7

1230 Kata
Langkah kaki gue mengayun menuju halaman panti asuhan. Setelah pulang sekolah gue memilih buat mampir untuk menyetor uang hasil kerja kemarin. Seharian ini gue udah cukup merasa terbebani. Menghindar dari sarapan pagi keluarga. Menghindar dari Satur di kelas. Menghindar dari puluhan pertanyaan guru yang memanggil gue ke BK cuma karena menemukan lebam di pipi dan luka di sudut bibir gue. Gue butuh sesuatu yang menyenangkan. Tempat dimana semua kenangan masa kecil gue tumbuh subur di sana. Satu-satunya lokasi yang paling nyaman di dunia. Banyak saudara-saudara gue yang udah pergi, dibawa oleh keluarga lain dan semenjak itu hilang entah kemana. Sedikit di antara kami yang memilih untuk kembali pulang cuma untuk sekedar menengok Ibu Mirna. Orang yang paling berjasa di hidup kami. Menerima kami apa adanya. Menjadikan kami sangat berharga di mata dunia. Sedangkan tawa-tawa baru bermunculan setiap kali gue datang. Vitamin kebahagiaan gue. Kalau keluarga adalah harta yang paling berharga bagi mereka yang berbahagia. Bagi gue pun ga ada bedanya. Bu Mirna serta adik-adik panti adalah alasan gue untuk tetap kuat. Dibanding rumah Bu Angel yang bak istana. Rumah sederhana bergaya belanda inilah rumah sebenarnya menurut gue. Di sini kami berbagi segalanya. Mimpi, suka cita, tangisan, kesusahan, kebahagian. Kami menyatu. Menjadi satu. "Kak Melaaaaaa.." panggil serempak sepuluh orang anak-anak yang tengah bermain sepak bola. Mereka segera berlari, meninggalkan permainan. Rata-rata umur mereka lima sampai tiga belas tahun. "Haaaaaaaaaiii.." "Kakaaaaak, kok kakak balu dateng?" Tanya salah satu di antara mereka. Si Bondan. Anak yang paling kecil yang masih cadel. Gue merendahkan posisi gue sedikit."Maaf ya, sayang. Kakak baru punya waktu. Sibuk sekolah soalnya." "Sekolah enak ga, Kak?" Tanya Bondan polos. Pandangan gue menuju ke anak-anak lain."Kenapa kamu ga nanya ke kakak kamu yang lain?" "Kata kakak yang lain, sekolah itu ga enak. Banyak pl. Telus nanti disetlap gulu." Gue ketawa. Persis. Beban hidup gue sekarang selain nyari nafkah juga menjadi pengemis contekan pr di sekolah. Menghindari kejaran guru BK dan segudang masalah yang lainnya. Karena terlalu gemas, gue mengacak-ngacak rambut Bondan dan menyuruh mereka bermain lagi di lapangan berumput. Harus ada yang gue selesaikan terlebih dahulu. "Lho, Mela. Kamu baru dateng?" Gue menyambut pelukan Bu Mirna tanpa menjawab pertanyaannya. Membiarkan pelukan itu mengerat sedikit lama dari seharusnya. Di dalam pelukan Bu Mirna gue ngerasa aman dan nyaman. Ada sesuatu yang berbeda dari pelukan seorang Ibu, memang. "Aduhhh kok kamu manja sekali seperti adik-adikmu sih?" Baru ketika Bu Mirna protes gue melepaskan pelukan itu sambil tersenyum getir. Senyuman yang terlalu dipaksakan. Semoga aja Bu Mirna ga bisa baca ekspresi gue. "Melati, kamu kenapa? Kok bibir kamu biru, Nak? Kamu abis dipukul orang?" Tanya Bu Mirna panik. Mencoba meraba luka gue tapi seketika gue menghindar. Denyut nyeri masih terasa di sana. Sial. Gue lupa ga ngasih penutup di bagian sudut bibir yang terluka sebelum sampai di panti. Bekas tamparan Bli Raja kemarin emang ninggalkan bekas. Seharusnya gue emang ga nyari masalah sama itu orang. "Gapapa, Bu. Kemarin kepentok sama kucing garong." "Ah kamu, Mela. Serius Ibu nanya ini. Kamu abis berantem?" Gue hanya menggeleng. Jurus jitu biar ga nambah dosa."Bu, Mela punya sedikit uang buat nambah biaya makan dan sekolah adek-adek dua bulan ke depan." Amplop coklat gue serahkan ke Bu Mirna yang berisi uang beberapa juta hasil nabung dan kerja gue dua minggu terakhir. "Mel, kamu dapet uang sebanyak ini darimana? Kamu kerja?" Gue nyengir kuda,"Sedekah masjid, Bu." Bu Mirna cuma tersenyum denger guyonan gue,"Ibu makasih banyak buat bantuan kamu setiap bulan. Tapi jangan sampai itu menganggu sekolah kamu ya, Nak. Ibu melihat Melati bahagia, pintar sekolahnya saja sudah bersyukur." Arrgh. Gue mati-matian nahan gelombang air mata yang terasa panas sekarang. Gue meluk Bu Mirna lagi sebagai aksi menyembunyikan kesedihan. Bagaimana mungkin gue bisa lupa sama semua jasa Bu Mirna besarin gue dan saudara-saudara. Bisa sekolah dan makan aja udah berkat Tuhan paling nikmat. Belum lagi kejadian bertahun-tahun lalu ketika gue tau, Bu Mirna sampai harus jual perhiasan peninggalan mendiang suami dan orangtua'nya cuma biar gue dan saudara-saudara yang lain bisa makan nasi besok. Gue ga bisa ngelupain kejadian itu. Kejadian yang membekas di hati gue. Mulai saat itu, gue berjanji untuk bantu Bu Mirna menjalankan roda keuangan panti asuhan. Gimana pun caranya. Sebagai balas budi karena sudah mengijinkan gue merasakan rasanya dicintai, saat orangtua gue sendiri membuang gue kaya sampah. "Satur." Gue buru-buru mengelap air mata ketika suara Bu Mirna menyebutkan sepotong nama. Gue melepaskan pelukan dari badan Bu Mirna dan berbalik. Mendapati Satur tengah berdiri sambil tersenyum, ya pasti, tersenyum sama Bu Mirna lah. Masa iya sama gue. "Permisi, Bu." "Eh iya iya. Tumben, Nak main ke sini." Sapa Bu Mirna ramah. "Saya disuruh jemput Mela sama Papi." Cih. Alasan klasik. "Lho, memangnya Mela belum ijin dulu sebelum datang kemari?" Pandangan Bu Mirna jatuh ke gue. Jadilah gue sekarang sebagai tersangka. Bagus Satur, usaha lo berhasil. "Buat apa ijin kalau pulang ke rumah sendiri." Jawab gue sinis, sengaja, menekankan semua kalimat ke arah Satur. "Ga boleh gitu dong, Mela. Nanti Bu Angel sama Pak Pandji khawatir sama kamu. Lagian sebentar lagi magrib. Lebih baik kamu pulang. Anak perempuan ga baik jam segini masih di luar." "Inikan rumah aku juga, Bu." Rengek gue, mirip bocah. Sekilas gue bisa ngeliat Satur menahan tawanya. "Ya besok kalau libur sekolah kan bisa main kemari lagi. Sudah sana ikut Nak Satur. Kamu harus nurut sama mami papimu ya, Ibu ga pernah ngajarin kamu membangkang lho, Melati." Gue menghela napas, pasrah. Akhirnya sore ini terpaksa gue pulang dengan Satur. Dia membawa salah satu mobil keluarga. Menyetir sendiri. Kami diam sepanjang perjalanan yang terasa lambat. Cuma suara radio yang jadi pemecah keheningan. Gue ga mau membuang tenaga hanya untuk bersikap manis sama Satur. Cih. "Mel.." "..." "Mela.." "..." "Melati.." "..." "Melati Bramantrah." "APAAN sih, bacot banget." Jelas gue bisa denger suara Satur yang menghela napas kasar. Lalu dia mengemudikan mobil ke pinggir jalan. Berhenti di sana, sengaja duduk mengarah ke gue. "Mela, lo liat gue dong." Ucap Satur, memaksa. Gue cuma melirik dia, sinis. "Lo itu kenapa?" "Gue? Kenapa apanya." Satur menarik sebelah tangan gue. Memaksa gue duduk menghadap dia. Di pencahayaan yang redup, gue bisa ngeliat dia memunculkan raut khawatirnya. Meneliti luka memar yang ada di sudut bibir dan pipi gue. "Lo abis dipukul siapa?" Tanyanya dengan nada yang rendah. Gue menepis tangan Satur."Bukan urusan lo." "Mela lo bisa ga sih ga usah keras kepala sebentar." "Ga bisa." Lagi-lagi Satur menghela napasnya. Merasa frustasi sendiri."Gue minta maaf soal kemarin. Gue ga ada maksud ngelecehin lo sama sekali. Gue cuma. Gue cuma ga bisa.." "Karena lo pengecut. Lo cuma sok baik sama gue selama ini. Udahlah, gue males bahas." Sengaja gue membuang pandangan ke arah jendela. Hari ini benar-benar melelahkan. Gue cuma pengin cepet-cepet masuk kamar. "Mel, mau lo gimana? Gue harus ngerusak lo gitu?" "Udahlah, Tur. Ga usah dibahas lagi." Jawab gue, berusaha sepelan mungkin, lelah. "Kalau itu yang lo mau, Kita ke hotel sekarang." Awalnya gue ga ambil pusing dengan omongan Satur yang gue yakin cuma gretakan doang. Tapi setengah jam kemudian, ketika gue tau dia ambil jalan yang berbeda dari yang seharusnya. Gue mulai mengalihkan perhatian ke arah Satur. Wajahnya serius, fokus ke jalan. "Kenapa Kita ga pulang?" "Berhenti mainin gue, Mela." Gue ga ngerti apa maksudnya."Siapa yang mainin lo sih? Lo sakit ya." Tentu aja gue ngomong begitu bukan sebagai rasa perhatian. Satur melihat ke arah gue. Dia sengaja mempercepat kendaraannya. Melaju ke jalan yang sepi."Oke, Kita main di mobil kalau gitu." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN