3. Pacar?

1661 Kata
Katanya, setiap luka pasti ada obatnya, tetapi kenapa hatiku masih saja lara? Katanya, bertemu adalah obat rindu, tetapi kenapa hadirmu justru membuat pilu? -ELEVEN- "FANY!!" Fany menoleh ketika mendengar namanya dipanggil. Detik berikutnya, raut mukanya berubah girang. Dengan langkah lebar, perempuan bermata sabit itu menghampiri sahabatnya yang sedari tadi sudah melambai ke arahnya. "I miss you so bad!" pekik Fany sebelum akhirnya tubuh mungilnya menabrak dan memeluk sahabatnya kesayangannya. "Selamat datang kembali. Gue bangga sama lo," kata sahabat Fany di sela pelukan penuh kerinduan di antara mereka berdua. "Thanks, Ris," kata Fany tulus. "Gue bisa sampai di tahap ini juga karena lo," ujar Fany tanpa melepaskan senyuman di bibirnya. Carissa mengeratkan pelukannya. Ia sangat merindukan sahabatnya itu. Enam bulan bukanlah waktu yang singkat, dan sahabatnya itu telah berhasil mewujudkan apa yang ia impikan. Mengenyam pendidikan di salah satu Universitas jempolan di Inggris. Tentu saja itu bukan hal yang mudah. Rissa menyaksikan sendiri bagaimana kerasnya perjuangan Fany sampai akhirnya ia bisa lulus untuk mengikuti Student Exchange di Warwick University. "Ris, kangen bubur ayam bang Roni nggak sih?" Fany terkekeh di akhir ucapannya. Ia hanya minum segelas s**u saat sarapan tadi, sengaja meluangkan bagian di perutnya untuk ia isi dengan bubur ayam di penjual langganannya. "Bang Roni, we are coming." Rissa merangkul pundak Fany lalu melenggang melewati orang-orang yang sedari tadi menatap Fany antusias. Beberapa kali perempuan bermata sabit itu menyambut uluran tangan teman-temannya yang mengucapkan selamat atas kembalinya Fany di Jakarta. * BRAAKKK!!! Laki-laki itu mengumpat ketika pulpen yang sedang dipegangnya tiba-tiba terlepas sebab ia terkejut dengan gebrakan di mejanya. Sekilas ia menatap sang pelaku penggebrakan meja itu seakan meminta penjelasan sebelum akhirnya kembali melanjutkan aktivitas menulis rangkuman materi perkuliahannya yang sempat terjeda tadi. "Cewek lo balik." Tiga kata itu berhasil menghentikan aktivitas menulis yang tengah Gavin lakukan. Alih-alih berpendapat atau bertanya, laki-laki jangkung bernama lengkap Gavino Pranaja itu justru menyambar ponselnya. Selama beberapa menit ia terfokus pada benda pipih tersebut sebelum sebuah pesan membuatnya membeku di tempat. "Gue cabut," ucap Gavin setelah mengemasi barang-barangnya yang berserakan di atas meja. Ia melangkah dengan tergesa-gesa, meninggalkan Segara, sahabatnya yang hanya menggelang pelan dan terkekeh geli di tempatnya. Gavin harus cepat sampai, bagaimanapun caranya. Ia sudah tidak bisa lagi bertahan dengan rindu yang semakin menyiksanya. * Setelah selesai membayar bubur ayam yang tadi ia pesan, Fany berbalik untuk menghampiri Carissa yang tengah menyesap es teh manis yang baru saja dipesannya lagi. Perempuan berkulit pucat itu meletakkan ponselnya di dekat gelas es teh manis yang sudah habis setengahnya. Sepertinya Rissa baru saja menerima telepon atau pesan, pikir Fany. Belum genap sepuluh langkah Fany berjalan, ia harus terpaksa berhenti saat seseorang menepuk pelan bahunya. Fany menoleh, lantas mengulas sebuah senyum tipis yang mampu mengukir bulan sabit di matannya. "Kak Fany, ya?" tanya perempuan berambut sebahu yang Fany yakin, dia adalah adik angkatannya. "Iya." "Kakak dipanggil Pak Setya," kata perempuan itu dengan lembut dan sopan. Fany mengangguk, lalu berterima kasih pada perempuan tersebut. Tak beberapa lama, perempuan tadi sudah menghilang di antara lorong-lorong kampus yang tampak sedikit ramai oleh beberapa mahasiswa. "Ris, gue duluan. Dipanggil Pak Setya," ujar Fany. Tanpa menunggu jawaban dari Rissa, perempuan itu sudah berlalu meninggalkan kantin dan menyusuri lorong demi lorong kampus menuju kantor dosen. Dalam hati, Fany bertanya-tanya tentang maksud Pak Setya memanggil dirinya. Semoga saja bukan suatu hal yang buruk. Ini adalan hari pertama Fany kembali kuliah di Universitas Garuda setelah enam bulan yang lalu ia belajar di Warwick University. Ia tidak ingin di hari pertamanya ini ada masalah yang menyangkut dirinya. Sepeninggalan Fany untuk menemui Pak Setya, Rissa belum beranjak dari tempatnya. Perempuan itu masih sibuk mengambil es batu dari gelas menggunakan sedotan, lalu mengunyahnya sehingga menciptakan sedikit suara dari dalam mulutnya. "FANY MANA!?" Pekikan itu membuat Rissa tersedak es batu yang ia kunyah. Dengan cekatan, sang pelaku menyerahkan sebotol air mineral miliknya pada Rissa yang terbatuk-batuk sebab ulahnya. "k*****t lo! Jadi cowok lembut dikit bisa kali," sungut Rissa yang masih sedikit terbatuk akibat es batu yang mengganjal si tenggorannya itu. Laki-laki itu memutar bola matanya jengah, "Cewek gue mana?" "Di panggil Pak Setya," kata Rissa acuh. "Baru aja dia pergi," lanjutnya. "s**l," umpat laki-laki itu sebelum ia berlari meninggalkan Rissa yang menatapnya dengan cuek. * Cara mengajar yang menyenangkan dari dosen nyatanya mampu meningkatkan mood bagi para mahasiswanya. Seperti halnya Fany dan Rissa sekarang. Mereka selalu suka dengan perkuliahan Akuntansi Manajemen yang diampu oleh Bu Tria. Penyampaian materi yang mudah dipahami, serta diselingi beberapa candaan, membuat mahasiswanya selalu semangat dan tak merasa bosan. Bu Tria mampu mengubah akuntansi yang memusingkan menjadi mata kuliah yang menyenangkan. Namun ads satu hal yang kurang menyenangkan, yaitu Bu Tria suka memberi tugas yang bikin geleng-geleng kepala, karena jawaban dari tugas tersebut sampai menghabiskan lima lembar folio. Seperti hari ini, Bu Tria lagi-lagi memberi tugas yang walaupun sudah dijejer, tetap saja menumpuk. Apasih, nggak jelas. Intinya begitu, hari ini Bu Tria memberi tugas yang cukup banyak pada mahasiswanya. “Kalo kita kerjain tugas dari Bu Tria besok aja gimana?” usul Fany, perempuan itu menoleh pada Rissa yang sedang mengetukkan jari telunjuknya pada dagu, sebagai tanda bahwa perempuan itu tengah berpikir. “Boleh. Lebih cepat, lebih baik,” ujar Rissa setelahnya, yang dijawab oleh acungan jempol Fany, pertanda bahwa ia setuju dengan pendapat Rissa. Fany bersyukur sekali mempunyai sahabat yang satu frekuensi dengannya. Rissa tidak suka menunda-nunda pekerjaan, sama seperti dirinya. Rissa juga suka belajar, dan ia tak pernah merasa keberatan saat Fany meminta untuk ditemani ke perpustakaan. “By the way, tadi lo ada urusan apa sama Pak Setya?” tanya Rissa. Tadi ia belum sempat bertanya pada Fany, sebab sahabatnya itu sudah berlari ngibrit meninggalkannya di kantin sebelum ia sempat memberi respon. “Oh, itu gue disuruh bikin artikel tentang pengalaman gue ikut Student Exchange.” Seketika raut wajah Fany berubah seperti kehilangan semangat kala mengingat kembali permintaan Pak Setya padanya tadi. “Terus kenapa?” tanya Rissa yang menyadari perubahan ekspresi pada wajah sahabanya itu. “Gue bodoh banget dalam hal menulis, Ris. Jaman SD aja gue males bikin karangan berlibur ke rumah nenek, ini malah bikin artikel pengalaman Student Exchange.” Rissa terbahak mendengar pengakuan dari perempuan di sebelahnya itu, “Gue nggak percaya. Kalo lo bodoh dalam hal menulis, kenapa essay lo bisa tembus ke Warwick University?” ujar Rissa. “Lah, kok iya, ya?” Fany menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sedetik kemudian perempuan itu terkekeh. Menyadari bahwa beberapa saat lalu ia sempat meragukan kemampuannya sendiri. “Udah lah, lo bisa kok.” Rissa menepuk pundak Fany pelan, memberikan semangat pada sahabanya. Sedangkan Fany, ia hanya menampilkan senyumnya yang berhasil mengukir bulan sabit di kedua matanya. Tak ingin membahas hal itu lagi, Fany menarik lengan Rissa untuk bergegas menuju parkiran karena sudah dapat dipastikan kalau Victor sudah menunggunya di sana. Laki itu sudah berjanji akan mengajaknya ke dufan hari ini, jadi Fany tak mau melewatkan kesempatan yang bagus itu. * Laki-laki jangkung itu melangkahkan kakinya tidak sabar. Setelah gagal menemui pacarnya pagi tadi, ia berharap bahwa kali ini semesta berpihak padanya sehingga ia bisa bertemu dengan Fany, perempuan yang saat ini ia rindukan. Gavin tahu tentang apa yang sudah terjadi pada Fany saat ia di London beberapa saat lalu. Itu sebabnya Gavin sangat paham mengapa sampai saat ini Fany belum menghubunginya. Mata Gavin berpendar, mencari sosok perempuan bertubuh mungil yang sudah sangat ia kenali itu. Sampai pada satu titik, senyum lebar terukir di wajah Gavin, hingga menciptakan lubang di kedua pipinya. Sangat manis. “Fany,” gumam Gavin saat ia berhasil menemukan Fany di antara banyaknya mahasiswa yang berada di area parkir Fakultas Ekonomi Bisnis. Gavin yakin, ia tak salah lihat, itu sebabnya ia mempercepat langkahnya. Ia tak mau kehilangan kesempatan lagi untuk bertemu dengan pacarnya. “Fany!” panggil Gavin sebelum akhirnya ia menarik lengan Fany dan memeluk tubuh mungil perempuan itu. Fany membeku di tempatnya. Entah apa yang ada di pikirannya sekarang, yang pasti ia merasa ada yang salah pada dirinya. Jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Jujur saja, ada sebuah perasaan yang menurutnya sulit untuk dimengerti. Terasa familiar, namun ia tahu betul, satu-satunya sosok yang mampu memberikan perasaan itu dengan sebuah pelukan adalah Papinya, tidak ada orang lain selain beliau. Iya, orang-orang menyebutnya dengan perasaan ‘nyaman’. Namun Fany masih belum mengerti, mengapa laki-laki bertubuh tinggi ini berhasil membuatnya merasa nyaman saat berada di dekapannya? Fany mengepalkan tangannya, setelah mengumpulkan kesadarannya yang beberapa saat lalu berserakan sebab perlakuan laki-laki yang sedang memeluknya. Dengan sekali hentakan, ia berhasil lepas dari dekapan laki-laki itu. PLAK! Gavin memegangi pipi kirinya yang terasa panas sebab tamparan keras dari Fany. Ia bingung setengah mati. Apa yang terjadi pada Fany? Kenapa Gavin mendapat tamparan, alih-alih sebuah kecupan? Oke, harapan Gavin memang berlebihan. Tapi tetap saja, ini terlalu membingungkan bagi Gavin. Seingatnya, terhitung sudah tiga bulan sejak mereka tidak saling berkomunikasi, ia tak berbuat kesalahan apapun pada Fany. Justru seharusnya ia yang meminta penjelasan pada perempuan itu, bukan? “Itu untuk lo yang udah meluk gue, padahal kita nggak saling kenal,” ucap Fany. Matanya menatap Gavin nyalang, penuh dengan luapan api kemarahan yang seakan dapat membumihanguskan area parkir tempat mereka berdiri ini. Tidak paham dengan apa yang Fany katakan, Gavin pun menarik lengan perempuan itu, “Fany, aku Gavin. Pacar kamu.” Perempuan bermata sabit itu membelalakkan matanya, semakin tidak habis pikir dengan semua ucapan dan perlakuan dari laki-laki yang kalau tidak salah dengar itu bernama Gavin. PLAK! “Itu untuk lo yang ngaku-ngaku pacar gue, dan bikin gue malu karena jadi pusat perhatian,” kata Fany lalu melenggang pergi meninggalkan Gavin dan orang-orang yang melihat kejadian itu. Gavin meraba pipi kanannya. Tamparan Fany sama sekali tidak terasa sakit di pipinya, melainkan di hatinya. Bagaimana bisa perempuan itu mengatakan bahwa ia tidak menganal Gavin padahal sudah sejak kelas tiga SMA mereka resmi berpacaran? Terlalu banyak tanda tanya yang menggantung di kepalanya, hingga yang dapat Gavin lakukan saat ini hanyalah menatap punggung perempuan yang menamparnya tadi menghilang bersama mobil hitam yang dikemudikan oleh seorang laki-laki. *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN