Sudah lima menit semenjak Satur memutuskan menghentikan mobilnya dipinggir jalan yang sepi, kami diam seribu bahasa. Bahkan hanya ada beberapa lampu jalanan yang menyala. Membuat lampu mobil kami menjadi satu-satunya pencahayaan yang paling terang. Musik dari radio masih mengalun setia, menemani.
Gue ga ngerti kenapa Satur bersikap begitu dingin ke gue sekarang. Bukan karena pengin juga diperhatikan. Tapi berada berlama-lama berdua di satu ruangan bersama Satur. Bukan pilihan yang cukup menyenangkan. Mending gue berduaan sama singa di kandangnya sendiri ketimbang harus berbagi ruangan sama Satur.
"Lo masih perawan, Mel?"
Gue melirik ke arah Satur, malas. Saat pertanyaan itu yang justru memecah keheningan di antara kami. Kenapa mesti nanya itu lagi itu lagi. Kenapa ga nanya harga cabe di pasar sekarang berapa sekilo? Lo milih paslon nomer satu apa dua? Pertanyaan apa kek yang lebih berbobot.
"Kalau lo masih perawan, gue, gue ga tega, Mel." Ada jeda sebentar di antara kalimat Satur. Lalu dia menghela napas berat, seperti ada ribuan batu yang membebani d**a dan pikirannya."Ini juga pertama kali buat gue.."
"Lo mau n***e apa mau curhat sih?" Tanya gue sambil bergeser, mencoba menghadap ke arah Satur.
"Ya..ya..gue ga tau mulainya dari mana." Jawab dia polos, setengah panik.
Sumpah demi lobang p****t neptunus. Gue ketawa sengakak-ngakaknya ngendenger pernyataan paling kampret yang pernah diucapin Satur. Gila. Cowo yang selalu lebih unggul di segala bidang pelajaran, malam ini ngaku ga tau darimana memulai have s*x.
"Kok lo ketawa sih, Mel?" Tanya Satur yang mulai merasa tersinggung.
"HAHAHAHA.."
"Melaaaa.."
"APAAN sih? Apa perlu Kita nonton bokep dulu biar bisa belajar kelompok?" Tanya gue sambil nahan ketawa.
"Gue punya film bokep di hp." Jawabnya lagi.
Gue berhenti ketawa, terus melihat si Satur benar-benar sedang membuka folder di hpnya. Gue agak bergeser lagi, lebih dekat untuk bisa melihat semua film bokep koleksi Satur. Di sana banyak film-film panas berbagai genre. Anak sekolahan yang berwajah innocent dari Jepang. Laki-laki tua sama anak kecil. Tante-tante sama selingkuhanya. Anak remaja sama pacarnya. Bahkan ada yang sampai sama hewan.
Gila juga nih anak.
Sebelum memilih salah satu di antaranya, Satur melirik ke gue yang sekarang wajahnya cuma beda beberapa jengkal dari dia.
"Lo pernah nonton bokep?"
"Pernah."
"Suka genre yang gimana?"
"Kasar-kasar gitu. Lesbi." Ujar gue spontan.
Satur menatap gue ga percaya."Lo lesbi, Mel?"
Gue hampir ketawa lagi ketika melihat Satur dengan muka terkejutnya."Ya enggaklah, bego. Gue masih normal."
Akhirnya Satur memilih salah satu film yang menurutnya bisa mewakili selera gue. Di lima menit pertama ada laki-laki bule ngintipin perempuan yang lagi mandi di bawah guyuran shower. Awalnya film itu biasa aja, iya biasa aja, tapi setelah kedua aktor dan aktris saling menggoda satu sama lain di dalam kamar mandi, memasuki satu sama lain dengan raut wajah yang begitu terangsang. Atmosfer di mobil juga ikut berubah.
Seperti ada setan di tengah-tengah kami. Membuat gue merinding sekujur tubuh.
Suara desahan mereka menggema, mengalahkan suara radio, menghipnotis kami yang menonton. Ciuman, setiap gaya yang mereka lakukan. Benar-benar membuat gue ngerasa, panas.
"Mel.."
"..." Gue ngelirik Satur lagi. Menunggu dia melanjutkan kalimatnya.
Gue kira, Satur mau nanya soal film yang lain. Tapi sedetik yang bergerak lamban. Satur mendekatkan bibirnya ke bibir gue. Meraih ujung dagu gue dengan sentuhan tangannya yang bergerak lembut.
Lumatan itu, perlahan, penuh dengan perasaan. Gue membalas ciuman Satur sama pelannya, mensejajarkan ritme yang ada di antara kami. Untuk urusan ciuman, Satur cukup mahir. Gue ga tau berapa banyak yang jadi korbannya. Tapi beberapa saat gue berpikir, Satur pasti lebih pengalaman dari yang dia ucapkan.
Tangan gue bergerak, meraba sesuatu di bawah sana. Yang mulai menegang karena pergerakan ciuman kami semakin intens. Melumat, meminta, menuntut.
Lidah kami saling beradu, bergelung di dalam mulut. Beberapa saat menarik satu sama lain, menghisap, membuat sakit yang menimbulkan perasaan meminta lebih.
Gue sengaja melepaskan ciuman kami, menatap Satur dengan pandangan nanar yang sama seperti dia menatap gue. Tanpa banyak bicara, Satur memahami apa yang gue mau.
Dia membuka kaitan kancing celana sekolahnya. Mengeluarkan sesuatu itu.
Gue sedikit mengerutkan kening. Ini juga pertama kalinya buat gue. Gue bergerak, turun ke bawah. Awalnya bingung harus bagaimana. Gue hanya merunduk dan mencoba mengeluarkan lidah dan menyentuh sesuatu milik Satur. Seperti film-film yang udah pernah gue tonton dimana aktrisnya memuaskan hasrat pasangannya.
"Aaahhh...Mel." Suara Satur mengintrupsi pergerakan gue.
Tanpa melihat ke atas gue berhenti,"Sakit?"
"Enak."
Gue cuma bisa ketawa dan kembali memulai aktivitas panas kami.
Entah berapa lama, gue merunduk dan bergerak memasukkan sesuatu milik Satur ke dalam mulut. Erangan demi erangan lolos dari mulut Satur. Gue ga mikir apapun. Hanya saja setiap Satur bersuara, mengerang dan menjambak rambut gue dengan kencang, gue terpacu semakin semangat bergerak.
Sampai Satur benar-benar menarik gue untuk kembali duduk seperti semula. Wajahnya sudah memerah dalam keremangan, tatapannya menggila. Dalam gerakan yang penuh hasrat. Dia melepaskan kancing-kancing baju seragam sekolah gue dan meremas bukit yang menonjol di antara cela-cela yang tercipta sebelum kancing baju gue terlepas sempurna.
Satur mendekati p******a gue, di sana dia menghujamkan puluhan ciuman dan jilatan yang membuat nafas gue semakin memburu. Tanpa rasa canggung yang berarti. Disana, Satur meninggalkan bekas hisapan yang membuat corak kebiruan.
Gue meringis, menahan rasa sakitnya.
Ciuman Satur merabat, dari d**a menuju leher. Hingga kembali ke bibir gue. Di tariknya tubuh gue kembali ke dalam dekapannya. Gue bergerak, melompati perseneling yang membuat jarak di antara kami, lenyap.
Kini posisi gue berpindah di atas pangkuan Satur. Satur mencium gue lagi, lagi dan lagi dengan tangannya bergeliya di bawah, menuju lahan subur yang sudah basah sejak tadi. Sial. Gue ga pernah menyangka bahwa Satur bisa sejago ini.
Tangan Satur melucuti cd gue dengan cepat. Kami tertawa saat Satur gagal berkali-kali menurunkan cd yang gue kenakan. Terpaksa, gue bergerak, berusaha melepaskannya sendiri.
Saat semuanya sudah luput. Satur kembali menatap gue secara intens. Tatapan yang dalam, jari-jari tangan kanan dan kirinya. Membenarkan letak rambut gue yang berantakan. Untuk beberapa saat gue ngerasa ada kehangatan dari tatapan itu. Bukan tatapan nafsu yang membara seperti beberapa saat lalu. Tapi sesuatu yang berbeda, yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan kata-kata. Bahasa yang asing, mata Satur berbahasa dengan caranya. Tangannya meraup wajah gue dengan, lembut. Dia mendekatkan bibirnya ke telinga gue dan berbisik.
"I wanna taste you.."
Diarahkannya sesuatu itu mengarah ke dalam ladang subur yang telah basah karena gairah. Satur benar-benar memperlakukan gue dengan lembut, bahkan ketika gue menampilkan ekspresi menahan sakit. Dia menghentikan pergerakannya sejenak. Menyatukan kening kami. Berbagi nafas yang sama, menahan gelora yang sama gilanya.
Lalu Satur membiarkan tubuh gue mulai terbiasa menerima sesuatu yang asing itu.
"Aaarrrgghh.."
"Ssssttttt..." bisiknya lagi, menenangkan. Mengusap punggung gue dengan telapak tangannya.
Gue mengambil oksigen sebanyak-banyaknya setelah merasakan sesuatu milik Satur benar-benar masuk ke dalam diri gue. Benar-benar menyatu. Gue berusaha bergerak, naik dan turun sesuai ritme yang dimulai Satur.
"Uugghh..Satur."
Pergerakan kami mulai kencang, seirama. Berangsur-ansur rasa sakit itu hilang, berubah menjadi kenikmatan yang luar biasa. Gue bisa merasakan sapuan telapak tangan Satur yang meraba leher gue dan mencekiknya pelan. Menyisahkan sedikit oksigen, membuat gue benar-benar kewalahan. Memenuhi hasrat satu sama lain yang semakin membakar. Melebur.
Untuk pertama kali, gue benar-benar bisa mengenali jiwa Satur yang sesungguhnya setelah kemarahan itu membuat gue buta. Mengabaikan seluruh kebaikan yang dia berikan. Pada satu bilik perasaan yang mulai terisi. Satur menempatinya di sana. Entah untuk berapa lama.
Satur sudah masuk terlalu dalam, masuk sebagai orang yang pertama.
***