Gue terpaksa pulang dengan taxi. Ini hari senin dan gue ga pulang semaleman. Ditambah akhirnya pulang dalam keadaan berantakan. Dia, laki-laki aneh yang jadi client gue itu bener-bener nganterin gue ke hotel. Tapi setelah bangun tadi pagi, gue udah ga nemuin sosoknya. Gue cuma nemuin setumpuk amplop coklat berisi uang dan surat dari Bang Rio. Dia bilang, client dia suka sama pelayanan gue dan meminta untuk menemani dia akhir pekan besok.
Di balik rasa pusing yang masih mengganjal di kepala karena mabuk. Gue cuma bisa ketawa meremehkan. Apanya yang dia sebut dengan "pelayanan"?
Bahkan obrolan saja ga tercipta di antara kami semalam. Cuma musik jazz yang dia putar mengalun, menemani sepi di antara kami. Oh ya, gue lupa. Dia juga berhasil grepe-grepe gue. Untuk hal ini, gue sedikit dibuat merinding. Belum pernah ada laki-laki yang nyentuh tubuh gue selama ini dan darimana dia tau nama gue, itu yang jadi misteri ilahi.
Gue menghela napas, mengingat tentang apa yang akan mereka katakan di rumah. Orangtua angkat gue, terutama mungkin si crewet Satur. Gue ga mau ambil pusing selama perjalanan. Selebihnya, gue hanya memikirkan bagaimana harus mengirimkan uang yang gue dapet ke panti asuhan secepatnya. Ini sudah akhir bulan, pasti uang kas sudah sangat menipis sedangkan kebutuhan adik-adik meningkat.
"Non, sudah sampai." Supir taxi berkumis tebal itu membuyarkan pikiran gue, dia sesekali mencuri pandang ke arah belakang melalui kaca spion yang berada di tengah. Gue tau kemana arah pandang dia. Yang gue bisa, cuma menghela napas sabar, sebagai respon pelecehan seksual yang dia lakukan secara blak-blakkan, menjamahi tubuh gue dengan matanya yang jelalatan.
Selepas membayar sejumlah tagihan yang kalau dipikir kelewatan itu. Gue masuk ke dalam rumah dalam kondisi nyeker, dress yang gue pake cuma bisa nutupin tubuh gue sebatas paha, setiap gue jalan beberapa langkah. Bahan dress'nya selalu naik, menampilkan kulit paha gue lebih terekspos lagi. Terlalu pendek tapi gue ga bawa baju ganti selain cuma seragam sekolah. Itu bukan pilihan yang bagus, keluar dari hotel dengan kondisi bau alkohol dengan seragam sekolah di hari senin. Hahaha, apa yang bakal dipikirin orang-orang? Berpenampilan gini aja mereka pasti udah mikir gue, l***e.
Beberapa satpam yang tengah berjaga di post depan rumah, mencoba membantu, karena ngeliat badan sempoyongan gue yang beberapa kali hampir oleng nyusruk aspal. Sedangkan di salah satu pundak, ada ransel sekolah dan sepatu convers yang sengaja ga gue pake lagi.
"Ga usah, Pak. Makasih." Ucap gue ketika ngeliat mereka mencoba membantu dengan bergerak mendekat.
Pandangan Pak Satrio dan Buni jelas khawatir. Tapi gue lebih khawatir lagi dengan orang rumah yang bakal heboh dengan penampilan gue siang ini. Setelah ngelewatin jejeran pohon palem yang di tanam sepanjang jalan masuk dan taman depan rumah.
Akhirnya gue sampai, yang gue dapetin cuma kondisi rumah yang sepi. Ga ada aktifitas. Sedikit bersyukur dalam hati dengan sikon ini, mungkin mereka memang sedang keluar rumah atau Bu Angel tengah tugas di luar kota. Baru aja gue berpikir positif sambil berusaha menutup pintu rumah secara perlahan agar tidak menimbulkan suara. Nama gue dipanggil dari arah belakang. Siapa lagi kalau bukan suara Satur.
"Mela."
Gue menghela napas sebelum berbalik badan untuk menghadapi kemurkaan yang berlebihan dari saudara angkat gue sendiri. Saat ini juga gue berharap ada kutukan budeg. Biar gue ga repot-repot nyumpel kuping buat menghindari omelan Satur.
"Lo kemana aja?"
"Gue mau tidur." Jawab gue dengan suara serak.
"Mel, Mami sama Papi khawatir sama lo. Lo semaleman ga pulang."
Gue ga menanggapi pertanyaan Satur. Gue cuma sibuk menghitung anak tangga yang gue naikin, melingkar, menuju lantai dua. Terbuat dari marmer hitam yang dilapisi karpet berwarna merah dengan corak bunga yang indah. Berkali-kali gue ngomong dalam hati, sepanjang tinggal di rumah keluarga Bu Angel. Rumah ini terlalu besar untuk seorang, Melati. Terlalu sepi. Gue ga suka dengan semua sikon yang teramat nyaman. Hampir ga pernah ada sesuatu yang menggemparkan terjadi di keluarga Bu Angel dan itu membuat gue selalu merasa insecure.
Gue berjalan lunglai menuju kamar, ternyata Satur lebih gigih dari sebelumnya. Dia menghalau pintu kamar saat gue berusaha nutup dan akhirnya gue cuma bisa ngalah karena terlalu lelah untuk melawan.
"Mela, lo belum jawab pertanyaan gue."
Terpaksa, gue membanting sepatu dan ransel yang gue bawa ke lantai sebagai aksi protes dan segera berbalik, menghadap Satur yang jangkung.
"Lo cerewet banget sih kaya cewe."
"Lo abis mabok? Lo kenapa pake baju kaya gitu." Tanyanya marah.
Gue cuma bisa tersenyum meremehkan Satur yang sok perhatian. Sejurus kemudian, gue bisa liat dia nutup pintu kamar dan berjalan mendekati gue dengan pandangan menyelidik. Yang membuat gue semakin risih adalah tatapannya yang menghakimi. Anjing. Gue ga pernah suka sama orang-orang yang bermuka dua kaya Satur.
"Lo mabok, Mel?"
"Mabok atau ga, bukan urusan lo. Keluar dari kamar gue." Suara gue meninggi beberapa oktaf.
Tapi Satur justru berubah menjadi lebih sangar. Dia mencengkram pergelangan tangan gue dan menariknya secara kasar.
"APAAN sih, tai. Lepasin gue."
"Jawab pertanyaan gue dulu."
"Ya gue mabok, terus kenapa?" Jawab gue sewot. Dengan nada super sinis yang bisa gue ucapin sama manusia kaya dia.
"Lo mabok sama siapa? Lo ngapain aja semalem?"
"Gue jual diri, puas lo?"
Cengkraman tangan Satur semakin erat dan kencang. Sampai membuat gue meringis kesakitan. Sial. Dia kenapa sih?
"Itu ga lucu, Melati."
"Apa? Lo mau make gue juga?" Gue sedikit terkejut dengan suara gue yang bergetar saat menjawab
kalimat Satur. Dia berhasil menyentuh harga diri gue.
Tatapan mata kami saling beradu. Marah dan kebencian yang ga bisa dibendung lagi. Gue benci Satur yang sok baik. Gue ga butuh perhatian dari siapa pun. Bahkan gue berhak atas badan gue sendiri. Sekali pun gue harus menjualnya cuma buat kasih makan adek-adek gue di panti asuhan. Memangnya Satur siapa? Apa hak dia ngatur-ngatur hidup gue? Emangnya dia tau apa soal pengorbanan? b******k.
Akhirnya Satur melepaskan genggamannya juga. Saat itu gue buru-buru melepaskan dress yang gue pake. Cuma tersisa bra dan cd hitam gue yang menutupi badan. Gue ga tau apa yang Satur pikirin saat ini dan tentang apa yang gue pikirkan selanjutnya ketika menerjang dia, mendaratkan ciuman di bibirnya. Melumatnya dengan penuh emosi.
Awalnya Satur tidak menerima dan merespon gerakan bibir yang gue lakukan. Tapi beberapa saat kemudian, dia menarik gue agar lebih dekat dengan badannya. Lalu membuat gue melangkah mundur karena dorongannya. Kami bergelut. Menyatu dalam amarah yang membara.
Ciuman kami berubah menjadi ciuman yang panas. Beradu. Meminta sesuatu yang lebih. Tangan gue bergerak meraba apapun yang bisa gue sentuh. Merasakan d**a bidang laki-laki yang jadi sodara angkat gue. Laki-laki yang gue benci. Menjambak rambutnya, mengigit bibirnya. Melakukan apapun untuk melampiaskan kekesalan.
Pada saat yang sama, Satur membalikkan badan gue. Membuat gue menghadap tembok. Hembusan napas Satur yang memburu membuat gue bereaksi lebih panas. Bergerak, menggesek sesuatu di bawah sana yang menegang. Membangkitkan nafsu Satur yang gue tau sudah muncul.
Satur mencium leher belakang gue, tengkuk, berakhir di pundak dengan hembusan napas yang membuat badan gue seperti tersengat listrik ribuan volt. Tangannya menjamah p******a gue, keras, meremasnya tanpa ampun.
"Aaah..." Cuma itu, suara yang keluar dari mulut gue.
Kami menggila, melupakan semua kemarahan yang melanda, sampai ketika gue berusaha membuka celana dalam sebagai pertahanan terakhir dan menempelkan p****t gue ke benda yang sudah menegang itu. Satur berhenti, dia bergerak menjauh.
Gue berusaha membalikkan badan lagi untuk tau apa maksudnya? Saat napas kami masih terengah-engah dan nafsu yang sudah berada di ujung ubun-ubun. Tiba-tiba saja Satur menghentikan segala aktivitas kami. Membuat gue merasa pening karena menahan emosi yang tengah meletup.
"Sorry, gue ga bisa."
Lalu dia menghilang, keluar dari kamar gue.
"Kampret."
***