"Sayang, kalau kamu punya masalah. Kamu bisa cerita sama Mami ya. Mami sama Papi khawatir sekali kemarin. Untungnya Satur bilang kamu cuma nginep di rumah temen. Mami udah mikir yang enggak-enggak karena kamu ga ngasih kabar.."
Di meja makan, obrolan itu di mulai. Ga ada hukuman yang berarti. Cuma nasehat-nasehat bijak yang selalu diutarakan Bu Angel. Entah apa maksud Satur berbohong perihal kepulangan gue. Walau pun seandainya dia berkata jujur, gue udah siap kena omelan. Aksinya dia yang sok jadi super hero malah makin bikin gue eneg sama tingkahnya. Belum lagi sikap permusuhan di antara kami yang jelas-jelas terpampang nyata tanpa berusaha menutup-nutupi dari semua orang. Sampai merubah atmosfer yang ada di meja makan.
"Mi, katanya Raja mau pulang siang ini."
"Mami malah baru tau. Dia ngabarin Papi?"
"Cuma lewat sekertarisnya saja. Kemarin dia baru mendarat di Jakarta Ada sedikit urusan jadi tidak bisa langsung pulang."
Wajah Bu Angel langsung bersinar terang mendengar anak sulungnya akan pulang setelah bertahun-tahun bekerja di luar negeri sebagai pengusaha muda. Gue belum pernah lagi ketemu Bli Raja. Terakhir ngeliat dia mungkin sepuluh tahun lalu. Jarak umur kami yang terlampau jauh. Membuat gue ga begitu memahami dan mengingat bagaimana wajah Bli Raja. Selain soal setiap hari raya keagamaan Bli Raja selalu mengirimkan parsel-parsel dan kado ke rumah dengan masing-masing kartu nama sesuai anggota keluarga. Selain itu gue ga tau apapun lagi soal Bli Raja.
Gue punya banyak baju yang diproduksi dari brand luar negeri bahkan beberapa makeup simple yang diperuntukan bagi remaja. Tapi ga pernah gue pake satu pun.
Alasannya, baju yang Bli Raja kirim selalu yang bersifat feminim. Dress pink, rok span ketat, baju pesta tanpa lengan atau sesuatu yang kelewat terbuka. Gue ga cocok sama pakaian semacam itu. Walau Bu Angel berharap suatu hari gue bisa memperbaiki penampilan yang lebih cantik dan anggun. Tapi buat apa cantik kalau gue cuma anak angkat di keluarga Pak Pandji dan Bu Angel.
Sarapan pagi ini dihabiskan dengan obrolan tentang kepulangan Bli Raja yang di sambut antusias oleh adik-adiknya kecuali gue, pasti. Gue ga begitu nafsu ikut obrolan di antara para anak-anak cowo yang membicarakan perihal banyaknya mobil sport yang dimiliki Bli Raja atau tentang tiket gratis yang Bli Raja beli untuk mereka menonton pertandingan basket kelas international tahun lalu. Membosankan.
Saat roti di piring gue habis, gue melihat Bli Setya juga berniat meninggalkan meja makan untuk berangkat sekolah. Saat itu juga, gue ga menghilangkan kesempatan untuk kabur.
"Bli, boleh aku berangkat sekolah bareng Bli Setya?"
Seluruh orang di meja makan, menatap gue berbarengan. Gue melihat mereka satu persatu, berharap bahwa diperbolehkan untuk berangkat dengan Bli Setya daripada Satur.
"Gimana kalau kamu hari ini ga usah sekolah dulu? Papi sama Mami harus ke Bali siang ini. Mungkin pulang lusa. Sedangkan Raja pasti pulang nanti siang dan tidak ada orang di rumah. Kamu di rumah saja." Permintaan Pak Pandji terdengar ganjil di kuping gue.
"Setya, kamu bisa bawa salah satu mobil. Kalian bisa berangkat bareng. Kalau eskul sudah selesai, langsung pulang. Mengerti?"
"Mengerti, Pih." Jawab Bli Setya dan Satur berbarengan
Kalau Pak Pandji sudah bertihta siapa lagi yang bisa membantah?
Setan aja mungkin takut. Bukan karena Pak Pandji nyeremin. Tapi aura kebapakannya terlalu mendominasi kami. Dia ga pernah bersikap kasar, bahkan untuk membedakan anak kandung dan angkatnya saja ga pernah. Selain soal masalah gender. Gue selalu jadi bahan paling empuk di antara saudara laki-laki gue yang lain untuk dikekang paling kenceng masalah semua hal yang berkaitan tentang dunia gue.
Semua peraturan dibuat atas kehendak Pak Pandji. Bu Angel selalu berhasil menjadi penyampai pesan suaminya. Gue harus berpakaian seperti apa dan ikut eskul apa masih di bawah pengawasanny, kalau kebetulan dia punya waktu senggang memperhatikan anak-anak. Kalau pulang telat harus lapor. Sayangnya aja kemarin gue males ngasih kabar sama Bu Angel perihal pulang telat. Malah jadi masalah sendiri buat gue.
"Betul yang dibilang Papi. Kamu di rumah aja ya, Nak. Yang penting ada orang di rumah. Ga cuma pembantu aja. Masalah ijin sekolah kamu, nanti Mami yang ngurus. Kasian Raja kalau ga ada yang nemenin di rumah."
"Mi, tapi.." gue baru mau mengucapkan kalimat. Tapi Satur bergerak hendak bangun dari kursinya sampai seluruh orang berpaling menatap dia.
"Berangkat sekarang aja, Bli." Ucapnya singkat, acuh.
"Oke."
Sial. Satur emang bener-bener sialan. Maksudnya apa memotong omongan gue? Dia bahkan ga sekali-kali mencoba melihat ke arah gue yang sekarang rasanya mau meledak. Kalau ga inget dia anak kandung Bu Angel. Udah gue lempar piring ke muka dia. Anjing.
"Sekalian, Kita juga mau berangkat kerja. Kamu hati-hati di rumah. Jangan sampai macem-macem lagi."
"Iya, Pi." Jawab gue murung.
Ketika semuanya sudah keluar rumah setengah jam lebih, gue masih duduk di meja makan. Suasana jadi begitu sepi. Hening. Suara petir menggelegar di luar. Semua pembantu sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Ga ada orang yang cukup punya waktu untuk memperhatikan gue. Gue cuma duduk bengong di meja makan sambil mikir mau ngapain hari ini. Saat gue memilih masuk ke kamar untuk ganti baju dan berdiri dari posisi duduk.
Pintu rumah kebuka tiba-tiba, suara sepatu menggema di sudut-sudut ruangan, seorang pria dengan setelan jas berwarna hitam dan kemeja abu-abu yang terlihat mahal muncul kemudian. Langkahnya tenang dan santai, ada senyuman yang mengembang di wajahnya. Postur tubuhnya yang tinggi dan tegap mengingatkan gue dengan seseorang. Tapi gue ga inget siapa sampai sosok itu benar-benar dekat dengan gue.
"Hai, Melati."
Seketika, gue berubah menjadi patung. Terkejut dengan apa yang gue lihat.
"Bli Raja?"
Dia cuma tersenyum puas. Gue berusaha melangkah mundur beberapa langkah sampai menimbulkan bunyi keributan akibat kaki bangku yang menggesek lantai karena pergerakan gue yang tiba-tiba. Gue ga mikir apa-apa lagi selain berusaha kabur dari situ.
Tapi saat gue mau lari. Tubuh gue kalah cepat dengan gerakan Bli Raja yang sudah lebih dulu menarik perut gue. Mendekapnya. Gue berontak, berteriak. Mencoba meminta pertolongan. Tapi ga ada satu orang pun yang mendengar karena suara hujan di luar lebih deras dari suara gue.
"Bli lepasin, Mela."
"Gue bisa lepasin lo, asal lo ga berusaha kabur."
Gue berusaha menenangkan diri dari kepanikan yang tiba-tiba aja datang. Jantung gue berpacu lebih cepat, insting gue bermain. Ada sesuatu yang akan menimpa gue hari ini. Gue sama sekali ga mengenali Bli Raja bahkan ketika malam kemarin dia jadi client pertama gue. Sentuhannya. Tatapan dingin itu. Semua dalam diri dia berubah dari apa yang pernah gue inget sepuluh tahun lalu.
Dia menarik pergelangan tangan gue dan membawa gue ke kamarnya yang ada di lantai satu. Jauh dari seluruh ruangan lain yang ada di rumah ini. Terpojok dan ga pernah dijamah oleh orang kecuali pembantu yang selalu rutin membersihkan kamar.
Bli Raja membuka pintunya, mendorong gue sampai jatuh di lantai. Lalu dengan keras dia membanting pintu dan mengunci kamar dari dalam. Berdiri melihat ke arah gue yang terkapar kesakitan di lantai marmer dingin dengan wajah penuh rasa marah.
"Siapa yang ngajarin lo buat jual diri?"
"..."
"Jawab gue, Mela." Suaranya menggema. Menciptkan efek menakutkan.
"Gue..gue butuh uang, Bli."
Bli Raja merogoh sesuatu dari balik saku celananya. Dia mengeluarkan seluruh uang yang ada di dalam dompet dan melemparkannya ke gue. Membuat uang-uang itu gugur seperti daun-daun. Melayang, jatuh mengitari seluruh tubuh gue yang masih duduk di lantai.
Bli Raja berjongkok untuk mensejajarkan posisi kami. Sebelah tangan kanannya meraup kedua pipi gue, menekan keduanya secara berbarengan. Memaksa gue untuk menatap dia."Lo itu bagian dari keluarga Pandji Brahmantra. Ga usah bertingkah seperti p*****r. Lo tau apa akibatnya kalau malem itu bukan gue yang jadi tamu lo? Lo ga mikir apa resiko dari tingkah lo itu? Hah? Jawab gue." Dia kembali berteriak di depan muka.
Gue melawan dengan cara menepis tangan Bli Raja secara kasar. Sama kasarnya seperti dia memperlakukan gue."Itu hak gue."
"Punya nyali besar juga lo ya."
Tanpa gue bisa menghalau pergerakan Bli Raja. Dia menarik baju seragam gue sampai semua kancingnya terlepas. Menggelinding ke berbagai arah. Gue berontak buat ngelawan perlakuannya yang kurang ajar. Sialnya gue kalah tenaga. Bli Raja mendorong gue sampe tersungkur di lantai. Sebelum sempat melawan. Dia sudah menindih tubuh gue dengan tubuh bidangnya. Kedua tangan gue di tahan Bli Raja ke atas dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya meremas p******a gue, kasar. Membuat gue berhenti berkutik saat dia bergerak menduduki perut gue. Membuat gue mati kutu dengan semua perilaku kasarnya.
"Gue bisa pake lo kapan aja, Melati. Bukan sesuatu yang susah buat bikin lo menderita kalau lo masih ngelawan. Jangan pikir gue ga tau selama ini lo ga pernah pakai satu pun hadiah yang gue beli."
"Lepasin, anjing." Teriak gue histeris.
Tamparan melayang kencang menyentuh pipi gue, berkali-kali. Membuat bulir-bulir air mata merembes di pelupuk,"Sekali lagi lo berani ngomong kasar. Gue perkosa lo sampe lo nyesel pernah hadir di keluarga kami."
Tubuh gue bergetar karena menahan emosi di d**a. Tapi ga pernah sekali pun mengalihkan pandangan dari kedua mata Bli Raja. Dia harus tau, dia salah orang kalau mau menindas.
"Kalau lo mau pake gue. Pake aja, gue ga peduli."
Senyuman licik justru keluar dari wajah Bli Raja. Dia melepaskan genggaman tangannya. Membuat gue bebas mendorong dia sampai bisa mengendalikan keadaan. Membenarkan baju gue yang robek, yang menampilkan secara sempurna p******a gue yang ketutup bra.
"Gue bakal ambil apa yang lo punya pada saat yang tepat, Mela. Seharusnya udah lama gue memberi pelajaran buat lo."
Bli Raja bangun dan pergi meninggalkan gue yang masih duduk di lantai marmer. Memegang sisa-sisa cela baju yang bisa menutupi bagian depan tubuh gue sendiri. Dalam hati rasa dendam itu semakin memupuk tajam. Gue semakin ga suka dengan keluarga ini dan seluruh penghuninya. Semua kebaikannya yang busuk.
Gue menghalau air mata yang akan meluncur ke pipi. Ga boleh ada air mata yang jatuh karena laki-laki. Gue udah mengalami banyak rasa sakit. Semuanya. Semua hal yang ga pernah mereka tau.
***