Pertarungan Selama 7 Hari 7 Malam

1100 Kata
 "Woy, kunti. Pokoknye tugas lu sekarang kudu buat tuh Lek Minto musnah. Ape lu tau, die yang udeh buat lu mati," perintah Paijo pada kunti di suatu ruangan.    "Hihihihi, baik, abang. Akan ade lakuin ye buat abang," balas kunti.    "Yaudeh, sono pergi. Tunggu ape lagi, lu,"    "Hihihihi."   Si unti pun melesat pergi dari hadapan si Paijo. Tampaknya kali ini akan ada pertarungan yang begitu hebat antara si unti dengan Lek Minto. Lelaki itu duduk sambil memejam mata, dia melakukan pertapaan dan ritualnya sebagai mbah dukun. Mulutnya komat kamit tak tentu arah membaca mantra tersebut.   Unti telah telah tiba di suatu rumah yang gelap dan hanya ada satu lilin yang meneranginya. Unti melihat lelaki tua tengah melakukan ritualnya pada malam hari dengan mengunyah kembang kantil dan juga endog sekulit-kulitnya.    "Siape, lu?" tegas lelaki itu.    "Hihihi. Lu lupe ma gue? Padahal lu yang udeh buat gue mati, Lek Minto," balas Unti.    "Lu setan ye?"    "Udeh tau gue setan, pakek nanya lu mbah,"    "Dari mane lu? Dan ade perlu ape?"    "Yaelah, gue pan peri malem dari khayangan, mbah,"    "Oh, iye, pe'ak gue, dah,"    "Emang lu pe'ak, mbah."   Si unti pun buru-buru melakukan tugas yang diperintahkan oleh Paijo. Dengan bantuan kekuatan si Paijo dan mantranya si Unti melawan si Lek Minto dengan kekuatan extra.    "Hiaaaak. Rasakan ini, mbah." si Unti mencoba memberi serangan pertama kepada Lek Minto.   Lek Minto tampak kewalahan dan tumbang. Dia merasakan sekujur tubuhnya lemas tak berdaya. Akhirnya Lek Minto meminta bantuan si Pocong gaul anak buahnya. Pocong itu muncul dengan gigi yang sudah ompong itu.    "Mbah, apa yang kudu gue lakukan?" tanya si pocong.    "Pe'ak, lu dah. Gua diserang ame unti konkonane, Paijo. Pokoknya lu kudu buat si unti lenyap," ucap Lek Minto.    "Oke, mbah, siap."   Si pocong gaul itu yang tak lain adalah Sujimin, langsung menyerang si Unti dengan tenaganya. Lek Minto membantu si Pocong dengan ilmu hitamnya. Para makhluk ghaib lainnya turut ikut serta membantu si pocong gaul itu.    "Rasakan ini, unti, pe'ak, hiaaa,"    "Sial, lu, pocong b***t,"    "Hahaha, mampus lu."   Pertarungan itu pun berjalan selama 7 hari tujuh malam, selama itu belum terlihat sama sekali siapa yang akan memenangkan pertarungan. Si Unti, terlempar jauh menghantam sebuah ranting kayu. Pocong dan Lek Minto tertawa girang melihat aksi konyol itu.    "k*****t lu cong, pokoknye, gue akan bales lu. Hiaaaaak."   Unti pun kembali menyerang si pocong dengan lebih extra lagi. Namun sama saja, kekuatan Lek Minto yang membantu si Pocong justru lebih extra daripada kekuatan Paijo yang membantu si Unti. Unti tampak terpelanting jauh menghantam dahan pohon yang runcing. Akhirnya si Unti tewas dan mengalami kekalahan.    "Hueeekkk, sial. Gua kalah gara-gara Lek Minto." ujar Paijo dengan muntah darah begitu banyak.   Tubuhnya mulai melemas dan mulutnya terus menerus mengeluarkan begitu banyak darah hitam yang sangat kental. Paijo tewas malam itu juga bersama ilmu hitamnya. Tak ada satu pun orang yang mengetahuinya. Sementara Lek Minto dan Pocong gaul itu merasa puas dengan kemenangannya. Namun, sayangnya setelah kepergian Paijo, Lek Minto tampak bernasib sama, seakan dirinya hidup segan mati tak mau. Paijo meninggal dalam keadaan tragis, dan mayat Paijo tak dapat dikebumikan karena banyak terjadi hal aneh di dalam lubang kuburnya. Akhirnya Paijo dibiarkan di atas tanah begitu saja dan mengakibatkan mayat Paijo berubah menjadi Mumi kecil yang disebut oleh warga, Jenglot. Sejak kematian si Paijo, jenglit tersebut banyak meneror para warga desa M. Mencari mangsa dan menghisap darah siapa pun yang akan menjadi mangsanya. Darmo tengah memanaskan motornya untuk bersiap-siap menuju kios tempat di mana ia berjualan sate ayam. Kios sate ayamnya jaraknya tak begitu jauh dari rumahnya. Sementara Asih, istrinya, tengah memasukkan bumbu kacang ke dalam panci di dapur.   "Bu, cepet, keburu siang,” teriak Darmo.   "Iya pak. Tolong dong panggilin Dewi, suruh dia beli kecap. Soalnya kecapnya tinggal sedikit. Takutnya nanti kurang,” sahut Asih.   Dewi adalah anak pertama Darmo dan Asih. Usianya masih 15 tahun. Sebentar lagi Dewi akan memiliki adik. Sebab Asih saat itu tengah mengandung anak kedua. Usia kandungannya menginjak 8 bulan.   Setelah segala sesuatunya siap, pasutri itu kemudian berangkat menuju ke kios sate ayamnya. Sementara Dewi ditinggal di rumah dan ditugasi oleh Asih untuk mencuci perkakas bekas membuat adonan sate. Tiba di kios, keduanya langsung bergegas menyiapkan dagangannya. Darmo lantas menyalakan arang di tempat pembakaran.   "Semoga hari ini laku banyak ya, pak," keluh Asih sambil menata tusukan sate yang dibungkus daun pisang di etalase gerobak.   Memang, hampir setahun ini, usaha dagangan sate ayam milik Darmo dan Asih sangat lesu. Hal ini disebabkan adanya pesaing lain yang juga ikut menjual sate ayam tak jauh dari kiosnya. Meski hanya berupa tenda pinggir jalan, namun sate ayam pesaingnya itu sangat ramai pembeli. Maklum, pesaingnya asli berasal dari Madura. Tentu saja, rasa sate dan bumbunya yang khas begitu diminati oleh para penikmat sate di nusantara. Padahal untuk segi harga, sate milik Darmo lebih murah.   Sudah dua tahun ini Darmo menggeluti usaha sate avamnva. Ia beriualan sate Sudah dua tahun ini Darmo menggeluti usaha sate ayamnya. Ia berjualan sate ayam karena harus tetap menafkahi keluarga setelah sebelumnya ia di PHK menjadi seorang sopir di salah satu perusahaan distributor makanan ringan.   Namun, karena perusahaan mengalami kesulitan keuangan, di mana salah satu manager-nya melakukan penggelapan uang, terpaksa Darmo harus dirumahkan. Pada akhirnya ia pun ikhlas menerima kenyataan itu.   Uang pesangon yang ia dapatkan lantas dijadikan modal untuk berjualan sate. Awalnya, memang dagangan sate ayamnya terbilang ramai. Karena rasa satenya -bumbunya hampir mirip dengan rasa sate khas Klaten. Namun, sejak kehadiran pedagang sate asal Madura itu, pelanggannya semakin hari semakin menyusut. Darmo sempat berpikir yang tidak-tidak atas seretnya rezeki yang ia alami akhir-akhir ini.   "Bu, apa kita diguna-guna ya biar dagangan kita tidak laku?" tanyanya kepada Asih.   "Hush... Jangan suudzon pak, mungkin memang lagi waktunya begini. Namanya orang dagang, kadang ramai, kadang sepi,” timpal Asih sedikit menenangkan Darmo.   "Tapi ini sudah hampir setahun lho bu, sebelum kamu hamil juga sudah mulai sepi. Apalagi sebentar lagi kamu mau melahirkan. Uang dari mana? Biaya sewa kios juga masih belum ada," keluh Darmo sedikit kesal menanggapi jawaban Asih.   Asih kemudian meminta Darmo untuk beristighfar, sekaligus menasihati agar Darmo untuk rajin lagi beribadah dan meminta pertolongan kepada Allah. Memang, sejak dagangannya sepi, Darmo lebih sering meninggalkan kewajibannya sebagai umat muslim.   Darmo lebih sering melamun di waktu-waktu senggangnya. Hari itu lagi-lagi bukanlah hari yang cukup beruntung. Dagangan sate ayamnya hanya laku sekitar 15 porsi dari 75 porsi yang sudah disiapkan dari rumah.   Padahal dulu, tak kurang mereka bisa menyiapkan 150 porsi setiap harinya. Dan rata-rata, dagangannya selalu habis terjual setiap harinya. Tiba di rumah, Asih langsung memasukkan dagangan daging sate ayamnya yang masih tersisa ke dalam kulkas. Berharap, daging ayamnya tidak busuk dan bisa dijual kembali keesokan harinya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN