"Mbak, bikinin bapak kopi,” pinta Darmo kepada anak sulungnya itu.
Asih kemudian menghampiri Darmo yang tengah menyulut api untuk membakar rokok kreteknya di ruang tengah sambil membuka kerudungnya. Ia lalu mengelus-elus paha Darmo.
"Sabar ya pak, ini ujian dari Allah. Mungkin kita kurang bersedekahnya,” ucap Asih.
"Kurang bersedekah gimana? Apa yang mau disedekahkan, sementara kita saja hidup kekurangan begini. Lihat tuh Dewi, setiap hari tidak pernah aku bekali uang jajan untuk sekolah. Bapak macam apa aku ini?" jawaban Darmo bernada tinggi.
Darmo tak jadi menyeruput kopi yang sudah dibuatkan Dewi dan sudah tersedia di meja tamu. Ia lantas masuk ke kamar. Mengganti baju yang berbau sangit dan kemudian keluar rumah dengan sepeda motornya.
Asih hanya memandang wajah muram Darmo dan tak berani menyapa untuk menanyakan suaminya akan pergi ke mana. Malam itu ternyata, Darmo menemui teman SMA-nya, Slamet. Kepada Slamet ia menceritakan permasalahan hidupnya.
Slamet pun memberikan solusi agar Darmo ke Cilacap menemui salah satu ‘orang pintar’ untuk meminta pertolongan. Slamet sendiri cukup tahu mengenai ‘orang pintar’ itu karena sering mengantar bosnya ke sana. Dengan nada cukup rendah -khawatir didengar istrinya, Slamet menceritakan kepada Darmo jika usaha bosnya hampir-hampiran bangkrut waktu itu. Namun, setelah berulang kali datang ke ‘orang pintar' itu, usaha bosnya akhirnya kembali normal.
"Mo, solusinya ya hanya ke Cilacap. Kamu temui Mbah Purwo. Minta penglarisan pasti di kasih, karena beliau memang suka bantu orang-orang yang sedang kesulitan. Maharnya juga enggak besar,” bisik Slamet ke telinga Darmo.
Darmo awalnya dengan tegas menolak. Ia khawatir jika nekat menemui ‘orang pintar' itu maka akan ada dampak buruk bagi keluarganya. Apalagi ia juga khawatir, memakai jalan penglarisan biasanya sering kali menggunakan tumbal.
Namun Slamet meyakinkan jika tak ada tumbal sama sekali. Hal itu dibuktikan dengan bosnya yang sudah lima tahun menggunakan penglarisan, namun tak ada yang ditumbalkan.
“Tenang Mo, aman. Enggak ada tumbal-tumbalan. Lha buktinya bosku sampai sekarang damai-damai saja hidupnya. Besok aku antar kalau kamu mau,” Slamet menawarkan diri.
Darmo yang semakin penat mendapat solusi itu akhirnya mengakhiri obrolan. Ia berpamitan untuk pulang. Di perjalanan pulang, ia terus menerus mengingat-ingat saran dari Slamet.
Pada sampainya, ia meyakini jika sudah tidak ada jalan keluar lainnya ketimbang harus berhutang ke bank. Sebab, sudah tidak ada lagi barang berharga di rumah, kecuali kulkas dan TV yang menjadi satu-satunya media hiburan bagi anak dan istrinya.
Setibanya di rumah, Darmo langsung memanggil istrinya. Saat itu, Asih sedang tertidur pulas. Dengan setengah menahan kantuk, Asih kemudian terbangun dan langsung menghampiri Darmo di ruang tengah. Darmo kemudian mengutarakan keinginannya untuk pergi ke Cilacap. Ia meminta izin kepada Asih di larut malam itu.
"Bapak besok izin mau ke Cilacap ya bu, mau ikhtiar agar usaha kita bisa normal lagi," kata Darmo.
"Kok mendadak pak. Memang ikhtiarnya apa?," tanya Asih penasaran.
"Minta penglarisan bu. Tapi aman kok, enggak ada tumbal-tumbalan," jawab Darmo.
"Istighfar pak, itu syirik pak. Haram pak. Ibu enggak setuju. Ingat ini pak,” ucap Asih sambil menunjuk ke arah perutnya yang sedang membuncit.
"Kamu mau hidup enak enggak? Atau suka dengan hidup seperti ini? Melarat terus menerus,” nada Darmo meninggi.
Dewi yang mendengar suara bapaknya itu lantas terbangun dari tidurnya. Kebetulan, pintu kamar Dewi tak tertutup hanya terhalang kelambu. Ia lalu menguping pembicaraan bapak dan ibunya di ruang tengah. Dewi pun mendengar jika bapaknya keukeuh untuk tetap pergi ke Cilacap bersama Pak Slamet. Meski waktu itu ibunya bersikeras untuk melarang. Esok harinya, setelah pulang sekolah, Dewi diminta ibunya untuk ikut membantu berjualan di kios.
Memang hal ini sudah lumrah Dewi lakukan jika salah satu dari orang tuanya sedang ada keperluan atau sedang sakit.
"Bapak jadi berangkat bu ke Cilacap?," tanya Dewi kepada ibunya yang tengah menata arang di tempat pembakaran.
"Kok kamu tahu nduk?," jawab Asih sedikit kaget.
"Semalam, Dewi dengar pembicaraan ibu sama bapak. Memangnya bapak mau apa bu?."
"Bapak mau ikhtiar biar usaha kita lancar lagi. Mudah-mudahan bapakmu dilindungi Allah ya nduk,” bibir Asih sedikit bergetar menjawab pertanyaan anaknya karena menahan tangis. Tampak masih tak ikhlas akan pilihan suaminya melakukan hal itu.
Hari itu dagangan masih saja sepi. Pukul delapan malam, Asih dan Dewi memutuskan membereskan dagangannya dan kembali pulang ke rumah. Sementara Darmo belum juga pulang. Di rumah, Asih Tampak begitu cemas. Berulang kali mondar-mandir di ruangan tengah. Ponsel Darmo pun tak aktif sedari siang. Sementara itu Dewi tengah mencuci piring bekas makan bersama ibunya di dapur. Pranggg..... Terdengar suara pecahan kaca di dalam dapur.
"Apa itu nduk?," tanya Asih kepada anak gadisnya.
"Gelas bu, maaf enggak sengaja kesenggol," jawab Dewi.
Dengan adanya kejadian itu, Asih semakin was-was. Namun, kewas-wasannya mereda setelah ia mendengar suara motor Darmo memasuki halaman rumah.
"Assalamu'alaikum," Darmo mengucapkan salam sembari memasuki rumah. Disapalah istrinya sambil menyodorkan bibirnya dan mendarat tepat dikening Asih.
"Alhamdulillah pak, sampai juga. Aku dan Dewi cemas pak nungguin bapak dari tadi,” ucap Asih.
mengucapkan salam sembari memasuki rumah. Disapalah istrinya sambil menyodorkan bibirnya dan mendarat tepat dikening Asih.
"Alhamdulillah pak, sampai juga. Aku dan Dewi cemas pak nungguin bapak dari tadi," ucap Asih.
Darmo terkekeh. Raut mukanya menunjukkan kebahagiaan. Berbeda dengan hari-hari biasanya di mana ia hitam kecil menuju kamar.
"Bapak mandi dulu bu. Keringetan, nanti bapak cerita ya," kata Darmo keluar dari kamar menuju ke arah kamar mandi seraya mencubit pipi Dewi.
Selepas mandi, Darmo meminta Asih untuk membuatkan kopi dan mi instan. Sementara Dewi masuk ke kamar untuk mengerjakan PR. Sambil memakan mi instan, Darmo bercerita bahwa ia akan kembali ke Cilacap tiga hari lagi. Kata Darmo, setidaknya ia akan menginap selama seminggu di sana.
“Pokoknya tenang bu, aman. Ibu enggak perlu khawatir atau berpikiran aneh-aneh. Semuanya aman. Enggak ada yang berbahaya,” kata Darmo meyakinkan istrinya.
Melihat suaminya pulang dengan kondisi yang baik-baik saja, Asih pun lantas mempercayai perkataan Darmo. Asih mencoba berprasangka baik dengan maksud suaminya itu, meski di dalam hatinya ia masih tak ikhlas dengan keputusan Darmo memilih mencari jalan keluar dengan menggunakan penglarisan.
Tiba di hari itu, Slamet menyambangi rumah Darmo. Ia menjemput Darmo untuk bersama-sama pergi ke Cilacap. Asih pun kaget dengan kemunculan Slamet yang sudah tiba di rumah sepagi itu.
"Loh Mas Slamet. Kok sudah sampai di sini? Memangnya tidak berangkat kerja," tanya Asih.
"Saya sudah keluar kerja Mbak Asih, kan mau ikut kerja sama Darmo. Nanti Darmo jadi bos baru saya," jawab Slamet dengan tertawa kecil.
"Kamu enggak inget apa bu, kan, hari ini bapak mau ke Cilacap," suara Darmo dari belakang mengagetkan Asih yang tengah berdiri di pintu depan.
“Astaga... ibu lupa pak. Sebentar ibu Siapin sarapan dulu.”
Dewi keluar dari dalam kamar lalu bersiap-siap pergi ke sekolah. Ia pun lantas berpamitan kepada Darmo dan Asih. Seperti biasanya, Dewi tak pernah sarapan terlebih dahulu.
“Dewi berangkat ya Pak, Bu. Assalamu'alaikum,” katanya.
“Walaikumsalam. Pakai saja motor bapak nduk. Bapak mau ke luar kota. Motor bapak tinggal, siapa tahu nanti kamu butuh untuk belanja sama ibu,” kata Darmo sambil memberikan uang saku yang lumayan cukup banyak kepada Dewi.
"Enggak pak. Dewi naik angkot saja. Takut ditilang polisi nanti. Enggak salah pak? Ini uangnya banyak. Lagi dapet rejeki ya? Alhamdulillah," kata Dewi dan dibalas dengan tangan Darmo mengelus-elus kepala Dewi. Hidangan sarapan sudah ada di depan meja makan. Asih kemudian memanggil Slamet dan Darmo yang sedari tadi berbincang di teras rumah. Keduanya langsung menuju ruang makan dan langsung melahap nasi goreng buatan Asih. Asih duduk di samping Darmo sambil berpesan agar tak bermain serong selama berada di Cilacap.
Wajar Asih berkata demikian, masalahnya Asih baru kali pertama ini ditinggal Darmo ke luar kota dengan waktu yang cukup lama. Tentu saja ada rasa was-was di dalam hatinya. Namanya laki-laki, bisa saja tergoda wanita lain saat jauh dari istrinya.
Setelah selesai sarapan, Darmo kemudian masuk kamar dan memasukkan beberapa baju ganti untuk ia bawa ke Cilacap. Ia lalu memberikan sesuatu yang dibungkus koran kepada Asih. Bungkusan kecil itu berisi uang. Namun, Darmo tak menjelaskan dari mana uang itu ia dapatkan. Asih pun hanya mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Ia lalu memanjatkan doa kepada Allah agar suaminya dijauhkan dari malapetaka. Doa itu ia panjatkan tepat di hadapan Darmo.