Cuaca hari ini tampak begitu cerah, secerah wajah seorang perempuan yang tengah menyeret koper merah muda kesayangannya itu membelah kerumunan manusia di sekitarnya. Dengan berbalutkan dress bermotif garis horizontal biru putih serta rambut panjang berponi yang dikuncir kuda, perempuan itu melenggang santai. Tak lupa dengan segaris senyum yang tengah terukir dari bibirnya, yang menambah kesan ramah pada wajah perempuan bertubuh mungil itu.
Mata sabitnya menelusuri setiap sudut lobby di bandara Seokarno-Hatta. Bahkan beberapa kali ia berjinjit demi menemukan seseorang yang ia kenal untuk datang menjemputnya. Ia memang tidak berharap akan disambut dengan banner besar bertuliskan namanya, atau dengan kehebohan saat keluarganya meneriakkan namanya. Tidak sama sekali. Ia hanya berharap salah satu dari keluarganya datang menjemputnya di bandara. Hanya itu. Namun ia harus menelan kenyataan pahit bahwa tidak ada satu pun dari keluarganya yang hadir.
Tak mengapa. Ia paham betul kalau orang tuanya sibuk dengan pekerjaannya, juga dengan kakaknya yang fokus pada kuliahnya. Ia tidak marah, sama sekali tidak. Fany yakin, seribu persen yakin walaupun orang tua dan kakaknya tidak menjemputnya di sini, namun mereka tetap merindukannya dan selalu menantikan kehadirannya di rumah.
"Nona Fany!!" Perempuan itu menoleh ketika namanya dipanggil. Saat itu pula sebuah senyuman tulus kembali terbit di bibirnya hingga menciptakan ukiran bulan sabit di matanya yang selalu berhasil membius siapa saja yang melihatnya. Sangat cantik. Begitu orang-orang menilai senyum bulan sabit milik Fany.
"Pak Made, apa kabar?" tanya Fany ramah saat ia sudah berada di hadapan sopir kepercayaan keluarganya itu.
"Kabar baik, Non. Kalau Nona Fany sendiri?" tanya Pak Made.
"Baik juga, pak."
Pak Made tersenyum. Anak majikannya ini terlihat semakin cantik. Siapa pun yang melihat Fany pasti akan setuju kalau perempuan itu sangat cantik. Pak Made berpikir, mungkin makanan di Inggris sangat cocok untuk Fany, sehingga dia tampak semakin cantik setelah pulang dari Inggris, padahal tidak ada kaitannya antara makanan Inggris dengan wajah cantik Fany yang memang sudah terukir sejak lahir itu.
"Biar saya bawakan kopernya, Non." Fany mengangguk, lantas menyerahkan koper merah muda miliknya pada Pak Made. Setelah berterima kasih, perempuan itu melangkah terlebih dahulu menuju mobil hitam yang sudah sangat Fany kenali bahkan tanpa melihat plat nomornya sekalipun.
*
Fany mengalihkan tatapannya ke luar jendela mobil. Menikmati indahnya kota Jakarta yang ternyata sudah banyak mengalami perubahan sejak enam bulan yang lalu saat ia berangkat ke Inggris untuk mengikuti Student Exchange di Warwick University.
Diam-diam, Pak Made ikut tersenyum saat melihat putri majikannya itu tampak bahagia. Sudah lama sekali Pak Made tidak melihat senyum mempesona milik Fany yang menurutnya sangat langka, sebab tidak banyak orang yang memiliki senyum yang sekaligus mengukir bulan sabit di mata perempuan itu.
"Mami sama Papi masih sibuk kerja, pak?" tanya Fany yang saat ini sedang menyesap es cappucino cincau yang dibelinya di pedagang kaki lima beberapa saat yang lalu.
"Ya begitulah, Non." jawab Pak Made seadanya.
Fany menghela napas. Pikirannya melayang tentang berapa jam kedua orang tuanya tidur? Apa mereka selalu makan tepat waktu? Apa saja yang mereka lakukan saat Fany berada di Inggris selama enam bulan lalu? Padahal tanpa keduanya bekerja lebih keras pun kondisi ekonomi keluarga Fany sudah jauh dari kata cukup. Jika mereka mengatakan bahwa mereka bekerja untuk membiayai Fany dan kakaknya kuliah, itu terlalu berlebihan. Fany dan kakaknya mendapat beasiswa. Mereka tidak banyak membebani kedua orang tuanya untuk masalah pendidikan. Sebenarnya Fany kurang suka jika kedua orang tuanya itu terlalu sibuk bekerja, ia hanya takut kalau Mami dan Papinya kelelahan. Itu saja.
"Kangen main ke Dufan sama Mami, kaya dulu," gumam Fany lirih, yang ternyata masih bisa didengar oleh Pak Made yang tengah fokus di kursi kemudi. Pak Made tersenyum tipis. Fany tidak berubah, sejak dulu dia selalu menggemaskan. Namun Pak Made tidak dapat berbohong kalau saat ini ada sedikit gurat kecewa pada wajah cantik perempuan itu.
"Kalau sekarang main ke Dufannya sama Den Gavin 'kan, Non?" celetuk Pak Made yang hanya ditanggapi dengan senyuman tipis Fany. Perempuan itu kini beralih untuk melihat ke luar jendela mobilnya, menyaksikan hiruk pikuk kota Jakarta di bawah teriknya sinar matahari siang ini.
*
Fany menganga saat ia baru saja menginjakkan kakinya di ruang keluarga yang kini sudah dipenuhi puluhan balon berwarna merah muda, juga dengan tingkah konyol kakaknya yang memegang sebuah banner bertuliskan 'WELCOME BACK STEPHANY GWEN' berwarna senada dengan balon-balon yang bertebaran di lantai itu.
Fanny menggelengkan kepalanya pelan, "Sumpah, lo alay banget, kak."
"Bilang terima kasih kek, lo kata buat beginian gampang apa?" dengus si laki-laki pembawa banner, tidak terima dengan sebutan alay yang ditujukan untuknya itu.
Fany tertawa lantas memeluk kakak laki-lakinya itu erat, melepaskan besarnya rasa rindu yang menekannya selama enam bulan belakangan ini. Fany sangat merindukan momen saat ia dan kakaknya bertengkar hanya karena rebutan kursi di meja makan atau keributan saat Fany menjahili kakaknya dengan menaruh bawang goreng di makanannya, yang padahal Fany sendiri tahu bahwa laki-laki itu sangat membenci bawang goreng, bahkan mendengar kata ‘bawang goreng’ saja sudah cukup membuat laki-laki itu kesal.
"Piktong, lepasin gue! Lo mau bunuh gue, ya?!" Fany menepuk-nepuk punggung kakaknya saat pelukan yang tadinya hangat itu berubah menjadi sebuah cengkeraman yang mematikan. Perempuan itu bisa saja kehabisan napas jika laki-laki yang dipanggilnya Piktong itu tidak melepaskan pelukannya.
Laki-laki itu mendengus sebal. Jelas-jelas nama yang diberikan orang tuanya adalah Victor, yang jika diterjemahkan dalam bahasa Latin berarti kejayaan. Memang dasar Fany saja yang dengan seenak udelnya mengganti namanya menjadi Piktong.
Fany hanya memutar kedua bola matanya jengah. Tidak mau memedulikan Victor, perempuan itu beralih pada Maminya yang sedari tadi sudah berkaca-kaca sebab putri bungsunya kini telah kembali.
"Mami kangen kamu, Nak," kata Angela di sela-sela pelukannya dengan Fany. Wanita itu mengusap lembut puncak kepala putrinya, lantas memberikan sebuah kecupan singkat sebagai akhir dari pelukan keduanya.
"Papi...." Perlahan, Fany mendekat pada Papinya yang sedari tadi hanya menatapnya penuh haru. Ia tidak menyangka bisa melihat putrinya di rumah ini lagi. Rasanya benar-benar kosong saat Fany tidak berada di sisinya. Ia begitu merindukan gadis kecilnya.
Fredy mengecup kening Fany cukup lama. Fany tersenyum akan hal itu, sampai akhirnya pria paruh baya itu membawanya ke dalam pelukannya. Mereka melepaskan kerinduan lewat pelukan hangat. Fany selalu suka saat ia dipeluk oleh Papinya. Di sana ia dapat merasakan kehangatan serta kasih sayang yang begitu tulus dari seorang laki-laki yang selalu menjaganya.
"Kaya anak TK lo, dikuncir kuda begini. Nggak cocok," ujar Victor seraya menarik ikatan rambut milik Fany, hingga separuh rambut Fany terurai dan sedikit berantakan.
"PIKTONG!!" pekik Fany, lantas mengejar Victor yang sudah ngibrit menuju kamarnya. Fany merasa murka karena kakaknya itu hobi sekali merusak suasana. Perempuan itu menyambar bantal dari salah satu sofa yang terletak tak jauh dari sana yang nantinya akan ia gunakan sebagai s*****a untuk menghajar kakaknya. Sedangkan kedua orang tua mereka hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan kedua anaknya yang seperti Tom and Jerry.
*
“Wah, vegetable salad with peanut sauce.” Mata sabit Fany berbinar setelah Maminya menaruh sebuah piring beserta isinya di meja makan. Sedangkan wanita paruh baya yang baru saja mendaratkan tubuhnya di kursi sebelah Papinya itu hanya terkekeh pelan.
“Cih, sok iye banget lu, mentang-mentang baru pulang dari London, sampai semua makanan disebut in English,” decih Victor pada Fany yang kini sudah melotot ke arahnya. “Sekalian aja nih lo namain half cooked tempe,” lanjutnya sembari melahap tempe mendoan yang sebelumnya telah dicocolkan dengan sambal kecap yang menurutnya terenak sejagat raya itu. Cih, alay.
Fany mendengus, “Mi, Fany mau bawang goreng dong,” ucap perempuan itu pada Maminya dengan ekspresi wajah yang ramah, berbeda seratus delapan puluh derajat ketika menatap Victor tadi.
Victor tersentak dan secara refleks menutup hidung dan mulutnya dengan tepalak tangan. “Bocil, nggak usah aneh-aneh deh lo,” ucapnya pada sang adik yang kini tersenyum penuh kemenangan.
Jika diteruskan, perdebatan kakak beradik itu tidak akan ada habisnya. Kalau sudah seperti ini, terpaksa Fredy yang harus turun tangan untuk melerai keduanya. Tanpa ada bantahan, keduanya pun terdiam, lantas mematuhi perintah Papinya untuk menyantap makan siang mereka.
Keluarga kecil itu makan siang bersama dengan anggota lengkap setelah kurang lebih enam bulan salah satu anggotanya absen karena berada di London. Kehangatan yang beberapa saat lalu seolah hilang, kini telah kembali. Bagi Fany, tidak ada yang perlu dikhawatirkan selama ia masih dapat melihat senyuman dari kedua orangtua dan kakaknya—yang terkadang menyebalkan itu—setiap hari. Tidak ada perasaan tenang, setenang ketika ia berada di rumahnya, bersama orang-orang yang dicintainya.
“Pi, temen Papi yang waktu itu, udah bisa perbaiki ponsel aku belum?” tanya Fany memecahkan keheningan yang menyelimuti mereka selama beberapa saat sebab terfokus menyantap makanan pada piring masing-masing.
“Papi sudah tanyakan lagi, katanya ponsel kamu sudah rusak parah. Walaupun bisa diperbaiki nggak kecil kemungkinannya bakal sering eror, data di dalamnya juga bisa dipastikan hilang,” kata Fredy menjelaskan keadaan ponsel milik putrinya itu.
Bahu Fany perlahan turun, perempuan itu nampak seperti kehilangan semangat setelah mendengar penjelasan dari Papinya. Bagaimana tidak, sebagian dokumentasi ketika ia berada di London, tepatnya di Warwick University yang ada di handphone-nya itu belum ia backup. Jadi bisa disimpulkan bahwa ia kehilangan sebagian kenangannya ketika di London selama beberapa bulan itu. Walaupun sebagian lagi sudah di-backup dengan aman, tetapi tetap saja 'kan, mereka sama-sama berharga.
“Sudah, nggak usah cemberut gitu, nanti gue beliin ponsel baru,” sahut Victor tanpa menatap Fany, sebab tengah fokus mengupas sebuah jeruk yang terlihat segar dan menggiurkan itu.
“Ish, tapi kan tetep aja, Piktong.” Fany memutar bola matanya sebal.
“Ntar sekalian jalan-jalan ke dufan deh, gimana?” Victor menaikturunkan alisnya, menggoda sang adik yang masih saja menekuk bibir bawahnya cemberut.
“Najis lo, nggak usah sok ganteng,” decak Fany sebelum akhirnya ia melanjutkan ucapannya. “Besok ya, sepulang dari kampus.”
*
Fany mengambil sepotong brownies di atas meja dengan mata yang masih tertuju pada layar smart-tv yang tengah menampilkan romantisme antara aktor Lee Jong Suk dengan aktris cantik Park Shin Hye.
Sesekali, perempuan itu tersenyum malu sebab merasa baper dengan keduanya. Fany memang suka sekali menonton Drama Korea. Pinoccio, sebenarnya Fany sudah tertarik dengan drama itu sejak lama, namun ia belum sempat menonton sebab kesibukannya saat mengikuti Student Exchange yang persiapannya saja membutuhkan waktu yang tidak singkat.
"a***y tontonan lo." Victor menggelengkan kepalanya pelan.
"Apa sih, ganggu!" sambar Fany kesal karena kehadiran Victor yang dari bau-baunya ingin merecoki kegiatan menonton yang sedang Fany lakukan.
"Mending jangan nonton gituan deh, dek." Fany menoleh, ia memicingkan matanya meminta penjelasan terhadap ucapan Victor tadi.
"Minder lah, lo kalah cantik sama aktornya," ujar Victor, lantas terbahak dengan ucapannya sendiri. Gila sih, dapat keberanian dari mana dia mengatakan hal itu pada adiknya.
"Lo pilih pergi, atau gue suapin brownies lewat hidung?!" ancam Fany dengan mata melototnya yang sama sekali tidak menakutkan. Karena orang sipit kalo melotot ya tetap saja tidak seperti sedang melotot, pikir Victor.
Victor menyatukan kedua telapak tangan dan mengerjapkan matanya, sebagai isyarat kalau ia tak akan berbicara macam-macam lagi pada adiknya, yang kalau sedang ngambek singa betina pms saja masih kalah seram. Ia tidak bisa membayangkan seperti apa rasanya disuapi brownies melalui hidung.
"Dek, lo belum ngabarin Gavin?" tanya Victor. Sebenarnya kedatangan Victor kemari adalah untuk menanyakan hal ini. Ia kesal setengah mati karena makhluk tinggi bernama Gavin itu terus-terusan menerornya sebab Fany yang belum juga memberinya kabar sampai saat ini.
"Lo tau sendiri, ponsel gue rusak, dan gue cuma hapal nomornya Mami. Lagian apa pentingnya gue ngabarin si Gavin Gavin itu sih? Kenal aja kagak," ujar Fany setelah ia menekan tombol pause untuk menjeda drama yang sedang ia tonton sebab konsentrasinya sudah sepenuhnya teralihkan oleh Piktong, sang kakak yang terkadang presentase akhlaknya hanya 0% itu.
Terhitung, sudah dua orang yang menyebut nama Gavin hari ini. Memangnya apa hubungan Fany dengan Gavin yang setahunya adalah pemain sepak bola Timnas Indonesia yang wajahnya sering nongol di wallpaper handphone Carrisa, sahabatnya itu. Omong-omong soal Carissa, Fany jadi rindu dengan dia. Wah, rasanya sudah tidak sabar untuk bertemu dengan dia di kampus besok.
"Dek, gue serius." Victor memutar bola matanya jengah.
"Lo kata gue bercanda? Emang apa hubungannya gue sama Gavin pemain bola itu sih, Kak?" sungut Fany geram. Kenapa kakaknya ini riweuh sekali dengan pemain sepak bola itu? Saling kenal saja sepertinya tidak.
Victor berdecak, "Siapa yang lagi ngomongin Gavin pemain sepak bola? Gue lagi ngomongin Gavino Pranaja, pacar lo."
Fany terpaku, butuh beberapa detik baginya untuk dapat mencerna kalimat itu baik-baik. Beberapa saat kemudian, Fany terbahak.
"Gue nggak punya pacar. Dan please, sepertinya lo kebanyakan nonton sinetron, deh. Suka halu!" Setelah mengatakan kalimat itu, Fany beranjak menaiki anak tangga menuju kamarnya, meninggalkan Victor yang membeku di tempatnya seraya berusaha menepis pikiran-pikiran negatif yang mulai memenuhi otaknya.
*