0. Prolog
Langit malam kota Jakarta tampak begitu cerah, lihat saja dari banyaknya cahaya bintang yang bertaburan menemani bulan sabit yang nampak indah dengan warna khasnya. Serta gemerlap lampu perkotaan yang seakan tak mau kalah dengan para bintang itu pun semakin memperindah potret kota Jakarta pada malam ini.
Zoom sedikit pada bangunan tinggi bertuliskan Mulia Hospital, tepatnya pada sebuah jendela besar di lantai tujuh. Seorang perempuan yang mengenakan setelan baju pasien berwarna biru muda itu tengah meringkuk memeluk lututnya sendiri. Rambut hitam panjangnya ia biarkan terurai berantakan. Perempuan itu menatap kosong ke luar jendela kamarnya. Berbanding terbalik dengan suasana perkotaan yang terbentang bagaikan sebuah lukisan indah di hadapannya, malam ini hatinya tengah meredup, sunyi, kelabu.
Ingatannya melayang pada beberapa jam lalu, di mana hatinya seolah diremukkan, dihantam berkali-kali dengan palu besar hingga mati rasa, mengetahui bahwa orang itu kini tak ada di sisinya.
Segaris senyum pahit terbit di wajah Fany, "Apa gunanya aku ingat kamu, kalau pada akhirnya kamu ninggalin aku?" gumamnya lirih.
Perih. Persis seperti menaburi garam pada luka yang belum sepenuhnya kering. Tangannya berkali-kali menepuk d**a, berharap rasa sakit yang bersarang di sana akan segera menguap. Namun sayang, kekosongannya kini terlalu nyata untuk ia sebut sebagai mimpi burukya.
"...gue harap hal itu nggak akan lo jadikan sebagai alasan untuk ninggalin gue."
"Aku nggak ninggalin kamu,” ujar Fany pada keheningan di kamarnya.
"Gue akan selalu ada untuk lo."
"Bohong. Kamu tidak di sini." Fany tersenyum miring. Lagi-lagi kalimat yang ia ucapkan hanya disahuti oleh suara monoton yang berasal dari monitor di samping tempat tidurnya.
"Ijinkan gue untuk melindungi lo."
Perempuan itu mematung, tenggorokannya seakan tercekat kala memori tentang dia terus berputar layaknya sebuah kaset rusak, lantas mengingatkannya pada satu kalimat, bahwa Gavin akan melindunginya. Benar, laki-laki itu menepati janjinya. Ia telah melindungi Fany, meskipun dengan cara yang paling Fany benci sekalipun, yaitu mengorbankan dirinya demi Fany.
Perempuan itu melirik pintu kamar rawatnya dengan mata lelahnya, nampak jelas lingkaran hitam di sekitar matanya yang terlihat kontras dengan warna kulit wajahnya yang pucat. Perempuan itu meraih tiang infus yang terhubung dengan selang di punggung tangan kirinya, lalu dengan langkah gontai, perlahan ia mendekati pintu kamarnya.
Dibukanya pintu yang sudah seperti tembok besar yang menghalanginya dari dunia luar dalam semalam. Dapat ia lihat Mami, Papi, dan Victor yang menatapnya dengan perasaan khawatir, serta satu dokter dan perawat yang diam-diam mengembuskan napas lega karena akhirnya Fany membuka pintu kamarnya.
Sungguh, Fany masih butuh perawatan yang intensif, karena kini tubuhnya masih sangat lemah.
“Dek,” panggil Victor membuka suara. Suaranya bergetar, entah karena menahan tangis atau menahan amarah, Fany tidak paham akan hal itu, yang jelas sekarang justru dirinya yang tengah menahan air mata di pelupuk matanya, yang dalam sekali kedip saja bulir air mata itu akan terjun bebas membasahi kedua pipinya.
“Pasien Fany masih butuh perawatan, ayo kita masuk,” sahut seorang perawat perempuan, lalu dengan sigap ia menggiring Fany untuk kembali masuk ke kamarnya, diikuti oleh dokter dan satu perawat lainnya, serta keluarga Fany.
“Aku mau ketemu Gavin.” Kalimat pertama yang keluar dari bibir Fany lagi-lagi tentang Gavin.
Dokter Tomi tersenyum lembut, “Nanti ya, setelah kondisi kamu sudah lebih baik,” ujarnya dengan hati-hati.
“Tapi aku mau sekarang. Mau ketemu sekarang,” kekeuh Fany. Ia bahkan sudah hampir turun dari tempat tidurnya kalau saja tangannya tidak dicekal oleh Victor.
Fany menatap kakaknya itu dengan datar, merasa kesal karena permintaan Fany yang menurutnya sepele itu malah diacuhkan oleh orang-orang di sana.
“Kenapa sih, Kak?”
“Dek, kamu harus bisa ikhlas,” ujar Victor.
Fany menundukkan kepalanya, beberapa kali ia menggeleng untuk mengenyahkan pikiran buruknya dari sana. Apanya yang harus diikhlaskan? Fany tidak mengerti, atau lebih tepatnya ingin pura-pura tidak mengerti.
Terdengar rintihan keluar dari bibir Fany. Dadanya sesak, sekuat apapun ia menyangkal, kabar yang diterimanya kemarin memang benar-benar nyata. Lantas ucapan Victor selanjutnya benar-benar meruntuhkan dunia Fany, perempuan itu berteriak histeris seraya berulang kali menyebut nama Gavin. Tidak, ia tidak mau percaya dengan hal itu. Semua itu hanya omong kosong.
Melihat pasiennya histeris dan bisa kapan saja melukai dirinya sendiri, sang dokter mengisyaratkan kedua perawatnya untuk menahan Fany, lalu dengan cekatan dokter laki-laki itu menyuntikkan cairan ke dalam infus yang terhubung dengan tubuh Fany. Beberapa saat setelahnya pandangan Fany menjadi buram, tubuhnya melemah seiring dengan kesadarannya yang perlahan menghilang.
*