Penglaris #4

1548 Kata
Keesokan harinya, Darmo dan Slamet akhirnya berpamitan untuk kembali ke rumah. Mbah Purwo berpesan, jika Darmo sukses, jangan lupa untuk kembali ke Cilacap dan menyisihkan hartanya kepada warga kurang mampu di sekitar gunung tempat pertapaan Darmo. Darmo pun menyetujuinya.   Tiba di rumah, Darmo disambut pelukan Asih. Sementara Slamet langsung berpamitan untuk pulang ke rumah menemui istrinya. Dewi sendiri saat itu tengah jatuh sakit. Sehingga Asih bilang kepada Darmo jika hari itu tak berjualan sate. Karena tak ada yang membantunya di kios. Darmo pun tak mempermasalahkannya. Dewi kemudian keluar dari kamar lalu menghampiri ayahnya yang sedang duduk mengobrol bersama ibunya di ruang tengah. la langsung menggeletakkan kepalanya di paha ayahnya.   "Besok kita cari rumah bu. Kita pindah dari sini, ya nduk!" kata Darmo sambil menatap ayahnya penuh harapan.   "Hah? Uang dari mana pak? Uang yang kemarin bapak berikan ke ibu mana cukup?” kata Asih.   "Bukalah bu," Darmo menyodorkan tas hitam kepada Asih.   Asih kemudian membuka tas itu dan terlihat cukup syok. Matanya berkaca-kaca menahan rasa bahagia becampur tak percaya bisa melihat uang begitu banyaknya selama hidupnya.   "Dari mana ini pak? Ya Allah... banyak sekali," kata Asih.   Dewi pun akhirnya duduk. Merebut tas yang tengah dipegang ibunya untuk ikut melihat isi di dalam tas tersebut.   "Sudah... nanti bapak ceritakan. Sekarang ayo kita antar Dewi ke dokter dan periksa kandunganmu bu. Mumpung ada uang,” ajak Darmo.   Di dalam perjalanan pulang, Slamet terus memikirkan Darmo. Ia masih tak percaya Darmo melakukan hal konyol itu. Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Darmo sudah menyetujui perjanjiannya dengan setan itu. Yang bisa ia lakukan, ia hanya akan terus mengingatkan Darmo untuk tidak tak pernah telat menyediakan sesajen di hari Sabtu Kliwon. Ia khawatir, jika Darmo lupa, maka akan ada malapetaka yang mengancam keluarga Darmo.   Sebulan kemudian, Darmo sudah pindah rumah. Rumah yang ia tempati kini lebih besar dari yang sebelumnya, meski ia dan keluarganya masih mengontrak. Sementara rumahnya yang dulu ia kontrakkan. Kehadiran anak kedua Darmo, Ahmad, membuat kebahagiaan Darmo semakin lengkap. Terlebih, rupiah demi rupiah terus menghampiri kehidupan Darmo. Pesugihan yang ia jalani tampak tak memiliki efek buruk bagi kehidupannya.   Hingga pada akhirnya, usaha yang dirintis Darmo pun kian berkembang. Usaha satenya semakin bertambah besar. Ia pun membuka cabang di beberapa kota di Pulau Jawa. Ia juga merintis bisnisnya ke bidang lain. Hanya dalam kurun waktu tiga tahun, semua bisnis Darmo sukses. Slamet pun ditunjuk Darmo sebagai orang kepercayaan untuk ikut mengelola bisnisnya. Kehidupan Darmo pun semakin melangit.   Ia tak lagi mengontrak rumah. Dibelilah rumah yang sangat mewah lengkap dengan segala perabotannya yang memiliki harga cukup fantastis. Termasuk beberapa unit mobil mewah. Dengan kehidupan bak Pangeran Arab, Darmo seakan terbuai dengan kehidupan parlentenya. Ja bahkan melupakan akan perjanjian waktu itu. Ia tak lagi berkunjung Cilacap untuk menemui Mbah Purwo dan membantu warga di sekitar gunung, tempat ia menjalani ritual pesugihannya.   Padahal, beberapa kali Slamet sering mengingatkan. Namun, Darmo nampak acuh. Hal ini dipicu karena Darmo meyakini jika pesugihan itu Darmo meyakini jika pesugihan itu tak akan memberikan efek buruk bagi keluarganya, Hingga pada suatu saat, Darmo jatuh sakit. Beberapa kali ia masuk rumah sakit, namun penyakitnya itu tak kunjung sembuh. Slamet yang khawatir berinisiatif menemui Mbah Purwo untuk menanyakan perihal sakit yang diderita Darmo.   Tiba di rumah Mbah Purwo, awalnya kunjungan Slamet ditolak. Hal ini lantaran Mbah Purwo terlanjur sakit hati dengan keduanya. Namun Slamet tak menyerah. Ia terus memohon-mohon agar Mbah Purwo menerima kunjungannya dan menceritakan apa yang sedang dialami Darmo.   "Mbah saya mohon, tolonglah Darmo. Saya tahu, jika sakitnya ini karena kemungkinan Darmo melanggar perjanjian," kata Slamet.   "Sudah tidak ada waktu lagi untuk memperbaikinya. Percuma," jawab Mbah Purwo.   "Darmo harus bagaimana mbah? Kasihan teman saya, tubuhnya kurus dan kesulitan berjalan,” sambung Slamet.   "Begini saja, sarankan temanmu untuk jujur kepada keluarganya. Jika tidak, maka peliharaan dia yang akan mengambil anggota keluarganya satu per satu,” kata Mbah Purwo.   "Jadi, akan ada tumbal mbah?” kata Slamet kebingungan.   "Ya begitulah. Perjanjian dia dengan peliharaannya untuk menyempurnakan tubuhnya tidak dia tepati. Maka itu adalah konsekuensinya," kata Mbah Purwo.   Slamet yang mendapatkan informasi itu akhirnya kembali menemui Darmo. Di kamarnya, ia menceritakan agar Darmo segera memberitahu ihwal pesugihan yang ia jalani kepada seluruh anggota keluarga. Namun, Darmo menolaknya.   "Enggak mungkin Met. Apa kata Asih nanti?"   "Tapi ini semua demi keluarga kamu Mo. Kalau tidak, makhluk itu akan mengambil nyawa anak dan istrimu satu per satu."   "Aku enggak percaya Mo. Karena perjanjiannya tidak seperti itu. Anak dan istriku tidak aku tumbalkan."   Darmo pun akhirnya jujur kepada Slamet. Ia mengatakan sejak 6 bulan ini, makhluk itu tak lagi mendapat jatah darah di hari Sabtu Kliwon. Hal ini lantaran ia tak bisa lagi mendapatkan darah di PMI. Sebab, teman yang sebelumnya bekerja di PMI dipecat karena ketahuan sering mengeluarkan kantong darah tanpa prosedur yang jelas. Itu pun akibat ulah Darmo sendiri.   "Sejak saat itu, memang makhluk itu sering menerorku. Tapi dia meminta darahku sendiri. Bukan anak dan istriku. Jujur saja Met, aku sering memberikan darahku sendiri kepada makhluk itu,” kata Darmo.   “Awalnya berjalan seperti biasa. Tapi lama kelamaan istriku curiga. Setiap aku keluar dari kamar itu (kamar khusus pemujaan), aku selalu terlihat pucat. Dan istriku melarangku lagi memasuki kamar itu,” sambung Darmo.   "Istrimu tahu?" kata Slamet.   "Belum. Tapi dia sudah mulai curiga. Karena hanya setiap Sabtu Kliwon aku masuk ke kamar itu," ucap Darmo.   Darmo pun meminta Slamet agar mencari akal agar Slamet bisa mencari stok darah di PMI lain. Sehingga, Darmo bisa terlepas dari teror makhluk itu. Namun ternyata, Slamet terus menerus menemukan jalan buntu. Bulan demi bulan, tubuh Darmo semakin mengurus. Ingin rasanya Slamet membuka tabir kegelapan Darmo kepada Asih. Menyelamatkan keluarga Darmo atas perbuatan temannya itu sendiri.   Namun Slamet tak sampai hati. Khawatir Asih akan kecewa dan meninggalkan Darmo dengan kondisi yang masih sakit seperti itu. Saat itu, Darmo kembali di bawa ke rumah sakit karena kondisi kesehatannya semakin memburuk. Kebetulan, anggota keluarga Darmo saat itu sudah lengkap. Dewi saat itu sedang berada di rumah. Sejak ayahnya sakit, Dewi memang jarang pulang karena kesibukan kuliah kedokterannya di Fakultas Kedokteran di salah satu universitas di Yogyakarta.   Darmo akhirnya menjalani rawat inap di rumah sakit ditemani Asih dan Ahmad. Sementara Dewi diminta untuk menjaga rumah. Slamet pun diminta Asih mengantarkan Dewi untuk pulang ke rumah.   "Om Slamet temani Dewi ya. Dewi takut Om,” pinta Dewi saat menuju pulang ke rumah dengan Slamet menggunakan mobil milik Darmo.   "Loh kenapa? Tumben,” tanya Slamet.   "Pokoknya nanti Dewi cerita,” kata Dewi.   Slamet pun terheran. Sepengetahuannya, Dewi sendiri merupakan gadis yang pemberani. Ia pun merasa aneh, saat Dewi memintanya untuk menemani di rumah. Padahal, di rumahnya ada dua asisten rumah tangga dan juga seorang satpam. Tiba di rumah Dewi menceritakan alasan ketakutannya kepada Slamet. Sejak pulang ke rumah, Dewi merasa jika rumahnya kehadiran penunggu dari alam yang berbeda. Dewi mengatakan jika sering melihat sosok tinggi besar setengah b***l dengan rambut panjang compang-camping.   Sosok itu sering mondar-mandir di ruang atas dekat kamar yang tak boleh ia masuki oleh ayahnya. Cerita itu membuat kaget Slamet. Tentu saja Slamet mengetahui sosok itu adalah siapa. Sebab, beberapa tahun sebelumnya ia sempat bertemu saat mengantarkan Darmo menjalani ritual pesugihan.   "Mungkin itu cuma halusinasi kamu saja nduk," kata Slamet menenangkan Dewi.   "Terakhir, Dewi lihat dia ada di ruang bawah saat Dewi nonton TV. Terus dia naik lewat tangga. Dewi buntutin tuh Om. Ternyata dia masuk ke kamar yang bapak selalu melarang siapa saja memasukinya,” ucap Dewi.   Sudah hampir empat hari Darmo di rawat di rumah sakit. Slamet kemudian meminta izin kepada Asih untuk membawa Siti, istrinya, menginap di rumah menemani Dewi. Sebab, Slamet tak tega harus meninggalkan istrinya sendirian di rumah selama berhari-hari.   Apalagi, anak satu-satunya Slamet kerja di luar kota dan hanya sebulan sekali menyempatkan diri pulang ke rumah. Malam itu, suasana di rumah Darmo cukup mencekam. Padahal, dengan adanya enam orang di rumah itu, rumah Darmo harusnya ramai. Tapi ini justru sebaliknya. Dewi, Slamet dan Siti memutuskan untuk menonton TV bersama di ruang keluarga sambil berbincang-bincang ala kadarnya. Malam itu sekitar pukul 11, tiba-tiba pintu depan ada yang mengetuk.   Tok... Tok... Tok...   "Dewi... bapak pulang. Kamu di dalamkan? Tolong bukain pintu!"   Sontak ketiganya yang tengah asik menonton TV kaget. Karena yang mereka dengar adalah suara Darmo.   "Om... Bapak itu. Kok enggak ngasih kabar mau pulang sekarang,” kata Dewi.   Tanpa berlama-lama, Dewi dan Darmo melangkah menuju pintu depan. Saat pintu dibuka, ternyata tak ada siapa-siapa. Dewi dan Slamet saling berpandangan dengan keheranan. Dewi akhirnya memanggil satpam yang ada di pos jaga. Bermaksud menanyakan adakah seseorang atau tamu yang datang ke rumah. Namun, dari jawaban satpam cukup mengejutkan.   "Enggak ada mbak. Cuma memang tadi, gerbang depan rumah sempat seperti ada yang menggeser. Saya juga aneh. Padahal kan itu berat," kata Pak Satpam.   Dewi dan Slamet kemudian memutuskan untuk menutup pintu rumah. Kembalilah mereka menuju ruang keluarga menghampiri Siti.   "Mana Kang Darmo, Pak?," tanya istrinya.   Slamet tak membalasnya. Ia hanya mengedipkan mata kepada Siti sebagai isyarat tertentu. Memang Siti sebelumnya sudah diceritakan mengenai ritual pesugihan yang dijalani oleh Darmo. Termasuk alasan Darmo sakit selama ini.   Dewi akhirnya membuka obrolan. Meyakinkan Slamet jika rumah ini kini ada penghuni lainnya. Namun, Slamet terus mencoba menenangkan Dewi dan jika takut, nanti saat tidur akan ditemani Siti. Namun pemandangan lain muncul. Dewi seketika melihat makhluk yang sebelumnya ia ceritakan dan tengah berjalan di luar rumah. Terlihat tepat di jendela yang hanya tertutup gorden transparan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN