"Om.. Itu Om... Itu dia Om," kata Dewi Sambil menunjuk arah jendela.
Seketika Slamet dan Siti menengok. Dan mereka bertiga saat itu melihat makhluk itu dengan jelas. Siti kemudian membaca ayat-ayat suci Al Quran yang ia hapal. Makhuk itu tampak berjalan ke arah halaman belakang rumah. Slamet yang penasaran akhirnya keluar rumah melalui pintu depan lalu mengajak satpam untuk mengecek halaman belakang. Namun saat dicek, makhluk itu sudah tidak ada. Slamet kemudian memutuskan untuk kembali masuk ke dalam rumah.
Saat akan masuk ke dalam rumah, tiba-tiba Slamet dikejutkan dengan suara Dewi dan Siti menjerit di dalam rumah. Sontak ia pun berlari. Tak disangka, makhluk itu kini berdiri membelakangi Dewi dan Siti dan berjalan menuju tangga rumah. Jeritan Dewi semakin histeris dan mengundang dua asisten rumah tangga keluar dari dalam kamar. Sosoknya sangat jelas. Bahkan dua asisten rumah tangga Darmo ikut melihatnya. Slamet kemudian memanggil lagi satpam. Ia kemudian mengecek ruangan demi ruangan di lantai atas. Tapi makhluk itu lagi-lagi sudah menghilang. Slamet dan satpam akhirnya turun ke lantai bawah. Di ruang keluarga, Dewi masih menangis karena ketakutannya dan sedang ditenangkan oleh Siti dan dua asisten rumah tangganya.
"Getihku...(Darahku)."
Suara itu tiba-tiba memekik di dalam rumah dan terdengar oleh seluruh penghuni rumah. Akhirnya mereka berhamburan keluar rumah. Slamet kemudian meminta agar satpam mengunci pintu rumah dan gerbang rumah. Mereka diminta untuk sementara menginap di rumah Slamet agar terhindar dari gangguan itu. Tiba di rumah Slamet, mereka semua akhirnya memutuskan untuk tidak tidur dan menjaga Dewi yang masih terlihat syok atas penampakan makhluk mengerikan tadi.
Dini hari itu juga, Slamet memutuskan untuk pergi ke rumah sakit menemui Darmo diantar oleh satpam. Ia mencari cara agar tetap bisa masuk menemui Darmo meski jam besuk sudah ditutup.
Akhirnya, Slamet menelepon Asih untuk bergantian menjaga Darmo. Asih pun menyetujui. Slamet pun akhirnya bisa menemui Darmo. Sementara Asih dan Ahmad, diantar satpam untuk pulang ke rumah Slamet.
Slamet kemudian membangunkan Darmo yang tengah terlelap tidur. Ia menceritakan kejadian yang dialaminya belum lama ini kepada Darmo. Ternyata, esok hari adalah Hari Sabtu Kliwon. Di mana makhluk itu harus meminum darah sebagai syarat wajib yang sudah disetujui Darmo kala itu. Darmo pun berniat untuk pulang pada siang hari. Namun, Slamet tak mengizinkan karena kondisinya belum pulih. Tapi Darmo mengkhawatirkan keluarganya. Ia takut jika makhluk itu nekat mengambil darah anak atau istrinya.
Slamet pun bilang jika anak dan istri Darmo sudah diungsikan terlebih ke rumahnya. Dengan begitu Slamet meminta agar Darmo tak perlu mengkhawatirkannya. Maka dari itu, Darmo akhirnya tetap menuruti permintaan Slamet untuk melanjutkan perawatannya di rumah sakit.
Tapi perjanjian adalah perjanjian. Makhluk itu tetap mencari Darmo. Tepat di hari Sabtu Kliwon malam, makhluk itu datang menemui Darmo di rumah sakit. Ia menagih janji Darmo. Darmo pun mengirimkan SMS kepada Slamet yang tengah mencari makan untuk segera pulang ke rumah.
"Met tolong, kamu pulang sekarang ke rumah. Jaga anak-anak dan Asih. Makhluk ini sudah di sini,” tulis Darmo dalam SMS-nya.
Mendapat SMS itu, Slamet akhirnya lari menuju ruangan di mana Darmo dirawat. Tiba saat akan membuka pintu, Slamet melihat makhluk itu sedang berdiri di samping Darmo. Darmo dan makhluk itu seperti sedang berbicara. Tiba-tiba, makhluk itu melihat ke arah Slamet.
"Pulang Met. Pulang sekarang!" dengan nada tinggi Darmo meminta Slamet segera pulang. Tanpa banyak lama, Slamet akhirnya pulang ke rumah. Ia meminta agar seluruh orang yang ada di rumahnya berkumpul dan mendoakan Darmo.
Slamet terpaksa berbohong saat menjawab pertanyaan Asih. Ia bilang jika Darmo saat ini sedang tidur. Dan tidak terjadi apa-apa. Hanya saja, ia meminta agar semuanya mendoakan Darmo agar lekas diberikan kesembuhan. Asih pun tampak menerima alasan Slamet meski masih sedikit ragu dan mencurigai jika suaminya sedang tidak baik-baik saja. Setelah bersama-sama mendoakan Darmo, mereka semua lantas tertidur. Hanya Asih dan Slamet yang masih terjaga.
Sekitar pukul 5 subuh, suara ponsel Asih berdering. Asih terkejut saat diberi kabar, jika menghilang dari rumah sakit. Darmo diketahui menghilang saat perawat akan mengambil sampel darah yang terjadwal setiap pagi. Mendengar kabar itu, Asih histeris.
Ia meminta Slamet untuk segera mengantarkan ke rumah sakit.
Tanpa membangunkan yang lainnya, Slamet dan Asih akhirnya menuju rumah sakit. Di rumah sakit, kejadian menghilangnya Darmo dijelaskan oleh dokter jaga. Petugas keamanan di rumah sakit juga sudah mencari di seluruh ruangan dan sudut rumah sakit, namun Darmo tetap tidak ketemu. Asih dan Slamet diminta untuk mencari. Siapa tahu, Darmo pulang ke rumah. Slamet pun kemudian menelepon Siti.
Ia meminta istrinya itu, anak-anak Darmo, asisten rumah tangga Darmo dan satpamnya untuk kembali ke rumah Darmo dan mencari keberadaan Darmo. Sementara Asih dan Slamet membayar tagihan rumah sakit dan menandatangani surat tertentu yang menekankan jika ada apa-apa terhadap Darmo maka bukan menjadi tanggung jawab rumah sakit lagi. Hingga Asih dan Slamet pulang, Darmo pun tak kunjung ditemukan.
Saat itu juga, Slamet kemudian kembali ke Cilacap. Bermaksud mencari Darmo. Ia khawatir Darmo dibawa ke lokasi asal muasal makhluk itu, yakni di gunung itu. Tanpa sowan dulu ke rumah Mbah Purwo, Slamet kemudian mencari Darmo di gunung itu. Namun, ternyata hasilnya nihil. Ia lantas terduduk di salah satu batu di gunung itu. Tapi ia mendengar suara yang mirip temannya itu memanggil-manggil namanya dengan lirih seperti tertiup angin.
"Met... Tolong aku Met!"
Slamet yang mendengar itu kemudian berteriak-teriak memanggil nama Darmo. Tapi tetap saja tidak Darmo tidak muncul juga. Di telinga Slamet, suara Darmo meminta tolong terus menerus terdengar. Hingga pada akhirnya, ia baru teringat jika saat mengantarkan Darmo melakukan ritual pertapaan beberapa tahun lalu, ada banyak makhluk tak kasat mata yang memberikan isyarat jika Darmo akan menjadi salah satu penghuni di gunung itu.
"Kancamu ora iso mulih.... Kancamu ora iso mulih. (temanmu tidak bisa pulang).” Itu yang terngiang-ngiang dalam benak Slamet. Karena dirasa ada yang tak beres, Slamet akhirnya turun dari gunung itu dan kemudian menemui Mbah Purwo.
Di rumah Mbah Purwo, Slamet menceritakan apa yang telah terjadi. Namun Mbah Purwo mengatakan jika semuanya sudah terlambat. Slamet pun kemudian pulang dan masih optimistis jika Darmo masih hidup. Ia berkeliling Kota Cilacap seharian penuh untuk mencari keberadaan Darmo. Mulai dari tempat-tempat yang pernah ia dan Darmo kunjungi waktu itu. Namun, usahanya sia-sia. Darmo masih saja belum ditemukan.
Slamet yang sudah merasa putus asa kemudian pulang ke rumah Darmo. Ta tiba sekitar pukul 11 malam. Tak disangka, bendera kuning sudah terpasang di depan pagar rumah Darmo. Sejumlah tetangga sudah berkerumun di rumah sahabatnya itu. Turunlah Slamet dari mobilnya dan Turunlah Slamet dari mobilnya dan lari masuk ke rumah Darmo. Dilihatlah jasad teman karibnya itu terbujur kaku di ruangan tengah dan diselimuti kain. Asih menangis di samping jasad Darmo sambil menggendong memeluk erat Ahmad.
Sementara Dewi, terlihat diam mematung, wajahnya pias dengan mata sembab memandangi jasad bapaknya. Slamet membuka dengan perlahan kain yang menutupi jasad Darmo. Memastikan apakah itu benar teman karibnya. Tak disangka, wajah Darmo menghitam dengan kondisi mulut menganga.
Sementara bagian ubun-ubun kepala berlubang. Ia kemudian dengan cepat menutup wajah Darmo. Darmo sendiri rencananya akan dimakamkan esok hari. Menunggu sanak saudara terlebih dulu datang. Sementara Dewi menarik tangan Slamet dan membawanya menuju lantai atas. Dewi lantas menceritakan jika bapaknya ditemukan di kamar khusus yang selama ini tak boleh ada yang memasukinya.
Saat Slamet di Cilacap, Dewi sendiri yang meminta satpam membuka paksa kamar itu. Instingnya menyeret jika bapaknya ada di dalam kamar itu. Benar saja, saat satpam berhasil menjebol pintu kamar, Darmo sudah ditemukan tergeletak di antara peralatan sesajen. Tubuhnya menghitam dan kepalanya berlubang. Anehnya, tak ada satupun bercak darah di lantai atau karpet yang ada di kamar itu.
"Tolong dijawab jujur om? Bapak sebenarnya melakukan apa selama ini?” tanya Dewi sambil menahan isak tangis.
Tapi Slamet tak menjawabnya. Ja khawatir Dewi akan kecewa jika mengetahui bapaknya melakukan hal yang paling dilarang dalam agam. Sebulan setelah Darmo dimakamkan, barulah Slamet angkat bicara kepada keluarga Darmo. Ia menceritakan kronologi secara detail dan sebab Darmo melakukan pesugihan jenglot itu.
Semuanya terkaget, namun hanya Asih yang biasa-biasa saja. Ternyata Asih sudah mengetahui jika mendiang suaminya melakukan hal menyimpang. Karena dalam pengakuannya, beberapa kali Asih memergoki Darmo melakukan ritual di kamar itu. Tapi Asih tidak bisa berbuat banyak. Dan apa yang dikhawatirkan Asih, semuanya telah terjadi.
Sejak kepergian Darmo, semua kembali seperti awal. Bisnis yang sebelumnya dirintis Darmo terus menerus mengalami penyusutan. Kerugian sudah tak terhindarkan lagi. Semua aset, harta benda, dijual untuk menutupi hutang perusahaan. Anak dan istri Darmo kini menderita lagi. Dewi sendiri tak bisa meneruskan cita-citanya sebagai dokter. Ia kini sudah menjadi seorang ibu yang mengandalkan berjualan minuman untuk menafkahi keluarganya, karena ia harus menanggung hidup ibu, adik, dan anaknya. Sementara suami Dewi sudah meninggal setahun lalu.
sebelumnya dirintis Darmo terus menerus mengalami penyusutan. Kerugian sudah tak terhindarkan lagi. Semua aset, harta benda, dijual untuk menutupi hutang perusahaan. Anak dan istri Darmo kini menderita lagi. Dewi sendiri tak bisa meneruskan cita-citanya sebagai dokter. Ia kini sudah menjadi seorang ibu yang mengandalkan berjualan minuman untuk menafkahi keluarganya, karena ia harus menanggung hidup ibu, adik, dan anaknya. Sementara suami Dewi sudah meninggal setahun lalu.
Sementara Slamet pun demikian. Sejak usaha Darmo bangkrut, ia harus menyambung hidupnya dengan cara berdagang di pasar. Namun, Slamet masih sering menjenguk anak istri Darmo. Karena mungkin, Slamet merasa bersalah pernah menyarankan Darmo mengambil jalan pintas.