva hanva Pak Parto yang masih terjaga. Pria 39 tahun benar benar telah membulatkan tekadnya, apalagi sekarang Ki Paijo selalu datang dalam mimpinya.
Pak Parto melihat jam ditangannya sudah menunjukkan pukul 12 malam, nampak bayangan putih di kegelapan malam, sedang berjalan kearahnya melewati jalan setapak kecil itu, semakin mendekat dan mendekat,
"Mbah Wo," ujar pak Parto segera bangkit dan menghampiri pria tua itu dan sungkem.
"Masuklah kedalam rumah” ujar Mbah Wo singkat, sambil berjalan menaiki tangga kecil rumahnya yang terbuat dari kayu.
"Mas, bangun lebih baik tidur di dalam rumah," ujar pak Parto.
Tukang ojek itu pun terbangun, diusapnya matanya, lalu dia berusaha untuk bangkit ,dan masuk ke dalam rumah itu, Mbah Wo mempersilahkan pak Parto dan tukang Ojek itu untuk beristirahat di atas tikar di dalam sebuah kamar.
Merekapun akhirnya tertidur lelap di dalam ruangan itu.
Pagi itu, tukang ojek itu segera berpamitan dari tempat itu, setelah menerima upah dari pak Parto. Mbah Wo melarang tukang ojek itu untuk bercerita tentang keberadaan dirinya kepada siapapun. Tukang ojek itu menganggukkan kepalanya, dia segera bergegas meninggalkan hutan itu.
" Hi..ngeri syukurlah aku bisa keluar dari tempat ini dengan selamat" ujar tukang ojek itu dalam hatinya setelah berhasil keluar dari hutan itu.
"Ikut aku" ujar Mbah Wo kepada Pak Parto.
"Kemana Mbah? " tanya pak Parto dengan sejuta rasa keingintahuannya.
"Mensucikan dirimu sebelum kamu melakukan ritual untuk mengambil benda dari alam lain itu."
"Bagaimana Mbah tahu tujuan saya" ujar Pak Parto.
Pria tua itu hanya tersenyum datar penuh misteri.
"Kenapa kau masih menyimpan keris itu?" ujar Mbah Wo.
Pak Parto terkejut mendengar ucapan Mbah Wo yang seolah tahu akan segala hal.
"Hmm pesona makhluk itu telah masuk dalam pikiran dan hatimu” ujar Mbah Wo.
Pak Parto hanya mampu terdiam. Mereka pun berjalan menyusuri jalan setapak, cukup jauh dan akhirnya mereka berhenti disebuah air terjun kecil, ya sebuah air terjun yang masih alami, dan belum terjamah, mungkin hanya segelintir orang saja yang tahu tentang keberadaannya.
Mbah Wo meminta pak Parto untuk mandi disana, dan mengawasi pak Parto dari atas batu besar. Setelah selesai mandi pak Parto menghampiri pria tua itu lalu mereka berjalan menuju gubuk si Mbah. Ternyata disana Mbah Wo telah menyiapkan sesaji untuk tapa yang akan dilakukan oleh pak Parto.
“Kamu akan melakukan tapa didalam sebuah gubuk kecil seorang diri, tanpa penerangan sama sekali, ditengah hutan ini, apa kamu bersedia" tanya mbah Wo.
"Jangan kuatir, aku akan mengawasimu dari kejauhan" ujar lelaki tua berambut putih itu.
“Atau kamu menginginkan bantuanku untuk bicara dengan makhluk itu? " tanya mbah Wo.
“Tidak mbah, niat saya sudah bulat, saya akan melakukannya seorang diri" ujar pak Parto.
“hmm...” gumam pria tua itu sambil memegang jenggotnya yang panjang dan putih itu.
"Apapun yang datang berarti makhluk itulah yang akan mewujudkan keinginanmu" ujar mbah Wo.
Pak Parto hanya mengangguk.
Malam pun tiba, pak Parto dan mbah Wo menyusuri jalanan sunyi, mereka menggunakan obor sebagai lampu penerangan menerobos kegelapan hutan, nyanyian binatang malam terdengar begitu menakutkan mampu membuat bulu kuduk siapapun yang melintas berdiri, udara begitu dingin. Dengan membawa sesaji pak Parto bersama mbah Wo berjalan menuju sebuah gubuk kecil ditengah hutan.
Jalan yang dilalui hanya sebuah jalan setapak kecil yang hanya bisa dilewati oleh kaki manusia, kadang menanjak kadang turun, kadang licin, kadang berbatu, cukup menguras energi pak Parto. Cukup lama mereka berjalan, akhirnya mereka sampailah disebuah gubuk kecil itu, tidak lupa mbah Wo mengingatkan untuk terus membaca mantra yang telah dia ajarkan terus menerus.
Pak Parto duduk bersila diatas lantai kayu, dia memejamkan matanya, aroma dupa mulai menyengat hidung. Kemudian mbah Wo meninggalkan tempat itu, suasana menjadi gelap gulita, cahaya obor pun lambat laun menghilang bersama kepergian mbah Wo dari tempat itu.